You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Hamka dan Tan Malaka

Hamka dan Tan Malaka

sayyid — February 26, 2008 / 11:26 pm

Februari ini, Sumatra Barat “gempar” dengan dua tokoh tersebut–Hamka dan Tan Malaka. Keduanya, diperhelatkan–walaupun beda situasi oleh orang-orang yang rindu dengan sosok mereka berdua. Pengikut Hamka bergembira merayakan ulang tahun ke-100 sang Ulama Hamka 17 Februari 1908-17 Februari 2008. Diskusi serta seminar mengenai Hamka begitu semarak di seantero Sumatra Barat ini–mungkin juga di Indonesia. Sedangkan Tan Malaka, dua hari sesudah perayaan Hamka–19 Februari 2008 diadakan perenungan kematiannya. Walaupun tak banyak, tetapi ada beberapa komunitas yang melakukan napak tilas pemikiran Tan Malaka. Mereka berdua adalah generasi Minangkabau yang dibesarkan di tengah kepungan kolonialisme. Keduanya sama-sama aktif dalam pergerakan revolusioner, meskipun berbeda cara pandang.

Tan Malaka alias Ibrahim Datuk Tan Malaka lebih condong ke pergerakan revolusioner kiri dan terpengaruhi oleh pemikiran Marx serta Lenin. Walaupun begitu, ia tetap teguh dengan pendirian Islamnya. Terbukti ketika ia mendukung pendapat Cokroaminoto tentang penggabungan Sosialisme dan Pan-Islamisme. Keduanya, menurut Tan Malaka, sama-sama bersinergi tentang pencapaian “Kemerdekaan 100%”–cita-cita yang didekap erat oleh Tan Malaka sampai akhir hayatnya di tepi Kali Brantas.

Hamka pun begitu. Pribadinya tercipta dari galibnya adat istiadat Minangkabau yang seenaknya dijadikan kambing hitam bagi pemuka-pemukanya. Dapat dilihat pada novel-novelnya seperti “Merantau Ke Deli”, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” dll. Ia selalu memberontak dari peraturan adat, bukannya benci tetapi itulah suatu kepeduliannya terhadap ranah kampung halamannya. Ideologi Islam amat berakar di hati Hamka. Sampai-sampai, ia lebih memilih mengundurkan diri dari jabatan pimpinan MUI ketimbang harus meralat keputusannya tentang pengharaman orang Islam merayakan hari besar agama lain, perkawinan beda agama dsb. Keyakinan Islamnya yang revolusioner yang mengarahkannya ke penjara. Namun, seperti pemikir-pemikir lain, penjara bukanlah tempat ongkang-ongkang kaki, tetapi penjara adalah paviliun yang “aman” untuk mengembangkan dan melanjutkan pemikiran-pemikiran yang belum terselesaikan.

Tetapi, ada catatan yang mesti kita garis merah. Saya sebenarnya benci dengan perayaan nama besar si A, atau nama besar si B. Kita jadi tersekat dengan nama besar mereka. Akibatnya fatal, kita pun mengkultuskan individu-individu itu sebagai dewa. Sebenarnya, garis pemikiran Tan Malaka maupun Hamka tak cukup hanya terbentur pada konteks diskusi atau seminar, tetapi memang diaplikasikan sesuai kadarnya.

Namun, saya sedikit skeptis dengan hal ini. Pemikiran kita terhambat pada pemikiran strukturalis kapital. Sebenarnya, kita adalah bangsa yang bodoh dan tidak peduli dengan sejarah. Saat kita terkooptasi dengan diskusi dan seminar-seminar, orang-orang Malaysia sibuk membantu pembangunan museum Hamka di Sungai Batang Maninjau Sumatra Barat. Malaysia pula yang mencetak ulang buku-buku karangan Hamka dan dijadikan bacaan wajib bagi pelajar di Malaysia. Sedangkan kita, apa yang telah kita perbuat?

Dan kita masih lantang mengumpat ketika Malaysia kita tuduh sebagai maling warisan budaya Indonesia? Anggap saja–dalam pemeliharaan aset kesusastraan, seni dan budaya kita kalah dengan negri tetangga kita itu. Lantas mau bilang apa?

Hamka dan Tan Malaka toh sudah jadi kenangan. Dua tokoh revolusioner yang sebenarnya sudah bisa dijadikan percontohan bahwa Indonesia seharusnya bermental progresif dan revolusioner. Tidak jalan di tempat atau monoton sebab Hamka maupun Tan Malaka tak mengajarkan sebuah kemonotonan.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 11 komentar untuk artikel ini.

  1. Fadli

    Hai… tulisan yang bagus lohhhh… Anda kenal dengan pahlawan kita yang satu ini??? Saya salah seorang pengagumnya… Terima kasihh…

    February 28th, 2008 at 1:49 pm

  2. cipaik

    ulasannya menarik.
    tan malaka bilang “suaraku akan jauh terdengan dari dalam kubur daripada di atas bumi”…tapi alangkah kurang ajarnya, bahwa suara miris itu hanya didengar oleh anak muda.

