You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Dag Solstad (IV)
Genanse og Verdighet (Aib dan Martabat)
“Aib dan Martabat” adalah salah satu karya utama Solstad yang bercerita tentang Elias Rukla, seorang lelaki yang terbangun dalam kesadaran baru dan harus menghadapi dunia yang tidak lagi menghargai bakat maupun nilai-nilai yang selama ini dia pegang teguh. Tidak ada hal dalam hidup Elias yang serba teratur itu, atau dalam karirnya sebagai guru sastra, ataupun dalam perkawinannya dengan Eva yang cantik jelita, yang bisa dipakai untuk meramalkan suatu kejadian penting pada suatu hari yang berawal biasa saja. Dia memastikan telah membawa pil obat sakit kepala di tasnya, dan kemudian berangkat ke kantor sebagaimana yang biasa dia lakukan setiap pagi dalam dua puluh tahun terakhir.
Dia sudah begitu akrab dengan sikap acuh murid-muridnya terhadap pelajaran yang dia berikan maupun terhadap dirinya sendiri, namun hari ini dia merasakan ketidak-sabaran dan keengganan mereka, lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya, dan setelah menghadapi respon standar yang acuh dan penuh rasa kebosanan atas pelajaran tentang karya Ibsen Vildanden (The Wild Duck) yang disampaikannya dengan penuh antusias, dia mendapati dirinya pada suatu titik krisis.
“Saya menjalin hubungan baik dengan semua tokoh novel karangan saya. Saya adalah pengarang yang tidak akan menuliskan tokoh yang saya tidak suka, saya sungguh-sungguh tidak sanggup menulis tentang mereka”, kata Dag Solstad ketika ditanya tentang hubungannya dengan Elias Rukla, tokoh utamanya yang seorang guru sastra di sebuah SMA dalam novel ini. Buku ini masuk dalam daftar 25 novel terbaik di Norwegia dalam 25 tahun terakhir. Daftar ini diprakarsai oleh Dagbladet, salah satu media cetak utama di Norwegia, pada tahun 2006.
Dalam sebuah interview tentang novel ini 12 tahun setelah ia ditulis, Solstad berkata, “Saya memiliki hubungan baik dengan semua buku saya. Tapi saya tentunya tidak berkutat memikirkan mereka terus-menerus setiap hari. Saya senang ketika telah menyelesaikan suatu buku. Dan kemudian saya mengambil jarak dengannya. Atau mungkin saja saya mengulang-ulang diri saya buku demi buku? Andalah yang patut menilainya.”
Ketika ditanya mengenai proses penciptaan novel ini, Solstad menjawab, “Pada tahun 1992 saya menerbitkan Ellevte roman, bok atten yang mungkin membawa saya pada fase baru kepenulisan saya? Ya, mungkin bisa dibilang begitu. Selanjutnya saya butuh waktu yang panjang untuk bertolak darinya. Sekitar tahun 1993 saya mulai memikirkan gagasan baru untuk novel saya. Saya memiliki banyak ide, tapi semuanya saya buang. Kadang sebagai penulis kita harus melakukan pilihan yang berat ini. Ketika memasuki bulan januari 1994 saya hanya punya sebuah ide, satu-satunya keping imaji yang tersisa. Dan itu adalah tentang seorang lelaki yang tidak dapat membuka payungnya. Dan jujur saja tidak banyak yang bisa dibanggakan dengan ide ala kadarnya ini: Selamat siang, nama saya Dag Solstad, pada tahun 1992 saya telah menulis buku berjudul ‘Ellevte roman, bok atten’ dan sekarang saya berencana untuk menulis novel tentang seorang lelaki yang tidak bisa membuka payungnya. Jelaslah tidak mudah mendapatkan stipend dengan ini.”
“Namun karena imaji itu satu-satunya yang saya punya, mulailah saya menggali imaji ini lebih dalam. Siapa gerangan orang yang tidak bisa membuka payungnya itu, dimana dia berada dan sedang dalam situasi apa? Saya sempat tertarik sekali membayangkan orang ini sebagai seorang insinyur perminyakan atau semacam itu. Tapi seorang insinyur perminyakan yang tidak bisa membuka payungnya, lalu apa seterusnya?”
“Akhirnya jadilah dia seorang tokoh berprofesi pengajar semacam guru atau dosen. Elias Rukla. Saya tidak bisa membayangkan kemungkinan lain yang lebih menarik. Imaji tadi terjadi di halaman sebuah sekolah, dan dia berdiri disaksikan oleh para murid. Nah, saya mulai bisa menulis novel tentang ini. Seorang guru yang kehilangan kendali dirinya ketika payungnya macet tidak bisa dibuka. Dia hidup bersama dengan seorang wanita cantik jelita bernama Eva Linde. Eva sebelumnya menikah dini dengan tokoh utama yang lain Johan Corneliussen, yang juga teman sekolah Rukla.”
