You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Imajinasi Penyair (Gitu Aja Kok Repot!) TULISAN PERTAMA
Dunia sastra adalah dunia yang imajinatif. Dunia sastra, merupakan dunia yang bergerak tanpa berhenti. Sebab, jika ia berhenti maka berhenti pulalah dunia kreatif para kreator sastra yang ada di belakangnya. Jika sudah berhenti, lantas dimana lagi tempat yang adem, tempat yang tenang, tempat yang takkan pernah terjamah oleh dogma, tempat yang sejuk?
Penyair, adalah prajurit yang bersenjatakan pena, pensil, tuts keyboard. Ia adalah penjaga nilai-nilai estetika. Ia juga ibarat sebuah pohon rindang yang tumbuh di tengah kota. Ia adalah imajinasi tanpa batas, tanpa penyekat. Namun, selain mengemas kata-kata indah, penyair juga bisa marah. Juga bisa kecewa, juga bisa sedih. Penyair juga manusia. (Maaf kepada Seurieus Band karena telah mengutip lirik lagunya).
Tetapi, ada yang iri melihat kerja penyair. Tidak, bukan iri melainkan tidak mengerti tentang perkara penyair. Jelas, apa yang dihasilkan penyair bukanlah sebuah opini empat lembar yang terpampang pada sebuah koran pagi. Bukan pula sebuah artikel, atau pernyataan sikap dari sebuah komunitas. Yang dihasilkan penyair, adalah puisi.
Bagi kebanyakan orang, puisi adalah hal sepele. “Ah, cuma menyusun kata-kata indah, semua juga bisa melakukannya.” Sepele, karena orang itu tak pernah tahu dengan apa yang dikerjakan penyair. Tak pernah tahu dengan tanggung jawab seorang penyair. Puisi bukanlah artikel koran yang berpandangan objektif melihat suatu pokok permasalahan. Namun, puisi bermain-main pada dunia yang lebih condong kepada subjektif. Hal, yang sangat jarang diperani oleh orang modern.
Kekuatan puisi, yang juga kekuatan dari pembuatnya ada pada makna-makna terselubung dibalik kata-katanya. Jika penyair membuat “senja” maka pengertiannya bisa berlembar-lembar kertas HVS A4. Kalau bagi orang awam, pengertian “senja” hanya satu, yaitu peristiwa alami menjelang malam. Orang juga biasanya menyebutnya sore, atau maghrib dimana pada saat itu, matahari akan mulai terbenam.
Kerja penyair bukanlah kerja mudah. Susah. Setelah merampungkan sebuah karyanya, ia harus membaca ulang kembali. Lalu, baru disodorkan kepada khalayak untuk dibaca. Selesaikah? Belum. Setelah dibaca oleh khalayak, penyair pun harus bersiap-siap menghadapi jikalau ada pembacanya yang komplain karena tidak setuju dengan karya yang ia buat. Begitulah kerja penyair.
Sabtu, 4 Agustus 2007 lalu di Pikiran Rakyat Bandung, terteralah nama Saeful Badar sebagai penyair yang beruntung karena karyanya dimuat. Namun, keberuntungan itu berubah menjadi tegang, kontroversi dan emosi. Ada yang tidak sepakat dengan isi dari puisi Saeful Badar. Kira-kira bunyi puisinya seperti ini:
MALAIKAT
Mentang-mentang punya sayap Malaikat begitu nyinyir dan cerewet Ia berlagak sebagai makhluk baik Tapi juga galak dan usil Ia meniup-niupkan wahyu Dan maut Ke saban penjuru.
(2007)
Tuduhan pun mendarat mulus ke wajah Saeful Badar. Datangnya dari DDII (Dewan Dakwah Islamiah Indonesia) Jawa Barat. Kata orang DDII, puisi SB (Saeful Badar) telah menghina makhluk Tuhan (Allah) dan itu berarti menghina sebuah agama (Islam). Mengapa menghina Islam? Sebab, Islam memposisikan malaikat sebagai makhluk yang patut diimani (Rukun Iman).