    February 29th, 2008 at 1:11 am

  3. rentha supa

    pemikiran tan malaka bisa disejajarkan dengan stallin. tetapi………. apakah benar seorang sosialis masih memegang tegung ajaran islam….? paralon dari dogma sosialis adalah tiada tuhan… islam tetaplah islam… sosialis tetaplah sosialis… lalu …ISLAM SOSIALIS..?????????????????????????

    March 21st, 2008 at 3:48 am

  4. andhie

    Tan malaka adalah Seorang Pahlawan….
    saya terlahir dan memperoleh pendidikan dimasa ordebaru… buku yang saya baca pada jaman itu menggambarkan tanmalaka adalah seorang sosok pendiri PKI yang begitu menakutkan yang merencanakan kudeta terhadap bangsa….

    dijaman sekarang semua boleh diungkapkan…. tabirpun mulai terkuak..
    seorang kritikur sejati segala jaman…. dicari2 belanda…. karena perjuangannya mengajak kepada kemerdekaaan indonesia….
    diakhir hayatnya justru mati ditangan bangsa yang diperjuangkannya…..

    Tragis memang……

    March 24th, 2008 at 5:14 pm

  5. zen

    menurutku, di tahun-tahun terakhir hidupnya, HAMKA justru terlihat begitu monoton. Statusnya sebagai seorang ketua majelis “memaksanya” menjadi memerankan diri sebagai the guardian dari senarai aturan panjang mengenai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar. Menurutku yg begini sudah masuk delik monoton. Menurutku loh, ya….

    senyuuuummm!

    March 27th, 2008 at 1:45 am

  6. ryan

    semua orang boleh memandang dari sudut manapun…
    tapi ketahuilah bahwa mereka berjuang dan ingin memerdekakan negri ini dari kolonialisme dan semua bentuk belenggu..
    jangan cuma menilai dan menilai..
    dimanakah kita saat ini? sudah adakah yang bisa kita lakukan?
    minimal kita hsrus fikirkan kapan kita mampu mewujudkan impian dan harapan mereka…
    HAMKA dan TAN MALAKA…
    berjuanglah kawan…
    karena hidup akan dimulai setelah kematian…
    MERDEKA..MERDEKA…MERDEKA…..

    March 29th, 2008 at 11:00 pm

  7. walrus

    untuk rentha supa.

    banyak yang tidak tahu bahwa hamka menulis kata pengantar untuk buku tan malaka, “Islam dalam Tinjauan Madilog”, yang dengan kata lain, Hankapun menghormati Tan Malaka dan keislamannya.

    Lagipula, seseoranf dinilai dari apa yang ia lakukan untuk kemanusiaan, bukan karena ia seorang islam atau bkn islam, ateis atau bertuhan. Saya rasa itu urusannya Tuhan. Ali bin Abi Thalibpun mengatakan, “Ambillah hikmah walau dar dada orang kafir”

    So, what should be a problem then?

    April 27th, 2008 at 11:37 pm

  8. Sayyid

    Ya, benar kata bung Walrus. Tan Malaka sendiri tidak anti Islam, karena ia mengetahui sifat dasar Islam yang juga progresif melawan Kolonial dan Kapital… Tan Malaka sendiri bukan seorang Atheis, tetapi Islam yang taat dan berpikir secara sosialis.

    May 1st, 2008 at 3:26 pm

  9. Izmi

    Gw tau Tan Malaka dari buku yang ditulisnya pada tahun 1926, yang judulnya Aksi Massa. Dari situ gw tau, gimana menderita dan dijajahnya bangsa kita sama bangsa kolonial Belanda.

    Bagi gw, dia lebih dari pahlawan nasional atau pahlawannya para buruh. Tapi pahlawan yang termasuk kriteria proklamator, karena ia adalah seorang revolusioner yang luar biasa pemikirannya.

    Hebat !!

    Inspirasi hingga saat ini. Pemikirannya lebih hebat dari Albert Einstein. Tapi, kecewa banget. Kenapa gw ngga tau dia dari kecil pas lagi pelajaran sejarah? Namanya ngga pernah ada di buku dan daftar pahlawan nasional!!

    Akh, seandainya … semua pemuda punya pemikiran yang sehebat dia, pastilah sekarang ini bakalan beda kenyataannya. Ngga akan lagi ada buruh yang ngga tau nasibnya. Dan ngga akan ada yang ngga tau tentang tanah miliknya dan hak atas hidupnya.

    Wishing you will be back in our life in here in your Indonesia. Kami rindu engkau. Kami rindu perjuanganmu. Kami rindu semangat yang kau tulis. Kami rindu revolusioner seperti kau, Tan Malaka !!

    July 25th, 2008 at 1:01 pm

  10. kholis

    aku sangat setuju dengan pemikiran anda

    August 27th, 2008 at 12:12 pm

  11. HendrasaTan

    Apakah tidak terlintas dipemikiran kita, Tan Malaka adalah seorang yang sangat dikenal mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah wajah Beliau yang selalu bisa berubah-ubah.Kami berpikir Beliau tidak pernah ditembak mati.

    August 30th, 2008 at 8:06 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang