You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Alas Larang
Cerpen Sayyid Madany Syani
Di suatu negeri bernama Sindangkerta. Negeri yang elok, subur dan makmur. Sejauh mata memandang, selalu terlihat sawah hijau terhampar luas. Ya, orang-orang disini selalu rajin ke sawah. Pagi-pagi buta, mereka telah ramai bermandi lumpur. Ketika matahari sudah jelas kelihatan, barulah mereka berhenti bekerja sejenak. Pergi ke dangau-dangau yang banyak dibuat di sekitar pematang.
Di dangau tersebut, bersama-sama dengan keluarga yang lain, mereka sarapan pagi dan sedikit menyeruput kopi. Gelak tawa selalu menghiasi wajah orang-orang itu. Mereka yakin bahwa senyum itu merupakan ibadah. Jadi, mereka tidak pernah terlihat cemberut atau dengan wajah ditekuk.
Maka dari itu, orang-orang Sindangkerta selalu rukun. Tidak ada fitnah, sakit hati dan lain sebagainya yang dapat menimbulkan keretakan dalam negeri Sindangkerta. Jika itu terjadi, tetua negeri selalu membawa permasalahan itu ke sebuah tempat yang dinamakan Batu Hideung. Tempat itu tidak begitu luas, hanya tersusun empat buah batu hitam yang besar. Satu sama lain saling berhadapan dan kalau diantara orang yang duduk disana sempat berbicara tidak jujur, maka dengan sendirinya dari bawah batu tersebut keluar kelabang-kelabang yang akan menggigiti orang yang tidak bicara jujur. Jadi, tidak ada warga Sindangkerta yang berprilaku tidak jujur. “Pamali” kata mereka.
Namun, dari keelokan negeri Sindangkerta ada wilayah yang amat ditakuti oleh masyarakat. Yaitu Alas Larang. Sebuah hutan yang terletak di kaki gunung Halimun. Hutan ini aneh. Menurut orang-orang kebanyakan, setiap malam dari arah Alas Larang sering terdengar bebunyian yang gaduh. Kadang-kadang jika disimak lebih jelas seperti ada yang tengah menyanyi, menari persisnya seperti ada yang sedang pesta. Padahal tidak ada yang berani masuk Alas Larang. Kalaupun ada, mereka tidak pernah kembali lagi.
Kata orang lagi, Alas Larang adalah hutan yang hidup. Konon, Alas Larang adalah jelmaan dari jin-jin yang membantu penyelesaian Candi Prambanan. Oleh karena itu, Dewa sangat murka kepada jin-jin ini dan mengutuknya menjadi pepohonan yang bentuknya aneh. Punya akar yang bisa digunakan untuk berjalan, dan ranting-ranting yang digunakan sebagai tangan. Makanya, masyarakat Sindangkerta amat takut untuk pergi ke Alas Larang. Tetua kampung juga sudah menyatakan bahwa Alas Larang adalah hutan terkutuk alias hutan larangan.
Pada suatu hari, Raja Pajajaran memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Sindangkerta. Namun, berkali-kali dilakukan penyerangan selalu gagal. Akhirnya pasukan pun pulang ke pendopo kerajaan dengan muka tertunduk. “Mengapa kalian kembali. Apakah penyerangan ke Sindangkerta telah kalian lakukan?” Patih kerajaan menghadang para tentara yang akan mendekati gerbang kerajaan. Sambil bersimpuh, seorang prajurit memberanikan berkata: “Ampun Patih. Kami sudah melaksanakan perintah. Tetapi, entah kenapa, setiap kali kami menyerang dengan semangat tinggi tiba-tiba baru beberapa depa dari gapura Sindangkerta semangat itu langsung hilang. Dan kami seperti tidak tahu harus apa kami ke Sindangkerta bawa pedang, panah dan tombak. Lalu kami mundur kembali. Keesokan harinya kami ulang penyerangan dengan semangat tinggi, tetapi kejadiannya serupa seperti saat penyerangan pertama. Maka kami memutuskan untuk pulang ke pendopo kerajaan ini.” “Mengapa bisa terjadi seperti itu.” Patih menggertak prajuritnya tadi. “Ampun sekali lagi Patih. Kami tidak tahu mengapa terjadi seperti itu.”
