Wah, berbuka adalah kegiatan yang paling ditunggu saat bulan puasa ini. Nikmat, kerongkongan dialiri air mineral dingin yang menyegarkan. (hmmm) ditambah cendol durian dengan ketan hitamnya. Ahh, menambah lezat selera.
Biasanya, kegiatan yang ramai adalah sebelum berbuka. “Ngabuburit” istilah yang hampir menasionalisasi. Namun, bagi aku dan kawan-kawan satu jurusan, kegiatan yang ramai itu bukan sebelum berbuka tetapi sesudah berbuka puasa. Itu pun tidak diisi dengan menggoda cewek-cewek yang mau pergi tarawihan atau kongkow-kongkow di pinggir jalan. TIDAK!
Aku dan kawan-kawan satu jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang, menamainya dengan acara Tadarus Puisi. (hahahaha) biasanya kalau dengar kata tadarus pasti mengarah kepada pembacaan kitab suci secara bergiliran. Tetapi ini tidak. Bukan kitab suci yang kita gilir pembacaannya, tetapi puisi yang tidak saja di deklamasikan, tapi juga di musikalisasi, di dramatisasi.
Apakah hanya itu? Tentu tidak. Selain membaca puisi bergilir dari sesudah shalat Isya hingga menjelang Sahur, acara Tadarus Puisi ini juga diselingi oleh “diskusi canda” dan penampilan teater oleh kawan-kawan dari mahasiswa baru angkatan 2007. Oh ya, acara ini diselenggarakan tanggal 28 September 2007 hari Jumat kemarin.
Puisi bagi aku pribadi tidak saja mempunyai kekuatan di sisi tulisnya saja. Tetapi, akan lebih terasa jika dilisankan atau di visualisasikan. Kebetulan, pada kesempatan itu hadir pula “dunsanak jauah” yaitu Indrian Koto dan Thendra BP. Walaupun tidak bertindak sebagai pembicara alias hanya tamu biasa, tetapi kehadiran Koto dan Thendra menambah semarak acara. Apalagi diselingi humor-humor segar dari Mak Nai (Nasrul Azwar) yang langsung ditimpali oleh Chotic (Pinto Anugrah).
masih perlukah berpuisi?
Setidaknya, aku dan kawan-kawan disini tidak akan pernah membiarkan puisi kehilangan bentuk bahkan raib dari aura kepenulisan di Indonesia. Setidaknya pula, aku dan kawan-kawan juga ingin memperkenalkan bentuk-bentuk pengapreasiasian puisi kepada adik-adik atau rekan-rekan kami mahasiswa baru angkatan 2007. Ternyata, membaca puisi itu tidak susah. Ternyata puisi bisa dibuat lagu. Ternyata puisi bisa di dramatisasi hingga membuat bulu roma merinding.
Walaupun acara ini terselenggara di bawah situasi dan kondisi yang tidak kondusif, (masih trauma dengan gempa) tetapi keinginan besar aku dan kawan-kawan agar penulis (bahkan yang lebih khusus lagi; Sastrawan) tetap tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Ketika penulis-penulis di Jakarta (Jawa) berjibaku dengan polemik “hiruk-pikuk”, kami yang di Minang sudah bertekad untuk tidak terpengaruh dan tetap berkarya. Sebab percuma, hanya bisa ngritik dan saling lempar caci-maki tanpa ada karya yang ril dan nyata.
Hiduplah Sastrawan Minangkabau!
Ah, bukannya sentimen kedaerahan atau terpikat dengan apa yang sudah dihasilkan sastrawan Minangkabau dulu. TIDAK! Tetapi kami merasa bahwa Minangkabau adalah sumber ide yang tak akan berpadam sampai kapan pun. Walaupun telah berada di tanah Rantau, namun kerinduan akan kampung halaman tetap mengombak. Berkali-kali dan tidak akan pernah letih.
Popularity: 16%