You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Pamflet Si Burung Merak
Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng - iya - an
Rendra atau Willibrodus Surendra Broto. Penyair jalanan yang dipuja-puja karena puisi pamfletnya. Tidak berlebihan, Rendra pun dekat dengan aroma keringat para rakyat yang selama ini (entah sampai kapan) masih tertindas. Maka, tidak heran jika pemerintahan Orde baru sering sekali menangkap sang Burung Merak, oleh karena pesonanya yang tertebar dimana-mana.
Pria kelahiran Solo 7 November 1935 ini memang telah mencita-citakan sastra sebagai dunianya. Hal tersebut dibuktikan ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada selepas menamatkan sekolahnya di SMA St.Josef, Solo. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis cerpen dan esai di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama. Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan dari Departemen P & K Yogyakarta.
Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak. Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.
Suksesnya pamflet Rendra dalam menarik massa menjadi inspirasi tersendiri bagi pergerakan kaum muda di Indonesia. Dua pilihan saja jika ikut dalam aksi para pemuda Indonesia, baca puisi Widji Tukul atau Rendra. Sebab, kedua-duanya adalah bintang rakyat.
Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Maka Rendra yang tengah menunggu usianya yang ke-72, menjadi sebuah ikon perlawanan kelas bawah. Berita terbaru mengenai penyair ini adalah keikutsertaannya dalam film yang bertajuk “Lari Dari Blora”. Kita tunggu sepak terjang penyair ini selanjutnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Ia Sudah Bertualang — Lentera Susastra
[…] “mencengangkan” ketika tahu bahwa Rendra (Si Burung Merak) meluncurkan buku kumpulan cerpennya. Rendra adalah sastrawan yang terkenal akan puisi-puisi pamflet […]
November 21st, 2007 at 10:45 pm