Men-cyber-kan Sastra

Dunia semakin kencang berputar. Hasil-hasil kebudayaan manusia tidak saja tertumpu pada keyakinan tentang bagaimana bisa bertahan hidup, tetapi sudah mencapai ke taraf pengembangan yang sering tidak diduga-duga. Mungkin, sekitar 40 tahun yang lalu, tidak pernah terpikir oleh manusia ketika itu tentang adanya komputer apalagi dunia maya alias internet.

Salah satu produk maya yaitu e-mail atau surat elektronik telah membuat kerugian yang signifikan terhadap kantor-kantor pos dunia. Sebab, dengan e-mail, beberapa detik saja pesan yang diinginkan si pengirim telah sampai ke si penerima. Hanya dengan mengunjungi domain penyedia jasa e-mail dan mengikuti beberapa langkah pembuatan, manusia saat ini sudah dapat memiliki e-mail dengan gratis.

Inilah kekuatan dari internet. Seperti tulisan Rulli Nasrullah berjudul “Cyber Culture” yang dimuat di Padang Ekspres pada 6 Mei 2007 lalu. Menurut Rulli keberadaan internet mampu membentuk sebuah kultur baru dimana batas-batas geografis, demografis, etnisitas, ras, agama, hingga budaya menjadi tersamarkan. Kultur baru tersebut merupakan perwujudan dari keinginan para netter untuk hidup secara demokratis. Tanpa ada intervensi dan sikap egois. Meskipun masih ada pula yang dengan pongahnya melakukan intervensi, sikap egois—ingin menyamakan kehidupan dunia maya seperti dunia nyata.

Oleh karena itu, dunia tulis menulis—dalam hal ini ruang lingkup sastra pun tak luput dan telah jadi ‘korban’ pula dari geliat dunia maya. Koran atau media cetak yang selama ini menjadi tumpuan penulis, telah disaingi pula oleh dunia maya.

Munculnya istilah Sastra Cyber sendiri bermula dengan hadirnya komunitas-komunitas (millis) di dunia maya. Millis Penyair adalah salah satu millis yang merupakan tonggak lahirnya Sastra Cyber Indonesia. Di dalam perkembangannya, Sastra Cyber melahirkan tiga bentuk wajah yaitu Sastra Millis, Sastra Portal, dan Sastra Blog.

Dalam buku “Sastra Pembebasan Antologi Puisi-Cerpen-Esei” yang diterbitkan Yayasan Damar Warga tahun 2004, Theora Agatha dalam esainya “Sastra Cyber: Beberapa Catatan” mengungkapkan bahwa keberadaan sastra cyber telah menjadi wahana dan wacana yang sangat penting, justru karena fleksibilitas dan kemampuannya untuk menjadi sebuah barometer baru bagi kemajuan sastra kita (Indonesia) di masa depan.

Peranan strategis sastra cyber menurut Theora Agatha merupakan wahana berkreasi yang mampu mengupdate karya secara singkat sehingga menunjang produktivitas dan mendorong perkembangan sastra selain juga mengembangkan wacana kritis dan asah kemampuan maupun pemikiran. Meskipun sifat media internet yang serba instant dan bisa saja memunculkan budaya instant, namun itu semua tergantung kepada keadaan para penulis sastra cyber. Jika mereka mampu bersikap profesional yaitu mempertahankan produktivitas karya, maka bisa saja sastra cyber menjadi corak yang memunculkan angkatan baru dalam kancah perkembangan sastra Indonesia.

Namun sayangnya, bibit-bibit kelelahan dalam mempertahankan sastra di dunia maya juga sudah tersebar luas. Contohnya Cybersastra. Di Indonesia, siapa sih penulis sastra yang tidak kenal dengan Cybersastra. Sebuah portal sastra yang pernah populer beberapa tahun yang lalu. Tetapi, konon karena keeksklusifannya dalam pemilihan karya yang masuk, pernah diusili orang alias di-hack. Dan sekarang portal Cybersastra tersebut hanya tinggal kenangan. Sebagai situs sastra yang lahir pada awal perkembangan komunitas sastra cyber, Cybersastra tidak pernah di-update lagi. Ini menambah deretan panjang website-website sastra di Indonesia yang pada awal mulanya penuh semangat membara, lalu mati secara perlahan-lahan.

