You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Djenar
Cerpen ini agak lain dari kebanyakan cerpen. Cerpen yang langsung menukik tajam menghantam atau menggelitik nurani. Tokohnya benar-benar nyata. (Nyata dalam realitas dunia kepenulisan) Benarkah cerpen ini sebentuk perlawanan, atau barangkali ada sesuatu yang lain yang mau diangkatkan oleh si penulis (Abdullah Khusairi). Mari disimak.
Masih ingatkah kau pada masa kecil kita? Pada sebuah taman kanak-kanak dan sekolah dasar, di mana kita selalu menjadi pasangan idola, duduk di bangku yang sama pada deretan tengah nomor dua dari depan. Kita, kata ibu-ibu yang selalu ikut ke taman kanak-kanak itu, sepasang boneka yang bisa tersenyum.
“Boneka Romeo dan Juliet,” kata mereka. Benar. Kita selalu akur dan sepadan dalam kejenakaan masa kecil.
Satu yang membuat kita menjadi bersaing, ambisi belajar agar dapat juara kelas dan hadiah waktu menerima rapor sekolah dasar. Ketika duduk di SD, dari kelas satu hingga kelas enam, kita tak pernah membagi kepada yang lain juara satu dan dua. Hanya kita. Kadang kau yang meraihnya, kadang aku. Pada kelas lima dan enam, kau paling sering mendapatkan juara karena aku sudah mendapatkan dunia kecilku yang lain. Kau tetap belajar, sedang aku sudah mulai beralih perhatian, pada game wacth dan juga berenang di sungai. Belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik bagiku.
Pagi tadi, masa dua puluh lima tahun lalu itu terburai dari dalam kenangan. Berantakan menjadi sebuah peta buta tak bernama. Itu terjadi setelah kau hadir dalam sosok seseorang yang anggun di hadapan kami, peserta pelatihan penulisan sastra.
Dan, kau tak kenal lagi siapa aku. Aku pun tak ingin mengenalkan diriku kepadamu. Bagiku, cukup duduk di kursi di barisan kedua dari depan sambil mendengar celotehmu, menikmati senyummu, sesekali pandangan kami, para lelaki, jatuh ke dadamu yang membelah seperti hendak pecah itu.
Kau jadi bintang dalam pertemuan tadi. Bicara dengan mantap tentang dunia kepenulisanmu yang telanjang dan berlendir. Aku risih dan merasa jijik. Tetapi banyak orang yang antusias mendengarmu, berdecak kagum atas kehebatanmu sebagai penulis perempuan yang kini sedang laku di ranah industri kata-kata.
Kau memang amat mahir memainkan kata-kata dalam menyampaikan materi ceramahmu. Ditambah lagi, gemulai tangan dan lentik jarimu memegang mikrofon membuat suasana dibanjiri pesona ayumu. Aduhai, sesuatu telah sampai ke ubun-ubunku datang dari alam bawah sadarku. Sesuatu yang lumrah dari seorang laki-laki.
Tetapi, di balik itu, sungguh aku tak lagi menemukan sesuatu yang aku suka darimu. Pendiam dan pemalu. Namun, kau tetap cantik. Lebih cantik malah! Sesuatu dari dalam dirimu menambah kecantikan itu menjadi mengelopak sempurna. Hanya saja aku menangkap semua itu menjadi sesuatu yang liar pada dirimu. Ya, kau sudah liar dari yang aku kenal. Pikiran dan gayamu sangat nakal. Nada-nada suaramu meninggi membawa api. Membuat para lelaki harus berpikir dua kali untuk sekadar menyapamu. Aku jadi maklum ketika ingat berita di surat kabar, kau sudah cerai dari suamimu dan punya anak satu. Cerai? Sebuah fenomena baru dalam dunia selebriti di negeri ini. Kau potret perempuan masa kini yang mandiri dan tak bisa didikte oleh laki-laki.
