Religiusitas Dalam Sastra; Refleksi Terhadap Puisi Musthofa Bisri Berjudul “Di Atas Mimbar”
Asyik buka-buka email yang banyak berdatangan dari millis-millis sastra, eh nyangkut kepada salah satu esai yang berkesan. Tanpa bertele-tele Ismulyadi (penulis esai ini) mendekonstruksikan puisinya Musthofa Bisri berjudul “Di Atas Mimbar”. Religiusitas dalam sastra, atau sastra dalam religiusitas? Ok, simak ulasan Ismulyadi berikut ini:
Hari ini saya membaca puisi berjudul “Di Atas Mimbar”. Sebuah puisi yang ditulis oleh K.H. Musthofa Bisri pada tahun 1990-an. Demikian syairnya:
Di Atas Mimbar
Ketika aku sedang berkhotbah
Dia menudingku:
Iblis dan Firaun kau laknati
Sambil jejaknya terus kau ikuti
Tuhan dan Rasul pun kau puji-puji
Sambil petunjuknya terus kau kentuti
Masih berani kau berlagak mukmin sejati.
Di atas mimbar
Tinggal jubah takwaku berkibar-kibar
Aku sendiri terbakar
Mendahului mereka
Yang ke neraka
(Bisri, 1990:18)
Sebuah puisi yang menyindir umat beragama dalam kaitannya sebagai seorang hamba Tuhan. Banyak dari umat beragama (para tokoh agama termasuk dalam ranah ini) yang mengaku selalu mengingat dan menjalankan perintah maupun ajaran Tuhan, di mana saja, kapan saja, namun sesungguhnya mereka hanya memenuhi perasaannya sendiri.
Dalam puisi itu, saya menemukan refleksi yang mendalam dari K.H. Musthofa Bisri bahwa simbol-simbol dalam agama (mimbar dan jubah) dipakai sebagai sarana otokritik bagi hidup rohaninya.
Penyair ingin menyindir dirinya sendiri sebagai seorang yang berlaku seperti Firaun melalui perannya sebagai seorang mubaligh, yang kadang jatuh pada sikap menghakimi dan sewenang-wenang. Dalam situasi tersebut, penyair merasakan dirinya sebagai sosok yang paling merana, yang hanya menyisakan simbol-simbol fisik dalam hal agama sementara secara batiniah dia merasakan sebagai orang yang gagal dalam menjalankan perintah dan ajaran-Nya. Penyair merasakan sebagai orang yang paling dulu akan menuju ke neraka, karena hanya bisa mampu mengatakan tanpa bisa mampu mengamalkan.
Selain menemukan “mutiara rohani” dari penyair, saya juga menemukan sesuatu yang berpijar dalam otak saya. Saya ingat istilah yang digagas almarhum Romo Mangunwijaya bahwa “pada awalnya, segala sastra adalah religius”. Dengan istilah itu, tampaknya semakin menegaskan bahwa sebagai karya sastra (baca: Di Atas Mimbar-nya KH. Musthofa Bisri) yang baik, puisi itu berdasar dari sikap religi penyairnya. Suatu sikap religiusitas yang tidak hanya dihubungkan dengan ketaatan ritual dan atau hukum agama, tetapi pada yang lebih dalam, lebih mendasar dari pribadi manusia. Semoga “pada awalnya, segala sastra adalah religius” pun kian marak dan mewabah di bidang lainnya.
Popularity: 17%
May 14th, 2008 at 3:06 pm
sastra juga dapat dijadikan sarana untuk berdakwah, namun sesekali jangan dilupakan niat awalnya. sebab setan dan iblis selalu mengiringi langkah kita. knapa seperti itu, terkadang seorang sastrawan merelakan akidah atau nilai-nilai dari agama hanya demi kepamorannya dalam ranah sastranya.