Sastra Blog
Tetapi, seperti kata orang banyak, mati satu tumbuh seribu maka saat ini yang lebih digandrungi para penulis cyber bukanlah portal atau situs-situs sastra melainkan blog-blog yang sekarang di Indonesia menurut Budi Putra (CEO Asia Blogging Network) mencapai 30.000 blog. Blog merupakan kependekan dari weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Blog kemudian berkembang mencari bentuk sesuai dengan kemauan para pembuatnya yang biasa disebut sebagai Blogger. Blog yang pada mulanya merupakan “catatan perjalanan” atau jurnal pribadi seseorang di internet, yaitu link ke website yang dikunjungi dan dianggap menarik, kemudian menjadi jauh lebih menarik daripada sebuah daftar link. Hal ini disebabkan karena para Blogger biasanya juga tidak lupa menyematkan komentar-komentar “cerdas” mereka, pendapat-pendapat pribadi dan bahkan mengekspresikan sarkasme mereka pada link yang mereka buat. Maka muncullah istilah Sastra Blog di kalangan penulis sastra cyber.

Sastra Blog sendiri merupakan wacana yang secara tidak sengaja hadir mengingat pesatnya perkembangan blog di Indonesia. Dari tulisan-tulisan yang beredar di berbagai blog bisa dikomentari secara bebas. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan melahirkan diskusi dan perdebatan yang panjang. Selain itu, latar belakang para penulis beralih ke dunia cyber—dalam hal ini blog kebanyakan karena merasa kecewa terhadap media cetak yang tidak pernah sekalipun memuat tulisan mereka. Ada lagi yang berpendapat bahwa blog merupakan media perlawanan terhadap redaktur terutama redaktur koran Minggu. Mereka mempertanyakan, dari sudut apa seorang redaktur menilai sebuah tulisan itu berbobot atau tidak? Hal ini senada dengan pendapat Katrin Bandel dalam esainya yang berjudul “Sastra Koran Indonesia” yang diterbitkan dalam buku “Sastra Pembebasan Antologi Puisi-Cerpen-Esei” oleh Yayasan Damar Warga tahun 2004.

Redaktur-redaktur halaman sastra di koran-koran Minggu itu rupanya mempunyai kebebasan penuh untuk menerbitkan karya sesuai dengan selera atau keinginan mereka. Apa kriteria mereka dalam memilih karya, sama sekali tak dapat dipahami orang luar. Dan tampaknya mereka pun tidak mempunyai ‘kemampuan yang khusus’ dalam tugasnya itu. Sama sekali tak ada jaminan bahwa mereka punya kemampuan-bahkan bahwa mereka punya keinginan-untuk memilih karya yang bermutu antara karya yang masuk.

Dalam sebuah esai lain berjudul “Hidup-Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur” yang terdapat dalam buku kumpulan esai bertajuk “Sastra Pencerahan” (diterbitkan oleh Saka Yogyakarta tahun 2005) Abdul Wachid BS. mengatakan:

Sementara itu karya sastra di Indonesia penyebarannya yang terpenting melalui koran (dan majalah) sekalipun kemudian dijadikan buku. Padahal, karya sastra di koran dan majalah kemunculan pertamanya ditentukan oleh Redaktur Sastra, yang menyeleksi naskah-naskah karya sastra kiriman itu.

Yang menarik, pada akhir esainya tersebut, Abdul Wachid BS. menulis:

Jadi, “Redaktur Sastra yang terhormat. Jika kerinduan terhadap munculnya karya sastra yang bermutu, gelisahnya terhadap stagnasi kritik sastra, dan tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia, maka Andalah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab! Terimakasih.”

Jadilah blog hadir sebagai salah satu bentuk perlawanan aktif dari para penulis cyber. Mereka (penulis cyber) percaya, bahwa dengan blog karya-karya tulis tersebut bisa dinikmati dengan luas sebab dunia maya adalah dunia tanpa batas yang jelas berbeda dengan koran atau majalah.

Sebetulnya sastra koran dan sastra cyber tidak secara total terpisah satu sama lain. Diskusi yang dimulai dari sebuah esai yang terbit di koran Minggu misalnya seringkali dibahas di dunia cyber—di millis, di blog dan situs-situs sastra. Dengan demikian ruang apresiasi sastra pun semakin bertambah luas bahkan tanpa sekat-sekat yang dapat memutus kreativitas. Hidup sastra Indonesia!

