You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Untuk yang Terdalam

Untuk yang Terdalam

sayyid — July 9, 2007 / 7:01 pm

Hari ini kau masih berjalan. Saat, semua masih pulas menggelungi bantal, kau menapak jalanan basah. Kau cium sesuatu yang asing—tepat beberapa blok di depanmu. Sambil mengecup senyum di punggung pohon, kau kembali melangkahkan kaki, merapatkan jaket yang meraup tubuh lamurmu itu.

Pagi yang gemericik. Mentari baru tampak malu-malu di ujung timur. Cahaya yang riuh menelisik embun dan rindang pepohonan lalu jatuh berkilauan di ujung sepatumu yang hitam mengkilap disemir derauan dingin. Burung-burung gereja hinggap satu-satu di seputaran kaki-kakimu, lalu terbang rendah sambil bersiul-siul riang, mengabarkan pagi bulan Februari masih setia datang. Tetapi, ada beberapa ekor yang sepertinya rikuh berputar-putar mengelilingi tubuhmu yang gempal. Nada-nada sumbang keluar dari paruh-paruhnya. Agaknya, mereka tidak sudi dan berusaha menahan langkahmu yang terus terburu, ke ujung perempatan sana.

“Jangan kesana tuan, sepertinya kau akan menyesal bukan kepalang. Sudah menunggu berjam-jam orang itu disana. Aku tidak tahu, mungkin akan menemuimu.” Begitulah raung burung-burung gereja itu bersahutan.

Tapi, kau tetap saja melangkah. Senyummu masih saja kau lemparkan kepada sayap-sayap mereka. Kau menafsirkan hal lain. Ketika lewat di dekat de Dieu kau mampir sebentar ke sebuah warung untuk membeli sebuah bungkusan makanan burung.

“tidak tuan, bukan makanan maksud kami. Tapi, orang di perempatan itu sepertinya menakutkan,” Ujar burung-burung itu ketika tubuhmu kau sorongkan ke sebuah ruangan penuh wewangian berbagai margasatwa. Burung-burung pun bersepakat, urung mencicip walau sebiji pun.

“Kenapa kalian ini? Bukankah kalian lapar? ini, makanan terlezat yang pastinya dari yang pernah kalian makan. Ayolah,” Kau berusaha membujuk burung-burung itu untuk menyentuh makanan pemberianmu.

“Oh, tuan… kenapa engkau tidak mengerti juga.”

Setelah bersepakat kembali, burung-burung itu akhirnya menyetujui melahap makanan pemberian darimu. Namun, kau merasa aneh, kenapa satu burung hanya makan sebiji? Dan kau hanya menatap gelisah ketika mereka berdesauan pergi.

Lalu, langkah kakimu pun kau ayunkan di trotoar dekat sebuah stasiun Metro. Dadamu masih normal menghirup udara pagi yang dingin. Kadang-kadang, hembusan matahari menyapu serat kepalamu yang putih.

“Ah, hari ini, betapa menyenangkannya.” Kau bergumam dengan jarak hanya seratus meter lagi dari seorang aneh yang berdiri terpekur di hadapanmu. Lurus.

Ini waktu, terus kau susuri, mendepak kertas-kertas yang berlarian di dekat kakimu. Kembali kau berdiri, menatap ujung Eiffel yang rasanya begitu haru mengingatnya.


Dulu, di tepi Asahan, kau dan kedua saudaramu sering bermain petak umpet. Di balik cadasnya batu-batu kali, kau menghambur ke dalam air ketika Aidit telah menemukan tempat persembunyianmu.

“Kena kau Simon,”

Namun, kau selalu lebih sigap dari saudaramu itu, meluncur cepat ke dalam air, dan muncul lagi diatas batu besar.

“Aku belum kalah… aku belum kalah”

Kau, dan masa kanak-kanakmu dulu yang begitu ceria, tidak pernah akan menyangka bahwa di penghujung tahun ini, hidupmu tinggal sebatas tenggorokan.


