You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Archives: July 2007
Asyik buka-buka email yang banyak berdatangan dari millis-millis sastra, eh nyangkut kepada salah satu esai yang berkesan. Tanpa bertele-tele Ismulyadi (penulis esai ini) mendekonstruksikan puisinya Musthofa Bisri berjudul “Di Atas Mimbar”. Religiusitas dalam sastra, atau sastra dalam religiusitas? Ok, simak ulasan Ismulyadi berikut ini: Hari ini saya membaca puisi berjudul “Di Atas Mimbar”. Sebuah puisi yang [...]
Rangkaian acara Ode Kampung Jilid 2 baru saja usai. Semua telah pulang ke tempat asalnya masing-masing. Ratusan peserta itu rela untuk meninggalkan rumah barang sejenak untuk bertemu, melepas lelah, melepas kangen kepada kawan-kawan se-profesi, se-payung dan payung yang menyatukan mereka itu bernama payung sastra.
Ini adalah sajak-sajaknya Sayyid. Ya, meski bukan penyair terkenal namun ia berharap agar puisinya menjadi terkenal. Jika Kuntum Tak Lagi Mekar (I) masih berdecakan, sisa hujan yang basah menggenang di bawah surian rindang ketika itu, hari masih terik tapi tibatiba saja bulir sekepal jagung menderasi leladang masih kuingat senyum peladang pada musim lalu, ketika putik bunga tumbuh jadi buah “masih kutunggu, bulirbulir keringat jadi darah” dan [...]
Shakespeare. Siapa tidak kenal dengan sastrawan dunia ini. Naskah-naskah teaternya sampai saat ini masih sering diapresiasi. Begitu pula sajak atau puisi-puisinya yang banyak mengilhami para penyair dunia ini. Berikut beberapa sajaknya yang terhimpun dalam The World’s Best Poetry, Volume 3 Sorrow and Consolation.
Sastra Indonesia. Sastra yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang katanya cinta damai, arif, tenggang rasa, dan penyabar. Sastra diproyeksikan kepada sebuah tujuan yang tidak lain merupakan wujud pengkatarsisan diri manusianya.
Adegan I: [Beberapa orang masuk pentas. Dari sayap kiri, mereka berjalan menyebar ke tengah. Membentuk satu shaf. Seseorang dari mereka maju beberapa langkah ke depan. Mereka duduk—satu orang mengomandoi untuk mulai berzikir. (beberapa saat) Zikir diakhiri dengan doa yang diucapkan imam dan diamini oleh yang di belakang. Setelah berdoa, mereka pun melangkah keluar pentas (menyebar) Mereka [...]
Hari ini kau masih berjalan. Saat, semua masih pulas menggelungi bantal, kau menapak jalanan basah. Kau cium sesuatu yang asing—tepat beberapa blok di depanmu. Sambil mengecup senyum di punggung pohon, kau kembali melangkahkan kaki, merapatkan jaket yang meraup tubuh lamurmu itu.
AA. Navis Award, adalah sayembara cipta cerpen yang diadakan untuk mengenang kepiawaian Navis dalam bercerita. AA. Navis Award terselenggara berkat kerjasama Universitas Negeri Padang dan Deakin University serta disponsori oleh Bank Nagari (BPD) Sumatra Barat. Pengumuman hasil sayembara ini sempat mengalami kemunduran dari jadwal karena banyaknya naskah yang masuk ke meja panitia.
Itulah Ragdi F. Daye. Seorang pria yang dilahirkan di kota Solok pada 11 September 1981. Ragdi merupakan nama pena dari Ade Efdira, lulusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Sekarang, beliau aktif di Forum Lingkar Pena Sumbar dan Komunitas Ilalang Senja.
Siapa yang tidak miris melihat buncahan lumpur yang menderas dari bawah bumi. Lapindo Brantaslah yang punya kerjaan, namun belum selesai hingga kini. Kasian? Ups, tunggu dulu, siapa yang perlu dikasihani?
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.