Archive for March, 2008

Si Binatang Jalang

Saturday, March 29th, 2008

chairil.jpg

Tak ada yang bersedia untuk mati muda. Begitu juga Chairil yang meski harus pahit menelan kematian di usia muda itu. Ia malah bercita-cita untuk hidup seribu tahun lagi, namun ternyata cita-citanya itu tak kesampaian.

(more…)

Popularity: 13%

Pesta Penyair Nusantara 2008

Saturday, March 29th, 2008

Sempena The 2nd Kediri Jatim Internasional Poetry Gathering

Ini adalah lanjutan dari Pesta Penyair Indonesia Sempena the 1st Medan International Poetry Gathering pada 25–28 Mei 2007. Dalam acara tersebut selain penyair Indonesia, datang pula penyair dari Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan Thailand.

(more…)

Popularity: 16%

Putu Wijaya (Pertemuan Akhir; Proses Kreatif)

Tuesday, March 18th, 2008

Jika dalam pertemuan awal, Putu lebih mengarahkan pembicaraannya kepada kemerdekaan, maka pertemuan terakhir (dengan saya) di Aula Gedung E Universitas Andalas Padang tanggal 13 Maret 2008 ini lebih dominan pada proses kreatif.

Sedikitnya ada lima jurus yang harus dipunyai oleh pengarang yang saya sebut dengan 4 resep teror:

  1. Menulis bukanlah kehendak mood.
  2. Harus berani membuang 5 paragraf awal yang diyakini Putu sebagai kentut. Mungkin kita akan sayang terhadap 5 paragraf tersebut, tetapi begitulah. Biasanya, 5 paragraf awal tersebut hanya berisikan kata-kata pengantar, yang akan membuat cerita itu menjadi ngantuk.
  3. Tulisan yang telah jadi ditangguhkan dahulu. Jangan dikirim ke media massa, tetapi dipetieskan selama lebih kurang 1 bulan. Setelah itu, baru dibaca dan diedit. Hal ini adalah untuk menghilangkan keberpihakan kita terhadap tulisan kita itu. Biasanya, para penulis pemula menganggap tulisan yang baru dihasilkannya itu sangat bagus. Namun, jika sudah diendapkan selama satu bulan bahkan lebih, ternyata kebalikannya–sangat jelek (tergantung perspektif kita).
  4. Sedapatnya (pada karya fiksi) ending cerita tidak diselesaikan secar tuntas. Ini dimungkinkan untuk mengembangkan daya nalar pembaca, dan biar pembaca yang menaksir akhir cerita tersebut.

Popularity: 14%

Putu Wijaya (Pertemuan Awal; Arti Kemerdekaan”

Tuesday, March 18th, 2008

putu.jpg

Coba tebak, berapa orang pengarang di Indonesia yang menulis dengan gaya meneror?

Agaknya, tak ada yang menandingi Putu Wijaya dalam hal itu. Keterkesanan saya tambah menjadi setelah bertemu dengan pak (mas?) Putu di Halaman Balai Bahasa Padang tanggal 12 Maret 2008. Ketika itu, Balai Bahasa mengundang Putu dalam Temu Wicara Mahasiswa.

Peserta acara sangat antusias. Klimaksnya, ketika Putu “mendongengkan” salah satu karyanya yang berkisah tentang arti kemerdekaan. Tak ada pengarang yang pandai mengolaborasikan karya tulisnya menjadi monolog yang menarik selain Putu.

Kemerdekaan

Dianalogikan 200juta lebih burung perkutut dalam sangkar yang dipelihara oleh seorang majikan tua. Sang majikan ingin memberikan hadiah kepada salah satu burung perkututnya untuk merdeka–terbang ke angkasa dan menghadapi hidup tidak dalam sangkar lagi, melainkan lewat langit.

