Archive for October, 2007

Philip Larkin (II)

Wednesday, October 24th, 2007

Sajak-sajak Philip Larkin selalu saja memuat kontras baik dari isi maupun suasana sajaknya. Maka akan kita temukan romantisme sekaligus sinisme, rindu dan benci, suka dan tidak suka. Dan kadang kala itu dituliskan apa adanya. Oleh karena itu banyak sekali hal-hal sederhana yang menjadi bermakna.

(more…)

Popularity: 31%

Sastrawan Dan Mahasiswa

Tuesday, October 23rd, 2007

Satu lagi kegiatan sastra yang mesti dihadiri. “Pertemuan Kesastraan: Jumpa Sastrawan dengan Mahasiswa”, bertempat di Universitas Trisakti Jakarta, hari Jum’at tgl 26 Oktober 2007 Jam 9:30 sd 11:30.

(more…)

Popularity: 13%

Philip Larkin (I)

Thursday, October 18th, 2007

Mengapa Larkin?

Pada awalnya adalah sebuah keisengan. Pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Pak Joko Pinurbo tentang siapa yang harus saya baca? Beliau mengatakan seorang temannya meminta beliau membaca sajak-sajak Philip Larkin. Tak ada alasan khusus, dan beliau pun, waktu itu, belum tahu siapa Philip Larkin dan apa sebab temannya itu meminta supaya beliau membaca sajak-sajaknya. Lalu saya pun mulai mencari tahu siapa Larkin ini. Menurut beberapa
situs, Philip Larkin dikenal sebagai penyair modern Inggris Raya yang paling banyak disitir sajak-sajaknya. Sajak yang paling sering dikutip orang adalah sajak “This Be The Verse” yang mengandung kata “fuck”. Dan kebanyakan orang yang mengutipnya bermaksud tidak seperti yang dimaksudkan oleh Larkin ketika menggubahnya. Sekelompok penyair Amerika bahkan menganggap sajak “This Be The Verse” disebut sebagai sajak modern Inggris yang tidak layak ditampilkan di muka umum.

(more…)

Popularity: 14%

Sajak-Sajak Sehabis Pulang Kampung

Wednesday, October 17th, 2007

Ini adalah beberapa sajak karya Sayyid Madany Syani

Menunggu Hari Gelap

jejak senja telah melamur padam
berhembus semilir angin dari bebukit
melayarkan nelayan dalam
kapal yang lindap di peraduan

oh, sekawanan burung balik dari angkasa
“pertempuran hari ini telah usai
kita siapkan diri untuk perang esok hari”

dan cerita-cerita tentang orang yang menunggu hari gelap
dengan penungguan yang tak pernah habis di sebuah halte
garis wajahnya dilukis oleh ketidakpastian
dalam kepenatan metropolis yang mencekam
sekali-kali mereka menghalau badai
di tengah jalan bersorak-sorai menghunuskan
tatapan pijar kepada setiap yang lewat

lalu, mereka kembali bertenang-tenang
menitikkan air mata di kerah baju yang kumal
menatap indah, pada senja kemerah-merahan
menatap tabah, pada maghrib yang tergelincir

jalanan pun telah mengering
asap kendaraan diendapkan udara dingin
pada tunas rerumput yang hijau melumut
sementara aspal hitam dimandikan
oleh temaram lampu jalan yang berbaris-
baris ke arah bebukit itu

“ohoi…telah datang pula gelap”

dan orang-orang yang menunggu itu pun beranjak
hilang diantara dua pusara langit
meninggalkan jejak sepatu yang berirama

tretet…tretet…tretet…
boom…boom…boom…

(Halte Pasar Paru, Oktober 2007)

(more…)

Popularity: 14%

Selamat!

Wednesday, October 17th, 2007

Selamat… Selamat… Selamat…

Ah, walaupun telah beberapa hari berlalu namun sampai saat ini masih terasa hentakan takbir melumat-lumat hati. Oh, ternyata, waktu memang terlalu cepat bergulir. Apakah masih bisa kita reguk nikmatnya malam Ramadhan tahun esok? hmm, begitu dinanya manusia. Kenapa kepergian Ramadhan harus dirayakan dengan semeriah-meriahnya? Kenapa Ramadhan tidak diperlakukan layaknya orang mati yang ditangisi dan disedihi? Oh betapa anehnya manusia.

Tetapi, selamat… selamat… selamat…

Bagi yang puasanya tidak bolong, bagi yang masih bisa jaga hati, atau bagi yang tidak berpuasa sekalipun saya ucapkan selamat. Selamat untuk dirimu masing-masing. Selamat untuk kehidupanmu masing-masing. Juga, selamat kembali berenang dalam kejumudan, dan bagi yang telah benar-benar jatuh cinta pada Tuhan selamat untuk kembali bekerja demi keridhoan-Nya. SELAMAT!

Popularity: 11%

Kisah 47 Ronin

Wednesday, October 17th, 2007

4233.jpg

Judul Buku Kisah 47 Ronin
Pengarang John Allyn
Penerbit Matahati
Maret 2007
Tebal 311 halaman

Tahun 1701 suatu peristiwa terjadi di Istana Shogun di Edo. Lord Asano, seorang daimyo muda dari Ako, menyerang Kira, pejabat istana, pemimpin upacara Shogun Tsunayoshi. Kira seorang yang korup, sering meminta uang suap dari para daimyo, tapi Lord Asano seorang yang sangat idealis, tak mau memenuhi permintaan Kira. Hal ini membuat Kira kesal, dan puncaknya pada suatu hari di istana Shogun di Edo, Kira mengatakan sesuatu yang membuat Lord Asano sangat marah, dan mengeluarkan pedangnya, sesuatu yang sangat tabu dilakukan di dalam istana Shogun.

