You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sastra Sebagai Cermin Diri
“Berkacalah kepada dirimu sendiri”
Jika kita kembali bercermin kepada diri sendiri, maka apa yang kita lihat sekarang sungguh merupakan parodi tragedi yang memilukan. Betapa tidak, setip orang sudah tidak lagi respek dengan penderitaan orang lainnya. Contoh saja kasus penembakan yang terjadi di Alas Tlogo Pasuruan beberapa minggu yang lalu. Peluru yang dibeli dari uang rakyat kembali secara mengenaskan kepada rakyat.
Atas nama kepentingan pragmatis individu, kita sudah pergi meninggalkan cermin. Padahal, hampir setiap hari kita selalu bertemu dengan media yang menghadirkan sosok lain diri kita tersebut. Satu kasus lagi yang menonjolkan sikap individu masyarakat Indonesia yaitu kasus Meruya. Dalam kasus ini, sepintas terasa ada yang lucu dan aneh sebab korban dalam kasus ini tidak saja masyarakat kebanyakan tetapi juga pemerintah. Justru hal ini sangat janggal, bagaimana mungkin pemerintah teledor dengan siapa yang lebih berhak atas tanah Meruya.
Begitulah jika kita telah meninggalkan cermin diri. Nafsu yang tak tertanggungkan selalu memenangkan pertarungan melawan jiwa kita yang hakiki. Dan tentu saja, pertarungan itu belum lagi akan selesai, bahkan genderang perangnya saja baru ditabuh. Tinggal kita apakah sudah cukup nyali kita dengan meninggalkan cermin diri tersebut.
Sastra adalah salah satu dari cermin diri manusia. Kenapa harus sastra? Sebab sastra adalah hasil dari kenyataan hidup manusia itu sendiri. Dunia sastra tercipta dari hasil plagiat kehidupan manusia. Dan sastra merupakan media yang kekal dalam menyimpan memori kehidupan manusia dari dulu hingga hari akhir dunia. Hanya saja, dunia sastra selalu berhasil menyuguhkan dunia lain dari dunia nyata manusia. Dengan gayanya yang halus dan penuh teka-teki sehingga sastra meninggalkan simbol-simbol yang jika bisa dipecahkan oleh manusia maka manusia dapat menemukan cermin dirinya itu.
Hal ini mungkin akan terasa janggal bagi yang tidak mengerti dengan sastra. Sastra dalam kebanyakan perspektif orang selalu disandingkan dengan kehidupan yang penuh khayal semata. Sungguh, suatu penilaian yang sangat objektif dan membunuh pengertian sastra itu sendiri secara luas. Memang, sering kita menemukan karya sastra yang penuh dengan imaji atau daya khayal yang tidak masuk logika manusia secara objetif. Namun percayalah, penilaian itu tidak terhambat hanya dengan penglihatan objektif semata namun penglihatan subjektif perlu juga dalam melihat logikalitas dalam karya sastra.
Akhirnya begitulah sastra. Sastra yang selama ini dimarginalisasikan atau agak tersendat perkembangan ilmunya adalah salah satu dari cermin diri manusia. Jika kita tidak memahami sastra, ya itu tidak salah tetapi secara tidak langsung kita telah melupakan elemen terpenting dari cermin diri tersebut. Dan bersiap-siap saja untuk menuju kehancuran nurani manusia sebab kita sudah tidak mau lagi respek dengan manusia lain.
kudengar beburung merintih diatas ranting pepohon telah ranggas, diguguri mentari yang terik membasahi bumi
justru pada saat itu jejarum terbang kesana-kemari hinggap pada batang pepohon yang telah ranggas itu
maka, aku hanya tersedan mentari telah lapuk di punggung senja “selamat tinggal!”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.