You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Wong Cilik Berpuisi
Puisi sebetulnya harus menjadi milik siapapun. Ia hadir sebagai bagian dari cabang kesenian yang juga harus diperlakukan sama. Jika setiap orang bisa bernyanyi tanpa ada beban baik di toilet sebagai tempat yang sangat privasi, maupun di tempat-tempat umum, mengapa puisi tidak?
Hal ini sering juga berlaku untuk seni rupa yang tak hanya bermedia kertas atau kanvas. Di tembok-tembok, begitu banyak grafiti hilir mudik dari pandangan kita. Tarian malah sudah tak aneh lagi. Di tempat-tempat diskotek atau hiburan-hiburan malam, seni tari (dengan segala macam gaya ekspresi) berkembang luar biasa. Namun bagaimana dengan sastra? Lebih spresifik lagi puisi? Mengapa orang-orang begitu takut untuk mengembangkan pemikiran dan daya kreatifnya dalam bentuk kata-kata dan bahasa tulis? Siapa yang bertanggungjawab ketika puisi hanya menjadi bagian kecil dari para penyair, dirayakan dengan sunyi dan eksklusif di koran-koran Minggu atau buku antologi yang tak jelas siapa pembelinya?
Menjadi penyair bukanlah milik elit sastrawan. Ia harus juga berdaya di masyarakat umum, di masyarat jelata sekalipun. Dari pemikiran inilah, Komunitas literasi Rumah Dunia-Banten mencoba untuk membuat sebuah kegiatan baca-tulisan puisi untuk wong cilik. Mereka harus menulis puisi kemudian dibacakan di tengah-tengah publik agar semua orang tahu bahwa pemikiran kritis yang terlahir dalam bentuk puisi juga bisa dilakukan oleh tukang becak, tukang ojek, supir angkot, petani dan nelayan.
Jika tak ada aral melintang, lomba ini akan dilaksanakan pada: Minggu tanggal 10 Februari 2008 Pukul 09.00 WIB-selesai Bertempat di Rumah Dunia Komplek Hegar Alam no. 40 kampung Ciloang, Serang-Banten.
Lomba ini akan memperebutkan: Juara 1 (Rp. 500.000 dan sekeranjang buku,) Juara 2 (Rp. 300.000 dan sekeranjang buku) Juara 3 (Rp. 200.000 dan sekeranjang buku).
Jika menurut Anda hadiah ini kurang, Anda bisa ikut berpartisipasi menambahkan hadiahnya baik berupa barang maupun uang dengan menghubungi panitia di (0254-224955). Persyaratan peserta dalam lomba adalah warga yang berdomisili di Banten. Bekerja sebagai tukang becak, tukang ojek, supir angkot, petani dan nelayan atau pekerjaan yang setara. Berusia 17 tahun ke atas. Puisi yang akan dibacakan harus ditulis oleh peserta sendiri (asli, bukan jiplakan atau saduran) dan diserahkan paling lambat tanggal 7 Februari 2008 di sekretariat Rumah Dunia.
Juri pada lomba ini adalah: Prof. Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed (akademisi) Toto ST Radik (penyair) Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia).
Menurut Yoyo Mulyana, kegiatan semacam ini harus terus dilakukan di masa-masa mendatang agar puisi bisa merakyat dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Pada kesempatan ini, mantan Rektor Untirta yang sekaligus penasehat Rumah Dunia juga mengatakan bahwa kepedulian semua lapisan adalah bagian yang tak terpisahkan supaya Banten bisa bersejajar dengan propinsi lainnya. Jadi siapa saja yang hendak berpartisipasi atau menjadi sponsor, bisa menghubungi panitia.
www.rumahdunia.net//email: rumahdunia@yahoo.com sekretariat 0254-224955 Firman Venayaksa (085217014789)
dikutip dari millis Sastra Pembebasan
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Sastra yang Sebatangkara — Lentera Susastra
[…] awam. Salah satunya dari Komunitas Rumah Dunia Banten yang Februari mendatang akan menggelar “Lomba Menulis dan Membaca Puisi” bagi wong cilik se-Banten. Pesertanya bukanlah dari para penyair yang sudah paham tentang puisi, tetapi pesertanya benar-benar […]
January 25th, 2008 at 8:26 pm
baby
Nice website!!
June 16th, 2008 at 10:31 am