You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Archives: August 2007
Judul, Sedekah Air Mata Asril Koto Penerbit, Dewan Kesenian Sumatera Barat Cetakan Pertama, Maret 2007 Tebal 120 halaman rumput-rumput, marilah kita ibadahkan saja sisa dunia pada cermin muka lihatlah, disitu ada senja atau resah beri wangi pada sisa usia, walau kita belum beribadah, sedekah air mata juga ibadah ber-Tuhan pada diri sendiri tak bisa ku sedekahkan air mata (Sedekah Air Mata, hal. 98)
Sudah semestinya kita sebagai manusia menghargai kedudukan buku yang katanya sebagai jendela dunia. Banyak sudah pakar, maupun orang biasa yang mengatakan hal seperti itu. Namun, entahlah kenapa orang kita (orang Indonesia) seperti tidak pernah dibesarkan oleh budaya buku. Hanya dibesarkan dengan kekerasan ataupun ancaman, yang tentu saja tak akan dapat ditemui sebuah dialog antara dua [...]
Setelah mengetahui bahwa pekerjaan menjadi penyair bukan pekerjaan gampang, lantas apa yang dapat kita perbuat kepada penyair? Pertanyaan tersebut saya rasa perlu direnungi. Sebab, tak jarang setelah membaca sebuah puisi maka selesai pula penerawangan sampai disitu. Memang ada penyair yang menulis supaya buah pikirannya bisa dibaca banyak orang. Masalah disukai, dipuji, atau dihina itu masalah yang [...]
Tafsir atas sebuah karya sajak memperkaya sajak tersebut, kata Profesor Sapardi Djoko Damono. Kita tidak menulis di atas kertas kosong, tapi kita menulis di atas realitas dan diatas tulisan orang lain, kata Sutardji Calzoum Bachri. Kutipan dari dua nama besar di jagad sastra Indonesia itu cukup untuk jadi alasan kita untuk terus menulis kegelisahan kehidupan [...]
Puisi sebagai karya sastra menghadirkan kata dan ungkapan dari berbagai segi. Di samping mengandung makna yang menarik untuk disimak, di dalam puisi terdapat kekuatan citra dan rima yang indah, serta ada jangkauan simbolik yang dapat membuai kita untuk menyelami kata-katanya.
Dunia sastra adalah dunia yang imajinatif. Dunia sastra, merupakan dunia yang bergerak tanpa berhenti. Sebab, jika ia berhenti maka berhenti pulalah dunia kreatif para kreator sastra yang ada di belakangnya. Jika sudah berhenti, lantas dimana lagi tempat yang adem, tempat yang tenang, tempat yang takkan pernah terjamah oleh dogma, tempat yang sejuk?
Yup BUNG! Hari ini genap 62 tahun tanah yang bernama Indonesia ini merdeka. 17 Agustus 1945, disaat dunia sedang dilanda Perang Dunia ke-II tahap akhir Indonesia berada dalam kondisi chaos tanpa ada seorang pun pemimpin. Oleh karena itu, para pemuda mendesak agar Indonesia merdeka sekarang juga!
Sebuah pertanyaan menggelitik pada saat banyak pengamat sastra mencurigai bahwa sastra Indonesia telah menceburkan diri dalam estetika dan ideologi globalisasi neoliberal, di mana identitas dan kedaulatan bangsa telah digerus dan akhirnya dikaburkan. Untuk mengujinya kita bisa mengambil sampel, membaca dan menganalisis karya sastra dan proses kreatif sastrawan itu sendiri.
Berikut, saya sematkan link-link yang memuat tulisan-tulisan menyangkut prahara di tubuh sastra dewasa ini. Dalam hal ini, yang mengarah kepada polemik yang pertama kali dilontarkan oleh Taufik Ismail. Selamat menyimak. Gerakan Syahwat Merdeka, pidato Taufik Ismail tanggal 20 Desember 2006 di Taman Ismail Marzuki Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia, [...]
Berteater merupakan salah satu media belajar dan berkarya bagi banyak kalangan, tidak terkecuali perempuan. Kekaryaan dalam hal ini seni teater, tentu saja memiliki pencitraan dan daya ungkap yang lain menurut sudut pandang perempuan. Tidak hanya tatkala suatu hasil karya dipentaskan, tetapi meliputi juga seluruh proses kerja dan kegiatan yang mengiringinya adalah bagian dari proses [...]
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja