Archive for November, 2007

Download Antologi Puisi “Kemayaan dan Kenyataan”

Friday, November 30th, 2007

Wah senang juga lima buah puisi saya bisa diikutkan dalam Antologi Puisi ini. Silakan di download dan nikmati puisi-puisinya.

http://galeri.fordisastra.com/download/

Popularity: 21%

Concept Anthology: Alternatif Dalam Penggarapan Kumpulan Puisi (I)

Friday, November 30th, 2007

home-shams.jpg

Concept Album Dalam Industri Musik

Istilah ‘concept anthology’ sendiri sebenarnya diadaptasi dari istilah ‘concept album’ (atau album konsep) yang berasal dari dunia musik rock, lebih khusus lagi progressive rock, seperti Yes, Pink Floyd, Emerson Lake & Palmer, Genesis (periode awal), King Crimson, Jethro Tull, dll; walau banyak juga kelompok non-progressive yang menghasilkan album konsep, seperti “The Alan Parsons Project”.

(more…)

Popularity: 28%

Sajak Puncak Marapi

Friday, November 30th, 2007

800px-monte_marapi.JPG

Oleh Sayyid Madany Syani

pesanggrahan

mulai jejak pasang
ditemani gemericik embun
yang turun dan singgah
membelai halus pori-pori kulit

“mari, kuantar hingga decak mentari pagi
membasuh wajah dengan berseri”

begitu ucap embun yang senyum
menitikkan sejuta kesegaran dan dingin

akar

sementara itu, puncak Marapi
telah tersenyum halus
dalam gelap yang bercucuran

dedaun hijau tersibak ke tepi
jejurang pun semakin menemani langkah
dingin mencerabuti hawa panas dari badan

digantikan kabut tebal
yang menutupi bulan sepenuh kepal
namun langkah belum akan mati

“hanya sejenak istirah”
lalu bergegas kembali, mengejar senyum fajar
di titik tertinggi

lumut

oh, semakin berlarian waktu
meninggalkan jejak hijau dedaun
digantian tumbuhan paku
yang penuh di sesisian jalan setapak

tanah coklat berganti dengan kelicinan lumut
sesekali hampir terperosok ke dalam jurang
namun, nasib baik masih berpihak

masih dalam gelap
cucuran keringat yang berubah seketika menjadi es
membekukan badan hingga pori-pori jaket

“ah, bisakah beristirahat sebentar!”

pada waktu ini, harus bijak mengambil keputusan
istirahat, atau terus berjalan
supaya dapat mengejar senyum fajar
yang sebentar lagi merekah

cadas

hawa dingin semakin menggigit
puncak Singgalang sudah disiram cahaya kekuning-kuningan
juga puncak Tandikek, mencerai-beraikan kabut
yang bersatu membentuk benteng

tambah ke atas
dedaun hijau semakin sedikit
digantikan bebatuan terjal
yang tajam menusuk mata

kemah didirikan di atas tanah miring
“harus cepat, sebelum senyum fajar habis!”
dan berkejaranlah menuju titik tertinggi
garis kawah, puncak Merpati, lapangan pasir vulkanis

“ah, indahnya senyum fajar di pagi ini”
udara segar bercampur dingin dan belerang
membelai hidung, tenggorokan dan paru-paru

edelwis

belum tuntas perjalanan
dari tugu Abel, masih berniat memetik bunga abadi
edelwis, dengan sejuta pesona
menyiratkan sejuta kemenangan

belerang masih muntah dari mulut kawah
terus berjalan beriringan menuju taman abadi

“petik, petik dan terus petik”

kesunyian pula yang memadamkan niatku untuk memetik edelwis
“jika kupetik, siapa lagi yang akan menemani puncak ini”
kekosongan yang lain

sampai turun, aku masih merindukan suasana yang tenang itu
suasana di puncak sana
tempat aku melihat fajar kembali tersenyum saat berada di Barat

ditulis sehari setelah perjalanan menaklukkan puncak Marapi.

26 November 2007

Langit Merah Fanta

;lukisan hari pertama

november, hujan bersemi indah
ringis menitik dalam-dalam
menyerbu ke balik ruang kamar pengap

november, decak riang katak di taman
bermain-berlompatan di hujan rindang
mengais serpihan kebahagiaan
yang tinggal di ujung daun rumput, basah

;lukisan hari kedua

preman dan aku duduk di beranda sore
menikmati kicauan senja
yang bertempuran di langit barat

dedaun bergemeretak bersama ranting
dan suara cuit kelelawar yang terbang
di atas bunga kamboja

langit oranye terbunuh
berdarahdarah
mencipta senja jadi merah
semerah fanta yang kureguk
dalam keramaian maghrib yang menyuram

Kampus-Pasar Baru, November 2007

Popularity: 18%

Ia Sudah Bertualang

Wednesday, November 21st, 2007

rendra3.jpg

Begitu “mencengangkan” ketika tahu bahwa Rendra (Si Burung Merak) meluncurkan buku kumpulan cerpennya. Rendra adalah sastrawan yang terkenal akan puisi-puisi pamflet yang menggamangkan pemerintahan Orde Baru (selevel dengan Wiji Thukul). Tidak hanya satu kumpulan cerpen, tetapi dua kumpulan cerpen! Sangat menakjubkan sekali.

(more…)

Popularity: 28%

Dag Solstad (IV)

Tuesday, November 20th, 2007

Genanse og Verdighet (Aib dan Martabat)

“Aib dan Martabat” adalah salah satu karya utama Solstad yang bercerita tentang Elias Rukla, seorang lelaki yang terbangun dalam kesadaran baru dan harus menghadapi dunia yang tidak lagi menghargai bakat maupun nilai-nilai yang selama ini dia pegang teguh. Tidak ada hal dalam hidup Elias yang serba teratur itu, atau dalam karirnya sebagai guru sastra, ataupun dalam perkawinannya dengan Eva yang cantik jelita, yang bisa dipakai untuk meramalkan suatu kejadian penting pada suatu hari yang berawal biasa saja. Dia memastikan telah membawa pil obat sakit kepala di tasnya, dan kemudian berangkat ke kantor sebagaimana yang biasa dia lakukan setiap pagi dalam dua puluh tahun terakhir.

(more…)

Popularity: 28%

Info Lomba Cerpen

Tuesday, November 20th, 2007

Dalam rangka memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan
Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta akan mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh persatuan bangsa”.

(more…)

Popularity: 100%

Eksistensi Komunitas Kebudayaan

Saturday, November 17th, 2007

Kebudayaan merupakan suatu kelaziman bahkan kelayakan dalam siklus kehidupan manusia. Seiring dengan bergantinya generasi, maka kebudayaan pun serupa itu. Berganti terus–bergerak tidak stagnan pada satu titik dan tentu saja tidak monoton.

Itulah, sekelumit pemikiran yang dituangkan oleh Afrizal Malna tanggal 12 November 2007 di Taman Budaya Padang Sumatra Barat. Komunitas kebudayaan merupakan “pagar budaya” yang mengarahkan kemana arah budaya.

Namun sayangnya, komunitas kebudayaan dewasa ini seperti orang-orang “pengecut”, tidak mau ambil resiko yang signifikan jika hal tersebut akan menguras tenaga dan kocek mereka. Lebih lanjut, Afrizal mengatakan bahwa komunitas budaya sekarang berbeda dengan kerja komunitas budaya sebelumnya di era 90-an. Komunitas budaya era 90-an, dipacu oleh pemerintahan represif sehingga memunculkan ide-ide kreatif yang janggal dirasa oleh para komunitas budaya era sekarang.

Permasalahannya ada pada diri pekerja seni tersebut. Mereka terlalu terbuai dengan kejayaan masa lalu, sehingga ketika terbentur oleh suatu permasalahan tertentu (kebanyakan masalah internal) mereka pun “mati”, hilang–raib.

Kebiasaan membaca pun menjadi tolak ukur penting dalam membangung eksistensi komunitas. Dan tentu saja bisa ditebak, pekerja seni sekarang tidak ada waktu untuk membaca (bahkan untuk koran minggu sekalipun), karena dikejar deadline, sibuk mengurusi pertunjukan ini-itu.

Dengan kata lain, eksistensi komunitas kebudayaan di Indonesia tidaklah sehebat yang didengungkan. Bagaimana caranya mau melawan Malaysia dengan propaganda kebudayaan, toh banyak yang tidak perduli dengan kebudayaan ataupun eksistensi komunitas penggeraknya itu.

Popularity: 21%

Antologi E-Puisi Fordisastra

Thursday, November 15th, 2007

fordisastra_r2_c3.gif

Setelah terbilang sukses menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi, menjelang ulang tahunnya yang kedua tanggal 22 November 2007, web Fordisastra mengundang para penyair Indonesia untuk mengirimkan 5 puisi terbaiknya yang akan diantologikan dalam format e-book (pdf).

Puisi-puisi dapat dikirim ke alamat:
antologifordisastra@yahoo.com

Jika tidak ada halangan, maka pada tanggal 22 November 2007, file puisi yang telah terseleksi sudah dapat didownload pada web Fordisastra. Jangan lupa biodata dan alamat situs atau blog
anda. Kirim segera, batas waktu hingga 20 November 2007.

Redaksi Fordisastra
Nanang Suryadi - Dino F Umahuk - Hasan Aspahani

Popularity: 15%

Dag Solstad (III)

Monday, November 12th, 2007

616141.jpeg

Dag Solstad adalah seorang penulis yang cukup produktif. Dia telah melahirkan belasan novel, esai, cerita pendek dan drama. Di samping itu dia juga menunjukkan minatnya pada sepakbola dengan menuliskan sebuah reportase piala dunia bersama seorang penulis lain bernama Jon Michelet. Novelnya “Gymnaslarer Pedersens” juga telah diadaptasi ke layar lebar beberapa tahun lalu. Berikut daftar karyanya dalam urutan tahun keluar. Semoga di lain kesempatan kita bisa membahas sebagian diantaranya.

(more…)

Popularity: 20%

Sajak Esha Tegar Putra

Saturday, November 10th, 2007

gdaunsirih1.jpg

Sajak Sedaun Sirih

I
aku rabun setelah belajar kehilangan
februari mengatup dalam setampuk dedaunan
berkali-kali salam kuucap, tak menyahut kau dari dalam

(dalam jauh aku, seketika kalimat melepas kata
puisi jadi batu dibenam segunung pasir)

februari membikin sayap pada punggungmu
mengibas, lalu memutar padang ilalang mencari pulau
pulau tempat belajar tarian hujan.

dan tak bersua kita di setumpak tanah
aku mengerat tampuk langit di ujung bukit
sedang kau kini digunggung punggung angin

II
(sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam)

terukaanku menggenap di tumpak rambutmu
helai-helai rurut, kubuhul sepanjang tahun rantau

petuah membikin tembilang untuk lipatan tanganku
kau berdendang tangis lewat sampelong nada minor
oh, ingin berpaut rinduku di gumaman dalam lepau
tapi badan dipagut berbukit-bukit jarak

usah dekatkan jauh
biar sedaun sirih tak bertampuk
kukunyah pengobat demam

III
sebagai basah
rinai telah membangun halaman di mata kita.
cemara tumbuh beralih, menjangkau uratnya
dan kita remuk menahan ngilu

sebalik pandang,
rerimbun membungkuk seumpama patah
tapi ada yang tumbuh di tubuh letihmu
semacam kenangan keras yang tiba-tiba pecah
dan menyumbul sepucuk daun

:ini kabut, para lelaki mengendapkan berahi pada blues
anggun melodinya
gigil terbikin di jantung yang pelan detak

IV
dan subuhku puisi sebab kau datang bercakap
kau bercakap pada catatanku
dalam dingin yang kait mengait
membuat getar pada kelelakianku
di ladang padi
kembali kulewati hari-hari puisi
sebagai lelaki yang meminta sepetik api

V
meminang senja sebagai kekasih
kusulam jurai langit sebermula matahari membenam
tergenggam sehelai daun bertulis februari dalam lipatan tangan

duh, merekah bunga di pipimu seketika berucap cinta
aku pun membenam dalam rasa
dan kali ini puisi berucap, sayang

VI
dan sebagai buku yang tak memahamimu
catatan silam kehilangan suara untuk bercakap
kehilangan lembaran tengah

ada yang tak sempat terhafal ketika malam
kupercayai lekuk diammu
sebagai buku atau kertas yang ngantuk
dan kuninabobokkan dalam puisi,
cuma puisi

Padang – Depok, 2006-2007

Popularity: 17%