(more…)

Popularity: 21%

Dadaisme (IV)

Thursday, October 4th, 2007

Kaum Dada:
Dada di Zürich-Dada di Paris–Dada di Jerman

Dada di Zürich
Dengan berjalannya sang waktu, Dada bisa diterima dan Dada sendiri punya banyak wajah. Dada sangat erat hubungannya dengan manusia dan lingkungannya. Berakar dari rasa tak puas atas terjadinya perang dan muak karenanya. Kemuakan itu ditujukan pada kelompok masyarakat yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya perang. Terhadap seni dan filsafat, menandakan akal budi warga sedang terpenjarakan. Tak ada model baru dalam protes yang bisa diusung. Melihat situasi yang terpuruk Dada tampil dengan dasar-dasar yang absurd dan primitif. Nama “Dada” dipancangkan di Zürich tahun 1916. Kejelasan nama tersebut masih simpang siur.

(more…)

Popularity: 17%

Kegiatan Setelah Berbuka Puasa

Wednesday, October 3rd, 2007

Wah, berbuka adalah kegiatan yang paling ditunggu saat bulan puasa ini. Nikmat, kerongkongan dialiri air mineral dingin yang menyegarkan. (hmmm) ditambah cendol durian dengan ketan hitamnya. Ahh, menambah lezat selera.

Biasanya, kegiatan yang ramai adalah sebelum berbuka. “Ngabuburit” istilah yang hampir menasionalisasi. Namun, bagi aku dan kawan-kawan satu jurusan, kegiatan yang ramai itu bukan sebelum berbuka tetapi sesudah berbuka puasa. Itu pun tidak diisi dengan menggoda cewek-cewek yang mau pergi tarawihan atau kongkow-kongkow di pinggir jalan. TIDAK!

Aku dan kawan-kawan satu jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang, menamainya dengan acara Tadarus Puisi. (hahahaha) biasanya kalau dengar kata tadarus pasti mengarah kepada pembacaan kitab suci secara bergiliran. Tetapi ini tidak. Bukan kitab suci yang kita gilir pembacaannya, tetapi puisi yang tidak saja di deklamasikan, tapi juga di musikalisasi, di dramatisasi.

Apakah hanya itu? Tentu tidak. Selain membaca puisi bergilir dari sesudah shalat Isya hingga menjelang Sahur, acara Tadarus Puisi ini juga diselingi oleh “diskusi canda” dan penampilan teater oleh kawan-kawan dari mahasiswa baru angkatan 2007. Oh ya, acara ini diselenggarakan tanggal 28 September 2007 hari Jumat kemarin.

Puisi bagi aku pribadi tidak saja mempunyai kekuatan di sisi tulisnya saja. Tetapi, akan lebih terasa jika dilisankan atau di visualisasikan. Kebetulan, pada kesempatan itu hadir pula “dunsanak jauah” yaitu Indrian Koto dan Thendra BP. Walaupun tidak bertindak sebagai pembicara alias hanya tamu biasa, tetapi kehadiran Koto dan Thendra menambah semarak acara. Apalagi diselingi humor-humor segar dari Mak Nai (Nasrul Azwar) yang langsung ditimpali oleh Chotic (Pinto Anugrah).

masih perlukah berpuisi?

Setidaknya, aku dan kawan-kawan disini tidak akan pernah membiarkan puisi kehilangan bentuk bahkan raib dari aura kepenulisan di Indonesia. Setidaknya pula, aku dan kawan-kawan juga ingin memperkenalkan bentuk-bentuk pengapreasiasian puisi kepada adik-adik atau rekan-rekan kami mahasiswa baru angkatan 2007. Ternyata, membaca puisi itu tidak susah. Ternyata puisi bisa dibuat lagu. Ternyata puisi bisa di dramatisasi hingga membuat bulu roma merinding.

Walaupun acara ini terselenggara di bawah situasi dan kondisi yang tidak kondusif, (masih trauma dengan gempa) tetapi keinginan besar aku dan kawan-kawan agar penulis (bahkan yang lebih khusus lagi; Sastrawan) tetap tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Ketika penulis-penulis di Jakarta (Jawa) berjibaku dengan polemik “hiruk-pikuk”, kami yang di Minang sudah bertekad untuk tidak terpengaruh dan tetap berkarya. Sebab percuma, hanya bisa ngritik dan saling lempar caci-maki tanpa ada karya yang ril dan nyata.

Hiduplah Sastrawan Minangkabau!

Ah, bukannya sentimen kedaerahan atau terpikat dengan apa yang sudah dihasilkan sastrawan Minangkabau dulu. TIDAK! Tetapi kami merasa bahwa Minangkabau adalah sumber ide yang tak akan berpadam sampai kapan pun. Walaupun telah berada di tanah Rantau, namun kerinduan akan kampung halaman tetap mengombak. Berkali-kali dan tidak akan pernah letih.

Popularity: 16%

Diperpanjang! Pendaftaran Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007

Tuesday, October 2nd, 2007

Sebagaimana kita ketahui, seharusnya pendaftaran peserta Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007 sudah ditutup semenjak akhir September 2007. Namun, atas kebijakan dari Dewan Kesenian Jakarta sendiri, maka Sayembara Kritik Sastra DKJ diperpanjang hingga akhir bulan ini yaitu tanggal 31 Oktober 2007.

Maka dari itu, bagi para pengkritik sastra di seantero Indonesia yang merasa belum ikut serta, bersegeralah untuk bergabung menjadi pengkritik “mutakhir” Sastra Indonesia. Persyaratan lomba tidak beda jauh dengan info Sayembara sebelumnya.

Oleh karena itu saudara, jangan sampai lewatkan kesempatan ini.

Jadilah Toekang Kritik Indonesia!

Popularity: 13%