Patih kerajaan keheranan mendengar pengakuan para prajuritnya itu. Ia pun melaporkan hal ini kepada Raja. Raja tidak terima atas kejadian yang membuat malu kerajaannya. Ia pun memerintahkan bala tentara yang sangat besar untuk menyerang Sindangkerta. Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, seorang tua datang menghadap Raja dan berkata seperti ini: “Ampun Tuanku Raja. Kalau boleh diizinkan, hamba yang akan menyerahkan Sindangkerta ke bawah duli Tuanku Raja.” “Siapa kau, berani benar kau bantah titahku.” “Ampun beribu ampun Tuanku Raja. Hamba tidak berani membantah titah Raja. Tetapi, hamba yakin hasilnya pun akan sama seperti sebelumnya. Sebab, Sindangkerta bukanlah negeri sembarang negeri, disana Dewa telah menyebar benih kesuburan yang sangat istimewa sehingga tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menundukkan Sindangkerta dengan kekerasan. Hanya ada satu cara yang dapat menjadi penawar kekuatan Dewa tersebut. Dengan jalan menaruh dendam di hati para penduduknya untuk saling berkelahi. Dan Tuanku hamba punya obat agar semua orang disana saling membenci satu sama lain. Bagaimana Tuanku Raja apakah Tuanku mengizinkan hamba?” Sang tua dengan percaya diri terus mendesak raja. “Baiklah. Aku izinkan engkau. Tetapi, jika sampai gagal kau sendiri yang akan memenggal kepalamu.” “Terima kasih Tuanku Raja.”
Semenjak itu, sang tua pun berangkat ke Sindangkerta, ia membawa berpuluh botol yang telah diisi oleh ramuan kebencian. Sang tua pun berencana untuk menetap disana. Hari telah berbilang bulan. Tampaknya hasil kerja sang tua mulai kelihatan. Banyak masyarakat Sindangkerta yang minta pertolongan sang tua dan sang tua memberikan ramuan dalam botol-botol itu secara cuma-cuma. Perkelahian mulai banyak terjadi. Batu Hideung mulai ditinggalkan sebagai tempat musyawarah. Pernah suatu kali musyawarah dilakukan, namun kebencian yang telah mengalir dalam darah orang Sindangkerta menjadikan mereka bengis. Keluar juga kelabang-kelabang itu dari balik batu, tetapi tidak menggigiti orang-orang yang sedang diliputi amarah, malah pergi dengan cepat ke arah Alas Larang. Semenjak itu, Batu Hideung pun ditinggalkan.
Peristiwa-peristiwa ini diikuti juga dengan sawah-sawah yang pada mulanya hampir menguning jadi kembali hijau, mengering dan akhirnya layu. Tetua negeri sudah berulang kali memperingatkan masyarakat Sindangkerta agar berhenti bermusuhan. Tetapi, tidak didengar dan akhirnya Dewa pun mengambil kembali benih-benih kesuburan di tanah Sindangkerta. Barulah, setelah sadar akan kemurkaan Dewa, masyarakat Sindangkerta berbondong-bondong mengemas sesajen agar Dewa mau segera mengembalikan benih kesuburan yang diambilnya. Tetapi semua itu telah terlambat. Sang tua diam-diam pergi meninggalkan negeri itu dan kembali ke kerajaan Pajajaran.
“Ampun Tuanku Raja, menurut hamba saat inilah waktu yang tepat untuk melakukan penaklukan terhadap negeri Sindangkerta.”
Bala tentara Pajajaran yang banyak itu pun melakukan serangan kilat terhadap Sindangkerta. Masyarakat Sindangkerta tidak bisa melawan, sebab mereka tidak pernah belajar ilmu bela diri. Maka mereka pun lari meninggalkan negerinya. Sebagian pergi juga ke Alas Larang, sebab tidak ada lagi tempat yang bisa dituju. Sindangkerta pun dapat ditaklukkan.
Di dalam Alas Larang, beberapa penduduk yang lari kemari terus menerobos hutan yang aneh itu. Benar saja, suara-suara aneh terdengar memenuhi hutan. “Bagaimana Kang, kita teruskan?” “Pak, Bapak Udin capek.”
Di dalam kebimbangan, akhirnya mereka memutuskan berhenti dan pasrah terhadap apa yang terjadi. Mereka pun tertidur pulas sekali setelah dikejar tentara Pajajaran. Tengah malam, Udin terbangun, dan seterusnya membangunkan Bapaknya dan penduduk yang lain. Ia mendengar suara senandung yang aneh. “Pak Udin takut.” Mereka penasaran dan mencari darimana arah suara tersebut. Semakin lama semakin dekat. Senandung itu sangat ganjil. Tidak pernah ada orang yang bersenandung seperti ini. Ketika sudah dekat ke asal suara, para penduduk Sindangkerta terkejut melihat pepohonan tersebut menggerak-gerakkan kaki dan tangannya kesana kemari. Satu pohon yang sepertinya sedang duduk, mengeluarkan suara-suara yang teratur. Ternyata pohon itu yang dari tadi didengarkan oleh penduduk.
