You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Dari Celana Potlot Hingga Musik Ngak-Ngik-Ngok; Mengintip Persoalan Bakar Buku Beberapa Waktu Belakangan

Dari Celana Potlot Hingga Musik Ngak-Ngik-Ngok; Mengintip Persoalan Bakar Buku Beberapa Waktu Belakangan

sayyid — August 31, 2007 / 2:21 pm

Sudah semestinya kita sebagai manusia menghargai kedudukan buku yang katanya sebagai jendela dunia. Banyak sudah pakar, maupun orang biasa yang mengatakan hal seperti itu. Namun, entahlah kenapa orang kita (orang Indonesia) seperti tidak pernah dibesarkan oleh budaya buku. Hanya dibesarkan dengan kekerasan ataupun ancaman, yang tentu saja tak akan dapat ditemui sebuah dialog antara dua hati.

Awal Agustus 2007 ini, Indonesia menderetkan badannya pada klasemen bangsa yang pernah membakar buku. Sebelumnya (bukan pada abad sekarang ini), Mongol pernah membakar perpustakaan Baghdad dalam perluasan wilayah kekuasaan. Pembakaran buku itu, didasari karena Mongol takut dengan makhluk dengan kertas berlembar-lembar ini. Ini dapat dimaklumi sebab Mongol ketika itu masih berada dalam ruang “kebodohan”, artinya belum sepenuhnya punya pikiran yang bersih tentang penyelesaian persoalan tanpa perang.

Jauh setelah Mongol, terjadi lagi tragedi yang menyesakkan dada ini. Buku-buku disusun teratur sehingga menyerupai benteng. Buku-buku itu disusun di depan istana Al-Hambra. Peristiwa ini terjadi pada saat Andalusia jatuh ke tangan Crusaders. Belakangan, peristiwa ini disesali banyak pihak, termasuk pihak Kristen sendiri. Sebab, pembakaran buku di depan istana Al-Hambra lebih didominasi perasaan dendam kesumat terhadap agama lain sehingga membuat jalan pikiran menjadi buntu dan tidak bisa berpikir tentang adanya dialog ataupun debat dalam menyelesaikan persoalan.

Lalu, Indonesia pun melakukannya. Buku-buku sejarah kurikulum 2004 ditarik dari peredaran untuk selanjutnya dibakar di depan publik. Ironisnya, peristiwa itu terjadi setelah dunia mencanangkan era postmodernisme. Juga sakit ketika seorang mantan pimpinan partai ikut-ikutan membakar buku.

Sejak tragedi ini terjadi, banyak sudah orang awam yang melakukan protes. Namun, seperti biasa pemerintah telah terkooptasi dengan budaya primitif feodal yang menganggap segala keputusan yang dilakukan adalah benar. Jadinya, tidak mau atau tidak peka dengan pekikan protes.

Selain itu, polemik dalam tataran masyarakat intelektual pun terjadi. Mereka yang pro terhadap pembakaran buku memberi alasan bahwa kurikulum 2004 mengelabui sejarah dengan tidak mencantumkan PKI di belakang G 30 S. Karena masalah ini menyerempet partai berlambang palu dan arit itu maka sah-sah saja melakukan pengganyangan seperti pembakaran buku terhadap buku-buku yang berafiliasi dengan PKI.

Bahkan masalahnya pun semakin meluas. Ada yang menghubungkannya dengan polemik sastra dan budaya akhir-akhir ini tentang Sastra Mazhab Selangkangan yang diisukan oleh bapak Taufik Ismail. Kita tahu, seperti kepada kelompok Neoliberalisme bapak Taufik amat geram dan jijik terhadap aroma Komunis. Zen, seorang blogger Indonesia telah menulis bagaimana Taufik Ismail menyerang secara sporadis terhadap Komunis (Lekra) dalam buku “Prahara Budaya”. Yang jadi masalah lain sekarang adalah, apakah PKI dan Lekra memang betul-betul punya hubungan yang saling terikat?

Kita hanya tahu saat belajar sejarah bahwa orang-orang Lekra adalah orang-orang pemasung kreativitas. Namun kita tidak pernah tahu fakta sejarah yang sebenarnya. Zen mengulas kalau saat ini Taufik begitu getol melakukan upaya pengganyangan semua yang berbau liberalisme, maka Lekra pun dulunya sama seperti Taufik.

Pada era Lekra, muncullah istilah “Celana Potlot” yang merupakan potongan celana impor dari Amerika Serikat. Karena suasana ketika itu sedang panas-panasnya suhu revolusi dan penolakan terhadap Neoliberalisme maka “Celana Potlot” pun dilarang untuk dipakai di Indonesia. Begitu pula musik Ngak-Ngik-Ngok. Istilah Njoto terhadap musik The Beatles dan varian-variannya yang memang sedang trend ketika itu.

Dengan kata lain, Taufik pun kini memakai cara-cara Lekra. Lekra merupakan lembaga yang sama sekali menolak adanya pertontonan aurat. Namun yang menjadi masalah, apakah Pram (pentolan Lekra) memang benar-benar membakar buku Manikebu? Belum ada yang bisa membuktikan hal itu.

Sobron Aidit sendiri tidak pernah menyatakan dirinya secara terang-terangan adalah Komunis. Walaupun saudaranya DN. Aidit adalah pemimpin besar PKI, namun Sobron tak pernah silau dengan kekuasaan saudaranya itu. Bahkan, tulisan-tulisan Sobron (yang juga anggota Lekra) lebih melankolis dan puitis dibandingkan penyair Lekra lainnya.

Tetapi, sayangnya Indonesia tidak pernah mau tahu dengan kedalaman sebuah permasalahan. Saya sendiri yakin, PKI dan juga Lekra adalah korban. Peristiwa pasca 1965 adalah pembantaian massal bagi PKI. Namun, hal ini tidak pernah diberitakan secara rinci oleh Indonesia. Juga beberapa nama orang Indonesia yang sampai sekarang dicekal untuk pulang ke Indonesia alias orang-orang eksil. Mereka pun tidak diceritakan dalam sejarah Indonesia yang kelabu.

Sejarah budaya Indonesia yang suram saat ini kembali lagi diulang dengan penyimbolan bakar buku. Bakar buku, sama dengan bakar pemikiran. Artinya pemerintah tidak mau rakyat berpikir atau mengungkit kembali kebenaran kudeta 1965. Padahal banyak pertanyaan yang masih mengambang khususnya di benak saya.

Pertama, sejak kapan Komunis erat hubungannya dengan para perwira tentara? Kedua, mengapa kekuatan Komunis ketika penculikan adalah para tentara AD, bukan para milisi komunis yang sudah dilatih? Ketiga, mengapa para tentara AD itu hanya diberi ampunan tidak sama nasibnya dengan para anggota PKI dan simpatisan lainnya yang meregang nyawa diburu di seantro Republik Indonesia? Keempat, saya curiga tentaralah yang menjadi otak kudeta ini bukan PKI. PKI hanya alat, PKI hanya topeng untuk memuluskan Soeharto ke kursi presiden?

Sebenarnya masih banyak yang saya pertanyakan. Hanya ingin memberikan sugesti bahwa keterlibatan PKI tidak 100% pada kudeta 1965. Kudeta itu memang gagal bagi PKI tapi sukses bagi Soeharto. Sejarah Indonesia sekaligus sejarah budayanya, kapan menjadi pintu penerang kalbu masyarakat Indonesia?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang