You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Gairah Kesusastraan di Sumatra Barat

Gairah Kesusastraan di Sumatra Barat

sayyid — February 9, 2008 / 3:52 pm

Beberapa bulan ke depan, (dengar-dengar kabar) Sumatra Barat rencananya akan menjadi tuan rumah dari “Temu Sastra 5 Kota (Padang, Bali, Bandung, Yogyakarta dan Lampung)”–sebelumnya 4 kota minus Lampung. Kabar ini tidak main-main, elemen kesusastraan terkait seperti Taman Budaya, DKSB, dan komunitas-komunitas sastra sudah bergerak demi tercapainya kesempurnaan acara tersebut.

Perjalanan kesusastraan di Sumatra Barat jika dilihat dengan mata telanjang memang terus-menerus bergerak. Regenerasi penulis-penulis tak ada hentinya, menjadikan Sumatra Barat lahan subur bagi lahirnya bibit-bibit sastrawan. “Semangat dan kontinuitas adalah modal penting jika ingin jadi penulis” begitu yang tampaknya diyakini oleh generasi sastra di wilayah yang juga sering disebut sebagai Minangkabau.

Tetapi, masih ada yang perlu dikritisi dan dibenahi. Tulisan Muhammad Subhan di Kabar Indonesia mungkin bisa menjadi referensi tentang apa yang mesti dibenahi itu.

Yang sedang saya “tafakuri” saat ini-tepatnya beberapa tahun terakhir-adalah fenomena keringnya kualitas cerpen-cerpen yang dilahirkan penulis Sumatra Barat untuk koran di daerah sendiri. Bahkan yang lebih kering lagi, adalah minimnya kritik sastra untuk cerpen-cerpen yang muncul di sejumlah koran terbitan Padang.

Kalimat berhuruf tebal di atas itulah yang perlu dibenahi oleh elemen sastra di Sumbar. Apakah cerpen-cerpen (karya sastra lain) yang terbit di Padang memang sebegitu sampahnya hingga tak layak untuk diapresiasi? Atau, apakah yang menulisnya bukan penulis besar seperti Gus Tf, Iyut, Yusrizal KW, Harris Efendi Thahar dll.? Atau, koran-koran di Padang yang dianggap tidak berkualitas?

Apa yang ditulis oleh Muhammad Subhan juga yang saya pertanyakan kepada elemen sastra di Sumbar. Tentu daftar ini masih akan panjang jika ditambahkan dengan miskinnya proyek buku sastra yang dijalankan. Kalau memang ada, terbatas pada penulis-penulis senior. Kadang-kadang saya berpikir, penulis muda Sumbar memang banyak tetapi tak (kurang) difasilitasi. Jikalau ada fasilitas itu, hanya sekedar perpanjangan tangan dari ide-ide si pemberi fasilitas. Penulis muda pun mandul berkreativitas karena otaknya telah dijajah oleh ide-ide si fasilitator.

Kurang produktifnya cerpenis-cerpenis Sumbar di “kampoeng” sendiri, menurut hemat saya, karena masih rendahnya penghargaan koran terhadap karya-karya mereka. Penghargaan yang saya maksud, mungkin secara finansial sebagai input “kerja keras” mereka. Melalui esai ini, saya merasa risih menyebut berapa jumlah honor yang akan diterima penulis untuk setiap cerpen yang dipublikasikan di koran bersangkutan. Artinya, honor untuk cerpenis Sumatra Barat di daerah sendiri masih sangat rendah.

Sebenarnya riskan membicarakan permasalahan ini. Salah-salah langkah bisa di-cap Kapitalis. Dan penulis muda, kebanyakan anti kapitalis. Saya membenarkan apa yang disebut Subhan dengan “input kerja keras”. Media di Padang memang belum serius menanggapi keseriusan para penulisnya. “Batu loncatan” adalah esensi yang diyakini sebagian besar penulis. Hal ini sudah jadi rahasia umum di kalangan media tersebut maupun penulis-penulis.

Oleh karena itu, apakah kesusastraan Sumbar akan tetap dibiarkan seperti ini saja?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 12 komentar untuk artikel ini.

  1. Muhammad Subhan

    Salam kenal…
    Terima kasih telah mengomentari tulisan saya. Semoga membawa pencerahan bagi rekan-rekan di Padang. Kalau boleh saya tahu, siapakah gerangan nama tuan yang mengomentari tulisan saya ini. Salam. Muhammad Subhan, Bukittinggi.

    February 13th, 2008 at 8:31 pm

  2. Sayyid

    Terima kasih kembali kepada Muhammad Subhan. Saya Sayyid, tepatnya Sayyid Madany Syani, penulis Padang juga. Namun, jadi “Penjaga” di Lentera Susastra ini.

    February 14th, 2008 at 7:26 pm

  3. Sumatera Barat dan Sastra — Padang (Asia Blogging Network - ABN)

    […] Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang telah membuktikan diri sebagai ‘gudang’ para ahli sastra. Tidak heran jika Sumatera Barat (Padang) menjadi salah satu daerah yang akan menjadi tuan rumah “Temu Sastra 5 Kota…. […]

    February 17th, 2008 at 8:20 pm

  4. Muhammad Subhan

    Salam,
    Tuan-tuan, kalau boleh tahu kapankah gerangan “Temu Sastra Lima Kota” itu diselenggarakan? Kapan pula jadualnya? Dan ingin pula saya mengikutinya, sebagai referensi dan menambah-nambah kawan. Mohon dikirimkan khabarnya ya. Salam buat saudara Sayyid. Terus berkarya di Lentera Susastra ini dan juga lembaran media lainnya.

    February 17th, 2008 at 8:24 pm

  5. Sayyid

    Temu Sastra menurut kabar dari Mas Koko (Sudarmoko) dan Struk (Esha Tegar Putra)–orang yang menjembatani pertemuan ini, Temu Penyair (maksudnya bukan temu sastrawan—hehehehehe) akan diadakan April 2008.

    Nanti, jika sudah fix tanggalnya, akan diumumkan di Lentera Susastra.

    Salam

    February 18th, 2008 at 11:04 pm

  6. sayyid

    Ah kabar terbaru… tentang temu penyair di Sumatra Barat. Acara akan diadakan tanggal 27-28 April 2008 di Payakumbuh.

    Tunggu kabar selanjutnya…

    February 19th, 2008 at 10:24 pm

  7. Muhammad Subhan

    Terima kasih infonya mas Sayyid. Moga bisa silaturahmi nanti di Payakumbuh. Salam buat keluarga.

    February 21st, 2008 at 8:28 pm

  8. Sayyid

    Terima kasih kembali bang Subhan. Oh ya, jangan panggil mas lah… Saya masih satu angkatan dengan Esha Tegar PUtra. Saya masih kuliah semester 6… hehehehhe Jadi belum terlalu tua… (ehehehhee)

    February 22nd, 2008 at 5:16 pm

  9. Muhammad Subhan

    Ok Sayyid. Salam jumpa ya.

    March 7th, 2008 at 2:40 pm

  10. dejavu

    penyair sumbar mesti bisa lebih berjaya supaya nilai2 kebudayaan sumbar bisa tereksploitasi lebih baik….sip

    September 20th, 2008 at 4:40 pm

  11. Desni Intan Suri

    Ass wr wb, maaf numpang lewat saya di tahun 80 an dulu aktif menulis cerpen,cerbung,dan artikel lainnya dikoran haluan dan singgalang, tapi setelah merantau ke Jkt,dan sekarang di Kuala Lumpur saya tidak aktif lagi. Bagaimana caranya saya bisa menyalurkan karya2 saya lagi dikampung halaman? apakah saya msh dpt tempat, stlh bgitu bnyk pengarang muda berbakat bermunculan dan koran2 didaerah sumbarpun sdh bertambah dan bnyk perkembangannya? wass

    October 18th, 2008 at 11:29 pm

  12. sayyid

    Tentu saja bisa Uni Desni… Sebab media tidak punya hak untuk membatasi karya kreatif seseorang untuk masuk dalam media itu sendiri.

    Kirim saja lewat redakturnya Uni…

    untuk sastra: a2rizal at yahoo dot com
    untuk artikel umum: musriadi006 at yahoo dot co dot id

    October 19th, 2008 at 11:32 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Nur Istianah — mangna apa c lip ice??? dan kenapa harus pake lip ice???
  • Agnes — gimana caranya buat pemula untuk kirim cerpen lewat email ke kompas, jawabannya ya.... ditunggu lo...
  • fitirah — aq sama dng yugo... bkn lulusan or tdk prnh bekerja d bidang jurnalistik or komunikasi, tp sgt interest krj d ...
  • dedi — gue senang banget dgn sastra
  • dedi — sastra tu indah n gue benar-benar kagum pada sastra pa lg sastr barat tp soal pengetahuan nya gue masih minim ...
  • Akli — Persoalan tulis menulis sangat tergantung kepada pribadi. Apakah tujuan menulis itu untuk mendapat honor atau berbagi pengalaman dengan memunculkan ide ...
  • fachrurrozi — aku sangat tertarik........sekarang tanggal 29 Juni 2009, pukul 12 am WITA Tinggal satu hari nih, aku telat baca pengumuman ini Tapi, aku ...
  • tri candra sakti — mohon info kalo2 ada acara2 seperti itu. maturnuwun..
  • Wibowo Purnomohadi — Pustakawan itu biang keladi orang jadi pinter lho, mana ada profesi ahli yang menjadi tenar tanpa dia baca buku di ...
  • Lesephemi — Enjoy and be sure to pass along to your friends http://www.esnips.com/doc/79c22395-7bd6-4299-92db-cf392e381698/kutiman---this-is-what-it-became Peace