You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Fenomena Temu Sastrawan di Indonesia
Menjain silaturahmi, tentu sudah harus jadi kewajiban bagi manusia. Namun ketika silaturahmi berubah jadi penggalangan kekuatan untuk suatu tujuan tertentu apa masih bisa dikatakan silaturahmi?
Ada perasaan campur aduk, ketika di setiap sudut Indonesia ini para sastrawannya membuat event temu sastra. Ada yang mematok temu sastra satu kota, dua kota, tiga kota, empat kota, se-provinsi bahkan se-Indonesia.
Senang, karena dengan begitu bisa mempererat dan meminimalisir konflik yang tidak semestinya terjadi antara para sastrawan.
Sedih, karena dengan menjamurnya event-event serupa sepertinya wacana tentang Sastra Indonesia yang tak bisa disatukan oleh sekedar Nasionalisme terbukti.
Saya tidak lagi melihat esensi pertemuan sastra yang benar-benar mengaplikasikan rasa silaturahmi itu. Saya hanya melihat, banyaknya event temu sastra semakin memperkuat eksistensi kenarsisan daerah (Chauvinisme), memperlebar jurang antara sastrawan muda dengan sastrawan tua, memperuncing polemik-polemik yang tak pantas disebut polemik.
Memangnya tidak bisa ya, kalau temu sastrawan itu dioptimalkan maksimal 2 kali setahun. Di tahun 2008 ini saja (yang saya dengar) ada lebih dari 5 kali temu sastrawan (Temu Sastra 4 Kota; Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Temu Sastrawan Indonesia di Batam, Temu Sastrawan di Jambi dan masih banyak lagi).
Dimana letak fungsi Dewan Kesenian masing-masing daerah. Ya, saya mengerti. Jangankan peduli dengan event seperti temu sastra yang kebanyakan difasilitasi oleh Komunitas ini, saya sangsi ada dengan jalannya koordinasi antara Dewan Kesenian di Indonesia, yang saya dengar jalan sendiri-sendiri.
Mungkin, bagi komunitas atau sastrawan yang berkecukupan, ikut event sana event sini tidak masalah. Tapi, bagi komunitas dan sastrawan yang miskin gimana jadinya?
Sebaiknya, ada koordinasi yang digawangi oleh Dewan Kesenian tentang event temu sastrawan atau temu seniman yang lain. Sebab, jika semua komunitas sastra di Indonesia menyatakan sebagai pusat Sastra Indonesia, bagaimana cara membayangkannya?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
yudha
Saya ada sedikit pertanyaan, Sebenarnya siapa yang bisa mendapat sebutan sastrawan? Apakah orang2 yang karya sastra atau tulisannya sudah di perjual belikan? Atau orang2 yang hanya sekedar suka menulis juga bisa di sebut sastrawan? Atau juga yang mempunyai gelar sarjana sastra? Wah, banyak orang yang sangat senang akan sastra… bahkan beberapa dari mereka memiliki nama2 tersendiri mengenai tulisannya. Tapi kebanyakan dari mereka tidak berani menyebut mereka adalah sastrawan… mungkin kalau ada sedikit penjelasan siapakah yang layak disebut sastrawan, komunitas sastrawan di indonesia akan meningkat jumlahnya… saya sangat jauh dari pengetahuan itu, mohon kiranya bisa diberikan penjelasan, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
February 26th, 2008 at 4:49 pm
Sayyid
Siapa yang bisa disebut sastrawan? Seperti mencari definisi apa itu sastra? Tak ada yang mampu mempertemukan keuniversalan keduanya. Pasti membentur dengan masalah2 lain lagi.
Apa yang Yudha sebutkan sebagai sastrawan di atas, mungkin bisa jadi juga apa yang saya pikirkan. Tetapi, tak bisa dipaksakan kepada orang lain untuk menaati definisi sastrawan yang kita maksud…
Saya pun sebenarnya mempertanyakan siapa sih sastrawan itu? Saya hanya nanar melihat fenomena temu sastrawan yang banyak menjamur di seantero Indonesia ini. Tanpa ada konsep dan tujuan yang jelas buat apa acara temu-temuan itu diadakan…
Mungkin itu pula yang membuat pelaku sastra sedikit eksklusif. Membiarkan kebingungan pembaca awam terhadap konteks sebuah karya, atau aplikasinya…
February 26th, 2008 at 9:01 pm