
Coba tebak, berapa orang pengarang di Indonesia yang menulis dengan gaya meneror?
Agaknya, tak ada yang menandingi Putu Wijaya dalam hal itu. Keterkesanan saya tambah menjadi setelah bertemu dengan pak (mas?) Putu di Halaman Balai Bahasa Padang tanggal 12 Maret 2008. Ketika itu, Balai Bahasa mengundang Putu dalam Temu Wicara Mahasiswa.
Peserta acara sangat antusias. Klimaksnya, ketika Putu “mendongengkan” salah satu karyanya yang berkisah tentang arti kemerdekaan. Tak ada pengarang yang pandai mengolaborasikan karya tulisnya menjadi monolog yang menarik selain Putu.
Kemerdekaan
Dianalogikan 200juta lebih burung perkutut dalam sangkar yang dipelihara oleh seorang majikan tua. Sang majikan ingin memberikan hadiah kepada salah satu burung perkututnya untuk merdeka–terbang ke angkasa dan menghadapi hidup tidak dalam sangkar lagi, melainkan lewat langit.
Namun sang burung takut dengan kemerdekaan itu. Ia tak sanggup, sebab ia sudah membayangkan betapa naifnya ia bisa bertahan hidup selamanya di luar sangkar karena banyak predator yang mengerikan. Sang perkutut surut. Tak mau terbang, padahal sang majikan telah membuka pintu sangkar dengan selebar-lebarnya.
Sang majikan marah. Berulangkali disebutnya sang perkutut dengan sebutan “bodoh!” Sang majikan berpendapat, perkututnya tak menghargai kemerdekaan padahal bangsa-bangsa di dunia sejak dulu kala bersimbahan darah demi kemerdekaan itu.
Berulangkali pula, sang majikan membentak perkutut, bahkan mengancam. “Jika tidak keluar, maka aku akan membunuhmu!” ucap sang majikan terhadap perkutut tersebut. Perkutut itu takut, kembali surut, ia tak mau merdeka dan akhirnya ia putuskan untuk membenturkan kepalanya ke pintu sangkar.
Sang majikan terkejut, perkututnya jatuh ke tanah tak bergerak lagi. Perkutut-perkutut lain melagukan kematian untuk mengiringi kepergian saudaranya. Sang majikan pun tak hentinya mengucapkan kata “bodoh” bagi perkutut yang mati. Dan ia pun seakan menasihati perkutut-perkututnya yang lain agar meresapi arti kemerdekaan itu.
Namun tiba-tiba, perkutut-perkutut lain mendobrak sangkar terbang jauh ke langit. Sang majikan terpana. Belum habis keterpanaannya itu, perkutut yang “Mati” tadi pun terbang menyusul saudara-saudaranya.
“Bukan kemerdekaan individu yang kami mau. Tetapi, kemerdekaan secara bersama yang kami ingini.”
Perkutut-perkutut itu pun dengan serentak mengarahkan duburnya dan berak di atas kepala majikannya itu.
Itulah pelajaran kemerdekaan dari Putu Wijaya. Dan disampaikan dengan gaya yang ekspresionis serta kental dengan jiwa teaternya.
(bersambung)
Popularity: 15%