You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA
Satu lagi, polemik yang tengah menghangat (dihangatkan?) dalam Sastra Indonesia. Ini adalah tulisannya Yonathan Raharjo yang dikutip dari millis Sastra Pembebasan. Tentang kudeta?
Rabu 12 Maret 2008, saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA yang dilakukan para aktivis sastra di internet yang sebagai pembicara mestinya mampu secara arif memaparkan perjalanannya. Acara itu diselenggarakan oleh Teater Utan Kayu yang semula mengundang Akmal Nasery Basral dan Hasan Aspahani sebagai pembicara, namun karena suatu hal Hasan diganti Mikael Johani dan Cunong Nunuk Suraja.
Sebagai moderator, Anya Rompas tidak memberikan waktu yang sama pada 3 pembicara. Bahkan terkesan tidak mengakomodasi ke 3 pembicara secara sama kuat.
Pembicara Cunong Nunuk Suraja tidak punya kesempatan luas untuk membicarakan tesisnya. Bahkan contoh-contoh puisi digital yang diteliti hampir tidak ditunjukkan sama sekali sampai akhir acara. Di akhir acara, saat sesi tanya jawab hampir usai, saya sebagai penanya pun minta Cunong untuk menunjukkan dan memutar CD sastra digital anak-anak cybersastra tahun 2002-an, bahwa yang dicontohkan oleh Pembicara Akmal Nasery Basral dengan puisi-puisi digital dari luar negeri sudah dibuat oleh anak-anak cybersastra tahun 2002-an ini.
Dengan berbagai bahan, referensi dan contoh-contoh tayangan yang disampaikan, Akmal seolah menjadi pelegitimasi bagaimana sebetulnya sastra cyber itu. Padahal yang dicontohkan Akmal Nasery Basral dengan sastra digital luar negeri, tak beda dengan apa yang dilakukan secara lebih sederhana oleh anak-anak cybersastra itu. Bedanya, yang comotan luar negeri itu hanya lebih punya keseriusan dengan musik, dan lain-lain efek.
Sebetulnya sastra digital-nya versi Akmal ini pun tak ada hubungannya sama sekali dengan internet. Sama halnya dengan sastra ‘power point’ yang dibuat anak-anak cybersastra itu. Hanya karena puisi-puisi digital itu dipublikasikan lewat internet dan dinikmati khalayak, maka Akmal menyebut bahwa hal semacam inilah yang sesungguhnya merupakan sastra cyber itu, sedangkan yang dilakukan teman-teman yang mengaku sebagai cyborg-cyborg itu hanyalah memindahkan bahan tulisan sastra pada media internet, sekedar media.
Tudingan Mikail Johani bahwa anak-anak cybersastra hanya sebatas menggunakan media internet sebagai media sosiliasi saja dan media perlawanan terhadap sastra cetak, bahkan menganggap Saut cs tidak mampu membuat puisi digital macam yang ditunjukkan oleh Akmal dengan contoh dari luar negeri, juga contoh-contoh puisi cyber yang dibuat oleh Mikail adalah sebuah contoh betapa tidak terakomodirnya tesis Cunong untuk meraih S2 Sastra Indonesia di UI yang pengujinya Prof Dr Sapardi Djoko Damono.
Tudingan bahwa sastra cyber masih terbatas untuk sosialisasi dan sekedar memindahkan sastra tulis di media internet adalah tudingan serius yang telah mengebiri pergerakan sastra digital yang dilakukan oleh anak-anak cyber yang mengklaim dirinya sebagai cyborg-cyborg, yang sayang diuraikan oleh Cunong sebagai mengalami stagnasi, tidak melanjutkan apa yang dilakukan dengan puisi digital metode power point yang dilakukan oleh Nanang Suryadi, Asep Sambodja, TS Pinang, Sihar Ramses Simatupang dll yang sampai acara selesai hampir tak ditampilkan oleh Cunong Nunuk Suraja.
