Setelah mengetahui bahwa pekerjaan menjadi penyair bukan pekerjaan gampang, lantas apa yang dapat kita perbuat kepada penyair?
Pertanyaan tersebut saya rasa perlu direnungi. Sebab, tak jarang setelah membaca sebuah puisi maka selesai pula penerawangan sampai disitu. Memang ada penyair yang menulis supaya buah pikirannya bisa dibaca banyak orang. Masalah disukai, dipuji, atau dihina itu masalah yang belakang. Namun tidak ada salahnya jika puisi-puisi yang kita baca kita renungi dan pahami serta kalau perlu dipergunakan sebaik-baiknya.
Masih ingat tidak peristiwa beberapa bulan yang lalu, dimana seorang nomor 2 di Republik ini mencak-mencak gara-gara isi puisi yang dibacakan di depannya sangat “menyentuh” kalbunya. Peristiwa itu terjadi ketika Hari Pendidikan Nasional 2007 kemarin. Nah, itulah salah satu contoh akibat tidak paham dengan puisi. Padahal beliau adalah orang berpengaruh, tetapi kok menimpali kata-kata bersusun itu dengan emosional ya….
Itulah penyair, yang gila dengan dunianya. Dia hidup dari puisinya, bukan puisi hidup dari dia. Rilke seorang penyair Jerman pernah dinyatakan hampir gila oleh seorang dokter jiwa dikarenakan sifat introvertnya sebagai penyair. Potongan kisah Rilke ini bisa dibaca di buku SQ (Sipiritual Quotion) tulisan Dannah Zohar. Tetapi, jangan anggap penyair itu semua gila. Tidak, namun kadang memikirkan hal-hal kecil bisa membuat pikiran kita terjebak dan akhirnya gila.
Lalu, masih inginkah menjadi penyair?
Popularity: 12%