Popularity: 30%

8 Responses to “Men-cyber-kan Sastra”

  1. Ook Nugroho Says:

    Saya kok setuju dengan kesimpulan terakhirnya.

    Kehadiran sastra koran sebaiknya memang tidak dilihat sebagai “lawan” atau “musuh” dari sastra blog. Saya sendiri memperlakukan halaman sastra koran sebagai semacam “teman berlatih” untuk mengetes tulisan2 saya di blog. Supaya tidak jadi katak di dalam blog sendiri.

    Salam

  2. sayyid Says:

    Benar sekali Pak Ook, saya pun sependapat. Namun, kita pun harus tetap melakukan ‘perlawanan’ terhadap redaktur yang ingin maunya sendiri.

    Salam balik

  3. adhani Says:

    Sebagian karya saya memang pada akhirnya saya simpan di blog sendiri. Tapi tetap saja rasanya berbeda kalau saya bisa membacanya kembali bersama orang-orang lain di satu koran/majalah misalnya. Mungkin karena lebih mengharapkan pengakuan intinya.

  4. Abdul Wachid B.S. Says:

    Assalamualaikum wr wb. Artikel saya yang Anda kutip tersebut merupakan keprihatinan saya terhadap “kekuasaan koran dan majalah” atas perkembangan kesusastraan Indonesia. Tampak ironis, memang, “Hidup-Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur”. Syukur alhamdulillah jika beliau-beliau Redaktur Sastra menyadari arti penting posisinya yang tepat. Akan tetapi, dengan perkembangan teknologi internet, secara eksistensi akan mampu mencairkan sentralitas koran dan majalah itu. Semoga tidak cuma secara eksistensi saja sebab sastrawan juga perlu honor (sebagaimana yang telah diberikan koran dan malah) untuk menghidupi kehidupannya dalam waktu dekat, dan ini akan bergantung pada bagaimana sastrawan mengakrabi teknologi internet sehingga dengan website-nya sastrawan mampu “hidup” dan “menghidupi” karya sastranya. Semoga.

  5. sayyid Says:

    hmm, Pak Abdul Wachid. Senang rasanya bapak menyematkan komentar di blog Lentera Susastra ini. Ya, persoalan Redaktur yang otoriter memang masih menjadi polemik diantara kehidupan sastrawan. Susah juga, ketika kita bilang “Ah saya gak perlu sama redaktur”.

    Sebenarnya, hubungan redaktur koran dan majalah dengan penulis-penulisnya adalah hubungan atau simbiosis mutualisme. Jadi tidak etislah jika salah satu pihak mengklaim atau menjadi sewenang-wenang. Namun, kebanyakan redaktur seperti sudah menjadi tradisi bahwa dia menentukan segalanya. Para penulis ini hanya bisa berharap “dag-dig-dug” menunggu hari Minggu (yang katanya adalah hari Sastra Indonesia).

    Semoga sastrawan bisa menghidupi dirinya lewat internet. (seperti harapan bapak).

  6. Ahmad Fudaili Says:

    Pak, saya adalah pengguna yang masih awam, baru satu tahun saya berkenalan dengan dunia maya, dan bikin blog. Pak. saya temukan di : mywritingblogs.com/sastra/2007/06/27/men-cyber-kan-sastra/ - 17k -. Sebuah Portal di cybersastra. Pak gi mana cara blog saya supaya bisa juga ada di portal cybersatra, apa harus domain dulu, atau bagai mana.

    mohon balasannya.

  7. yo Says:

    sependapat dengan kang ook, media koran bagaimanapun jangan dilihat sebagai ‘musuh’. meski tulisan saya sebagian besar ada di buku dan juga blog, tapi tetap saya mencoba mengirim karya ke koran untuk uji coba atau tes layakkah dimuat di sana menurut kacamata redaktur sastranya.

    selain itu, dengan mengirim ke media, diuji juga keberanian kita untuk menampilkan nama (bukan untuk bersombong atau tengadahkan wajah).

    salam,
    yo

  8. Andre GB Says:

    ada situs sastra yang memuat karya-karya dari seniman-seniman muda di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo.
    Kunjungi di: sastramanado.co.nr

Leave a Reply