You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Duka Cita

Duka Cita

sayyid — January 29, 2008 / 7:35 pm

Tak ada yang lebih menggemparkan selain berita kematian mantan orang pertama di Republik Indonesia tanggal 27 Januari 2008 kemarin. Berita tersebut menjadi headline di media massa mengalahkan popularitas berita gosip tentang Dewi Persik yang dicolek payudaranya oleh penggemarnya sendiri.

13.10.mbah Harto telah pergi, Apa yang mbah bawa saat pergi? hasil korupsi kan banyak, ada rencana mau beli rumah di surga?. MV

Kutipan di atas merupakan postingan seseorang di millis Sastra Pembebasan. Apa yang tersirat di benak anda sekalian ketika membacanya?

Bukan bermaksud tidak menghormati orang mati, tetapi dosa-dosa Soeharto memang tak terampuni terutama bagi para korban “Hilang Malam”nya yang terkenal, belum lagi korban yang secara terang-terangan mati atas jalur perintahnya.

Bagaimana dengan sastra?

Kita jangan lupa, sastra pun susah berkembang ketika Soeharto bertahta. Buku-buku Pram tak boleh terbit, Wiji Thukul dihajar rame-rame sama aparat dan sampai sekarang tak tau rimba kuburnya dimana, juga beberapa sastrawan eksil yang hingga kini susah untuk pulang ke Indonesia; contohnya almarhum Sobron Aidit.

Sastra yang berkembang justru sastra yang menyerah kepada geliat pembangunan tiran. Tidak menyuarakan realitas tetapi menyuarakan suara di negeri antah-berantah. Maka patutlah, jika orang mengatakan sastra pasti terpikiran tentang nuansa yang hanya berhenti pada makna imajiner sejati bukan imajiner yang berdasarkan realitas.

Namun, sedih juga ketika Soeharto tak lantas cepat mati dan harus bermain-main dulu dengan penyakitnya. Maka ketika berita mangkatnya mantan presiden RI ke-2 itu tersebar, saya hanya berucap “syukur”. “Syukur” karena Pak Harto tidak lagi dipermainkan oleh penyakitnya dan terbebas dari penderitaannya (semoga).

Walaupun Soeharto adalah sosok bengis di tiga dasawarsa kepemimpinannya, pastilah ada kebaikan yang beliau tinggalkan untuk rakyat Indonesia. Dan itu tergantung terhadap penilaian masing-masing orang.

Selamat jalan Pak, semoga dosa-dosamu diampuni oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Kami hanyalah manusia biasa yang pengetahuannya hanya setitik dari jari-jari Tuhan. Dan segala keputusan hanya ada di Tangan-Nya. Semoga bapak bisa masuk Surga seperti juga keinginan kami; rakyat Indonesia lainnya.

Kami berduka cita!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...