Cukup lama kau duduk di bangku panjang taman. Mengingat masa-masa kecil yang begitu mendesakmu untuk berpikir sekali lagi;

“Mengapa?”

Akhirnya, kau putuskan sendiri, untuk meneruskan perjalananmu. Tinggal lima puluh meter dari jarak orang hitam di depanmu, yang selalu saja terpekur dengan menelengkan kepalanya ke kanan. Menatapmu.

Tiba-tiba, kau teringat dengan Iba, keponakanmu yang paling sulung. Berhenti di tengah trotoar, mengambil secarik kertas yang dari tadi selalu mengitarimu. Kau keluarkan pula ujung penamu, dan menorehkan segurat angka-angka, dan dibawahnya kau tuliskan pula nama keponakanmu itu.

Sejenak, kau kelihatannya berpikir sangat keras, hingga tidak sadar menjatuhkan penamu ke ubin trotoar.

“Kenapa aku tulis nomor telepon Iba?”

Lalu, kau lanjutkan kembali perjalananmu yang terhenti. Menapak jalanan basah yang diembuni sebutir mutiara. Semakin dekat. Jarak sepuluh meter, lima meter dan…

“Semua telah lama menunggumu kawan.”

Kau pun tertegun. Di depan jalan masuk ke Metro, kau bertemu orang aneh yang selalu menelengkan kepalanya ke kanan.

“maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Ya, semua sudah menunggumu. Mereka sangat menyayangimu. Di penghujung ini, kau harus ikut aku. Ayo.”

Kau tidak berkutik. Menurut saja langkah kaki orang aneh di depanmu. Membeli dua buah tiket, dan segera menuju kereta, yang sesaatnya kau baru tahu, kereta itu tidak berpenghuni. Cuma kau sendiri, dan lelaki aneh di depanmu.

Berjalan gontai kereta itu. Lama-lama, kau hembuskan juga nafas kantukmu yang dingin. Sepertinya, kau kembali tertarik ke masa kecilmu, yang selalu naik lokomotif bersama ibu yang pergi berjualan di pasar. Di kaca jendela kereta, kau menatap jelas wajah ibumu yang tenang, menikmati guncangan lokomotif yang akan membawamu ke desa mimpi.

“Itu, ibu.”

Dan kereta yang membawamu, masih berusaha membawa tabir pagi. Menjauh dari hiruk pikuk kota.

Padang, 10 Februari 2007

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Yeni Kusmiati — Congratulation ya buat mba anindita Q juga ikut serta dalamlomba tersebut tapi mang masih amatir jadi q harus lebih banyak belajar ...
  • asy-syifa — PLIS... KASIH TAHU AKU YA... LOMBA NULISNYA...
  • asy-syifa — Assalamu'alaikum! Kalau ada lomba nulis... tolong kabari aku ya... writer_cute@yahoo.co.id tolong ya... aku tunggu loh... Wassalam!
  • leo — sabar ya, tapi sebaiknya benahi kesalahan minta maaf dan ada kabar tentang penundaan pengumuman atau lainya...!
  • Ichsan — Gembel bgd c ni lomba. Pengumuman aj ngaret. Pa lg hadiah dr sponsor. D tilep kalee.
  • Eranthy Firdaus — ah, hopeless banget nih nungguin pengumuman pemenang . kok kayaknya enggak profesional banget ya ?! seenggaknya kasih pemberitahuan keterlambatan pengumuman. biar ...
  • Silvi — terima kasih banyak atas archive sastra. Saya sempat kebingungan nyari cerpen Danarto di Jawa Pos "Bintang Bethlehem" karena di Jawa ...
  • rita — tetralogo laskar pelangi Keren Buanget. arai itu beneran ada?? kenapa baru muncul di SANG PEMIMPI ??? MARIYAMAH KARPOV kren abiz
  • manxini — ini lomba beneran ada g sih? dah lama banget belum ada pengumumannya??? apa ini penipuan??
  • uswatun arrozi — asslkm saya mahasiswa STAIN jember, apa saya boleh mengikuti lomba di kampus anda? tlog blz di e-mail saya