You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Dadaisme (I)
Apa Itu Dada?
Kata Dada berasal dari sebuah slogan yang ditemukan secara kebetulan dari goncangan air di sebuah gelas. Ketika air itu diminum dengan paksa akhirnya menimbulkan rentetan kaos atas kaos yang lain. Selanjutnya para seniman eksil yang terdiri atas Tristan Tzara dari Rumania, dua penyair Jerman, Richard Hülsenbeck dan Hugo Ball, serta pematung dan penyair kelahiran Strasbourg, Hans Arp berencana untuk mendirikan sebuah Cabaret Voltaire di Zürich, Switzerland. Mereka mengambil sebuah topi, lalu topi itu dilempar ke yang lain sambil melontarkan beberapa kata. Lemparan topi sesuai urutan dan kata-kata yang mencuat, menjadi sebuah puisi. Mereka tidak terlalu membanggakan dengan logika berkesenian, sebaliknya sangat terbuka.
Dada secara kebetulan ditemukan di kamus anak-anak bahasa Jerman-Prancis: “Hoppe atau Holzferdchen” (Anak yang menunggang kuda mainan dan berjingkrak- jingkrak: hupa-hupa-hupa) . Pada bahasa Prancis pergaulan, cest mon dada berarti its my hobby. Dada juga masih kurang jelas, ada pendapat berasal dari bahasa Rumania, asal negerinya Tzara, yakni: da, da, artinya, yes, yes atau yeah, yeah, lebih kasar lagi, yeah, right.
Lepas dari banyak interpretasi nama, aliran ini dianggap sebagai aliran seni dan sastra yang revolusioner. Gerakan seni baru ini awalnya bertujuan untuk melecehkan kaum borjuis. Di samping ada rasa putus asa atas keadaan Perang Dunia I yang mencekam. Adapun jenis seni sastranya, misalnya, pemakaian ungkapannya keras dan tak beraturan, tanpa mengindahkan isi, termasuk pada jenis puisi keras (Lautgedichte) .
Pada 14 Juli 1916, mereka mengikrarkan diri lahirnya sebuah gerakan seni baru yang dikenal dengan istilah Dadaisme.
Berikut ini ada 8 tokoh Dada menjabarkan pemikirannya:
<
ul>
weh unser guter kaspar ist tot wer trägt nun die brennende fahn im zopf wer dreht die kaffeemühle wer lockt das idyllische reh auf dem meer verwirrte er die schiffe mit dem wörtchen paraplui und die winde nannte er bienenvater weh weh weh unser guter kaspar ist tot heiliger bimbam kaspar ist tot die heufische klappern in den glocken wenn man seinen vornamen ausspricht darum seufze ich weiter kaspar kaspar kaspar warum bist du ein stern geworden oder eine kette aus wasser an einem heissen wirbelwind oder ein euter aus schwarzem licht oder ein durchsichtiger ziegel an der stöhnenden trommel des felsigen wesens jetzt vertrocknen unsere scheitel und sohlen und die feen liegen halbverkohlt auf den scheiterhaufen…
(Bersambung…)
Diambil dari postingan Sigit Susanto dari millis Apresiasi Sastra. Esai ini sengaja ditampilkan disini sebagai jawaban dari pertanyaan apapun tentang Dadaisme
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 12 komentar untuk artikel ini.
firman firdaus
aku kenal sigit. tahun lalu pernah ketemu di TIM, kebetulan dia lagi liburan ke sini. dia juga penulis buku “Menelusuri Lorong-lorong Dunia”. Sekrang tinggal di Swiss.
September 21st, 2007 at 9:16 pm
Sam Haidy
Berikut adalah referensi ensiklopedis tentang Dada, saya terjemahkan dari Encarta. Untuk mengantisipasi bias penerjemahan, saya sertakan
juga tulisan sumbernya dalam bahasa inggris.
Salam,
Sam Haidy
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========
I PENGENALAN
Dada, adalah sebuah gerakan seni di awal abad 20, yang anggotanya bertujuan untuk menyindir secara konyol kebudayaan pada masa itu melalui rancangan seni pertunjukan, puisi, dan seni visual yang absurd. Para Dadais merangkul hal-hal yang luar biasa, irasional, dan yang bertentangan secara besar-besaran sebagai reaksi terhadap kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak dapat dipahami dalam Perang Dunia I (1914-1918). Karya mereka dipicu oleh keyakinan bahwa nilai-nilai nasionalisme kebudayaan Eropa yang tertancap kuat,
militerisme, dan bahkan tradisi panjang filsafat rasional mempunyai andil yang besar atas terjadinya kengerian perang tersebut. Dada sering digambarkan sebagai nihilistik, yaitu menolak semua nilai-nilai moral; bagaimanapun juga, para Dadais menganggap gerakan mereka sebagai penegasan akan pentingnya hidup ketika menghadapi kematian.