Namun sang burung takut dengan kemerdekaan itu. Ia tak sanggup, sebab ia sudah membayangkan betapa naifnya ia bisa bertahan hidup selamanya di luar sangkar karena banyak predator yang mengerikan. Sang perkutut surut. Tak mau terbang, padahal sang majikan telah membuka pintu sangkar dengan selebar-lebarnya.

Sang majikan marah. Berulangkali disebutnya sang perkutut dengan sebutan “bodoh!” Sang majikan berpendapat, perkututnya tak menghargai kemerdekaan padahal bangsa-bangsa di dunia sejak dulu kala bersimbahan darah demi kemerdekaan itu.

Berulangkali pula, sang majikan membentak perkutut, bahkan mengancam. “Jika tidak keluar, maka aku akan membunuhmu!” ucap sang majikan terhadap perkutut tersebut. Perkutut itu takut, kembali surut, ia tak mau merdeka dan akhirnya ia putuskan untuk membenturkan kepalanya ke pintu sangkar.

Sang majikan terkejut, perkututnya jatuh ke tanah tak bergerak lagi. Perkutut-perkutut lain melagukan kematian untuk mengiringi kepergian saudaranya. Sang majikan pun tak hentinya mengucapkan kata “bodoh” bagi perkutut yang mati. Dan ia pun seakan menasihati perkutut-perkututnya yang lain agar meresapi arti kemerdekaan itu.

Namun tiba-tiba, perkutut-perkutut lain mendobrak sangkar terbang jauh ke langit. Sang majikan terpana. Belum habis keterpanaannya itu, perkutut yang “Mati” tadi pun terbang menyusul saudara-saudaranya.

“Bukan kemerdekaan individu yang kami mau. Tetapi, kemerdekaan secara bersama yang kami ingini.”

Perkutut-perkutut itu pun dengan serentak mengarahkan duburnya dan berak di atas kepala majikannya itu.

Itulah pelajaran kemerdekaan dari Putu Wijaya. Dan disampaikan dengan gaya yang ekspresionis serta kental dengan jiwa teaternya.

(bersambung)

Popularity: 15%

KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA

Friday, March 14th, 2008

Satu lagi, polemik yang tengah menghangat (dihangatkan?) dalam Sastra Indonesia. Ini adalah tulisannya Yonathan Raharjo yang dikutip dari millis Sastra Pembebasan. Tentang kudeta?

(more…)

Popularity: 27%

Pemenang Lomba Cerpen ANNIDA

Monday, March 10th, 2008

Akhirnya Lomba Cerpen Annida selesai sudah. Meski menyisakan kecewa tetapi pasti ada raut kebahagiaan di wajah pemenangnya. Inilah dia ketiga orang yang beruntung itu:

Pemenang I : Sekolah Kundang (S. Gegge Mappangewa, Makassar)

Pemenang II : Ranting Cahaya (Anindita Siswanto Thayf, Sleman-Yogyakarta)

Pemenang III : Surat Kepada Presiden (Nur Hadi, Jepara-Jawa Tengah)

Pemenang I mendapat hadiah uang sejumlah Rp1.000.000,-

Pemenang II mendapat hadiah uang sejumlah Rp750.000,-

Pemenang III mendapat hadiah uang sejumlah Rp500.000,-

Plus paket buku dan berlangganan Annida selama 6 (enam) bulan untuk semua pemenang.

Selamat untuk semua pemenang! Kata Annida pula, naskah yang belum menang tapi layak muat akan dimuat di Annida dengan honor regular (penulis akan langsung Nida kontak). Jangan lewatkan info kepenulisan dan sastra lainnya.

Popularity: 14%

Masih Tentang Pena Kencana Award

Monday, March 10th, 2008

Pro kontra seputar penghargaan Pena Kencana Award memang perlu didudukkan. Di satu sisi, penghargaan terhadap penulis maupun pengarang memang layak untuk dipelihara terus atau diadakan terus. Tetapi, ada aspek yang mesti dibahas lebih mendalam terkait dengan pemakaian strategi SMS sebagai penilaian karya sastra yang baik itu.