Sangat lain dengan apa yang dipamerkan oleh Mikail Johani dan Akmal Nasery Basral yang begitu leluasa memamerkan karya-karya yang mereka bawa, keteledoran presentasi Cunong Nunuk Suraja mestinya menyadarkan bahwa:
Bila pelaku sastra digital awal Indonesia tidak segera menyadari ada pandangan yang betul-betul meremehkan mereka (apalagi dengan pernyataan-pernyataan Mikael Johani yang tendensius tidak mengakui kemampuan Saut Situmorang dkk dalam membuat sastra digital selain sebagai media perlawanan terhadap hegemoni sastra koran), maka… Semakin jelas sebetulnya dugaan, skeptisime, atau kekhawatiran atau ramalan yang muncul akan adanya politik sastra di acara itu akan betul-betul terjadi, bukanlah hal yang mengada-ada. Apalagi ternyata Mikail Johani sendiri yang pada awal beredarnya undangan acara Teater Utan Kayu (TUK) ini membela habis-habisan Saut Situmorang untuk jadi pembicara di acara itu ternyata malah berbalik melecehkannya di acara itu.
Cunong pun mestinya punya daya tawar untuk terfokus pada tesisnya dan contoh puisi digital karya anak-anak cybersastra itu, bukan malah mengobral cerita kurang sedap tentang sejarah milis penyair dengan yayasan multimedia sastra, milis sastra pembebasan. Padahal kisah kelabu ini kaitannya dengan sastra digital/ sastra cyber hanyalah dalam hal perilaku konsistensi untuk berkarya oleh para anak yang mengaku sebagai cyborg-cyborg yang bahkan oleh Mikail Johani semula juga disanjungkan kepada mereka sebelum ia bersama Cunong Nunuk Suraja jadi pembicara menggantikan Hasan Aspahani.
Apakah diskusi semalam ini benar-benar merupakan langkah awal bagi TUK untuk memulai legitimasi sastra digital, sastra cyber dengan menumbangkan cyborg-cyborg awal di Indonesia? Dengan segala kelebihan dan kekurangan disertai komentar-komentarnya yang gegabah, ketiga pembicara mengukuhkan diri punya dosa karena masih mencampuradukkan dua kejadian sastra internet selama ini antara:
Dapatkah Anda cari, di mana letak kudeta itu?
Ragunan, 13 Maret 2008
Yonathan Rahardjo
(Millis Sastra Pembebasan)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 10 komentar untuk artikel ini.
Tukang Nongkrong
Ho..ho..Saya terhanyut. Menurut kami Sastra Cyber adalah bentuk perlawanan ketika sastra mulai dikuasai oleh elitisme sastrawan. Media pun sekarang lebih melihat pada prestise, bukan pada karya sastranya.
Salam
TB
March 18th, 2008 at 5:53 am
mikael johani
kalo mau kutip2 kutip yg lengkap, kutip juga dong balesan2 gue utk komen ngawur yonathan rahardjo ini, ada di apsas@yahoogroups.com
March 25th, 2008 at 3:28 pm
Ki Harsono Siswocarito
Ini memang tahap awal sastramaya (cyberliterature) di Indonesia. Belum tereksplorasi sepenuhnya mediamorfosis dari sastra tulis menuju sastra elektronis.
Kutunggu karya-karya
Para pujanggamaya
Indonesia
Trims
April 1st, 2008 at 6:37 pm
Yonathan Rahardjo
KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA (2)
Menjawab pertanyaan Akmal Nasery Basral yang menanggapi tulisan
saya `KUDETA SASTRA CYBER DI INDONESIA’ bahwa mengapa saya sendiri
pada acara yang diselenggarakan Teater Utan Kayu Rabu 12 Maret 2008
juga tidak memanfaatkan kesempatan bertanya/membantah dengan baik,
saya menyampaikan bahwa sayalah yang meminta seolah memaksa
Pembicara Cunong Nunuk Suradja menunjukkan CD dan memutar CD dalam
Cyberpuitika: Antologi Puisi Digital (2002) yang diproduksi Yayasan
Multimedia Sastra (YMS) agar diketahui hadirin.