Tidak sadar sedang mengintip kegiatan para pohon yang aneh itu, tiba-tiba dari belakang para penduduk muncul beberapa pohon yang tegap. Pohon-pohon tersebut menangkapi para penduduk dan membawanya ke hadapan teman-temannya yang lain. “Hei, lihat apa yang kami bawa.” Ucap pohon-pohon yang membawa kami. “Wah, ternyata kita kedatangan tamu.” Sahut pohon yang berhidung agak bengkok. “Lepaskan kami.” Ucap Udin meronta-ronta. “Lepaskan kalian. Buat apa? Dan apa yang membuat kalian datang kesini, daerah kekuasaan kami.” Salah satu pohon yang tadi duduk segera berdiri dan seolah-olah marah. “Seandainya kita tidak diserang tentara Pajajaran, kita tidak akan mungkin masuk hutan larangan ini.” Pak Kusuma menyahut pada dirinya sendiri. Tetapi, sahutan Pak Kusuma terdengar oleh salah satu pohon-pohon itu. “Hahahahahahahhaha, jangan bohong kalian. Sindangkerta selamanya tidak akan pernah bisa ditaklukkan sebab itu ada tanahnya Dewa. Sindangkerta, anak emas Dewa.” “Jika kami bohong, buat apa kami datang ke hutan larangan ini.” Jawab Pak Kusuma membela diri. “Ya, mungkin saja kalian punya tujuan seperti orang-orang yang sudah datang kemari dulu. Ingin mencuri emas kami kan?” pohon yang bertubuh kecil ikut-ikutan nimbrung. “Emas, kami tdak tahu soal emas. Memangnya kalian punya emas?” Timpal Udin berbinar. “Ketika kami dikutuk Dewa, masing-masing kami diberikan sebongkah emas kehidupan yang terletak di dalam batang kami ini. Makanya, kami dapat bergerak sebebas kalian juga.” Ucap pohon yang bernyanyi tadi. “Tidak, kami tidak pernah tahu dengan adanya emas di tubuh kalian. Yang kami tahu hanya sebatas kalian dikutuk oleh Dewa. Dan kutukan tersebut akan sirna jika kalian membantu orang-orang yang sedang kesusahan.” Ucap bapaknya Udin meyakinkan. “Bagaimana, ini kesempatan kita menebus kutukan dari Dewa ini.” “ya, cepat kau ambil keputusan. Aku sudah muak jadi pohon.” “ya, karena kau ketua kami.”
Pohon-pohon itu terlihat kasak-kusuk. Tetapi, tak lama kemudian pohon yang tadi bernyanyi yang ternyata adalah pemimpin dari seluruh penghuni Alas Larang angkat bicara. “Baiklah kami akan menolong kalian. Besok pagi saat ayam jantan mulai berkokok kita akan mulai serangan fajar.”
Penantian menjelang ayam berkokok amat mendebarkan. Ketika serangan fajar dimulai ternyata seluruh pohon-pohon di Alas Larang bergerak searah ke Sindangkerta. Mereka membawa batu-batu dari gunung Halimun. Singkat saja serangan itu. Para pohon itu hanya sekali dua kali melayangkan batu terhadap kemah tentara Pajajaran. Tidak ada perlawanan sebab tentara Pajajaran amat takut dengan wajah para pohon yang sedang menyerang itu.
Tidak lama kemudian, seluruh tentara Pajajaran telah lari dari Sindangkerta. Para masyarakat menyambutnya dengan suka cita. Tak berapa lama, sawah-sawah kembali hijau lalu menguning. Kelabang-kelabang yang sempat mengungsi kembali ke bawah batu hitam di Batu Hideung. Dan pohon-pohon tersebut seperti lenyap begitu saja dan meninggalkan bongkahan-bongkahan emas yang banyak. Tak lama sesuara menggema, ‘ambillah emas-emas itu sebagai tanda kejayaan dan kemakmuran Sindangkerta’. Lalu suara itu menghilang. Matahari telah naik, dan seluruh penduduk telah kembali ke rumahnya masing-masing dengan suka cita. Kemakmuran dan keelokan kembali bersinar seperti matahari pagi yang terus bergerak ke arah barat.
(Tamat)
Padang, 5 Juni 2007
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.