You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Selamat Merdeka, Bung!
Yup BUNG! Hari ini genap 62 tahun tanah yang bernama Indonesia ini merdeka. 17 Agustus 1945, disaat dunia sedang dilanda Perang Dunia ke-II tahap akhir Indonesia berada dalam kondisi chaos tanpa ada seorang pun pemimpin. Oleh karena itu, para pemuda mendesak agar Indonesia merdeka sekarang juga!
Namun, jika kita mau berkata jujur BUNG, terus terang tanpa ada sikap keterpaksaan atau dipaksa orang lain. Negeri ini belumlah merdeka. BUNG setuju dengan saya? Kata banyak orang, merdeka 17 Agustus 1945 adalah merdeka dari perjuangan bersenjata. Tetapi, sebagaimana yang kita baca dan pelajari BUNG, setelah proklamasi pun perjuangan bersenjata tetap berlanjut. Malah, diwarnai dengan beragam pemberontakan. Beribu nyawa saudara-saudari kita melayang. Hanya gara-gara tidak diperhatikan. Hanya gara-gara di anak tirikan. Tetapi setidaknya BUNG, dengan adanya proklamasi ada dasar yang diperjuangkan oleh pejuang Indonesia. Dan tidak hanya perjuangan bersenjata tetapi perjuangan diplomasi yang tidak kalah pentingnya. Masih ingat “Revolt In Paradise”nya Ktut Tantri BUNG? Ya, wanita Amerika itu. Dia ikut dalam mensukseskan perjuangan diplomasi kita. Ia ceritakan dalam bukunya, bagaimana perjalanan pulang-perginya ke Singapura yang heroik. Dalam blokade tentara kolonial, akhirnya ia dapat menjemput utusan dari Mesir yang menyatakan pengakuan atas kedaulatan Indonesia ini.
Sayang beribu sayang BUNG, dalam segi kebudayaan Indonesia masih dijajah. Indonesia masih memelihara bibit-bibit kolonial. Inilah yang ditakutkan oleh Pram (Coba buka kembali Tetralogi Buru Pram). Nasionalisme menjadi barang murahan yang dapat saja diperjual belikan di pasar loak. Nasionalisme telah dipasung oleh cita-cita kolonial. Nasionalisme dijadikan jargon sebuah kelompok untuk menindas kelompok lainnya. Nasionalisme dijadikan tameng, untuk bersembunyi dari hasil perbuatan kolonialis. Nasionalime hanyalah penyedap rasa dari rendang hitam yang legam.
Jangan terlalu bergembira BUNG dengan hingar kemerdekaan ini! Meskipun saya ucapkan SELAMAT MERDEKA! tetapi kita belum merdeka BUNG! Kebudayaan, yang seharusnya merupakan wahana tanpa batas dikotak-kotakkan oleh mereka sang pengusung kolonialis. Hati-hati BUNG! mereka (para kolonialis itu) seringkali menyamar. Kadang-kadang, mereka menyuarakan “Ganyang Kapitalisme”, “Bunuh Koruptor” tapi di sisi lain BUNG, mereka memaksakan suatu kebudayaan asing. Suatu kebudayaan yang terlebih dahulu mereka filter dan dengan pongahnya mereka bilang “Kebudayaan kami adalah kebudayaan yang paling benar”.
Di TV, di koran, di media apapun BUNG! sering kita dengar bahwa kebudayaan neo kolonial dibawa kembali oleh orang-orang asing. Orang-orang Kapital (dalam hal ini Amerika Serikat beserta keluarga besarnya). Namun, ingat BUNG! sejahat-jahatnya kolonial asing, lebih jahat, lebih sadis para kolonialis dalam negeri. BUNG bisa pilah sendiri para kolonialis dalam negeri itu.
SELAMAT MERDEKA BUNG! Walaupun dengan hati yang berat, patut jugalah kita letakkan tangan kanan di kening sebagai tanda penghormatan bagi kemerdekaan. Ah! Kemerdekaan itu, adakah ia akan datang secara total ke negeri ini?
SALAM BUDAYA, SALAM SASTRA, SALAM INDONESIA!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.