Hal itu terjadi pada ujung acara pada kesempatan terakhir sesi tanya
jawab. Maka, dua puisi digital pun diputar dengan gagap oleh Cunong,
Pembicara Mikael Johani dan baru jalan setelah Moderator Gratiagusti
Chananya Rompas menjalankan puisi digital berprogram Microsoft
PowerPoint itu. Dua puisi digital itu jalan setengah hati, dan
selesailah acara itu. Maka penggambaran puisi digital karya Yayasan
Multimedia Sastra (YMS) pada 2002 itu pun tidak sanggup memberi
gambaran yang sepadan dengan berbagai penayangan puisi digital
Pembicara Akmal Nasery Basral dan Mikael Johani. Permintaan saya
untuk diputarnya lagi puisi-puisi digital karya YMS itu membentur
tembok waktu, sebagian peserta pulang karena acara memang segera
ditutup oleh moderator.
Munculnya tulisan saya sebagai kesaksian saya pada pada Rabu 12
Maret 2008 mempunyai dasar yang sama dengan berbagai komentar orang
lain yang telah muncul di milis-milis sebelum komentar saya ini saya
posting di milis yang berarti buat saya sebagai anggota yaitu Milis
Penyair, Milis Sastra Pembebasan dan Milis Apresiasi Sastra. Acara
yang undangannya juga menyebar di berbagai milis itu menunjukkan
bahwa acara itu adalah acara terbuka, yang gaung pergulatan saat
diskusi boleh diikuti oleh siapapun, bukan hanya pada saat acara
berlangsung namun juga pada berbagai perbincangan di milis-milis
sastra dengan berbagai komentar dan saksi mata acara.
Tulisan saya `KUDETA SASTRA CYBER DI INDONESIA’ yang mendapat
tanggapan dari Akmal Nasery Basral, menunjukkan Akmal selaku
pembicara pada acara diskusi di Teater Utan Kayu 12-Maret-2008 betul-
betul mempertanggungjawabkan makalah tulisannya sekaligus
presentasinya. Saya pun merasa mendapat kehormatan oleh Jurnalis,
Novelis, dan mantan Moderator Milis Apresiasi Sastra.yang teman saya
yang pandai ini, yang tidak saya ragukan integritasnya untuk
membahas materi-materi bidang atau ilmu yang dikuasainya di dunia
sastra secara intelektual, ilmiah dan referensial, meskipun di
lingkungan sekitar eksternalnya ada atmosfir politik dan pihak yang
akan memanfaatkannya untuk kepentingan politik sastra.
Bagi saya cukup jelas bahwa dengan pernyataan dan pertanyaan Akmal
tentang sastra cyber yang disebutnya sebagai sastra elektronik
(sasel) di Indonesia dari tulisannya berjudul `PUTRI DUYUNG YANG
MERONTA: TINJAUAN AWAL TERHADAP SASTRA ELEKTRONIK INDONESIA’ adalah
merupakan sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA dalam arti
hendak menggulingkan pemaknaan sastra cyber/ elektronik yang sudah
dikenal selama ini, yang dianggapnya salah kaprah, dengan
menggantikannya dengan pemaknaan yang lebih berdasar pada referensi-
referensi lebih luas dalam makalahnya itu.
Pada tulisannya itu, Akmal menulis, “Dengan melihat sekilas
perjalanan sejarah sasel di atas yang sesungguhnya jauh lebih rumit
dalam praktiknya — karena setidaknya ada delapan genre sasel yang
disepakati para kritikus– maka sajak-sajak “sastra internet” (….)
bisa kita kaji lagi dengan lebih tenang, apakah memang karya-karya
seperti itu mewakili karakter karya sasel yang sesungguhnya?”
