You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Philip Larkin (IV)
Menutup “pengajian” soal Larkin, saya hanya ingin meringkas beberapa temuan yang sudah saya beberkan sebelumnya;
Demikianlah hal-hal yang baru sedikit saya baca dari sajak-sajak Philip Larkin. Sebagai akhir bahasan saya (sekali lagi) akan mencoba menampilkan terjemahan terhadap satu sajak Larkin; “The Trees”.
Sajak ini saya pilih bukan hanya karena sekarang kita harus prihatin dengan Global Warming, tetapi sajak “The Tress” ini adalah salah satu dari tiga sajak Larkin yang paling terkenal (di samping “The Whitsun Wedding” dan “Mr. Bleaney”).
Pepohonan
Pepohonan itu mewarisi dedaunan seperti yang nyaris terbilang; Kuncup-kuncup baru lemas tersebar, Hijau mereka serupa bentuk penyesalan.
Apakah mereka dilahirkan lagi dan kita menua? Tidak, mereka juga mati, tipuan tahunan mereka untuk seperti baru telah tertulis pada cincin-cincin kembang kayu.
Namun gemuruh istana-istana itu belum reda dalam lebat tetumbuhan setiap bulan Mei. Yang mati tahun lalu, demikianlah kata mereka, Menjadi baru, baru, baru.
(selesai)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.