You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Concept Anthology: Alternatif Dalam Penggarapan Kumpulan Puisi (III)

Concept Anthology: Alternatif Dalam Penggarapan Kumpulan Puisi (III)

sayyid — December 19, 2007 / 5:12 pm

Menemukan Antologi Konsep Dalam Dunia Puisi

Setelah membahas album konsep dalam musik, lalu bagaimana dengan antologi konsep yang saya maksudkan dalam penggarapan antologi puisi ini?

Pemikiran ini muncul setelah saya mengamati buku-buku antologi puisi yang ada, baik koleksi saya pribadi maupun yang ada di pasaran. Umumnya antologi puisi disusun dengan cara yang sama, yaitu merupakan kumpulan puisi yang bersifat periodik, untuk mudahnya sebut saja antologi konvensional, yang menggambarkan perkembangan kepenyairan seseorang dari suatu kurun waktu tertentu. Hal ini tentu saja sah, dan tidak ada yang salah. Saya sendiri juga melakukan cara yang sama pada buku pertama yang saya terbitkan sendiri, dan beredar di lingkungan teman-teman dengan cara gerilya.

Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku kumpulan puisi yang sedikit berbeda dan menarik perhatian saya. Ada tiga buku kumpulan puisi yang digarap dengan cara berbeda dan mempunyai tema besar yang diusung ketiga buku tersebut. Ketiga buku ini tidak disusun secara konvensional. Ketiganya adalah, pertama, buku kumpulan puisi Binhad Nurrohmat berjudul “Kuda Ranjang” (Melibas, Jakarta, 2004). Kedua, buku kumpulan puisi Wendoko berjudul “(Oratorium) Paskah” (Penerbit akubaca, Jakarta, 2006). Dan yang ketiga, buku kumpulan puisi dari Asep Sambodja berjudul “Balada Para Nabi” (bukupop, Jakarta, 2007).

Membaca ketiga buku tersebut, saya lalu tiba-tiba teringat dengan album-album konsep dari para musisi rock, khususnya progressive rock. Dan saya yakin, masih ada antologi puisi lain yang digarap dengan cara yang sama, namun saya tidak memilikinya.

Dalam “Kuda Ranjang”, penerbit memberikan catatan pengantarnya dengan menyatakan bahwa,

“Puisi ini berkisah tentang dunia kelamin. Dunia zakar. Dunia tengah manusia. Dunia terkutuk. Dunia tabu…” (hal. 7).

Membaca puisi-puisi dalam “Kuda Ranjang”, dimulai dari puisi pertama berjudul “Berak” hingga puisi terakhir berjudul “Menopause”, kita akan menemukan dunia seks yang sebenarnya dekat dengan kita, tetapi tidak pernah kita pikirkan secara mendalam. Beberapa judul lain misalnya “Foreplay”, “Bunting”, “Sundal”, dan lain-lain mengacu pada seks dan perkelaminan. Dalam bahasa gaul anak-anak Jakarta, mungkin kata-kata yang pas adalah,”Seks abiss!”

Buku “(Oratorium) Paskah” digarap Wendoko dengan cara yang lebih rumit. Antologi ini penuh dengan puisi-puisi dan prosa lirik yang berasal dari kutipan-kutipan Injil, cerita pengakuan (confessio) dan renungan dari hasil meditasi. Bambang Sugiharto dalam pengantarnya menyatakan,

“Puisi- puisi Wendoko lebih bermain dengan teks dan konteks. Intertekstualitas, juga interkontekstualitas. Teks-teks itu–yang umumnya dari kisah sengsara Yesus dalam kitab Injil, -dipunguti, dilepaskan dari konteks bangunan wacana asalinya yang lebih besar, dan diletakkan dalam konteks baru. Semacam penulisan kembali, pemberian nyawa baru pada teks, namun dengan cara menjejerkannya (juxtaposing)…” (hal. V).

