You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Sastra yang Sebatangkara

Sastra yang Sebatangkara

sayyid — January 25, 2008 / 8:26 pm

“Manusia adalah suatu kemerdekaan dalam keterbatasan. Dia dilemparkan ke dunia ini tanpa tahu asal-usulnya. Kemerdekaannya hanya menunjukkan kepadanya bahwa dia belum jadi apa-apa di dunia ini, seluruhnya yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan. Kemerdekaannya, selanjutnya menunjukkan kepadanya, bahwa dia dituntut untuk terus-menerus menjadikan dirinya sesuatu. Tanpa membentuk dirinya, dia bagaikan melayang-layang di dalam semesta kekosongan yang adalah juga semesta kemerdekaannya.” (Budiman, 2007: 89)

Saya senang dengan ungkapan Arif Budiman pada penutup skripsinya yang dijadikan buku berjudul “Chairil Anwar; Sebuah Pertemuan” di atas. Kemerdekaan bagi manusia hanya ada dalam kandungan ibu, dan setelah kematian. Mengapa para bayi menangis ketika ia dilahirkan? Karena mereka takut dan belum mengerti tentang warna-warni kehidupan dunia. Dunia ini asing, dan penuh dengan lumuran dosa. Dan, ia pun jadi tidak merdeka lagi.

Sedangkan pada kehidupan pertengahan—saat umur seorang manusia dirasa masih agak lama, manusia lebih banyak melakukan intrik, penipuan atau pembohongan terhadap manusia lainnya maupun terhadap dirinya sendiri. Bila ia punya sikap menghargai, tak lebih dari sikap yang dipaksakan oleh karena rasa suka, sungkan atau berkepentingan, takut terancam dan juga aturan lisan keturunan.

Masih pada referensi buku yang sama, kutipan Budiman atas pendapat Jean Paul Sartre tentang konsep eksistensi etre-en-soi dan etre-pour-soi. Etre-en-soi adalah suatu cara eksistensi secara tertutup. Tak ada celah untuk melihat keluar-masuk, melainkan hanya pagar beton yang melingkupinya. Bergerak statis tak menerima perubahan seperti para binatang. Dan memang, konsep ini cocok dengan cara bereksistensi para binatang. Sedangkan etre-pour-soi merupakan eksistensi terbuka, dapat melihat keluar-masuk dan ini artinya ia memiliki kesadaran. Kedinamisannya bukan terbentuk pada medan utuh tetapi pada medan retak. Dari retakan-retakan itulah ia menerima segala aspek pembelajaran tentang kehidupan. Konsep inilah yang dipakai oleh manusia.

Tanpa tendensi atau keterikatan apapun, manusia (sesuai kodratnya) akan bergembira dengan kedinamisannya. Jika suatu saat kedinamisannya itu dihambat secara sengaja, maka cepat atau lambat ia akan memberontak untuk mendapatkan kedinamisannya kembali. Jika kedinamisan benar-benar terwujud saya rasa takkan ada yang kelaparan, perang musnah dan kita bisa dengan tenang menyaksikan bunga-bunga tumbuh subur dan indah di pekarangan rumah.

Bukan Sastra yang Jadi Eksklusif, Tetapi…

Mari kita renungkan mengapa sastra menjadi eksklusif. Jika benar apa yang dikatakan A. Rizky dalam esainya berjudul “Sastra yang ‘Bisu” pada Singgalang (20/01/08) maka saya meyakini konsep kemanusiaan kita telah melenceng pada etre-en-soi. Jiwa kita jadi tidak dinamis dan hal itu, secara tidak sengaja membuat kita angkuh dan memperbudak sastra menjadi corong kebenaran versi otak kita sendiri. Saya jadi ingat sebuah battle game PC sejenis Warcraft, Sudden Strike atau Age of Empires. Walaupun hanya permainan, tetapi dari sana kita dapat belajar tentang bentuk-bentuk keangkuhan manusia yang jahat terhadap kedinamisan bisa menimbulkan malapetaka.

Saya meyakini bahwa sastra bukan murni hasil kerja otak yang objektif, tetapi pengolahannya berada dalam perasaan atau jiwa yang subjektif (yang kita pun belum pasti mengetahui secara harfiah dimana letak perasaan dan jiwa itu dalam tubuh manusia).

Bukan sifat sastra kalau ia memendam ilmu yang diketahuinya. Ia akan tersenyum jika segala yang ia tebar mampu menghadirkan medan katarsis di kalangan masyarakat. Sebab, sastra seharusnya menyejukkan, menelusup ke ruang-ruang kosong dalam diri manusia dan masyarakat. Bergerak dan terus bergerak, menari, lincah seperti tokoh Tom Bombadil penguasa Forest dalam “The Fellowship of The Ring” bagian dari trilogi Tolkien yang terkenal yaitu “The Lord of The Rings”.

