You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sajak Esha Tegar Putra
Sajak Sedaun Sirih
I aku rabun setelah belajar kehilangan februari mengatup dalam setampuk dedaunan berkali-kali salam kuucap, tak menyahut kau dari dalam
(dalam jauh aku, seketika kalimat melepas kata puisi jadi batu dibenam segunung pasir)
februari membikin sayap pada punggungmu mengibas, lalu memutar padang ilalang mencari pulau pulau tempat belajar tarian hujan.
dan tak bersua kita di setumpak tanah aku mengerat tampuk langit di ujung bukit sedang kau kini digunggung punggung angin
II (sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam)
terukaanku menggenap di tumpak rambutmu helai-helai rurut, kubuhul sepanjang tahun rantau
petuah membikin tembilang untuk lipatan tanganku kau berdendang tangis lewat sampelong nada minor oh, ingin berpaut rinduku di gumaman dalam lepau tapi badan dipagut berbukit-bukit jarak
usah dekatkan jauh biar sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam
III sebagai basah rinai telah membangun halaman di mata kita. cemara tumbuh beralih, menjangkau uratnya dan kita remuk menahan ngilu
sebalik pandang, rerimbun membungkuk seumpama patah tapi ada yang tumbuh di tubuh letihmu semacam kenangan keras yang tiba-tiba pecah dan menyumbul sepucuk daun
:ini kabut, para lelaki mengendapkan berahi pada blues anggun melodinya gigil terbikin di jantung yang pelan detak
IV dan subuhku puisi sebab kau datang bercakap kau bercakap pada catatanku dalam dingin yang kait mengait membuat getar pada kelelakianku di ladang padi kembali kulewati hari-hari puisi sebagai lelaki yang meminta sepetik api
V meminang senja sebagai kekasih kusulam jurai langit sebermula matahari membenam tergenggam sehelai daun bertulis februari dalam lipatan tangan
duh, merekah bunga di pipimu seketika berucap cinta aku pun membenam dalam rasa dan kali ini puisi berucap, sayang
VI dan sebagai buku yang tak memahamimu catatan silam kehilangan suara untuk bercakap kehilangan lembaran tengah
ada yang tak sempat terhafal ketika malam kupercayai lekuk diammu sebagai buku atau kertas yang ngantuk dan kuninabobokkan dalam puisi, cuma puisi
Padang – Depok, 2006-2007
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
roni memas
ndak co itu bana doh struk. bakalabihan.
November 17th, 2007 at 7:06 pm
padi
padi…
Thanks for sharing and keep Good Work bro… !!…
December 22nd, 2007 at 9:40 pm
nando
wah bagus tulisannya bang struk, maaf bang, sebelumnya ini nando, ngga lupa kan
February 4th, 2008 at 12:31 am