You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sajak-Sajak Sehabis Pulang Kampung
Ini adalah beberapa sajak karya Sayyid Madany Syani
Menunggu Hari Gelap
jejak senja telah melamur padam berhembus semilir angin dari bebukit melayarkan nelayan dalam kapal yang lindap di peraduan
oh, sekawanan burung balik dari angkasa “pertempuran hari ini telah usai kita siapkan diri untuk perang esok hari”
dan cerita-cerita tentang orang yang menunggu hari gelap dengan penungguan yang tak pernah habis di sebuah halte garis wajahnya dilukis oleh ketidakpastian dalam kepenatan metropolis yang mencekam sekali-kali mereka menghalau badai di tengah jalan bersorak-sorai menghunuskan tatapan pijar kepada setiap yang lewat
lalu, mereka kembali bertenang-tenang menitikkan air mata di kerah baju yang kumal menatap indah, pada senja kemerah-merahan menatap tabah, pada maghrib yang tergelincir
jalanan pun telah mengering asap kendaraan diendapkan udara dingin pada tunas rerumput yang hijau melumut sementara aspal hitam dimandikan oleh temaram lampu jalan yang berbaris- baris ke arah bebukit itu
“ohoi…telah datang pula gelap”
dan orang-orang yang menunggu itu pun beranjak hilang diantara dua pusara langit meninggalkan jejak sepatu yang berirama
tretet…tretet…tretet… boom…boom…boom…
(Halte Pasar Paru, Oktober 2007)
Menikam Kabut (III)
angin berenang-renang di hulu waktu. namun pertempuran hanya ada di setangan merah mudamu.
oh, perang yang menemukan hatinya. bersiaplah menemui ajal sang cipta. menelisik aura menelikung senja.
(Mukomuko, Oktober 2007)
Pesan Sekarang Juga, Sebelum Kehabisan
mari beli cermin, di toko sebelah kanan simpang lampu merah. satu bidang visual, tempat menata jiwa.
oh ya, stoknya terbatas lo seperti kemuliaan hati yang tak setiap orang bisa memiliki
itupun kalau kau tak punya atau cerminmu yang dulu pernah pecah. lalu kau mau melihat wajahmu dimana?
maka miliki sekarang juga cermin. bidang datar yang bersungut-sungut riang gembira terhadap dirimu.
(BacaKata, Oktober 2007)
Batu Tagak (III) ;buat Febriyanto
“selesailah hidup ini mak! biarkan riak danau mengaramkan keperjakaan dan jiwa yang menyesap paksa naik ke ubun-ubunku”
hampir semusim, semenjak jejak kakimu kembali memuntahkan tangisan di sepanjang jalanan yang pernah kau lewati antara pepasir danau, hingga laman belakang rumah
masih kau kayuh tubuhmu menjelajahi derit jenaka keramba, yang asing mengapung dipermainkan riak
padahal mereka; pasir, riak, pensi, langkitang, barau, majalaya dalam keramba, jejaring, sesampan bahkan bunga-bunga di halaman mengurut duka yang diselimuti hujan hingga senja tiba
“apa yang kau dapatkan yan dari sejumput umur yang diberikan Tuhan?”
nyanyi tentang syair orang tenggelam* mengaumkan sebiduk pertempuran yang mencekam
“entahlah yan, akan jadi apa tubuhmu di dalam lingkaran pusara, tempat kuburmu bersemayam atau jadi saja kau batu! seperti cerita-cerita nenekmu dulu yang asing mematung di ujung tanjung
*judul puisinya Zen Hae Terdapat dalam kumpulan puisi “Paus Merah Jambu”
(Sigiran, Oktober 2007)
Batu Tagak (IV) ;Leon Agusta
pulanglah om… jeritan ladang dekat rumahmu yang bercat hijau kadang mendengingkan namamu beriringan dengan bunyi si binatang subuh yang menguik-nguik hingga mentari memandikan bukit dari kerak kabut yang menggumpal-gumpal
begitu pula riak danau yang tenang selalu setia membesarkan bebibit ikan dalam kerambamu yang tinggal sebiji
tepian tempat mandimu dulu masih terjaga dari jariangau hijau yang menyesapkan bau anyirnya ke sela badanmu
ayolah pulang, mereka yang hadir disini telah sering menghanyutkan berbagai kerinduan dalam derasnya aliran Antokan
(Sigiran, Oktober 2007)
Sajak Sewaktu-Waktu
ada sebuah kalender jam tua berserakan di halaman dentangannya menguntit si fulan dari belakang lalu menikamnya hingga usus terburai-burai mengurai emas dan tembaga sumber devisa negara.
ada sebuah weker baterainya terlepas dari raga tercebur masuk sawah panen yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh orang kampung namun kekenyangan hanya milik si perut buncit berjas putih berdasi dengan wajah terpoles cahaya kemerahan
mungkin api dari neraka yang dimasukkan dalam lemari es lalu dijadikan lotion pembersih wajah
emas…emas…tanah… tanah…tanah…emas…
ada sebuah dinding di tubuhnya terpajang jam mati di sana tertulis:
“tak ada waktu untuk hidupmu, bro!”
(Koto Malintang, Oktober 2007)
Sayyid Madany Syani kelahiran Bogor 6 Juni 1987. Sedang sedih terhadap kampung halamannya di Sigiran Maninjau. Sedih dengan air danau yang makin lama makin keruh, makin banyak enceng gondok berkeliaran dan makin tidak nyaman untuk sekedar melepas penat karena sampah pun bertebaran. “ooh, danauku…”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.