SB maupun Pikiran Rakyat pun terhantam. Dan buru-buru minta maaf lalu menganggap puisi “Malaikat” itu tak pernah ada. Saya jadi kepikiran soal kedudukan anak haram atau anak buangan yang tak pernah dianggap ada namun dia ada. Puisi “Malaikat” pun menjadi anak terbuang yang tidak dianggap sebagai buah pergelutan pikiran SB. Oh, malangnya kamu “Malaikat”.
Sungguh sebuah keputusan yang emosional. Ketiga pihak dalam hal ini (Pikiran Rakyat, SB maupun DDII Jabar) terlalu dini menghakimi dan mengambil keputusan. Ingat, puisi punya ruang imajinasi yang tercipta dari penyairnya. Dan puisi punya sejuta makna. Namun tampaknya DDII tak mau ambil pusing untuk menelaah sejauh mana puisi “Malaikat” SB bermain-main. Mungkin saja, DDII berpikir; “telaah menelaah sastra bukan urusan mereka.” Atau, mereka memang tidak tahu ilmunya?
Sikap DDII Jabar yang menempatkan puisi sebagai kata-kata verbal dan berada pada ruang objetif telah salah kaprah. Ini semakin menambah catatan panjang bagaimana negeri dan bangsa ini sudah lama diajarkan main ancam, “ketupat Bengkulu” dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Rasulullah sendiri tak pernah mengajarkan hal yang seperti itu. Dari Sirah Nabawiyah, Rasul tidak dengan serta merta mempercayai laporan sahabat yang mengatakan bahwa negeri A telah membelot karena tak mau bayar pajak. Rasul dengan cermat mengusut laporan itu lebih jauh, dan ternyata ada sedikit kesalahpahaman. (Maaf, kalau kutipan saya dengan Sirah ini agak sedikit kacau).
Nah, Rasulullah SAW sendiri mengajarkan kepada kita untuk selalu mengusut lebih jauh setip permasalahan dan tidak dengan serta merta dan saat itu juga menyerang lawan tanpa dasar. Mungkin jika karya SB itu berupa opini atau artikel, sikap DDII bisa dimaklumi sebab punya dasar tulisannya yang ruangnya objektif. Namun sekali lagi, ini bukan opini atau artikel semata tetapi ini puisi. Puisi yang punya dunia sendiri. Puisi yang tidak pernah punya keterikatan. Puisi yang bermain dengan dunia subjektif sehingga menghadapi puisi dan menilai puisi harus terlebih dahulu mendalami dan memahami apa yang dikatakan oleh puisi itu. (bersambung)
Terinspirasi dari diskusi yang hangat pada sebuah millis sastra
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
ibnu Hanafie
Memang “Puisi yang punya dunia sendiri. Puisi yang tidak pernah punya keterikatan”. Tapi puisi itu sama sekali kurang imajinatif tak berbobot, si pengarang SB sama sekali belum sampai pada katagori puisi itu sendiri, dimana nilai estetikanya, sekali lagi puisi itu SAMPAH !!!
June 25th, 2008 at 10:01 pm
Sayyid to Ibnu Hanafie
hahahahaha… Mas Ibnu Hanafie terlalu menjustifikasi puisi SB… Estetika… Sama seperti karakter pada tiap2 manusia… Berbeda setiap manusia dalam menyampaikan estetika yang ia pahami…
Gak perlulah kita bilang sampah-SAMPAH !!! segala.
June 28th, 2008 at 1:34 pm
faqih
puisi dan penyair walau pun mereka mempunyai dunianya tpi harus di dasari dengan apa yang akan mereka sampaikan dengan syairnya karena bukan hanya dia yang akan membacanya…. tapi kita semua!!!! kecuali kalau dia mau buat tuch puisi bt drinya sendiri ywdah simpan az pasti gk bkalan ad yg protes heheheee gito az kuk repot. inga-inga!!! Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman…. heheheee……..
October 3rd, 2008 at 7:59 am