You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Menjelang Kematian Sastra Indonesia
Sastra Indonesia. Sastra yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang katanya cinta damai, arif, tenggang rasa, dan penyabar. Sastra diproyeksikan kepada sebuah tujuan yang tidak lain merupakan wujud pengkatarsisan diri manusianya.
Menyikapi polemik yang terjadi beberapa bulan terakhir. Konfrontasi yang dilakukan oleh kedua belah kubu, (Taufik Ismail yang dekat kepada semangat anti liberalisme dan Hudan Hidayat yang dekat kepada sisi liberalisme itu sendiri) sudah tidak dapat dikatakan polemik yang etis karena sudah sampai kepada sikap justifikasi, saling hina dan melakukan pembenaran terhadap kelompoknya sehingga tidak mau mendengarkan lagi apa yang dijadikan pendapat orang.
Polemik yang didasari oleh sikap seorang Taufik Ismail yang kecewa terhadap fakta sosial rakyat Indonesia yang dikungkung “syahwat”. Maka, muncullah metafora kritis dari Taufik yang menyatakan bahwa di Indonesia ada semacam “Gerakan Syahwat Merdeka”. Gerakan tanpa komando yang jelas alias gerakan hantu, namun gerakan ini saling bahu-membahu mendekonstruksi moral rakyat sehingga kehidupan rakyat Indonesia tidak lagi bermoral.
Sastra menjadi salah satu lahan yang tidak luput dari tembakan Taufik. Pada poin kelima dalam pidatonya di depan Akademi Jakarta tahun 2006, Taufik mengatakan begini:
“Penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat - sastra dan - sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.”
Sastra Mazhab Selangkang Propaganda Taufik berhasil membuat para pelaku sastra (penulis sastra, media massa, penikmat sastra) terbengong-bengong. Tentu saja, peluru yang diarahkan lebih tertuju pada para pegiat sastra yang menggarap kelamin atau hubungan perkelaminan dan ditarik garis hubungan itu ke dalam sastra. Peluru yang terpantul-pantul itu, banyak melukai para pegiat sastra tersebut dan meninggalkan segaris dendam.
Tidak bisa dinafikan bahwa serangan balasan yang dilancarkan oleh Hudan Hidayat adalah juga bekas dari luka (dendam) yang dulu ditembakkan atau dalam khasanah Hudan ditikamkan oleh Taufik Ismail. Pada akhir esainya yang berjudul “Sastra yang Hendak Menjauh Dari Tuhannya” yang dimuat di Jawa Pos (6/5/07) Hudan menulis begini:
“…Karena itu, tidakkah yang “tertusuk padaku, berdarah juga padamu”, Tuan Ismail.”
SMS sendiri merupakan hasil kekecewaan yang sangat mendalam (TI) dalam menyikapi banyaknya penulis yang dengan vulgar menuliskan vagina atau penis (kelamin), menggambarkan lekuk-lekuk bentuknya, atau sekedar menuliskan hubungan yang terjadi antara keduanya. Sesuatu hal yang (dulu) dianggap tabu. Tabu, tidak saja untuk diperlihatkan ke sembarang orang, menyebutkan atau menuliskannya saja (dulu) orang Indonesia bukan main begitu malunya. Ibaratnya, ketika mengucapkan atau menuliskan seperti menelanjangi diri sendiri di depan khalayak umum.
Bukan saja TI, tetapi banyak juga pegiat sastra yang merasa risih dengan prilaku yang dianggap destruktif tersebut. Bukan memperkaya, tetapi malah makin memperpuruk Indonesia sebagai negara dengan muslim terbesar, dan wilayah yang paling memegang teguh adat ketimuran. Namun, dimana adat itu dipenjara sekarang?
Bersiaplah Untuk Menghadiri Pemakaman Sastra Indonesia Polemik yang terjadi antara kubu TI dan HH, merupakan kaitan dari polemik yang juga terjadi di seputaran RUU APP. Mengapa saya bilang polemik tersebut tidak etis? Dalam beberapa tulisan mengenai polemik ini, banyak terdapat kata, kalimat yang cenderung mencetuskan atau menjustifikasi, mengadili lawan. Seperti tulisan TI di Jawa Pos (17/06/07). Dengan sangat kecewa, saya pikir yang ditulis oleh TI bukanlah sebuah esai sastra yang etis. Alih-alih menyimpan sebuah makna semiotik yang dalam bagi pembaca, namun hanya membuat luka (lawan) kembali menganga.
Begitu pula dengan polemik serupa yang terjadi di media Republika. Dari dua tulisan (1/07/07) dan (15/07/07), tidak ada yang mengandung makna dalam yang bisa digali oleh pembaca. Pembaca hanya disuguhkan bacaan (esai) kering dan tidak tertutup kemungkinan perasaan kecewa (seperti yang saya alami) terhadap sastra Indonesia dewasa ini.
Oleh karena itu, sastra Indonesia tinggal menunggu hari kematiannya. Sebab, para pegiatnya hanya mementingkan kepentingan kelompok (ideologi)nya sendiri. Sastra, hanya dicomot sebagai pemanis kata, sebagai pengharum baju namun dicampakkan begitu kadar manis dan harumnya habis. Oh, nasibmu sastra Indonesia. Sastra yang telah dilingkupi penyakit ideologi yang akut. Omong kosong jika Hudan menyatakan novelnya yang berjudul “Tuan dan Nona Kosong” sebagai novel posnovel. Posnovel, berarti bersemangatkan Posmodernisme, dan Posmodernisme tidak mengenal yang namanya ideologi. Ideologi, telah terkubur bersama zaman modern.
Oleh karena itu, berangkat dari perkataan Nietzche, bukan Tuhan saja yang telah “mati”, tapi Sastra Indonesia pun tinggal menunggu hari. Kita tunggu saja. Siap-siap pake baju hitam ya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
widodo
oke…
August 4th, 2007 at 12:12 pm
widodo
ada acara apa aja bulan ini?
August 4th, 2007 at 12:13 pm
sayyid
Mas Widodo. Acara bulan ini yang terhangat datang dari Gedung Kesenian Jakarta. Bisa dilihat postingannya. Biar lebih jelas.
August 7th, 2007 at 12:08 pm