Menurut moderator dalam pengantar ceramahmu, kau memiliki karakter kuat sebagai penulis perempuan yang memberontak. Membawa visi feminis yang mendobrak rambu kemapanan dunia kepenulisan yang ada. Dan, kau diterima pasar. Maka, jadilah kau seorang selebriti yang masuk di semua lini dalam laku industri yang memiliki pasar di luar nalar.
“Sastra itu bebas. Dunia kreatif yang tak perlu harus mengingat rambu-rambu dan juga kadang-kadang norma-norma. Kalau Anda masih mengingatnya, percayalah Anda tidak akan pernah bisa memulai.”
Aku di antara pendengarmu geleng-geleng kepala di sela-sela orang menganga mulutnya menatapmu. Ketololan itu melibas waktu yang makin cepat berlalu. Rasa lapar dan haus tak lagi perlu. Menatap dan mendengarmu sebuah sikap sempurna menuju mabuk paling hina. Mata mereka seperti ikan asin, memelototi tubuhmu yang dibalut ketat kaos hitam. Dadamu membusung dan terbelah seperti hendak pecah. Aha…
“Soal karya saya, itu tiada lain sebuah corak. Dari sisi Anda, bisa jadi sesuatu yang gila dan salah. Tetapi, dari sisi saya, ya itulah yang terbaik. Buktinya laku dan digandrungi, bukan?”
“Wong gendeng iki,” seseorang entah siapa menyeletuk di kursi belakang. Sebentuk benci tetapi bercampur baur dengan kekaguman terhadap sosok yang kini menjadi idola dan hadir di depan mata memberi ceramah tentang sastra kontemporer. Kau tersenyum manis. Ada yang bertanya tentang ketulusan hatimu menelanjangi diri tanpa perlu malu. Para peserta pelatihan itu sedikit riuh ketika kau mengambil mikrofon kembali. Berdiri dan berjalan ke arah kami.
Aduhai Djenar! Tak sanggup aku tulis keindahan yang ada pada dirimu. Entah kenapa jika kau menuliskannya aku merasa mau muntah. “Maafkan aku teman.”
Aku tak tahu di mana kau dapatkan jalur hidupmu seperti ini. Ketika tamat sekolah dasar, kita memang berpisah. Tak pernah bertemu lagi. Aku hanya terkejut ketika kau sering muncul di televisi, di koran-koran, dan buku-buku sastra pop terbaru. Ketika aku baca, ya, aku tercengang tak percaya. Kau telanjangi seluruh tubuhmu menjadi kata-kata. Rasanya ingin aku tak bisa membaca waktu itu. Tak mengenal kata-kata. Karena aku tak siap menerima cara pandang hidupmu dalam setiap penceritaan yang kau lahirkan. Entah rahim seperti apa yang membuat karyamu benar-benar bersarang kejujuran yang teramat tolol.
Aku tak bisa tidur membayangkan apa yang kau tulis itu. Terornya masuk dalam wilayah kejantananku. Mencabik-cabik rasa hormat dan kagumku terhadap anggun masa kecilmu.
Padahal, dulu aku memahami kamu sebagai seorang yang memiliki karakter kuat dalam keluargamu. Beda tetapi memiliki garis yang tak bisa ditipu jika bertemu. Wajahmu dengan keluargamu memiliki kesamaan yang sulit ditulis. Tetapi, aku tahu benar, keluargamu cantik-cantik, pintar-pintar, gagah-gagah. Aku kagum bila ingat itu.
“Syekh Siti Djenar ini seorang sufi. Beragam pendapat penulis sejarah menulis tentang ajaran dan perjalanan hidupnya. Tetapi banyak yang berpendapat, ia mati terbunuh karena berbeda paham dengan kerajaan. Ajarannya dianggap sesat.”
Tiba-tiba memoriku mengingatkan pelajaran sejarah para sufi waktu di pengajian dulu. Di situlah aku mengenal sejarah dan ajaran para sufi. Khusus Syekh Siti Djenar, aku tertarik sekali karena dalam ingatanku sudah ada nama itu. Namamu, Djenar Ayu, sebuah nama yang kini sangat terkenal di jagat penulisan negeri ini.
