Sajak Esha Tegar Putra

gdaunsirih1.jpg

Sajak Sedaun Sirih

I
aku rabun setelah belajar kehilangan
februari mengatup dalam setampuk dedaunan
berkali-kali salam kuucap, tak menyahut kau dari dalam

(dalam jauh aku, seketika kalimat melepas kata
puisi jadi batu dibenam segunung pasir)

februari membikin sayap pada punggungmu
mengibas, lalu memutar padang ilalang mencari pulau
pulau tempat belajar tarian hujan.

dan tak bersua kita di setumpak tanah
aku mengerat tampuk langit di ujung bukit
sedang kau kini digunggung punggung angin

II
(sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam)

terukaanku menggenap di tumpak rambutmu
helai-helai rurut, kubuhul sepanjang tahun rantau

petuah membikin tembilang untuk lipatan tanganku
kau berdendang tangis lewat sampelong nada minor
oh, ingin berpaut rinduku di gumaman dalam lepau
tapi badan dipagut berbukit-bukit jarak

usah dekatkan jauh
biar sedaun sirih tak bertampuk
kukunyah pengobat demam

III
sebagai basah
rinai telah membangun halaman di mata kita.
cemara tumbuh beralih, menjangkau uratnya
dan kita remuk menahan ngilu

sebalik pandang,
rerimbun membungkuk seumpama patah
tapi ada yang tumbuh di tubuh letihmu
semacam kenangan keras yang tiba-tiba pecah
dan menyumbul sepucuk daun

:ini kabut, para lelaki mengendapkan berahi pada blues
anggun melodinya
gigil terbikin di jantung yang pelan detak

IV
dan subuhku puisi sebab kau datang bercakap
kau bercakap pada catatanku
dalam dingin yang kait mengait
membuat getar pada kelelakianku
di ladang padi
kembali kulewati hari-hari puisi
sebagai lelaki yang meminta sepetik api

V
meminang senja sebagai kekasih
kusulam jurai langit sebermula matahari membenam
tergenggam sehelai daun bertulis februari dalam lipatan tangan

duh, merekah bunga di pipimu seketika berucap cinta
aku pun membenam dalam rasa
dan kali ini puisi berucap, sayang

VI
dan sebagai buku yang tak memahamimu
catatan silam kehilangan suara untuk bercakap
kehilangan lembaran tengah

ada yang tak sempat terhafal ketika malam
kupercayai lekuk diammu
sebagai buku atau kertas yang ngantuk
dan kuninabobokkan dalam puisi,
cuma puisi

Padang – Depok, 2006-2007

Popularity: 17%

3 Responses to “Sajak Esha Tegar Putra”

  1. roni memas Says:

    ndak co itu bana doh struk. bakalabihan.

  2. padi Says:

    padi…

    Thanks for sharing and keep Good Work bro… !!…

  3. nando Says:

    wah bagus tulisannya bang struk, maaf bang, sebelumnya ini nando, ngga lupa kan

Leave a Reply