You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Kisah 47 Ronin
Judul Buku Kisah 47 Ronin Pengarang John Allyn Penerbit Matahati Maret 2007 Tebal 311 halaman
Tahun 1701 suatu peristiwa terjadi di Istana Shogun di Edo. Lord Asano, seorang daimyo muda dari Ako, menyerang Kira, pejabat istana, pemimpin upacara Shogun Tsunayoshi. Kira seorang yang korup, sering meminta uang suap dari para daimyo, tapi Lord Asano seorang yang sangat idealis, tak mau memenuhi permintaan Kira. Hal ini membuat Kira kesal, dan puncaknya pada suatu hari di istana Shogun di Edo, Kira mengatakan sesuatu yang membuat Lord Asano sangat marah, dan mengeluarkan pedangnya, sesuatu yang sangat tabu dilakukan di dalam istana Shogun.
Akibatnya, Kira tergeletak tak berdaya, Lord Asano ditangkap, dan dipaksa melakukan seppuku. Seluruh wilayah kekuasaannya disita, dan keluarganya diasingkan. Karena kematian tuannya, para samurai dibawah naungan Lord Asano kehilangan status mereka sebagai samurai. Kini mereka menjadi Ronin, samurai tanpa tuan. Sebuah posisi yang sangat memalukan bagi para samurai.
Para pengikut Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi tak bisa menerima keputusan Shogun. Apalagi setelah mendengar bahwa Kira selamat dari serangan Lord Asano. Oishi pun menyusun siasat pembalasan dendam. Taktik yang sulit, karena dia juga menghadapi resiko ditinggalkan anak buahnya, dan dianggap pengecut. Namun, waktu berlalu tanpa ada kepastian sehingga terjadi serangkaian peristiwa yang berakhir dengan balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang. Peristiwa ini mengejutkan seluruh negeri dan Shogun pun mengalami kebuntuan hukum.
Jika melihat lebih detail, kisah Ronin adalah kisah yang dapat pula dikatakan melawan dari tradisi Jepang ketika itu. Sudah jelas bahwa orang istana melakukan korupsi yang merugikan rakyat, tetapi mengapa Daimyo Lord Asano yang dipaksa melakukan seppuku (harakiri dengan membelah perut). Dalam konteks pemikiran kekinian tentu hal ini tidak bisa diterima. Namun begitulah, waktu telah menunjukkan jurang perbedaan yang amat besar.
Saya yakin, jika kisah Ronin ini diangkat menjadi film seperti “The Last Samurai” akan meraup untung yang cukup besar. Tentu ada perbedaan yang mendalam antara “The Last Samurai” dan “Kisah 47 Ronin-John Allyn”. “The Last Samurai” lebih menekankan arti penting pelestarian kebudayaan sendiri. Namun Ronin justru sebaliknya, melawan adat masyarakat sendiri. (Fatal mengeluarkan Samurai dalam lingkungan istana).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Vavai
Saya pernah mengulas buku ini juga, tapi lebih kearah spoiler ;-).
Buat saya pribadi, buku ini tidak sebagus TAIKO atau Musashi-nya Eiji Yoshikawa,
http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/338-Ulasan-Buku-Kisah-47-Ronin.html
October 18th, 2007 at 3:33 pm