You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sajak Esha Tegar Putra

Sajak Esha Tegar Putra

sayyid — November 10, 2007 / 11:59 pm

gdaunsirih1.jpg

Sajak Sedaun Sirih

I aku rabun setelah belajar kehilangan februari mengatup dalam setampuk dedaunan berkali-kali salam kuucap, tak menyahut kau dari dalam

(dalam jauh aku, seketika kalimat melepas kata puisi jadi batu dibenam segunung pasir)

februari membikin sayap pada punggungmu mengibas, lalu memutar padang ilalang mencari pulau pulau tempat belajar tarian hujan.

dan tak bersua kita di setumpak tanah aku mengerat tampuk langit di ujung bukit sedang kau kini digunggung punggung angin

II (sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam)

terukaanku menggenap di tumpak rambutmu helai-helai rurut, kubuhul sepanjang tahun rantau

petuah membikin tembilang untuk lipatan tanganku kau berdendang tangis lewat sampelong nada minor oh, ingin berpaut rinduku di gumaman dalam lepau tapi badan dipagut berbukit-bukit jarak

usah dekatkan jauh biar sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam

III sebagai basah rinai telah membangun halaman di mata kita. cemara tumbuh beralih, menjangkau uratnya dan kita remuk menahan ngilu

sebalik pandang, rerimbun membungkuk seumpama patah tapi ada yang tumbuh di tubuh letihmu semacam kenangan keras yang tiba-tiba pecah dan menyumbul sepucuk daun

:ini kabut, para lelaki mengendapkan berahi pada blues anggun melodinya gigil terbikin di jantung yang pelan detak

IV dan subuhku puisi sebab kau datang bercakap kau bercakap pada catatanku dalam dingin yang kait mengait membuat getar pada kelelakianku di ladang padi kembali kulewati hari-hari puisi sebagai lelaki yang meminta sepetik api

V meminang senja sebagai kekasih kusulam jurai langit sebermula matahari membenam tergenggam sehelai daun bertulis februari dalam lipatan tangan

duh, merekah bunga di pipimu seketika berucap cinta aku pun membenam dalam rasa dan kali ini puisi berucap, sayang

VI dan sebagai buku yang tak memahamimu catatan silam kehilangan suara untuk bercakap kehilangan lembaran tengah

ada yang tak sempat terhafal ketika malam kupercayai lekuk diammu sebagai buku atau kertas yang ngantuk dan kuninabobokkan dalam puisi, cuma puisi

Padang – Depok, 2006-2007

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. roni memas

    ndak co itu bana doh struk. bakalabihan.

    November 17th, 2007 at 7:06 pm

  2. padi

    padi…

    Thanks for sharing and keep Good Work bro… !!…

    December 22nd, 2007 at 9:40 pm

  3. nando

    wah bagus tulisannya bang struk, maaf bang, sebelumnya ini nando, ngga lupa kan

    February 4th, 2008 at 12:31 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...