You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Concept Anthology: Alternatif Dalam Penggarapan Kumpulan Puisi (I)
Concept Album Dalam Industri Musik
Istilah ‘concept anthology’ sendiri sebenarnya diadaptasi dari istilah ‘concept album’ (atau album konsep) yang berasal dari dunia musik rock, lebih khusus lagi progressive rock, seperti Yes, Pink Floyd, Emerson Lake & Palmer, Genesis (periode awal), King Crimson, Jethro Tull, dll; walau banyak juga kelompok non-progressive yang menghasilkan album konsep, seperti “The Alan Parsons Project”.
Dalam penelitian singkat, saya tidak menemukan suatu pembahasan tentang cara atau model kerja penyair dalam menggarap antologi puisinya, karena kebanyakan langsung mengarah pada isi dari antologi puisi itu sendiri. Sangat sedikit yang menulis proses kreatif penyair dalam menggarap sebuah antologi puisi, bahkan mungkin tidak ada. Jadi di sini saya memang berangkat dari ranah musik rock, baru mencoba masuk ke dunia puisi.
Wikipedia mendefinisikannya sebagai “unified by a theme, which can be instrumental, compositional, narrative or lyrical”. Disatukan oleh sebuah tema, baik secara instrumental, kompoisisi, narasi dan liriknya. Ini dalam musik. Tentu sedikit berbeda dalam menggarap puisi dimana yang utama adalah pada kata-kata.
Seorang blogger bernama “duke” dalam blognya “see nO~dukE|hear nO~dukE|talk nO~dukE” dalam postingannya pada 9 Februari 2005, menulis tentang album konsep sebagai rujukan album utuh dengan kisah atau skenario tertentu yang sengaja disusun melalui lagu-lagunya.
Seorang blogger lain bernama ‘tentangblog’ dalam blognya pada 3 April 2007 menulis tentang Chrisye dan progressive rock (2). Ia menyinggung album konsep sebagai, naskah sebuah narasi yang utuh, dengan lagu sebagai elemen dalam bercerita.
Album konsep bisa menjadi titik temu antara dunia musik progressive rock dengan dunia sastra. Banyak karya sastra yang diadaptasi dan mempengaruhi musik rock, walau tingkatannya bisa berbeda-beda. Ada yang sebatas hanya mempengaruhi liriknya saja, atau satu lagunya saja, tetapi ada juga yang menjadi satu album utuh, uaitu album konsep.
Koran Tempo edisi 30 Juli 2006 memberikan contoh dimana karya sastra mempengaruhi lirik sebuah lagu misalnya adalah saat Roger Waters ‘memungut’ larik-larik puisi karya penyair era Dinasti Tang untuk lagu “Set the Control for The Heart of The Sun” dalam album “A Saucerful of Secrets,” 1968. Lainnya adalah lirik dari lagu “A Whiter Shade of Pale” milik Procol Harum yang diduga dipengaruhi “The Canterbury Tales” karya Geoffrey Chaucer, penulis dan penyair Inggris abad ke-14, yang tidak pernah selesai.
Masih dari koran yang sama, lagu utuh yang diadaptasi dari novel misalnya adalah “Wuthering Heights”, yang dibawakan Kate Bush dalam album “The Kick Inside”, 1978. Lagu ini diadaptasi dari novel Emily Bronte tahun 1847.
Sementara di tingkat yang lebih jauh, adalah album konsep yang berasal dari adaptasi karya-karya sastra. Namun harus diingat, album konsep tidak selalu harus dari karya sastra.
(bersambung)
Ditulis oleh Urip Herdiman Kambali. Tulisan ini merupakan bahan diskusi mingguan yang diadakan di millis Apresiasi Sastra
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
embunpagi
T.O.P B.G.T….
December 18th, 2007 at 11:53 am
Leo
Thxs yaCh…
Bagi2 Info doNg,,,
December 18th, 2007 at 11:54 am
ef_paraNoiA
EmanG kereN EuY…,,,
December 18th, 2007 at 11:56 am