II BENTUK-BENTUK AWAL
Gerakan Dada memperoleh nama dan identitas yang dapat dikenal jelas pada tahun 1916, tapi karya beberapa seniman sebelumnya telah mengandung roh Dada pada tahun-tahun lebih awal. Pada tahun 1913,
seniman Perancis Marcel Duchamp membuat karya-siap-saji pertamanya, yang mana ia mengerek obyek sehari-hari seperti roda sepeda atau rak
botol, mengangkat statusnya menjadi setara dengan seni ukir hanya dengan cara memamerkannya di galeri dan mendaulatnya sebagai seni. Duchamp dan seniman Perancis lainnya, Francis Picabia, membuat
lukisan-lukisan dan gambar-gambar yang penuh dengan main-main, dan ukiran yang menggambarkan figur sebentuk mesin misterius-sebuah sindiran keras terhadap teknologi baru. Karya mereka menarik perhatian himpunan kecil-tapi-aktif para pemuka masyarakat, penulis, dan seniman Amerika yang simpatik termasuk fotografer Man Ray.
III KABARET VOLTAIRE
Dadaisme diluncurkan secara sungguh-sungguh pada Februari 1916 ketika Hugo Ball, seorang penyair dan musisi Jerman, beserta istrinya, seniman panggung Emmy Hennings, membuka Kabaret Voltaire di Zurich, Swiss. Sebagai negara netral, Swiss adalah tempat perlindungan bagi para penentang perang, dan sedari awal Kabaret tersebut telah menarik banyak kelompok seniman dan kaum intelektual internasional. Mereka lalu melaju dibawah panji Dada, sebuah istilah yang asal muasalnya masih diperdebatkan. Penulis Jerman (yang kemudian menjadi psikolog), Richard Huelsenbeck, mengklaim bahwa ia dan Ball memilih nama itu sebagai nama panggung bagi penari wanita dalam Kabaret; tapi penulis Rumania yang lahir di Perancis, Tristan Tzara, yang menjadi penyebar utama Dada, juga mengklaim kepenulisan nama tersebut. Dalam beberapa hal, nama Dada, yang bahasa Perancisnya “kuda mainan”, memenangkan banyak dukungan untuk keambiguannya dan jelas-jelas tak punya makna sama sekali. Dalam manifesto pada tahun 1918, Tzara memproklamirkan,
“DADA BERARTI BUKAN APA-APA”.
Acara-acara malam hari di Kabaret Voltaire dimaksudkan sebagai sindiran keras dan mengundang pementasan oleh sekelompok penyair yang merupakan anggota gerakan seni sejawat di Italia yang dinamakan futurisme, yang merayakan permesinan, kecepatan, dan aspek-aspek lainnya dari kehidupan modern. Keseragaman pemahaman diletakkan paling
rendah, dan busana yang dikenakan seringkali aneh. Seniman Perancis, Jean Arp, adalah partisipan tidak tetap dalam Kabaret Voltaire dan menggambarkan sebuah malam pementasan sebagai “Kekacauan total. Orang-orang di sekeliling kami berteriak, tertawa, dan menggeliat-gelinjang. Sahutan-sahutan kami adalah desah-desah cinta,
berondongan sedakan, puisi-puisi, lenguhan-lenguhan. .. Tzara meliuk-liukan pantatnya seperti perut penari oriental. [Seniman
Rumania Marcel] Janco memainkan biola tak kasat mata lalu membungkuk dan menggesek-geseknya… Nyonya Hennings, dengan wajah Madonna, merenggangkan kedua kakinya sampai ke dasar lantai. Huelsenbeck menabuh-nabuh drum tanpa henti, dengan Ball menemaninya pada piano, pucat pasi seperti hantu berkapur.” Para Dadais mempromosikan seni untuk anak-anak, orang gila, non-eropa, dan orang-orang lainnya yang di luar norma-norma yang bisa diterima masyarakat Eropa.
IV DADA DI JERMAN DAN PERANCIS
Dalam setahun sejak didirikan pada tahun 1916, fokus Dada bergeser. Kabaret Voltaire hanya bertahan lima bulan, dan Ball keluar dari gerakan tersebut tahun 1917. Tzara tetap aktif di Zurich, menerbitkan majalah Dada, tapi Huelsenbeck pada tahun 1917 kembali ke Berlin, ibukota Jerman yang luluh lantak oleh perang, di mana Dada menjadi jauh lebih condong ke politik. Huelsenbenk membuat komitmen terhadap filsafat politik sosialis sebagai prinsip sentral Dada, dan kemudian menariknya kembali, “di sana ada seniman dan borjuis. Kau harus mencintai satu dan membenci yang lain.” Sementara Huelsenbeck memproklamirkan “Dadais mempertimbangkan perlunya untuk mulai keluar melawan seni, karena ia telah melihat di
balik kepalsuannya sebagai keran keamanan moral,” seorang Dadais Jerman lainnya menghasilkan ejawantah karya seni visual penting dari gerakan tersebut dalam bentuk potret serpihan. Menggunakan
gambar-gambar yang dipotong dari koran-koran dan bungkusan iklan, seniman Raoul Hausmann, John Heartfield, dan Hannah Hoch membuat karya serpihan satiris yang brutal menyerang masyarakat dan pemerintah Jerman. Seniman Jerman George Grosz membuat gambar-gambar menggigit secara seimbang yang mendakwa masyarakat Jerman terhempas ke jurang kekacauan yang dalam setelah kalah perang.