Lalu ia memaparkan `Lima Ciri Sasel Indonesia’. Setidaknya dari lima
ciri itu (seperti kutipan-kutipan dari tulisannya) adalah:
1….. biasanya melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan
navigasi hyperlink ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih
maju. Sehingga Internet, dalam banyak mailing-list sastra Indonesia,
baru difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai media publikasi dan
distribusi,…
2….. minimnya keterlibatan komunitas kampus dalam mendirikan pusat-
pusat kajian media digital. …
3….. tidak terdeteksinya minat para akademisi, ….
4….. “catastrophe-driven”. ….
5….. kecenderungan para penggemar sasel, melalui mailing-list
masing-masing, untuk menerbitkan sebuah antologi karya anggota. ….
Akmal pun mengutip perkataan Veven Sp. Wardhana, “Maknanya, harus
ada kreativitas untuk menyiasati media yang berbeda. Dalam bahasa
Faruk, sastra di internet harus berbeda dengan sastra cetak yang
konvensional karena medianya juga berlainan. Yang ada selama ini
sebatas memindahkan sastra cetak ke sastra internet. “Seolah sastra
di internet sekadar merupakan eskapisme atau pelarian sastra
konvensional yang tak lolos sensor redaksi media cetak,” simpul
simpel catatan saya pribadi.”
Lalu, Akmal Nasery Basral berpendapat, “Yang berpotensi menghambat
perkembangan sasel justru klaim menggebu-gebu dari pihak tertentu
yang merasa sebagai “orang tua” paling sah terhadap “anak kandung”
sastra dan teknologi ini, entah dari kubu pendukung sastra atau
penyanjung teknologi.”
Akhirnya, dalam makalahnya, ia berharap, “Semoga para penggiat sasel
di Indonesia terbebas dari narsisisme seperti ini, mengingat usia
sasel yang masih sangat muda, begitu muda sehingga mayoritas rakyat
Indonesia boleh jadi belum tahu bahwa sasel sudah hadir di bumi
pertiwi.”
Pada acara itu, Akmal pun mencontohkan sastra digital luar negeri,
yang sebetulnya tak beda dengan apa yang dilakukan secara lebih
sederhana oleh anak-anak cybersastra YMS 2002 itu. Bedanya, yang
comotan luar negeri itu hanya lebih punya keseriusan dengan musik,
dan lain-lain efek.
Sebetulnya sastra digital-nya versi Akmal ini pun tak ada
hubungannya sama sekali dengan internet. Sama halnya dengan
sastra ‘power point’ yang dibuat anak-anak cybersastra itu. Hanya
karena puisi-puisi digital itu dipublikasikan lewat internet dan
dinikmati khalayak, maka Akmal menyebut bahwa hal semacam inilah
yang sesungguhnya merupakan sastra cyber itu, sedangkan yang
dilakukan teman-teman yang mengaku sebagai cyborg-cyborg itu
hanyalah memindahkan bahan tulisan sastra pada media internet,
sekedar media.
Di satu sisi ada upaya Akmal Nasery Basral untuk mengajak para
hadirin untuk `kembali ke jalan yang lurus’ tentang hakekat sastra
cyber, namun di sisi lain pada contohnya sendiri terdapat
keterbatasan karena contoh itu pun cuma menampilkan tampilan yang
dapat dibuat dengan metode program semacam “Microsoft Power Point”,
yang tanpa internet pun sebetulnya dapat dinikmati. Halnya program
itu dinikmati lewat internet, internet sendiri hanya berfungsi
sebagai media distribusi semata.
