You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Buruh dan Sisa Impian
Judul, Sedekah Air Mata Asril Koto Penerbit, Dewan Kesenian Sumatera Barat Cetakan Pertama, Maret 2007 Tebal 120 halaman
rumput-rumput, marilah kita ibadahkan saja sisa dunia pada cermin muka lihatlah, disitu ada senja atau resah beri wangi pada sisa usia, walau kita belum beribadah, sedekah air mata juga ibadah
ber-Tuhan pada diri sendiri tak bisa ku sedekahkan air mata
(Sedekah Air Mata, hal. 98)
Kutipan puisi diatas termasuk ke dalam antologi puisi perdana dari Asril Koto yang merupakan salah seorang pemuisi, cerpenis dan reportase budaya. Dalam antologi puisi ini menggambarkan keburaman nasib buruh-buruh di pasar, pelabuhan, terminal, pabrik dan di gedung beton. Denyut nadi buruh-buruh banyak memberi inspirasi atas karyanya.
Puisi-puisi Asril Koto seolah memperlihatkan kaitan erat antara puisi dengan lingkungannya. Puisi-puisi itu lahir dari kegelisahan dan kegalauannya terhadap situasi dan realita yang terjadi. Manusia-manusia yang hadir dalam puisinya pun begitu kompleks. Semua yang ditangkap oleh indranya, langsung ia tuangkan ke dalam bentuk puisi. Ketika ia melihat seorang pelamar kerja menyesali diri,
aku melihatmu menyesali diri seperti ada yang kurang dalam map itu entah apa?
(Melihat, hal. 74)
Disaat ia berada di lingkungan buruh, ia mencoba membaca;
puisi-puisiku terkurung dalam laci pikiran galau, bagaimana aku bisa membaca jasa buruh yang menyiram keringat ke atas punggung majikan, bagaimana aku bisa membaca laku buruk majikan yang menjilat peluh waktu buruh-buruh melahap nasi hambar
(Membaca, hal. 75)
Ia miris melihat bagaimana prilaku seorang majikan yang menari-nari diatas keringat buruhnya, dan ia juga mengibaratkan bahwa seorang buruh tak ubahnya seperti jarum jam yang senantiasa bergerak, yang tak mengenal waktu, dan tak mengenal siapa-siapa. Selain bercerita tentang buruh-buruh, Asril juga bercerita tentang rasa nasionalismenya terhadap Indonesia dan cerita tentang anak kampung yang lebih memilih hidup dan menggantungkan harapan pada tanah rantau karena di kampung yang tinggal hanya sisa-sisa, namun pada akhirnya kembali ke kampung karena kampung dan tanah asal adalah tempat teraman untuk kembali dengan segala kondisinya.
Menurut Sudarmoko (sebuah catatan pembaca; Keintiman Sosial dan Manusia Khas Asril Koto, hal. 110) bahwa kecendrungan untuk berbicara tentang manusia khas yang ada sebagai latar kepenyairan Asril terlihat jelas. Problematika yang dihadapi oleh manusia-manusia yang ada di sekitarnya, atau penyair sebagai salah satu dari masyarakat yang dibicarakannya dalam puisi-puisi, diungkapkan lewat berbagai persoalan psikologi dan sosial.
Metafor-metafor dan nilai estetika tidak terlalu ditonjolkan dalam antologi puisi ini, akan tetapi lebih kepada muatan (isi)nya. Barangkali karena tema-temanya berangkat dari realita-realita yang ada. Dan karena bahasanya yang sederhana itulah pembaca manapun tidak akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud puisinya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.