You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Membangun Studio Kata

Membangun Studio Kata

sayyid — September 1, 2007 / 11:27 pm

membaca.jpg

Jalan Air

air itu telah jatuh ke atap, menggesek cucuran tua yang retak terus laju menemui pepatah yang kita ucap berabad lebih dari jalan usia hujan yang tercucuk bertaut di genting rinduku akan kulitmu yang lembab daging. sebegitu akrabnya kita dengan hujan tapi sekalipun kita tak pernah benar-benar bisa bersitahan dalam jauh langkah terus berlainan. terus memacu serupa ingin terus menuju dingin “aku gemetar,” katamu. lalu kau berbelok jalan ke lembah bunga angin.

kilau laut mengelabui pandangmu. kilau yang terus berbinar saat siang, di matamu, mengendap pelan, beku, dan pecah menjadi garam. “berenanglah dalam pasang yang tak henti, biar kau tahu rasanya terhoyong gelombang.” ucap yang salah menurut kiraku sebab sakit kita belum genap sembuhnya. dan kau membikin lagi sebilah ucap yang membikin kita gila akan buih.

aku terlalu sering tidak menyetujui ucapmu dalam diriku hanya ada waktu. menyerupai rimba dengan segala pepohon hidup yang menuliskan catatan cuaca di rimbun daunnya. “ada baiknya kau menyetujui, kita jalan berlain arah, mungkin kau menuju selatan yang basah seperti harapmu. dan aku menelikungi simpang ke arah barat, saat hilangmu. di hari keseratus.” itu bukan tangis. aku hanya berucap malu sebab arah yang kita songsong membikin jatuh berkepanjangan. bahkan bukan julangan gunung yang membuat penat kepergian. tapi hamparan ladang padi membikin rindu pulang yang sangat hebat. kita dalam jauh. “apakah kau ingin istirahat sejenak di badanku?” meski igaumu membikin lengking yang tajam, tetap saja kau tak paham lakuku. kau terus mengingat jalur air yang beranjak ke kedalaman humus, mengendapkan setiap perjumpaan menjadi kepungan danau. lalu henti di sana. pernahkah kau melihat aku yang serupa sungai menghanyutkan setiap kotoran rindumu ke muara di badanku?

Kandangpadati, 2007

Ia adalah salah satu sastrawan muda Indonesia. Tepatnya disebut sebagai penyair. Struk, merupakan panggilan keseharian. Entahlah apa artinya Struk bagi dia. Saya pertama kali berkenalan dengannya semenjak sama-sama menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang.

Sebelum menjadi penyair, Esha (Struk) seringkali mengutip puisi-puisi romantis dunia. Kutipan-kutipan tersebut ia kemas menjadi satu dan selanjutnya ia hidangkan kepada kaum hawa yang membuat ia jatuh hati. Namun sayang, tak banyak wanita yang menyambut kasih yang ia lempar. Seringkali lemparan kasih itu mental kembali ke dadanya menyebabkan sakit yang mungkin tidak terkira.

Struk yang kelahiran 29 April 1985 di Solok ini pertama kali bertemu dengan seni dalam cakupan wilayah teater. Ia bergabung dengan teater Rumah Teduh yang berada dalam afiliasi UKS (Unit Kegiatan Seni) Universitas Andalas. Beberapa kali ia mentas bersama kawan-kawan yang lain.

Selain berteater, Struk juga merupakan penjaja majalah sastra keliling. Profesi ini ia geluti untuk sekedar membiayai makan siang yang terkadang sering ia tahan. Jika majalah yang ia jual sedang sepi pembeli, ia pun akan melongo di sudut kafe melihat orang makan sembari mengelus lambungnya yang sejak lama berkokok tidak karuan.

Selain menjadi loper majalah sastra, ia pun kadang menjadi pengamen keliling. Berpindah dari kafe yang satu ke kafe yang lain. Kalau profesinya yang ini ia geluti untuk menutupi kecanduannya terhadap rokok. Kadang, rokok menjadi hidangan pelepas lapar di kala siang yang terik atau pun malam yang gigil.

Setelah tempat mangkal Rumah Teduh digusur oleh pihak Rektorat, Struk berkelana dari tempat kost yang satu ke tempat kost yang lainnya. Mau bagaimana lagi, ia tidak mampu menyewa kamar kost yang sempit. Jangankan menyewa kamar kost, untuk biaya makan atau biaya kuliah ia pun harus banting tulang sendiri membiayainya.

Walaupun begitu, Struk tetap ceria dan setia terhadap kawan-kawannya satu komunitas. Entah itu teater, kepenulisan maupun komunitas diskusi filsafat dan kontemporer. Ketika puisinya dimuat di sebuah koran lokal, alangkah senang si Struk itu. Akhirnya, ia telah pula menjadi penulis.

esha-menulis.jpg

Namun, lama jangka waktu dari tulisan pertamanya barulah puisinya kembali dimuat di Harian yang sama. Titel penyair Sumatra Barat pun disematkan orang-orang. Puisinya penuh dengan irama yang romantis. Membuat kita dan saya sendiri sebagai pembaca tidak akan pernah puas hanya sekali membacanya.

Tidak banyak penyair di Indonesia ini yang bisa menciptakan padanan kata yang romantis dan menimbulkan keinginan untuk membacanya terus menerus. Kekreatifitasan Struk tidak berhenti sampai disitu. Ia pun mulai merambah esai sastra. Pernah suatu kali ia kirimkan sebuah esai kepada saya untuk diterbitkan pada buletin yang saya kelola. Dengan terpaksa saya tolak esainya itu, karena kalimat-kalimatnya yang tidak nyambung alias ngambang dari pokok permasalahan yang ia bahas. Ketika itu, saya lihat raut wajahnya yang sedikit memancarkan kecewa.

Saya tidak sampai hati melihat wajah yang kuyu itu. Saya hanya bisa mensupport dirinya agar lebih bisa fokus terhadap suatu masalah yang dikupas. Akhirnya ia pun berhasil juga menjadi eseis sastra. Esai pertamanya dimuat di sebuah koran lokal pula. Struk merupakan sosok yang tak mudah menyerah.

Di kala kelesuan aktivitas penyair Sumbar dalam membombardir media nasional, Struk hadir sebagai penulis muda yang berhasil menembus Koran Tempo, lalu dua minggu kemudian Kompas dan minggu berikutnya Media Indonesia. Ini adalah suatu prestasi yang memukau kehidupan kepenyairan Sumbar. Sebelum Struk, nama-nama seperti Ragdi F. Daye, Iggoy El Fitra adalah beberapa nama yang juga saling berkompetisi berebut tempat di media nasional. Namun kedua nama yang disebut belakangan lebih eksis dalam kehidupan sebagai cerpenis.

Itulah Struk atau Esha Tegar Putra. Penyair yang tak pernah lupa dengan kampung kelahirannya. Rambut panjang atau celana jeans bututnya tak pernah menghalangi kreativitas yang ia jalani. Di tempat tinggalnya yang baru, ia berniat membangun studio kata. Entah akan berbentuk seperti apa studio kata itu. Semoga tetap eksis menjadi penyair Struk!

hoi.jpg

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 6 komentar untuk artikel ini.

  1. ikhsan

    saya terenyuh mendengar komentar ttg anda struk. sy tdk kenal anda, tapi kita satu almamater. sy akt.97 n tamat 2003.kalo blh sy mau berkmntr sdkt.sy bkn guru, atau seorang yg patut membri ceramah di dpn kls. sy jg bkn seorang hebat atw santiang yg memberitahu org lain ttg sebuah nsht. wkt sy msh di pdg, dr thn 1998 - 2001 sy jg bnyk nulis, tp blm smpt menmbs kompas atw media ind sprt mu. sy akui kamu hbt struk. tulisanmu bs menembus koran nasional. wkt sy dl hny pak fadlillah atau ivan adilla dari bbrp org dosen kt yg bs. sy jg salut dg ragdi atau igoy. wlpn sy di rantau, tp sy menitipkan sebuah mata dan telinga sy di limau manih. jk ingin jd penyair, jgn tanggung2.belajarlh dari iyut fitra.sampai ke swedia ia dikenal, meskipn smpai skrg ia msh blm nikah2.tp ingt struk, jgn pernah smbong. ingt sll ilmu padi.bnyk lah berdiskusi dg pak fadlillah. beliau postmodernis sejati.struk..trslh berkry. penyair memang miskin, tp tidak dg hatinya.sy tggu kry2mu.dan tggu jg tlsn sy kelak.sy akan buktikan sy jg bisa!!
    salam utk upiak kamek, ayah, ande, pak fad.
    salam budaya!
    hanya ada satu kata: LAWAN!

    September 21st, 2007 at 5:56 pm

  2. sayyid

    Oh bang Ikhsan alumni Sasindo Unand juga ya. Ha2.. salam ya bang. Dimana sekarang keberadaan abang. Sasindo tengah berperang dalam perasaanny masing2. Oh ya, kalau abang ada di Padang jangan lupa untuk datang ke acara Tadarus Puisi tanggal 28 September 2007 besok. Insya Allah, Mak Nai (Nasrul Azwar) yang akan jadi pembicaranya.

    Salam sukses juga untuk abang.
    Sayyid

    September 22nd, 2007 at 7:27 pm

  3. bokong

    berlain ruang, hatimu masihkah teduh, struk? semoga. selalu.

    October 27th, 2007 at 12:32 am

  4. roni memas

    jangan tertipu. wajah boleh melas tapi akal tak kurang. hati-hati. hati-hati. sampaikan salamku ke ikhsan itu. dulu namanya kinoi. kabarnya udah beristri, mudah-mudahan sudah dikasih anak.

    November 17th, 2007 at 7:14 pm

  5. fitra yanti

    tak sengaja singgah di ranahmu. bolehkan aku bertandang?

    February 16th, 2008 at 8:43 pm

  6. ade alifya

    struk, terus melangkah!

    NB. bg Ikhsan = kinoy ?
    meritnya sama penari lulusan tari UNP. still remember me ? detik yg berdetak itu…

    February 18th, 2008 at 4:20 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang