You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Cerpen Indonesia: Menuju Teks Sastra yang Mandiri
“Kesusastraan merupakan sebuah dunia yang penting dalam kehidupan manusia. Konon menurut para futuristik, dunia kesusastraan dan kebudayaan secara luas merupakan pilar utama bagi pembentukan identitas manusia. Ketika dunia global menidakkan semua batas, maka kebudayaan/ kesusastraan tampil sebagai sebuah benteng yang kuat. Hal ini disebabkan, karena dalam dunia yang bagaimanapun majunya, manusia tidak dapat keluar secara utuh dari akar-akar yang selama ini membentuk dirinya. Hal ini juga yang dikatakan oleh sastrawan TS Eliot, bahwa manusia tetap bekerja dalam dan dari sebuah tradisi.”
Paragraf diatas adalah kutipan dari Latar Rumah Kongres Cerpen Indonesia V yang akan diadakan tanggal 26-28 Oktober 2007 di Banjarmasin. Kongres ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap dunia kesusastraan, menumbuhkembangkan semangat cinta menulis, khususnya di kalangan pelajar/mahasiswa dan generasi muda umumnya, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan kebudayaan dan kesusasteraan di Kalimantan Selatan. Tentunya dengan sasaran para penulis dan peminat sastra di seluruh Indonesia.
Para pembicaranya tidak kalah menantang, diantaranya ialah Ignas Kleden (yang akan berbicara tentang sosiologi sastra dalam konteks Indonesia Timur), Nirwan Ahmad Arsuka (yang akan berbicara tentang ruang jelajah cerpen Indonesia, dalam konteks kosmologi dunia penciptaan, jelajah futuristik, sekaligus menghubungkannya dengan aktualisasi teks-teks klasik Indonesia (La Galigo, Lontarak, rajahan, tato, dsb), terutama yang berasal dari khazanah Indonesia Timur), Katrin Bandel (yang akan membahas tentang Estetik Cerpen Indonesia Karya Cerpenis Perempuan: Dari Dulu Hingga Kini), Jamal T. Suryanata (yang akan berbicara tentang Tradisi Cerpen di Kalimantan Selatan), Saut Situmorang (yang akan membahas Akses Media dan Idealisme Industri Media dan Perbukuan) dan masih banyak lagi pembicara lainnya yang telah malang melintang di dunia cerpen Indonesia.
Posisi KCI dan Manfaatnya Terhadap Perkembangan Cerpen Indonesia
Sudah hampir lima kali cerpen Indonesia dikongreskan. Tentunya, banyak hal yang dibicarakan dan dirumuskan serta dikonsepkan. KCI, tidak lain tidak bukan merupakan pewadahan bagi para cerpenis Indonesia dalam memaparkan keluh kesahnya. Namun, tantangan bagi KCI sendiri, ialah bagaimana merepresentasikan semua yang telah terkonsep ke dalam kenyataan dunia cerpen Indonesia. Jadi, tidak melulu hanya terbuang percuma diatas kertas.
Mungkin jika mau berterus terang, cerpen Indonesia belum lagi bisa meresapi ke kehidupan masyarakat. Hanya sebatas barang bacaan untuk dibaca pada waktu luang. Belum lagi permasalahan klasik antara penulis dengan media massa. (Sebenarnya masalah ini tidak saja terjadi pada dunia cerpen tetapi pada dunia kepenulisan lainnya) Dimana, sang media massa seperti menara gading yang tak dapat dijamah dan bisa berbuat sekehendak hatinya terhadap para cerpenis.
Cukup menarik sebenarnya, KCI yang ke-V mengangkatkan kajian kesusastraan dari wilayah Timur Indonesia yang sepertinya mati beneran atau mati suri. Setidaknya, kita berharap Kongres yang Kelima ini dapat melahirkan bibit-bibit baru cerpenis dari Timur Indonesia.
Sungguh, hal yang ditunggu dari Kongres semacam KCI ini ialah bagaimana agar sastra dapat bertumbuh kembang dengan subur di Indonesia. Tidak ada lagi semacam egoisitas dari Redaktur yang angkuh “mencampakkan” karya yang belum tentu tidak berkualitas. Jika saja KCI berhasil atau punya daya tawar misalnya akan memboikot suatu media yang angkuh atau kikir dalam penerimaan karya, sungguh sebuah karunia tersendiri bagi para penulis muda untuk berkarya. Dan tentu saja, tidak ada lagi ketakutan-ketakutan dalam berkarya.
Semoga cerpen Indonesia benar-benar menjadi teks yang dapat mandiri seutuhnya. Bravo, KCI V.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Agendaku « Zulfaisal Putera
[…] - Cerpen Indonesia : Menuju Teks Sastra yang Mandiri […]
December 12th, 2007 at 4:28 am
Bulletin News
Interesting write up covering Cerpen Indonesia: Menuju Teks Sastra yang Mandiri. Thoroughly love your blog!
January 2nd, 2008 at 6:28 pm