You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Seputar Khatulistiwa Award 2007
Akhirnya, sampai juga KLA di stasiun terakhir. Seluruh peserta sudah digodok dan tentu saja menghasilkan pemenang dan “kekalahan”. Di samping itu, KLA pun disorot dengan berbagai kerancuan dan protes sana-sini. Juga sikap tegas terhadap Jonru (yang kayaknya baru pertama kali terjadi di Indonesia) sang juri yang “dipecat” gara-gara terlalu sesumbar. (hmmm)
Protes terhadap pemilihan karya (walaupun tak terlalu deras) pernah terlontar dan tertunjuk kepada karya Zen Hae “Paus Merah Jambu”. Salah satu poin dari persyaratan adalah:
6. Merupakan karya sastra asli yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Cetak ulang tidak diperkenankan.
Sedangkan karya Zen Hae (katanya) puisi-puisinya tidak dicetak dalam buku untuk pertama kalinya. Tetapi sudah ada di beberapa buku lainnya. Perubahan-perubahan lainnya (kategori penulis muda berbakat) tertuju pada karya Karla M. Nashar yang berusia di atas 30 tahun ketika buku pertamanya yang berjudul “Bellamore” terbit (menurut informasi dari penerbit tertanggal 12 November 2007), posisinya harus diganti oleh Bahril Hidayat dengan karya berjudul “Datuk Hitam”.
Begitulah perjalanan yang kuketahui dari KLA 2007. Tentunya, yang lebih tahu adalah panitia sendiri, dan salut untuk panitia serta pihak yang telah “menyempurnakan” apa yang permulaan dibangun. Akhir kata, selamat untuk Acep Zamzam Noor dengan karyanya “Menjadi Penyair Lagi” dan abangku yang “produktif” dan yakin “hidup dari menulis” Gus Tf Sakai dengan karyanya “Perantau”, juga buat teman diskusi menarik Farida Susanty dengan novelnya “Dan Hujan Pun Berhenti”.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.