You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Philip Larkin (I)

Philip Larkin (I)

sayyid — October 18, 2007 / 2:16 pm

Mengapa Larkin?

Pada awalnya adalah sebuah keisengan. Pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Pak Joko Pinurbo tentang siapa yang harus saya baca? Beliau mengatakan seorang temannya meminta beliau membaca sajak-sajak Philip Larkin. Tak ada alasan khusus, dan beliau pun, waktu itu, belum tahu siapa Philip Larkin dan apa sebab temannya itu meminta supaya beliau membaca sajak-sajaknya. Lalu saya pun mulai mencari tahu siapa Larkin ini. Menurut beberapa situs, Philip Larkin dikenal sebagai penyair modern Inggris Raya yang paling banyak disitir sajak-sajaknya. Sajak yang paling sering dikutip orang adalah sajak “This Be The Verse” yang mengandung kata “fuck”. Dan kebanyakan orang yang mengutipnya bermaksud tidak seperti yang dimaksudkan oleh Larkin ketika menggubahnya. Sekelompok penyair Amerika bahkan menganggap sajak “This Be The Verse” disebut sebagai sajak modern Inggris yang tidak layak ditampilkan di muka umum.

Siapakah Larkin?

Philip Larkin terlahir 9 August 1922 di Coventry. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya pasangan Sidney dan Eva Larkin. Dia menyelesaikan pendidikannya di King Henry VIII School di Coventry (1930-1940), dan melanjutkan ke St John’s College, Oxford (1940-1943). Pada saat Perang Dunia II mulai berkecamuk, para pemuda Inggris raya diharuskan untuk mendaftar wajib militer. Larkin beruntung tidak lolos tes kesehatan mata hingga dia bisa menyelesaikan pendidikannya. Selama sekolah, Larkin sudah tertarik dengan dunia tulis menulis juga sastra. Dia bergabung sebagai Editor di The Conventrian. Dan puisi pertamnya yang berjudul ‘Ultimatum’ diterbitkan pada tabloid mingguan ‘The Listener’ (28 November 1940).

Pada awal kepenyairannya, Larkin sangat dipengaruhi oleh penyair Irlandia William Butler Yeats (1865-1939). Momentum peperangan membuat Larkin produktif mencipta. Tak hanya puisi namun juga sebuah novel. Dalam kurun waktu tiga tahun (1943-1945) tiga puisinya terbit dalam kumpulan ‘Oxford Poetry 1942-43′, sepuluh puisinya dimuat dalam ‘Poetry from Oxford in Wartime’ (1945), kumpulan puisinya ‘The North Ship’ diterbitkan, dan Novelnya ‘Jill’ dipublikasikan. Larkin terbukti memang penyair dan penulis yang produktif. Sampai tahun 1955 sudah ada sebuah novel yang diterbitkan ‘Girl in The Winter’, 1947, 2 kumpulan puisinya ‘In The Grip of Light’, 1948 ; `XX Poems’, 1951 dan juga puisi-puisinya dimuat dalam antologi ‘Pamphlet 21′ , dan di dalam ‘Listen’ seperti ‘Toad’, dan ‘Poetry of Departure’.

Tahun 1955 adalah tonggak kepenyairannya. Setelah menjabat sebagai petugas perpustakan di Universitas of Hull, Buku kumpulan puisinya yang diberi judul “The Less Deceived” terbit. Lewat kumpulan puisi itu, Larkin kemudian diakui sebagai penyair modern Inggris. Padahal, pada tahun 1951 para kritikus mengabaikan kepenyairannya setelah membaca XX Poems. Tahun 1964, Larkin menerbitkan antologinya ‘The Whitsun Wedding’ yang pada akhirnya tahun 1965 membuatnya mendapatkan Queen’s Gold Medal of Poetry. Dan selanjutnya, Larkin kian mengukuhkan diri sebagai penyair Inggris yang patut disebut jika kita menyoal puisi modern.

