You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Phillip Larkin (III)

Phillip Larkin (III)

sayyid — November 1, 2007 / 11:38 pm

portrait.jpg

Pengaruh Sajak-sajak tradisional dalam sajak-sajak Philip Larkin sangat kuat. Seperti pernah disinggung dalam tulisan sebelumnya, Larkin pada awal kepenyairannya sangat dipengaruhi oleh W.B. Yeats, penyair Irlandia dan Thomas Hardy. Hal yang dipertahankan dalam sajak-sajak Larkin sesuai dengan pengertian sajak secara tradisional adalah rima. Maka pada periode awal kepenyairannya, penerapan rima yang ketat pun tampak. Contohnya pada sajak “Mata-mata Baru Setiap Tahun” (New Eyes Each Year)

New eyes each year Find old books here, And new books, too, Old eyes renew; So youth and age Like ink and page In this house join, Minting new coin.

Saya coba menterjemahkannya sebagai berikut :

Mata-mata baru setiap tahun Temukan buku-buku lama yang terhimpun, dan buku –buku baru, juga, dijadikan baru mata-mata lama; hingga masaremaja dan usia seperti kertas dan tinta di rumah ini bersatu, membentuk mata uang baru.

Pada periode buku puisi “The Whitsun Wedding”, pengertian rima sebagai persamaan bunyi di belakang kalimat telah berubah. Dengan menyiasati enjambemen pada setiap kalimat, Larkin tetap bisa merimakan larik yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh pada satu bait sajak “Ambulans” (Ambulance) berikut ini;

Closed like confessionals, they thread Loud noons of cities, giving back None of the glances they absorb. Light glossy grey, arms on a plaque, They come to rest at any kerb: All streets in time are visited. …

Lagi, saya coba berinteraksi dengan terjemahan yang ‘ngasal’;

Ini rahasia seperti pengakuan dosa, mereka memperlakukan siang-siang yang ramai di kota-kota besar seperti itu, mengembalikan tak satupun dari sedikit yang mereka serap. Abu-abu ringan yang mengkilap, tangan-tangan penyakit, mereka datang dan tetirah di sembarang trotoar: segala jalan pada waktu mereka singgah.

Saya berusaha mempertahankan bentuk penggalan yang menghasilkan rima. Karena memang seperti itulah yang dilakukan oleh Larkin pada sajak-sajaknya. Meskipun memang terjemahan saya tidaklah baik, dan pemenggalannya tidak seperti yang ditulis Larkin pada sajak aslinya. Yang ingin saya sampaikan bahwa rima di tangan Larkin tidaklah harus berarti ada di akhir kalimat. Pemenggalan kalimat pun bisa menghasilkan rima.

Hal lain yang menjadi sorotan setelah membaca sajak-sajak Larkin adalah munculnya kosakata yang cenderung mengarah ke hal-hal yang bersifat porno, sarkasme (baca sajak “This Be The Verse” yang mengandung kata “fuck”). Akan tetapi ternyata di samping hal-hal seperti itu ada banyak juga hal yang “umum” terjadi di sekitar kita yang menjadi “ajaib” di sajak-sajak Larkin. Seperti pada sajak “Sukun” (Breadfruit). Sukun? Aneh bukan?

Breadfruit Boys dream of native girls who bring breadfruit, whatever they are, as bribes to teach them how to execute sixteen sexual positions on the sand; This makes them join (the boys) the tennis club, jive at the Mecca, use deodorants, and on Saturdays squire ex-schoolgirls to the pub by private car. Such uncorrected visions end in church or registrar: A mortgaged semi- with a silver birch; Nippers; the widowed mum; having to scheme with money; illness; age. So absolute maturity falls, when old men sit and dream of naked native girls who bring breadfruit whatever they are.

Sekali lagi, ini terjemahan bebas saya untuk sebuah sajak Larkin;

Sukun Lelaki-lelaki bermimpi gadis-gadis pribumi yang membawa sukun, siapapun mereka, sebagai suapan atas pengajaran mereka bagaimana melakukan enambelas posisi hubungan seks di atas pasir; yang membuat mereka bergabung (dengan lelaki-lelaki itu) ke sebuah klub tenis, bermukim di Mekah, menggunakan deodorant, dan pada hari-hari Sabtu menemani mantan-mantan gadis sekolah ke sebuah pub dengan mobil pribadi. Seperti penglihatan yang tak dibenarkan berakhir di gereja atau panitera: Sebuah kematian pohon betula yang keperakan; Anak-anak terlantar; ibu yang menjanda; berhitung matang dengan uang; sakitpenyakit; usia. Sehingga kedewasaan sejati runtuh, tatkala orangtua-orangtua duduk dan bermimpi tentang gadis-gadis pribumi yang membawa sukun siapapun mereka.

Ah, rupanya Larkin punya impian yang belum terwujud saat hidupnya. Keliaran sebagai laki-laki atau imajinasi belaka? Entahlah. Tak ada tulisan yang bisa digunakan untuk menduga ke arah sana. Namun, Larkin menjalani hidupnya secara istimewa. Sebagai pustakawan sekaligus penyair sekaligus penulis novel, kritikus musik Jazz, dan yang tak diduga, Larkin tidak terlalu suka bergaul!

bersambung…

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. Daniel

    I couldn’t understand some parts of this article lip Larkin (III) — Lentera Susastra, but I guess I just need to check some more resources regarding this, because it sounds interesting.

    December 21st, 2007 at 5:14 pm

  2. Daniel

    I couldn’t understand some parts of this article Phillip Larkin (III), but I guess I just need to check some more resources regarding this, because it sounds interesting.

    January 1st, 2008 at 6:36 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Yeni Kusmiati — Congratulation ya buat mba anindita Q juga ikut serta dalamlomba tersebut tapi mang masih amatir jadi q harus lebih banyak belajar ...
  • asy-syifa — PLIS... KASIH TAHU AKU YA... LOMBA NULISNYA...
  • asy-syifa — Assalamu'alaikum! Kalau ada lomba nulis... tolong kabari aku ya... writer_cute@yahoo.co.id tolong ya... aku tunggu loh... Wassalam!
  • leo — sabar ya, tapi sebaiknya benahi kesalahan minta maaf dan ada kabar tentang penundaan pengumuman atau lainya...!
  • Ichsan — Gembel bgd c ni lomba. Pengumuman aj ngaret. Pa lg hadiah dr sponsor. D tilep kalee.
  • Eranthy Firdaus — ah, hopeless banget nih nungguin pengumuman pemenang . kok kayaknya enggak profesional banget ya ?! seenggaknya kasih pemberitahuan keterlambatan pengumuman. biar ...
  • Silvi — terima kasih banyak atas archive sastra. Saya sempat kebingungan nyari cerpen Danarto di Jawa Pos "Bintang Bethlehem" karena di Jawa ...
  • rita — tetralogo laskar pelangi Keren Buanget. arai itu beneran ada?? kenapa baru muncul di SANG PEMIMPI ??? MARIYAMAH KARPOV kren abiz
  • manxini — ini lomba beneran ada g sih? dah lama banget belum ada pengumumannya??? apa ini penipuan??
  • uswatun arrozi — asslkm saya mahasiswa STAIN jember, apa saya boleh mengikuti lomba di kampus anda? tlog blz di e-mail saya