Lantas dimanakah letak kritikus sastra?

Mungkin, fungsi kritikus tidaklah lagi menggigit pasca HB. Jassin dkk. Itulah mengapa dipilih SMS sebagai jalan siapa yang berhak mendapatkan predikat terbaik itu. Hal ini disinyalir juga sebagai respon demokrasi dan humanisme karena dengan SMS ria, para pe-SMS (alias penikmat karya sastra) merasa diikutsertakan dalam memilih karya terbaik.

Tentunya hal ini relatif. Di Lentera Susastra ketika postingan karya-karya terbaik versi Pena Kencana Award, ada yang menanyakan dimana penikmat bisa membaca sekali lagi karya-karya tersebut. Tentunya, kita tidak mau munafik dengan mengatakan metode Jassin terus dipakai yaitu mengkliping setiap karya sastra koran. Ada yang masih memakai metode itu, dan saya pikir metode itu sangatlah baik, tetapi hanya segelintir dilakukan, bukan keseluruhan penikmat melakukannya.

Sementara kritikus sastra merasa (tarumuak) tersinggung dengan dihilangkannya porsi kritikus dalam menandai karya yang baik. Itulah makanya saya bilang bahwa konsep penilaian karya sastra yang baik itu harus dirembukkan. Sehingga, pertanyaan-pertanyaan seperti “apa dasar penilaian karya sastra itu dikatakan baik?” akan dapat dijawab.–semestinya.

Popularity: 12%

SURAT TERBUKA PENGUNDURAN DIRI FAISAL KAMANDOBAT DARI PENA KENCANA AWARD

Monday, March 3rd, 2008

Di bawah ini, saya postingkan sebuah surat terbuka yang berkaitan dengan Pena Kencana Award. Surat ini sendiri dikirim oleh Dwicipta dan disebarkan lewat millis-millis Sastra di tanah air. Inti yang disesalkan Faisal Kamandobat juga saya pribadi adalah penentuan karya sastra yang bermutu lewat polling SMS. Entah, apakah Pena Kencana lagi demam kuis-kuisan SMS yang sekarang sering bermunculan di layar kaca. Saya masih percaya bahwa menilai sastra bukan dari banyaknya SMS yang masuk melainkan dari kritik sehat yang mengupas ataupun menganalisa karya sastra tersebut.

Bagi yang ingin menyebarluaskan surat ini ataupun yang ingin bertanya lebih jauh seputar pengunduran diri Faisal Kamandobat, diharapkan menghubungi saudara Dwicipta (081392783001) atau Faisal Kamandobat (081804823841) atau lewat email dwicipta1977@yahoo.com

(more…)

Popularity: 24%

LP Menuju Layar Lebar

Monday, March 3rd, 2008

Laskar Pelangi mau diangkat ke layar lebar. Bagaimana anda punya usul, saran, atau harapan tentang film layar lebar Laskar Pelangi? Atau sekadar ingin tahu perkembangan pembuatannya? Atau penasaran kapan tayangnya? Eiiit, jangan dijawab di sini ya. Tetapi:

Hadiri “Laskar Pelangi Menuju Layar Lebar” di Islamic Book Fair Jakarta dengan Pembicara: Andrea Hirata dan Mira Lesmana. Hari Kamis, 6 Maret 2008 pukul 16.00-18.00 WIB bertempat di Panggung Utama Islamic Book Fair, Gedung Istora Senayan.

HARGAI KARYA CIPTA MANUSIA, JANGAN BELI BUKU BAJAKAN!

(Sumber dari Millis Apresiasi Sastra)

Popularity: 13%

Peluncuran Buku Anugerah Sastra Pena Kencana

Monday, March 3rd, 2008

Berita terbaru dari Pena Kencana Award!

(more…)

Popularity: 13%