Bagaimanakah sajak-sajak Larkin?

Sebagaimana tadi dikatakan, pada awal kepenyairannya Larkin dipengaruhi oleh gaya WB Yeats. Sajak-sajak Larkin periode awal seperti sajak Yeats. Free form tapi masih bermain-main dengan rima. Kemudian, Larkin juga dipengaruhi oleh Thomas Hardy (lebih dikenal sebagai Novelis daripada Penyair, 1840-1928). Thomas Hardy banyak menuliskan sajak-sajak kekecewaan dalam hidup, dalam cinta, dan perjuangan manusia lepas dari penderitaan. Hal inilah yang juga banyak didapatkan dari sajak-sajak Larkin. Tidaklah adil jika menilai seorang penyair hanya dari satu sajak saja, tetapi sajak yang disebut sebagai ‘the great last poem of Larkin’ kita sedikit banyak mengetahui bagaimana ‘kulit’ (teknik penulisan) dan ‘isi’ sajak Larkin. Sajak ini ditulis hampir sepuluh tahun sebelum Larkin meninggal. Namun di dalam sajak ini, tersirat sebuah kabar tentang penderitaan.

Aubade Philip Larkin

I work all day, and get half drunk at night. Waking at four to soundless dark, I stare. In time the curtain edges will grow light. Till then I see what’s really always there: Un-resting death, a whole day nearer now, Making all thought impossible but how And where and when I shall myself die. Arid interrogation: yet the dread Of dying, and being dead, Flashes afresh to hold and horrify. The mind blanks at the glare. Not in remorse - The good not used, the love not given, time Torn off unused - nor wretchedly because An only life can take so long to climb Clear of its wrong beginnings, and may never: But at the total emptiness forever, The sure extinction that we travel to And shall be lost in always. Not to be here, Not to be anywhere, And soon; nothing more terrible, nothing more true. This is a special way of being afraid No trick dispels. Religion used to try, That vast moth-eaten musical brocade Created to pretend we never die, And specious stuff that says no rational being Can fear a thing it cannot feel, not seeing that this is what we fear - no sight, no sound, No touch or taste or smell, nothing to think with, Nothing to love or link with, The anesthetic from which none come round. And so it stays just on the edge of vision, A small unfocused blur, a standing chill That slows each impulse down to indecision Most things may never happen: this one will, And realization of it rages out In furnace fear when we are caught without People or drink. Courage is no good: It means not scaring others. Being brave Lets no-one off the grave. Death is no different whined at than withstood. Slowly light strengthens, and the room takes shape. It stands plain as a wardrobe, what we know, Have always known, know that we can’t escape Yet can’t accept. One side will have to go. Meanwhile telephones crouch, getting ready to ring In locked-up offices, and all the uncaring Intricate rented world begins to rouse. The sky is white as clay, with no sun. Work has to be done. Postmen like doctors go from house to house.

Hal yang sangat jelas terlihat adalah Larkin tetap bermain dengan rima meskipun dia menulis sajak modern. Yang kedua adalah soal tanda baca; Larkin dikenal sebagai penyair yang sangat tertib dalam hal penggunaan tanda baca – sebaik dia melakukan enjabemen. Meskipun dalam perihal pengaturan baris dalam bait, Larkin membebaskannya. Menyinggung soal ‘isi’, Larkin banyak sekali menggunakan imaji-imaji yang didapatkannya sebagai orang kota. Kebiasaan orang bepergian, orang berjalan, orang bekerja, dan lain-lain. Lewat puisi Larkin, saya benar-benar tercerahkan bahwasanya puisi memang adalah gabungan dari banyak hal; peristiwa hidup kita sehari-hari, teori-teori soal puisi, dan yang paling penting adalah perenungan kita yang dalam akan sesuatu.


Tulisan ini adalah bagian dari diskusi Dua Pekan yang diadakan di millis Apresiasi Sastra. Philip Larkin dimoderatori oleh Dedy Tri Riyadi.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang