Kisah Perlawanan Perempuan Bernama Sanikem
Sudah baca Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer? (Jika belum baca, ayo buruan baca sebab sangat rugi sekali jika tidak melihat keapikan Pram mengolah kata-kata menjadi seperti nyata).
Dalam Tetraloginya itu (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) Pram mengisahkan tentang kehidupan orang-orang pribumi ketika zaman kolonial Belanda atau zaman politik etis. Tersebutlah Minke, seorang anak Bupati yang berkesempatan meraih pendidikan di sekolah milik Belanda. Ia jatuh cinta pada Annelies, putri dari Buitenzorg anak Tuan Mellema dari gundiknya Sanikem.
Setidaknya, dengan membaca empat roman Pram tersebut, dapat tergambarkan oleh kita tentang kondisi sosial masyarakat Nusantara yang dikotak-kotak oleh kolonial. Seorang anak perempuan sah-sah saja dijual bapaknya kepada tuan-tuan Belanda agar penghidupan keluarga tercukupi. Sungguh merisaukan keadaan perempuan Nusantara ketika itu. Jadi gundik–bukan istri, yang setiap saat bisa saja dicampakkan begitu saja jika sang tuan Belanda sudah merasa bosan.
Medio 12, 13, dan 14 Agustus 2007 di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta akan diadakan pentas teater Nyai Ontosoroh. Sebagaimana diketahui dalam roman Bumi Manusia-nya Pram, Nyai Ontosoroh adalah nama lain dari Sanikem. Perempuan Jawa dari kalangan pribumi yang dijual bapaknya hanya gara-gara bapaknya ingin kedudukan lebih dari pekerjaannya sebagai juru tulis.
Dalam pementasan ini, Happy Salma akan ikut berapresiasi bersama Rudi Wowor, Restu Sinaga, Ayu Diah Pasha, Madina Wowor, Temmy, Sita “RSD” Nursanti, William Bivers, M Hendrayanto, Teuku Rifnu Wikana, Nuansa Ayu, Felencia Hutabarat, Antony Ayes, Temmy H, Rusman, Joint, Bowo GP, Syaeful Amri-Ari, Rusman, Pipien Putri, Rebecca Henscke.
Oleh karena itu, jangan sampai ketinggalan melihat pementasannya. Info lebih lanjut klik link dibawah ini:
Popularity: 15%