You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Dadaisme (IV)
Kaum Dada: Dada di Zürich-Dada di Paris–Dada di Jerman
Dada di Zürich Dengan berjalannya sang waktu, Dada bisa diterima dan Dada sendiri punya banyak wajah. Dada sangat erat hubungannya dengan manusia dan lingkungannya. Berakar dari rasa tak puas atas terjadinya perang dan muak karenanya. Kemuakan itu ditujukan pada kelompok masyarakat yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya perang. Terhadap seni dan filsafat, menandakan akal budi warga sedang terpenjarakan. Tak ada model baru dalam protes yang bisa diusung. Melihat situasi yang terpuruk Dada tampil dengan dasar-dasar yang absurd dan primitif. Nama “Dada” dipancangkan di Zürich tahun 1916. Kejelasan nama tersebut masih simpang siur.
Richard Huelsenbeck, dulu masih muda, seorang penyair emigran Jerman, menyebut istilah “Dada”. Kemudian Hugo Ball menemukan pada kamus Jerman-Prancis yang berarti: ucapan gagap anak-anak (Juga berarti mainan kuda-kudaan). Terkesan primitif, benar-benar mulai dari nol, baru. Kelompok penggagas Dada ini menamakan dirinya sebagai kelompok pengungsi muda, kebanyakan pelukis dan penyair. Yang kala itu mengungsi di negeri netral Switzerland. Cabaret Voltaire merupakan “Night Club Sastra” yang didirikan oleh Hugo Ball tahun 1916. Di situlah cukup lama diperdebatkan tentang seni baru dan sajak baru dengan penuh gelora. Bahasa campuran dan norak dicipta semata-mata untuk meringankan sebuah kehidupan baru.
Hans Arp, seorang pelukis, juga penyair, anggota dalam kelompok Dada Zürich ini menggambarkan situasi saat itu sebagai berikut:
“Kala itu tahun 1915 di Zürich, rasa jijik atas pembunuhan pada Perang Dunia tahun 1914. Peristiwa itu telah mendorong kami untuk menciptakan seni yang indah. Sementara di kejauhan dilindungi guntur yang bergemuruh, dengan sekuat tenaga kami menyanyi, melukis, menempelkan karya dan mencipta sajak. Kami mencari seni yang paling dasar, untuk mengobati luka manusia, agar tertata kembali ketimpangan antara surga dan neraka. Kami sadari bandit-bandit itu akan bangkit, mereka akan mengabdi pada seni atas kemampuannya sendiri dan memperolok manusia.”
Kaum Dada dari Zürich yang berasal dari Jerman, termasuk Hugo Ball, Emmy Hennings, Hans Richter dan Richard Huelsenbeck. Hans Arp berasal dari Elsass, Prancis (Dulu wilayah Jerman), Marcel Janco dan Tristan Tzara dari Rumania. Secara diam-diam kadang Dr. Walter Serner ikut bergabung. Cabaret Voltaire kalau malam dibuka untuk umum mempertunjukkan seni Dada yang penuh kegaduhan.
Tzara menuliskan pada buku hariannya: “14 Juli 1916, malam pertunjukan Dada pertama kali. (musik, tarian, teori, manifesto, lukisan, kostum, topeng). Dengan gegap gempita Tzara mendemonstrasikan, kita mendesak, kita mendesak hak untuk mengencingi dengan warna yang berbeda. Huelsenbeck tampil, disusul Ball, juga Arp: menerangkan. Janco: lukisanku, Heusser: komposisi khusus. Pembacaan sajak beraliran keras, anjing menggonggong mengoyak piano dari Panama.
Ruangan itu riuh dengan tangan-tangan saling gerayangan. Deretan pertama paham, deretan kedua menjelaskan, dengan ucapan kasar untuk mengadilinya. Sisa deretan itu berteriak, siapa yang paling keras. Dilanjutkan dengan saling pukul-pukulan. Tarian kubisme, kostum dari Janco. Setiap orang punya genderang sendiri di kepalanya, suara gaduh, musik Afrika, Trabatgea bonooooooooooo.
Eksperimen sastra 5: Tzara mengenakan jas resmi berdiri di depan gorden menjelaskan estetik baru: sajak gerak badan, konser vokal, sajak kegaduhan, sajak statis, susunan kimia dari gagasan “Biriboom, biriboom,” sajak vokal aao, ieo, aii.”
Dada di Paris Manifesto Tzara dari tahun 1918 (Aku menulis manifesto dan aku tidak ingin, toh aku katakan beberapa hal dan prinsipnya aku menentang manifesto itu sendiri, seperti halnya aku menentang prinsip).
Andre Breton dan anggota kelompok-sastra Paris “tergoda.” Tzara datang ke Paris awal tahun 1920. Dia langsung menjalin hubungan dengan Picabia, Breton, Louis Aragon (Penyair), Philippe Soupault, Georges Ribemont-Dessaignes. Termasuk berhubungan dengan kaum Dada revolusioner lain yang menggelar aksi mengagetkan umum, seperti dilakukan oleh Picabias.
Pada 23 Januari demonstrasi Dada pertama kali diperagakan di Palais des Fetes. Dari pertunjukan awal ini cukup melegakan untuk diteruskan. Sebuah makalah dari André Sa lmon berjudul Krisis Perubahan (La crise du change). Berkisah tentang pengusaha kelas teri yang berhasrat mendapatkan kemudahan keuangan. Tema ini tak ada bedanya dengan membicarakan perubahan nilai sastra sejak era simbolisme. Para penonton sudah siap-siap akan pulang, namun Breton tampil di atas panggung dengan menunjukkan lukisan Picabia. (Picabia sendiri malas untuk tampil di muka umum).
Setelah itu muncul pertunjukan yang sebenarnya, sebuah layar gulung yang besar diturunkan disertai teriakan. Di atas terdapat tulisan “bawah,” di bawah ada tulisan “atas.” Pada panggung paling bawah ada tulisan besar sekali dengan huruf-huruf merah berupa permainan abjad cabul L.H.O.O.Q (Elle a chaud au cul). Ketika penonton mulai paham, bertalu teriakan hiruk pikuk, karena sebuah papan tulis dengan tulisan Riz au nez. Breton langsung bangkit dan menghapusnya dengan lap. Itu bukan hanya dianggap tidak seni, tapi di mata pembaca juga terganggu.
Puncak acara tampilnya Monsieur Dada dari Zürich, Tristan Tzara. Dia berpidato sebagai penutup acara. Dia juga menyitir ucapan Breton dan Aragon. Penonton bangkit, generasi muda baru membakar semangat dengan berapi-api. Seorang redaktur Avantgarde berteriak, “Kembali ke Zürich! Ke Tempat tradisi membakar kayu (Scheiterhaufen)! Dada telah cekatan mempertunjukkan, sedang penonton sudah siap dengan hati nyaman.”
Dada di Jerman Usia perang, gerakan Dada asal Zürich ini menyebar. Para anggotanya bangkit lagi di beberapa kota Eropa. Meskipun tinggal nama, tapi telah menancapkan dengan kokoh kegiatan berciri Dada.
Tahun 1919, Arp, Johannes Baargeld, dan Max Ernst muncul di kota Köln. Arp menekankan, buah terindah dari Dada termasuk Fatagagas. Baargeld membagi-bagi pada pekerja pabrik Der Ventilator, sebuah jurnal radikal dan antipatriotik. Maklum, suasana paska perang di Jerman sudah mulai terjangkiti ego nasionalisme. Pada masalah ini Dada punya andil besar sebagai tindakan politis. Keberhasilan pertunjukan Dada di Köln memakai tempat di Bräuhaus Winter. Tempatnya di halaman belakang rumah, menuju ke WC. Pada acara pembukaan sekelompok gadis berseragam putih seperti dalam upacara sakramen. Mereka membacakan sajak porno. Pada pintu masuk terdapat patung dari kayu karya Max Ernst dan sebuah kampak serta tulisan bernada mengajak dengan gambar menghancurkan.
Pertunjukan lainnya dikerjakan oleh kelompok pengikut akhir aliran surealis yang punya karya sulit ditebak. Ada sebuah aquarium berisi warna merah. Di dasar aquarium tergeletak sebuah jam beker. Sementara itu mengambang rambut pirang di air. Dari dalam air muncul sebuah tangan terbuat dari kayu. Atraksi selanjutnya, aquarium itu dipecah.
Aksi ini berbuntut ke polisi. Ernst dan Baargeld ditahan polisi, dianggap berbohong, karena mereka telah menjual tiket pertunjukan seni pada masyarakat. Dan seni model Dada itu dianggap tidak termasuk seni. Ernst berargumen, “Kami sudah menjelaskan dengan rinci, ini pertunjukan Dada. Bila penonton mencampuradukan satu sama lainnya, itu bukan kesalahan kami.”
Sumber: Judul Buku: Dada und Surrealismus Penulis: Dawn Ades
Diperkenalkan oleh Sigit Susanto
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.