Pusat lainnya dari aktivitas Dada di Jerman termasuk Cologne, di mana Max Ernst membuat lukisan-lukisan dan karya serpihan, dan Hannover, dimana Kurt Schwitters merakit ukiran dari serpihan-serpihan reruntuhan bangunan biasa. Proyek Schwitters, yang dinamainya Merz (rakitan
kata), mencapai puncak dalam karya yang dinamainya Merzbau (1923-1936, dihancurkan) , sebuah rakitan dari obyek-obyek yang kurang berguna yang memenuhi hampir seluruh studio dan rumah keluarganya. Cengkeraman Dada yang terakhir adalah di Paris, tempat ke mana hampir semua partisipan pentingnya-Tzara, Ernst, Picabia, Duchamp, Man Ray, dan Arp—pindah antara tahun 1919 sampai 1922.
V WARISAN DADA
Pada akhir tahun 1922 gerakan Dada mulai runtuh. Perselisihan meningkat di antara beberapa anggotanya, dan yang lainnya tampaknya lelah mempertahankan pendirian kebencian membabi buta terhadap masyarakat. Di Paris para Dadais bergabung dengan sekelompok penulis, termasuk orang-orang Perancis André Breton, Louis Aragon, Paul Éluard, dan Philippe Soupault, yang menuangkan ketertarikan Dada terhadap irasionalitas dan kesempatan ke dalam gerakan baru yang dikenal sebagai surealisme. Pengaruh Dada juga terasa dalam beberapa gerakan-gerakan sesudahnya. Antara lain kelompok seniman pementasan pada tahun 1960 yang dikenal sebagai Fluxus; gerakan seni pop, yang mana meracik image dari kebudayaan populer; dan gerakan seni konseptual, yang mana menampilkan ide itu sendiri sebagai seni.
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========
I INTRODUCTION
Dada, early 20th-century art movement, whose members sought to ridicule the culture of their time through deliberately absurd performances, poetry, and visual art. Dadaists embraced the
extraordinary, the irrational, and the contradictory largely in reaction to the unprecedented and incomprehensible brutality of World War I (1914-1918). Their work was driven in part by a belief that deep-seated European values—nationalism, militarism, and even the long
tradition of rational philosophy—were implicated in the horrors of the war. Dada is often described as nihilistic—that is, rejecting all moral values; however, dadaists considered their movement an
affirmation of life in the face of death.
II EARLIEST FORMS
The dada movement acquired a name and a recognizable identity only in 1916, but the work of several artists anticipated dada’s spirit a few
years earlier. In 1913 French artist Marcel Duchamp made the first of his readymades, in which he elevated everyday objects, such as a bicycle wheel or a bottle rack, to the status of sculpture simply by exhibiting them in a gallery and pronouncing them art. Duchamp and French artist Francis Picabia took up temporary residence in New York City in 1915, where they created playful paintings, drawings, and sculptures that depicted figures in the form of mysterious machinery—a jab at new technology. Their work drew the attention of a small but active circle of sympathetic American patrons, writers, and artists, including photographer Man Ray.
III CABARET VOLTAIRE
Dadaism was launched in earnest in February 1916 when Hugo Ball, a German poet and musician, and his wife, performer Emmy Hennings, opened the Cabaret Voltaire in Zürich, Switzerland. As a neutral country, Switzerland was a haven for opponents to the war, and from the beginning the Cabaret attracted an international group of artists and intellectuals. They soon rallied under the banner of dada, a term whose origin remains in dispute. German writer (and later psychologist) Richard Huelsenbeck claimed that he and Ball chose it as a stage name for a female dancer in the Cabaret; but Romanian-born French poet Tristan Tzara, who became dada’s chief promoter, also
claimed authorship. In any case, the name dada, French for “rocking horse”, won general support for its ambiguity and evident inanity. In a manifesto of 1918, Tzara proclaimed, “DADA MEANS NOTHING.”