Maklum, waktu itu aku terlalu kecil untuk memahami semua pelajaran. Tamat sekolah dasar tempat kita bersama dulu, aku dimasukkan ke pengajian oleh kakekku. Kakekku memang pemimpin pengajian itu. Dan, dia jugalah yang memperkenalkan sejarah namamu itu.
“Kek, temanku ada namanya Djenar.” “Ya. Berarti ayah atau ibunya atau juga kakeknya membaca sejarah Syekh Siti Djenar itu.” Kakek memelukku. Berpesan agar aku mendalami dunia dengan segala modal ilmu agama. “Jangan mudah terbawa arus. Arus itu selalu menghempas kita ke bebatuan. Belajarlah yang rajin.”
Sejak itu aku tak pernah lagi main-main mendalami sesuatu. Termasuk ilmu menulis darimu tadi pagi. Walau ada rasa kesal dan menyayangkan sikap dan jalan hidupmu, aku tetap mencoba menggali tentang dunia yang kau geluti itu.
Terus terang saja, sejak membaca karya-karyamu, aku merasakan ada keresahan dan amarah di dadamu. Kau menyimpannya amat rapi. Kau hanya mengeluarkan sebentuk benci dan api. Keresahan itu serupa kekosongan pada batin yang ditinggalkan penghuni. Benarkah anggapanku itu, Djenar? Semoga anggapan yang keliru. Mana mungkin aku dapat menyelami hatimu yang tidak aku tahu di mana pintunya berada.
“Kepala Syekh Siti Djenar dipenggal. Dibawa ke istana atas perintah sultan. Ia dituduh merusak ketenteraman dan membawa kesesatan.” Ingatanku tiba-tiba ingin membandingkan dirimu dengan sufi dalam sejarah itu. Ya, apa mungkin bisa dibandingkan? Pada zaman yang berbeda dan ajaran yang berbeda pula. Tetapi keduanya membuat mata orang pada zamannya terbelalak. Nama yang sama pada abad yang berbeda dengan persoalan yang berbeda tetapi aku merasa ada sesuatu mungkin sama. Sama-sama membuat orang pada zamannya sulit menerima cara pandang hidup yang diusungnya. Apakah berlaku sebuah roda bernama sejarah yang selalu berputar? Seumpama teori Ibnu Khaldun itu. Lalu apakah mungkin perbedaan harus saling membunuh dan menghalalkan darah antara satu dengan yang lain? Naif sekali.
“Penulis sejarah banyak yang memberi analisa, bukan hanya persoalan ajaran sesat saja. Karena kalau soal ajaran, biasanya perbedaan bukanlah sesuatu yang penting. Sedari dulu, perbedaan selalu dihargai dan dihormati. Pembunuhan itu juga didukung masalah politik. Seperti yang dialami al-Hallaj. Djenar dan al-Hallaj membawa pengalaman agamanya ke wilayah awam. Wilayah di mana tidak semua orang bisa menerima dengan nalar yang sehat.”
Aku jadi hafal dan lancar mengingat gaya kakek menerangkan sejarah itu. Padahal, setahun setelah itu kakek meninggal dunia. Meninggalkan aku dalam kebingunan memahami seluruh ilmu yang melekat dalam ingatanku.
Sosok kakek memang dekat dan akrab denganku. Dibanding dengan cucunya yang lain, aku paling dekat dan disayangi karena akulah satu-satunya yang mau menjadi muridnya. Cucunya yang lain lebih memilih sekolah di kota.
“Kata kunci mengenal Syekh Siti Djenar itu dengan ungkapan, manunggaling kawula gusti. Seperti halnya al-Hallaj dengan anna al-Haq. Ini semua adalah pencapaian jiwa seseorang setelah menjalani tarekat menemui Ilahi. Seperti ma’rifat dari al-Ghazali, mahabbah dari Rabiah Adawiyah.”
