You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Lomba Puisi “Pesan kepada Presiden 2009 – 2014”
Gerak puisi adalah ritme yang mimikri. Bisa menjelma ke dalam bentuk apa saja. Puisi bisa menjadi amat romantis, tetapi puisi bisa juga amat garang dan merupakan media perlawanan. Jaringan Advokasi Tambang dalam ajang South to South Film Festival 2008 akan mengadakan perlombaan menulis puisi “Pesan Kepada Presiden 2009-2014″, dengan kriteria:
Metode Penilaian:
Pendaftaran dibuka sejak tanggal 4 Januari s/d 20 Januari 2008 Pendaftaran dilakukan dengan cara mengirimkan puisi sesuai dengan tema yang telah ditentukan panitia disertai dengan data diri dan nomor kontak.
Waktu pendaftaran ditutup sampai tanggal 20 Januari 2008. Puisi dapat dikirimkan ke email:
southtosouth2007@gmail.com
dengan menyertakan data diri dan nomor kontak.
Panitia akan memilih 1 (satu) puisi terbaik dan 1 (satu) puisi terfavorit untuk mendapatkan piagam penghargaan dan hadiah menarik. Pengumuman pemenang akan dibacakan pada penutupan StoS Film Festival pada 27 Januari 2008.
“Selamatkan Bumi dengan Penuh Kasih Sayang”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 11 komentar untuk artikel ini.
isyana agustina
semoga dapat memberikan kontribusi pe ikiran pada beliau2 ya
January 18th, 2008 at 11:00 pm
Sayyid
semoga mbak Isyana…
January 19th, 2008 at 2:25 pm
moesya
semoga seperti itu…
January 19th, 2008 at 10:16 pm
rp
bisa ga deadline lomba diperpanjang hingga tgl 25 januari 2008?
mohon balasannya…
klo bisa reply ke email saya…
terima kasih!
January 22nd, 2008 at 11:30 am
benny
Matinya sebuah bangsa
http://www.duniasastra.com
Kulihat bangsaku perlahan telah mati nuraninya, karena lapar saling menyikut dan menindas…siapa cepat dan kuat dialah pemenangnya…
Aku tertegun dan terpana semua ingin diraih, tak pernah ada kata puas….seakan yang hidup bergabung dengan yang mati demi sebuah ambisi.
Aku menyaksikan wajah-wajah yang tak kenal rasa malu, yang menutupi matanya dengan debu-debu emas yang memantulkan gemerlap cahaya teplok- airmata derita .
Kulihat pula derai tawa - tak berdosa sembunyikan tangis bayi dari bilik kardus bawah kolong jembatan; suara tangisan yang mengharap susu manis dari kedua tetek kering ibunya, tarikan nafas kegetiran yang menanti matangnya bebatuan didalam kuali ; serta Jeritan nafas kemiskinan yang membuat seorang ibu tega meletakkan anaknya dalam kardus- tepi sungai.
Tak ada bedanya aku, kamu dan mereka…karena nuranilah kita berbeda- karena kejujuranlah kita jadi mulia. sadarkah engkau bahwa orang mulia sekalipun-tak jarang dari mereka adalah keturunan darah penjahat !.
Aku muak dengan kapitalis karena ia merupakan raksasa tak berkaki serta berotak anak ayam, jelmaan lintah yang tak pernah kenyang. Aku; kamu; dan mereka semua; bayi-bayi ini, serta para pewaris bangsa…mereka adalah para pewaris yang terpasung dan terkekang, karena kemiskinan telah merantai tangan-tangan dan tubuh mereka dalam belenggu kebodohan.
Aku bukanlah seorang provokator, atau anarkis bukan pula komunis, aku mengajarkan kepada mereka tentang Tuhan, dan ketika mereka marah meradang , aku redam mereka dengan akal dan nurani, Aku seorang motivator , sekaligus orang yang terpasung, roda-roda kehidupan kudapati berlawanan arah denganku, ia melindas dengan angkuh setiap benih yang kutanam dan hendak bertunas.
Dan aku melihat disana, dibalik tumpukan sampah ada budak sedang tertidur , aku tak ingin membangunkan dia kalau-kalau ia sedang memimpikan “kebebasan.”
Bila ia telah terbangun akan aku jelaskan tentang arti kebebasan kepadanya.
Tapi aku juga mencintai para budak itu, seperti cintaku pada kebebasan, sebab mereka mengecup dengan mata tertutup taring binatang buas dalam hening ketidaktahuan, tanpa tahu senyum maut yang menunggu, dan tak pernah menyadari, sedang menggali kuburan dengan tangan mereka sendiri.
kehidupan berbangsa laksana sebuah kursi singgasana, bila rusak atau patah sebagian maka pincanglah sebuah bangsa.
Dan Matilah sebuah bangsa bila hukum dapat dibeli dengan uang, serta para pemikirnya membiarkan kebohongan sedangkan ia mengetahuinya -kemudian karena sesuatu hal ia hanya diam terpaku , lalu menyerah dalam kubangan belenggu yang bernama kekuasaan.
Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG
January 27th, 2008 at 9:58 pm
benny
Negeri seorang penyair
http://www.duniasastra.com
Airmataku menitik dari kelopak jiwa , menetes deras menggenangi tanah kering berduri,
Aku dapati bangsaku tertatih menahan lapar , dari sebuah negri yang kaya akan madu dan susu.
Aku saksikan dengan mata rahim kesedihanku, anak-anak negeri mati ditanahnya -yang penuh berkah ilahi.
Aku katakan padamu , apa yang dapat dilakukan- anak terbuang untuk bangsanya yang sekarat ?
Apa gunanya bagi mereka ratapan tangis seorang penyair yang tidak memiliki tempat untuk berpijak ?
Aku dengungkan hatimu dengan suara lirih , “dimana wujud mu berada wahai nurani?!’….’sudah matikah engkau diistana kehampaanmu ?”….
Ku coba menggetarkan semangat dari bahumu ,sekedar untuk membangunkan sukma agung- yang tertidur pulas dikedalaman jiwa setiap mata hati anak negeri…
Kini kutersadar dari keprihatinanku yang sia-sia , karena semua takkan mengenyangkan rasa lapar bangsaku, dan airmataku takkan menghilangkan dahaga anak-anak negeri…
Aku terjaga dari pembaringanku yang getir….wahai bumi , air dan benih yang ada digenggamanku….berjanjilah padaku bahwa engkau senantiasa hidup, dan bersama-sama tunas-tunas hari depanmu , selamanya bersemi ditanah ….tempat ari-ariku terkubur…..
Wahai kesegaran pagi yang menyejukkan, katakan kepada bangsaku, bila benih ini telah menghasilkan buah kehidupan, kuingin mereka senantiasa memenuhi genggamannya secara wajar… katakan juga pada bangsaku, agar saling berbagi benih , menyirami tunas dan menjaga kesuburan ladang-ladang ilahi dari ketamakan …
Aku titipkan negeri miskin ini padamu semesta, dari negeri ku yang kaya raya….negeri seorang penyair.
Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG
January 27th, 2008 at 9:59 pm
isyana agustina siregar
wa..deadlinenya mpe tanggal 20 tho????oalah…ketinggalan lagi…
February 19th, 2008 at 3:42 pm
anof setyawan
tuhan itu melayani tapi bukan pelayan
dunia hanya fatamorgana
kita hanya pemain sandiwara
diatas panggung dunia
May 11th, 2008 at 5:37 pm
anof setyawan
tuhan melayani tapi bukan pelayan
dunia fatamorgana
kita hanya pemain bersandiwara
May 11th, 2008 at 5:40 pm
Hendri Maja Saputra
Berusaha tidak hanya sekedar menggugah,
tetapi mampu menggerakkan seluruh organ dalam diri pemimpin dan bangsa…..
Semoga…..
October 13th, 2008 at 3:30 pm
petrus adi utomo
cicipi maduku
bila kau belajar hidup
datanglah pada duri rasakan cicipi onaknya
naik ke gunung rasakan penatnya daki
baru nikmati sehatmu
ringanmu ketika menjejaki hidup hari2
karena tangisanmu sudah usai
kini tinggal menikmati madu nan masih…
November 19th, 2008 at 3:52 am