Barangkal untuk memahaminya, pembaca perlu juga membaca sejarah Yesus dengan cara yang normal, tidak langsung masuk pada sekumpulan puisi yang rumit ini. Dan buku ketiga, “Balada Para Nabi”, merupakan kumpulan puisi yang mengisahkan sejarah para nabi. Mulai dari manusia pertama, hingga Nabi Terakhir. Buku yang terbit tanpa kata pengantar, kata penutup ataupun catatan si penyairnya ini, jelas bersumberkan dari kisah-kisah dalam kitab suci Al Quran.

Ketiga buku puisi tersebut di atas, jelas berbeda dengan antologi puisi konvensional yang disusun untuk menggambarkan perjalanan kepenyairan seseorang. Ketiga kumpulan puisi ini mengusung suatu tema besar, atau juga tema lain yang masih saling terkait, dan melatari semua puisi yang ada di dalamnya. Tak pelak lagi, saya semula menyebut buku puisi ini sebagai concept album, yang kemudian saya ganti dengan istilah concept anthology yang rasanya lebih pas untuk dunia puisi.

Puisi-puisi dalam antologi konsep terkait satu sama lain, dan saling melengkapi, bukan suatu kumpulan puisi yang terpisah. Puisi-puisi tersebut baru bisa dipahami secara menyeluruh jika kita membaca dari awal sampai akhir. Agak berbeda dengan kumpulan puisi konvensional, yang mungkin akan melahirkan pemahaman pada si penyairnya.

Ada beberapa persamaan dalam antologi konsep yang saya temukan. Pertama, mempunyai suatu tema (dan mungkin tema-tema lain yang terkait) yang kuat, melatari semua puisi yang ada dari awal sampai akhir. Kedua, membentuk suatu alur cerita. Dan yang ketiga, puisi-puisinya cenderung bersifat terbuka.

Tentu dalam hal ini saya mungkin bisa salah atau kurang tepat, karena saya hanya memakai tiga buku tersebut sebagai ukuran. Tetapi saya yakin sudah ada dan banyak yang menerbitkan antologi konsep walau tidak menyebutnya demikian.

(Tulisan Urip Herdiman Kambali dalam diskusi dua pekan millis Apresiasi Sastra)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. teddy wirawan

    kupasan yang sangat menarik untuk informasi antologi

    kunjungi blog ku ya,
    beri komentar tentang puisi yang ada

    terima kasih

    September 24th, 2008 at 12:22 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Yeni Kusmiati — Congratulation ya buat mba anindita Q juga ikut serta dalamlomba tersebut tapi mang masih amatir jadi q harus lebih banyak belajar ...
  • asy-syifa — PLIS... KASIH TAHU AKU YA... LOMBA NULISNYA...
  • asy-syifa — Assalamu'alaikum! Kalau ada lomba nulis... tolong kabari aku ya... writer_cute@yahoo.co.id tolong ya... aku tunggu loh... Wassalam!
  • leo — sabar ya, tapi sebaiknya benahi kesalahan minta maaf dan ada kabar tentang penundaan pengumuman atau lainya...!
  • Ichsan — Gembel bgd c ni lomba. Pengumuman aj ngaret. Pa lg hadiah dr sponsor. D tilep kalee.
  • Eranthy Firdaus — ah, hopeless banget nih nungguin pengumuman pemenang . kok kayaknya enggak profesional banget ya ?! seenggaknya kasih pemberitahuan keterlambatan pengumuman. biar ...
  • Silvi — terima kasih banyak atas archive sastra. Saya sempat kebingungan nyari cerpen Danarto di Jawa Pos "Bintang Bethlehem" karena di Jawa ...
  • rita — tetralogo laskar pelangi Keren Buanget. arai itu beneran ada?? kenapa baru muncul di SANG PEMIMPI ??? MARIYAMAH KARPOV kren abiz
  • manxini — ini lomba beneran ada g sih? dah lama banget belum ada pengumumannya??? apa ini penipuan??
  • uswatun arrozi — asslkm saya mahasiswa STAIN jember, apa saya boleh mengikuti lomba di kampus anda? tlog blz di e-mail saya