Aku sangat terlena pada cara kakek menyampaikan sejarah Syekh Siti Djenar, sehingga mampu aku tangkap seluruh hal yang dikatakannya. Tetapi, terus terang saja, aku tak menghayati apa yang dikatakannya. Bagiku, apa yang dikatakan kakek tidak terlalu penting lagi, mengingat jiwa mudaku diam-diam ingin melompat pagar kemapanan itu. Aku justru lebih suka membaca puisi Jalaluddin Ar-Rummi dan membandingkannya dengan puisi Kahlil Gibran. Membaca Anton Chekov dan meneriakkannya kepada teman-teman. Tentu saja, membaca karya Djenar Ayu yang bugil memberontak tubuh dan meludahi segenap kebodohan laki-laki.
Setelah mengikuti sesi pelatihan siang tadi, aku jadi tak lagi berminat mengikuti sesi malam. Tiba-tiba aku amat malas keluar dari kamar wisma ini. Ada kebencian dan ketakutan yang muncul di ruang kepalaku. Tentang kesesatan yang sadar dilalui banyak orang karena alasan pasar dan industri. Orang menyebutnya kebenaran dengan bahasa yang agak asing aku dengar; realistis dan dinamis. Begitukah kancah industri kata-kata mengendus kebenaran? Sedangkan kebenaran yang hakiki makin asing? Aku seperti kehilangan percaya diri. Mencari-cari sesuatu untuk mendapatkan diriku yang meragukan tentang keberadaan hidup ini.
“Jangan ada basa-basi. Menulislah dengan kejujuran.” Begitu pesan terakhir Djenar tadi. Alamak, aku harus jujur pada kata-kata. Apakah semua penulis itu jujur? Atau sebaliknya, semua penulis itu munafik? Aku meragukan dan membingungkan pikiran sendiri. Sampai pada titik ketiadaan simbol untuk menyatakan tentang apa saja dalam kepalaku. Aku menjadi tak yakin apa yang aku katakan bisa sampai maksudnya kepada orang yang mendengar dan yang membaca kata-kata.
Pintu kamarku diketuk. Salah seorang panitia yang bertugas memanggilku untuk mengikuti sesi pelatihan malam. Aku beranjak dengan kemalasan menggunung di dada. Kepalaku terasa berat. Bayangan kakek tiba-tiba melintas bersama bayangan Djenar. Berkelibat silih berganti. Antara ragu dan bingung aku ingin menangkap keduanya dan mempertemukan mereka.
“Tadi Djenar titip salam. Ia meninggalkan nomor selulernya. Katanya, Bapak teman lamanya, tapi ia tak berani menyapa lebih dulu. Ia berharap Bapak menyapanya.”
Panitia itu membuatku seperti mengawang dalam langkah menuju tempat pelatihan. Kaki seperti tak terinjak tanah. Bayangan kakek melintas bersama melintasnya bayangan Djenar. Aku ingin menangkapnya tapi tak pernah aku coba.
“Oh ya?!” Setelah secarik kertas itu aku terima, tanganku bergetar. Rasa bersalah menjalar liar menghujam sesal. Ternyata masih ada masa lalu di hati Djenar. Aha. Hati seorang perempuan ternyata masih sama. Jujur dan menyimpan bara. Ah, kenapa aku tadi tak berani menyapanya? Inilah ketololan yang tak pernah hilang dariku. Selalu gagal membaca kesempatan pertama. Uh! *** Andalas Padang, Desember 2005
*) Abdullah Khusairi, aktif menulis di koran-koran lokal: Padang, Jambi, Batam, Jogja, Surabaya, dan Batam. Karyanya sempat tercecer di La Runduma (CWI-Kemenpora, Jakarta 2005), Opera Zaman (Grafindo Litera Media, Joga 2006), The Regala 204B (Garafuraja, Jogja 2006).
Cerpen ini dikutip dari Jawa Pos edisi Minggu 5 Agustus 2007
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.