You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Masih Tentang Pena Kencana Award
Pro kontra seputar penghargaan Pena Kencana Award memang perlu didudukkan. Di satu sisi, penghargaan terhadap penulis maupun pengarang memang layak untuk dipelihara terus atau diadakan terus. Tetapi, ada aspek yang mesti dibahas lebih mendalam terkait dengan pemakaian strategi SMS sebagai penilaian karya sastra yang baik itu.
Lantas dimanakah letak kritikus sastra?
Mungkin, fungsi kritikus tidaklah lagi menggigit pasca HB. Jassin dkk. Itulah mengapa dipilih SMS sebagai jalan siapa yang berhak mendapatkan predikat terbaik itu. Hal ini disinyalir juga sebagai respon demokrasi dan humanisme karena dengan SMS ria, para pe-SMS (alias penikmat karya sastra) merasa diikutsertakan dalam memilih karya terbaik.
Tentunya hal ini relatif. Di Lentera Susastra ketika postingan karya-karya terbaik versi Pena Kencana Award, ada yang menanyakan dimana penikmat bisa membaca sekali lagi karya-karya tersebut. Tentunya, kita tidak mau munafik dengan mengatakan metode Jassin terus dipakai yaitu mengkliping setiap karya sastra koran. Ada yang masih memakai metode itu, dan saya pikir metode itu sangatlah baik, tetapi hanya segelintir dilakukan, bukan keseluruhan penikmat melakukannya.
Sementara kritikus sastra merasa (tarumuak) tersinggung dengan dihilangkannya porsi kritikus dalam menandai karya yang baik. Itulah makanya saya bilang bahwa konsep penilaian karya sastra yang baik itu harus dirembukkan. Sehingga, pertanyaan-pertanyaan seperti “apa dasar penilaian karya sastra itu dikatakan baik?” akan dapat dijawab.–semestinya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.