You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sajak Puncak Marapi
Oleh Sayyid Madany Syani
pesanggrahan
mulai jejak pasang ditemani gemericik embun yang turun dan singgah membelai halus pori-pori kulit
“mari, kuantar hingga decak mentari pagi membasuh wajah dengan berseri”
begitu ucap embun yang senyum menitikkan sejuta kesegaran dan dingin
akar
sementara itu, puncak Marapi telah tersenyum halus dalam gelap yang bercucuran
dedaun hijau tersibak ke tepi jejurang pun semakin menemani langkah dingin mencerabuti hawa panas dari badan
digantikan kabut tebal yang menutupi bulan sepenuh kepal namun langkah belum akan mati
“hanya sejenak istirah” lalu bergegas kembali, mengejar senyum fajar di titik tertinggi
lumut
oh, semakin berlarian waktu meninggalkan jejak hijau dedaun digantian tumbuhan paku yang penuh di sesisian jalan setapak
tanah coklat berganti dengan kelicinan lumut sesekali hampir terperosok ke dalam jurang namun, nasib baik masih berpihak
masih dalam gelap cucuran keringat yang berubah seketika menjadi es membekukan badan hingga pori-pori jaket
“ah, bisakah beristirahat sebentar!”
pada waktu ini, harus bijak mengambil keputusan istirahat, atau terus berjalan supaya dapat mengejar senyum fajar yang sebentar lagi merekah
cadas
hawa dingin semakin menggigit puncak Singgalang sudah disiram cahaya kekuning-kuningan juga puncak Tandikek, mencerai-beraikan kabut yang bersatu membentuk benteng
tambah ke atas dedaun hijau semakin sedikit digantikan bebatuan terjal yang tajam menusuk mata
kemah didirikan di atas tanah miring “harus cepat, sebelum senyum fajar habis!” dan berkejaranlah menuju titik tertinggi garis kawah, puncak Merpati, lapangan pasir vulkanis
“ah, indahnya senyum fajar di pagi ini” udara segar bercampur dingin dan belerang membelai hidung, tenggorokan dan paru-paru
edelwis
belum tuntas perjalanan dari tugu Abel, masih berniat memetik bunga abadi edelwis, dengan sejuta pesona menyiratkan sejuta kemenangan
belerang masih muntah dari mulut kawah terus berjalan beriringan menuju taman abadi
“petik, petik dan terus petik”
kesunyian pula yang memadamkan niatku untuk memetik edelwis “jika kupetik, siapa lagi yang akan menemani puncak ini” kekosongan yang lain
sampai turun, aku masih merindukan suasana yang tenang itu suasana di puncak sana tempat aku melihat fajar kembali tersenyum saat berada di Barat
ditulis sehari setelah perjalanan menaklukkan puncak Marapi.
26 November 2007
Langit Merah Fanta
;lukisan hari pertama
november, hujan bersemi indah ringis menitik dalam-dalam menyerbu ke balik ruang kamar pengap
november, decak riang katak di taman bermain-berlompatan di hujan rindang mengais serpihan kebahagiaan yang tinggal di ujung daun rumput, basah
;lukisan hari kedua
preman dan aku duduk di beranda sore menikmati kicauan senja yang bertempuran di langit barat
dedaun bergemeretak bersama ranting dan suara cuit kelelawar yang terbang di atas bunga kamboja
langit oranye terbunuh berdarahdarah mencipta senja jadi merah semerah fanta yang kureguk dalam keramaian maghrib yang menyuram
Kampus-Pasar Baru, November 2007
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
morishige
kotobaru→pesanggrahan→hutan pakis→cadas→puncak garuda…
Marapi sungguh indah.. saya baru dua kali sampai ke puncaknya..
:lol:
December 18th, 2007 at 5:14 pm