Ketika membaca buku ini, saya dibawa kepada setting kehidupan yang cukup saya kenal: kehidupan akademis di Oslo, Norwegia. Sempat mengenyam pendidikan di negeri ini, saya bisa merasakan suasana dan temperamen sebuah kelas yang berbeda dengan yang saya alami di Indonesia. Orang Norwegia punya karakter yang jujur terhadap perasaan mereka ketika tidak menyukai sesuatu, tapi tetap menghormati guru, atau siapa saja, ketika mereka sedang berbicara. Seperti layaknya di sekolah-sekolah Indonesia, pasti ada pelajaran yang tidak populer di kalangan siswa. Dalam konteks Indonesia, kita bisa membayangkan sebuah kelas yang gaduh, dimana guru berkali-kali harus memperingatkan murid-muridnya, dengan cara keras atau lunak, untuk kembali memperhatikan pelajaran. Murid-murid itu mungkin mengobrol sendiri, atau coret-coret di kertas mengacuhkan gurunya. Tidak demikian di Norwegia. Kalau siswa tidak suka atau tidak antusias dengan suatu pelajaran, mereka tetap akan diam dan tenang membiarkan sang guru berbicara. Yang mereka lakukan adalah tidak meresponnya, kadang tanpa menyembunyikan ketidaktertarikan mereka. Dan guru juga tidak punya “kuasa” menggurui seperti di Indonesia, misalnya dengan menghardik atau menghukum sesuatu secara personal kepada muridnya. Apalagi memberikan hukuman fisik, itu sama sekali dilarang dan pelakunya bisa dikenai sangsi hukum. Singkatnya, dengan kacamata seorang Indonesia, komunikasi interpersonal yang tidak harmonis di Norwegia bisa sedingin dan sebeku iklim negaranya. Silent hostility. Ketegangan dalam diam.
Itulah yang terjadi pada Elias Rukla. Novel ini memiliki mood eksistensial yang seperti yang saya dapatkan ketika membaca Nausea karya Sartre. Elias Rukla tiba-tiba tidak tahan lagi dengan suasana “ketegangan dalam diam” yang dia alami setiap hari dalam menjalani profesinya sebagai guru. Momen ketika dia tidak bisa membuka payungnya memicu kemarahan yang selama ini selalu diabaikannya. Sebuah luapan kemurkaan yang berlebihan kalau sekedar dilihat sebagai akibat kekesalan tidak bisa membuka payungnya yang rusak. Lalu ia seperti tersadar atas eksistensinya dan mulai berkontemplasi tentang hidupnya.
Sesuatu yang saya pelajari dari membaca novel ini adalah proses penokohan dan pengembangannya. Dalam novel yang cukup tipis ini (edisi yang saya baca hanya 154 halaman) saya merasa lebih mengenal para tokoh utama seiring berjalannya cerita. Ada tiga tokoh utama yang membentuk cerita ini yaitu Elias Rukla, Johan Cornelliusen, dan Eva Linde. Elias dan Johan adalah teman semasa kuliah. Saat kuliah Elias adalah mahasiswa jurusan sastra Norwegia yang pemalu dan tidak terlalu populer. Sementara Johan adalah mahasiswa doktoral jurusan filsafat yang simpatik dan menonjol di kalangan teman-temannya, tipe mahasiswa ideal dengan potensi karir akademis yang gemilang. Suatu persahabatan yang unik. Elias Rukla jatuh cinta pada Eva Linde sejak pandangan pertama. Eva Linde, wanita cantik yang menjadi istrinya delapan tahun kemudian. Penggambaran kecantikan Eva yang dilakukan penulis dengan kalimat pendek disana-sini sepanjang cerita berhasil meyakinkan saya dan menumbuhkan imaji karakter dengan kecantikan wanita Skandinavia yang memang memukau. Eva diperkenalkan kepada Elias untuk pertama kalinya sebagai pacar Johan.
Cerita bergulir seputar kehidupan mereka bertiga, mengunjungi tempat-tempat yang saya kenal di kampus Universitas Oslo yang terletak di sebuah kawasan bernama Blindern ataupun di asrama mahasiswa. Blinden dengan Universitas Oslo memiliki hubungan asosiasi seperti Sukolilo dengan ITS Surabaya atau Depok dengan UI. Kehidupan mahasiswa yang bergulat dengan kewajiban belajar, aspirasi masa depan dan aktifitas ekstra kurikuler. Walaupun latar cerita ini adalah kehidupan mahasiswa di tahun 60-70-an ketika sedang heboh-hebohnya gerakan komunisme di kalangan mahasiswa, masih banyak tempat-tempat dan aktivitas mahasiswa yang bisa ditemui pada masa saya kuliah disana.
Dalam novel ini Dag Solstad berhasil menunjukkan reputasinya sebagai sastrawan kontemporer paling inovatif di Norwegia dengan menyajikan secara rinci sebuah potret manusia yang yang terperangkap tanpa bisa kembali dalam alienasi budaya dan politik kontemporer, dan pada puncaknya kemanusiaan itu sendiri.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Jawquaday
hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture box totally various artists down under the remixes stanton warriors shes not greatest hits queen killer queen vanguard 07 39 various artists one more chance ayo technology 50 cent ayo technology
December 5th, 2008 at 12:37 pm