Sastra walaupun menghadirkan kenyataan hidup dalam masyarakat tetapi ia bukanlah sosiologi. Memang ada yang menikahkan mereka berdua sehingga hadirlah Sosiologi Sastra. Namun, tetap saja berbeda antara sosiologi sosial dan sosiologi sastra. Seperti kata Sapardi (1979: 7) sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat; telaah tentang lembaga dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah perekonomian, keagamaan, politik dan lain-lain kita mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialisasi, proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing. Sedangkan sastra karena ia dinamis maka ia melihat melihat tidak melulu dari sudut objektif melainkan sudut subjektif (kadang melihat dari keduanya). Sastra menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya.

Jika sastra (hari ini) diibaratkan seorang manusia, maka sastra adalah manusia yang hidup sebatangkara. Seorang pengembara yang dicaci-maki, dihujat, diludahi oleh jargon ideologi. Disiksa oleh profetik (karena profetik ingin mengambil darah kebenaran dari tubuh sastra), dipalak oleh liberal (karena dalam dunia ini tak ada yang gratis) dan masih banyak lagi keadaan yang semakin membuat sastra terpaksa meminum comberan (air buangan) dari ideologi-ideologi yang mencoba memaksanya untuk jadi seorang budak.

Mengenai hal bahwa sastra adalah kepunyaan komunitas sastrawan sendiri (dan itu yang menyebabkannya jadi eksklusif) karena ketidakmampuan sastrawan dalam menyebarkan benih-benih kehidupan dinamis dalam masyarakat. Dalam hal ini sastrawan Indonesia, masih belum mampu untuk menjadi favorit di tengah masyarakat tanpa ada embel-embel tertentu di belakang sastra (meskipun masyarakat tak peduli dengan embel-embel itu).

Jangankan menyebarkan benih dinamis dalam masyarakat, membebaskan dirinya dari statisme pemikiran objektif, tanpa ada keterkaitan ideologi pun ia masih meraba-raba dalam gelap. Dan betul kata orang-orang progresif (pergerakan kiri) yang saya ajak berdiskusi tentang sastra bahwa “sastra hari ini sedikit yang berpihak pada masyarakat. Para sastrawannya asyik beronani sepanjang hari. Jadi melihat dunia hanya dengan merem-melek karena kenikmatan sesaat, tidak seutuhnya melihat dan berbuat.”

Sedikit Cahaya

Walaupun begitu, tak semuanya sastrawan terkurung dalam jargon ideologi. Beberapa ada yang berpikiran dinamis, meski mereka tidaklah terkenal. Mereka bergerak demi pencapaian maksud sastra (sebagai pengkatarsisan diri) kepada masyarakat awam. Salah satunya dari Komunitas Rumah Dunia Banten yang Februari mendatang akan menggelar “Lomba Menulis dan Membaca Puisi” bagi wong cilik se-Banten. Pesertanya bukanlah dari para penyair yang sudah paham tentang puisi, tetapi pesertanya benar-benar dari golongan masyarakat bawah.

Semangat kedinamisan sastra juga diadopsi oleh beberapa sastrawan yang memilih dunia maya sebagai lahan juang. Adanya YouTube, dan Multiply yang bisa menyimpan video dan MP3 mereka manfaatkan sebagai corong penyebaran sastra. Juga ada software yang membantu proses pembuatan musik dan perekaman seperti FL Studio 6.0.0.8 XXL Producer Edition. Dalam bidang penerbitan buku ArusKata Press juga salah satu yang memanfaatkan dunia maya sebagai corong sastra.

Semoga saja, sedikit-sedikit cahaya yang menelusup dapat meretakkan sekat-sekat statisme dan akhirnya merobohkannya. Sehingga tercipta sastra yang dinamis, dan tidak sebatangkara lagi karena konsep dan realitanya sama-sama berjalan.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. nHa..

    salam sastra,,

    menurut pandangan saya, sastra merupakan warisan tata bahasa dari nenek moyang kita harus dilestarikan. namun kesadaran dari generasi muda sekarang, kurang banyak yang meminati karena sebagian dari mereka beranggapan sastra itu kuno dan ketinggalan zaman.
    padahal sastra tersebut memiliki nilai kesatuan dan persatuan yang tinggi, dan sastra sendiri lebih membawa nama negara kita kedunia internasional.
    jadi, astra itu juga slah satunyawa majunya bangsa kita di masa yang akan datang.

    February 4th, 2008 at 12:12 pm

  2. syihaabul hudaa (uin jkt)

    Menurut saya,sastra merupakan karya seni kriatif manusia,yang menggunakan bahasa sebagai medium nya. bahasa yang dipakai juga indah dan mempunyai makna yang dalam. Katarsis yang terdapat dalam karya sastra,mampu membuat pembacanya menari-nari dalam kata-kata yang dibuat olaeh penulis. Satu hal,karya sastra merupakan karya yang menghibur,artinya bukan karya yang membosankan untuk dibaca,sehingga dapat menarik minat orang untuk membacanya.

    October 14th, 2008 at 5:54 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang