You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Polemik sastra: senior vs junior

Polemik sastra: senior vs junior

sayyid — September 22, 2007 / 8:03 pm

Polemik antara HH dan TI terus merambat dengan gilanya. Bahkan telah mengusik kehidupan pribadi yang setiap kita pasti setuju bahwa kehidupan pribadi bukan hak orang lain untuk mengetahuinya melainkan hak privasi kita.

Namun, sepertinya hal ini tidak berlaku pada polemik yang merupakan buah asam dari pertempuran lain yang menamakan dirinya polemik RUU APP. Sebenarnya polemik ini sangat menarik (pada awalnya). Sebab, menampilkan dua generasi sastra yang saling beradu argumentasi terhadap nilai-nilai yang dianutnya. Lambat laun, argumentasi pun berkembang menjadi pembuatan kubu di masing-masing pihak. Menjalar lagi, mengusik daerah idealisme ideologi politik (Liberalisme versus Non Liberalisme).

Dan terakhir, menyenggol dan menyepelekan hak privasi. Saling tuduh, saling maki saling hujat. Semakin mirisnya, polemik ini dilakukan oleh para sastrawan yang sudah punya nama di kancah Sastra Indonesia.

Tulisan di bawah ini merupakan sebuah keluh kesah dan kekecewaan yang mendalam dari generasi muda Sastra Indonesia. Saya sendiri sering tertawa melihat kelucuan para sastrawan kita (Indonesia) dalam berpolemik. Tulisan di bawah ini saya ambil dari sebuah millis sastra (Apresiasi-Sastra) yang ditulis oleh Gatot Aryo seorang pengelola Komunitas Coretan Bogor. Mari kita simak penuturan beliau.

Bagi saya menyaksikan debat antara kelompok sastra di media dan milis memang seru…?! tapi perdebatan ini menjadi kurang menarik ketika wacana perdebatan bergeser ke hal-hal yang sifatnya individu. Sedangkan wacana awal yang di hembuskan mulai bergeser ke arah saling mengejek dan menjatuhkan malahan subtansi masalahnya mulai tidak terbahas.

Sayang…, sebagai pelaku seni yang baru muncul (embrio) saya sedikit kecewa ketika panggung perdebatan yang ditunjukkan para satrawan senior mulai kontra produktif dalam membangun sastra Indonesia. Setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan, di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna termasuk Bang Saut, Gola Gong, Binhad, Hudan, Goenawan Muhammad hingga Taufik Ismail sekalipun. Mereka semua manusia yang pasti memiliki kekhilafan dan kesalahan.

Karena itu alangkah baiknya perdebatan itu jangan di sangkut pautkan pada persoalan individual. Bagi saya proses dialog itu penting, justru anti-dialog menjadi strategi buruk dan kontra produktif. Karena jalan yang yang dipilih ketika proses dialog buntu adalah pemaksaan kehendak bahkan kontak fisik (peperangan). Ketika hal itu terjadi bangunan Sastra Indonesia bukan malah terbangun tetapi justru ancur lagi?!

Polemik ini pada akhirnya akan mempermasalahkan apa dan siapa yang awal memicu konflik ini. Saya yakin setiap kubu pasti tidak mau ngaku dan berusaha mencari kesalahan bahkan menvonis kubu lawannya. Dari masalah manifesto kebudayaan hingga manikebu, dari Memo Indonesia hingga Ode Kampung. Dari tuduhan anti kebebasan hingga imprealisme budaya, dari dominasi komunitas hingga sastrawan yang cemburu.

Dan polemik ini tidak akan pernah beres sebelum ada kedewasaan dan kebijaksanaan para sastrawan senior di kedua kubu tersebut. Saya menangkap ambisi yang besar dari KUK untuk go Internasional dan mungkin beberapa sastrawannya mengharapkan nobel penghargaan sehingga mereka diakui eksistensinya di mata dunia. Mungkin ada sedikit harapan baik ketika Sastra Indonesia go internasional melalui KUK. Mereka sepertinya terinspirasi oleh kesuksesan Pramoedya Ananta Toer yang karyanya (sepertinya) berhasil memperoleh nobel, tapi ketika go internasional menjadi angan2 dan harapan yang menggebu, terkadang jalan apapun akan dilakukan, termasuk ketika kita itu harus mengikuti selera sastra dunia dan sedikit kehilangan karakteristik dan idealisme sastrawan Indonesia. Seperti mba Ayu Utami sepertinya ia terinspirasi oleh seorang novelis Yahudi yang tinggal di Austria Eropa yang kebetulan memperoleh nobel melalui novel kontrovesialnya yang sangat bernuansa pornografi dan perlawanan.

Siapa tahu ketika novel Samannya jadi kontroversi di Indonesia, malah masyarakat sastra Internasional berempati dan menganugrahinya nobel. Kalau Ayu Utami berjaya so pasti KUK pun tidak terlupakan. Mungkin ambisi go internasional dan nobel inilah yang membuat mereka enggan dan risih ketika ada kerikil-kerikil tajam (Ode Kampung 2) yang mengganggu tujuan mereka. Tapi sedikit saran saya, kalau memang Tuhan menakdirkan anda (KUK) memperoleh nobel, nggak usah terlalu berambisi bahkan seolah-olah men-Tuhan-kan Nobel (pengakuan internasional) pasti nanti juga dapet! Santai aja…?!

Tapi setidaknya ada satu niat baik dari teman-teman KUK mereka ingin membawa Sastra Indonesia ke kancah Internasional, tapi mungkin cara dan strateginya saja yang perlu di evaluasi. Buat bang Saut yang sedang menikmati hujatan dan kritikan, saya hanya melihat ada upaya pengkucilan dari komunitas anda dari rival-rival anda dengan membangun opini-opini yang memojokkan! Tapi alangkah baiknya kita mengambil hikmahnya saja dari hal ini. Kalau kita tidak mau di hujat ya jangan menghujat orang lain, kalau ngga mau dimaki orang ya jangan memaki orang, kalau kita nggak mau di hina orang ya jangan menghina orang.

Terkadang ketika kita dihina,dihujat, dan dimaki orang lain mungkin karena awalnya kita sering menghujat dan memaki orang lain. Faktor awalnya mungkin karena kita alergi akan kritik dan tidak di terima disalahkan. Buat teman-teman KUK saat ini memang sedang dihina habis-habisan oleh bang Saut. Coba pikirkan mungkin selama ini KUK pun sering menghina orang. Begitu juga buat Bang Saut, ini mungkin konsekuensi atas langkah-langkah yang abang buat.

Bagi saya yang penting pertunjukan ini jangan dijadikan proses diaolog sastra yang kontra produktif, saya sebagai sastrawan muda (biang) sedikit merasa risih dan diberikan pendidikan yang kurang produktif.

(MASIH BETAHKAH PARA SASTRAWAN KITA YANG TERHORMAT BERLAMA-LAMA MANDI DALAM LUMPUR PEKAT?)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. Qinimain Zain

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    September 29th, 2008 at 12:41 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Yeni Kusmiati — Congratulation ya buat mba anindita Q juga ikut serta dalamlomba tersebut tapi mang masih amatir jadi q harus lebih banyak belajar ...
  • asy-syifa — PLIS... KASIH TAHU AKU YA... LOMBA NULISNYA...
  • asy-syifa — Assalamu'alaikum! Kalau ada lomba nulis... tolong kabari aku ya... writer_cute@yahoo.co.id tolong ya... aku tunggu loh... Wassalam!
  • leo — sabar ya, tapi sebaiknya benahi kesalahan minta maaf dan ada kabar tentang penundaan pengumuman atau lainya...!
  • Ichsan — Gembel bgd c ni lomba. Pengumuman aj ngaret. Pa lg hadiah dr sponsor. D tilep kalee.
  • Eranthy Firdaus — ah, hopeless banget nih nungguin pengumuman pemenang . kok kayaknya enggak profesional banget ya ?! seenggaknya kasih pemberitahuan keterlambatan pengumuman. biar ...
  • Silvi — terima kasih banyak atas archive sastra. Saya sempat kebingungan nyari cerpen Danarto di Jawa Pos "Bintang Bethlehem" karena di Jawa ...
  • rita — tetralogo laskar pelangi Keren Buanget. arai itu beneran ada?? kenapa baru muncul di SANG PEMIMPI ??? MARIYAMAH KARPOV kren abiz
  • manxini — ini lomba beneran ada g sih? dah lama banget belum ada pengumumannya??? apa ini penipuan??
  • uswatun arrozi — asslkm saya mahasiswa STAIN jember, apa saya boleh mengikuti lomba di kampus anda? tlog blz di e-mail saya