Nightly events at the Cabaret Voltaire were intentionally outrageous and drew in part on performances by poets who were members of a closely related Italian art movement called futurism, which celebrated machinery, speed, and other aspects of modern life. Intelligibility was at a minimum, and costumes were often outlandish. French artist Jean Arp was an occasional participant in the Cabaret Voltaire and described one evening’s performance as “Total pandemonium. The people around us are shouting, laughing, and gesticulating. Our replies are sighs of love, volleys of hiccups, poems, moos…Tzara is wiggling his behind like the belly of an oriental dancer. [Romanian artist Marcel] Janco is playing an invisible violin and bowing and scraping. Madame
Hennings, with a Madonna face, is doing the splits. Huelsenbeck is banging away nonstop on the great drum, with Ball accompanying him on the piano, pale as a chalky ghost.” Dadaists promoted the art of children, the insane, non-Westerners, and any other people outside the accepted norms of European society.
IV DADA IN GERMANY AND FRANCE
Within a year of its founding in 1916, the focus of dada shifted. The Cabaret Voltaire lasted only five months, and Ball quit the movement in 1917. Tzara remained active in Zürich, publishing the magazine Dada, but Huelsenbeck returned in 1917 to Berlin, the war-ravaged capital of Germany, where dada became far more political. Huelsenbeck made commitment to the political philosophy of socialism a central dada tenet, and later recalled, “there were artists and bourgeois. You
had to love one and hate the other.” While Huelsenbeck proclaimed “The dadaist considers it necessary to come out against art, because he has seen through its fraud as a moral safety valve,” other German dadaists produced the movement’s first substantial body of visual artwork in the form of photocollage. Using images cut out of newspapers and commercial packaging, artists Raoul
Hausmann, John Heartfield, and Hannah Höch made brutally satirical collages attacking German society and government. German artist George Grosz created equally biting drawings that indicted a society in deep disarray after losing the war.
Other centers of dada activity in Germany include Cologne, where Max Ernst made paintings and collages, and Hannover, where Kurt Schwitters
assembled sculpture from bits of commonplace debris. Schwitters’s projects, which he called Merz, (a made-up word), culminated in a work
called Merzbau (1923-1936, destroyed), an assemblage of cast-off objects that almost entirely filled his studio and family home. Dada’s
last stronghold was Paris, to which nearly all its major participants— Tzara, Ernst, Picabia, Duchamp, Man Ray, and Arp—moved between 1919 and 1922.
V DADA’S LEGACY
By the end of 1922 the dada movement had begun to fall apart. Quarrels developed between some members, and others seemed to tire of maintaining a stance of outrage against society. In Paris the dadaists were joined by a group of writers, including Frenchmen André Breton, Louis Aragon, Paul Éluard, and Philippe Soupault, who transformed dadaist interests in irrationality and chance into a new movement known as surrealism. Dada’s influence was also felt in a number of
later movements. They include a group of 1960s performance artists known as Fluxus; the pop art movement, which incorporated images from popular culture; and the conceptual art movement, which viewed ideas in themselves as art.
Contributed By:
Nancy Princenthal
September 23rd, 2007 at 2:45 pm
ivanlanin
Isi artikel ini dan terjemahan artikel Encarta mengenai Dadaisme menarik sekali. Bolehkan saya masukkan Wikipedia Indonesia? Terima kasih sebelumnya.
September 24th, 2007 at 7:52 am
links for 2007-09-24 « nan tak (kalah) penting
[…] Dadaisme (I) — Lentera Susastra Catatan menarik mengenai gerakan Dadaisme. (tags: seni abn) […]
September 25th, 2007 at 2:10 am
marka buku 2007-09-24 « nan tak (kalah) penting
[…] Dadaisme (I) — Lentera SusastraCatatan menarik mengenai gerakan Dadaisme.(tags: seni abn) […]
September 25th, 2007 at 2:11 am
sayyid
Oh mas Ivan langsung saja hubungi mas Sigit. Ini emailnya mbeling@xxxxx
regards
September 26th, 2007 at 10:41 am
ivanlanin
Terima kasih Mas, saya kontak langsung kalau gitu. Emailnya silakan dihapus saja Mas, kasihan nanti jadi sasaran spam :)
September 26th, 2007 at 11:42 am
ADI PA
thanks buat pengetahuanya ..karena begitu penting bagi kami..anak-anak graphis unikom untu lebih jauh mengenal salah satu stylis graphis ini..
MERDEKA..sukses selalu..
November 28th, 2007 at 12:57 am
faris ramadhanl
aku koleksi 1 lukisan collage jerman lho…
September 20th, 2008 at 10:48 pm
syr
yes!
September 20th, 2008 at 11:02 pm
ian
thank, untuk info dadais..
ngomong2 kapan ya ada pameran dadais di jakarta ..ada yg tau ga?
July 15th, 2009 at 3:04 pm
arie
ada gak hubugan dadaism sama dunia arsitektur????
September 8th, 2009 at 10:14 pm