Kelemahan Akmal disambut oleh Mikael Johani dengan menunjukkan
adanya hiperlink-hiperlink pada karya-karyanya, yang dapat
menghubungkan text sastra dan tampilannya dengan situs-situs atau
program lain yang ia kaitkan, hanya dengan memanfaatkan internet,
betul-betul memanfaatkan dunia cyber di jagad internet. Mikael
Johani pun menunjukkan karya-karyanya yang lain, yang bervariasi
dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas dalam internet dengan
berbagai modifikasi digabungkan dengan teks sastra yang semata-mata
menjadi salah satu bahan untuk sebuah karya lain yang bersifat
multimedia. (Soal hyperlink itu, pada Antologi Puisi Digital YMS
2002, karya TS Pinang sudah menggunakan metode ini, sehingga karya
puisi digitalnya tidak bakalan bisa dinikmati kalau tidak dibaca
pada komputer).
Pada suatu sesi, Mikael Johani pun mempertanyakan kemampuan Saut
Situmorang dalam membuat sastra digital dengan berbagai metode
seperti yang ia lakukan, selain hanya sebagai media perlawanan
terhadap hegemoni sastra koran. Padahal, Mikael sendiri pada awal
beredarnya undangan acara di TUK ini membela habis-habisan Saut
Situmorang untuk jadi pembicara di acara itu karena perannya sebagai
cyborg dalam konteks sejarah muncul cybersastra, cyberpuitika, dan
puisi digital, sastra dunia maya bersama kawan-kawannya.
Di sini dapat dirasakan pola pikir yang ada pada pembicara, bahwa
keberadaan sastra cyber di Indonesia yang dikenal selama ini tidak
berada `di jalan yang bernar’. Sehingga oleh karenanya harus
diluruskan, alias DIKUDETA, digulingkan. Bahkan, terhadap kenyataan
sejarah sosialisasinya, lantaran pada acara itu muncul penolakan
terhadap klaim dari para pelaku awal cybersastra di Indonesia yang
melahirkan Antologi Puisi Digital 2002. Sekali lagi, di sini, Akmal
Nasery Basral berpendapat, “Yang berpotensi menghambat perkembangan
sasel justru klaim menggebu-gebu dari pihak tertentu yang merasa
sebagai “orang tua” paling sah terhadap “anak kandung” sastra dan
teknologi ini, entah dari kubu pendukung sastra atau penyanjung
teknologi. Semoga para penggiat sasel di Indonesia terbebas dari
narsisisme seperti ini..” Dan, hal ini dengan kompak diamini baik
oleh Pembicara Mikael Johani maupun Pembicara Cunong Nunuk Suradja,
tampak dari komentar dua pembicara selain Akmal di forum ini.
Pembicara Cunong Nunuk Suradja sebagai salah satu pelaku sejarah di
YMS malah tidak memberikan kesaksian yang berarti terhadap
perjalanan para cyborg dalam konteks sastra cyber di Indonesia.
Kesaksian Cunong adalah kesaksian tentang berbagai kekurangan para
cyborg dan karya-karyanya serta perilaku individu-individunya, yang
membawa pembahasan sastra cyber yang ditekuninya bahkan hingga
mencapai S2 menjauh dari kenyataan yang heroik. Padahal para pelaku
awal sastra cyber itu telah mengalami berbagai penganiayaan terhadap
proklamasi kehadirannya, di antaranya ketika Mei 2001 diluncurkan
Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001),
Sutardji Calzoum Bachri mengkritik keras mutu sajak-sajak dalam
Graffiti Gratitude dan Ahmadun Yosi Herfanda mengiaskan puisi cyber
produksi YMS ini sebagai tong sampah.
Memang sastra cyber yang telah dicetak di atas kertas ini telah
menjadi sastra cetak, bukan lagi sastra cyber. Namun perlu diingat,
karya sastra ini semula adalah karya yang hanya bisa dinikmati di
internet karena ditulisnya memang langsung di internet. Pada saat
terpambang di internet, bukankah itu merupakan suatu karya
internet. Sama halnya klaim menyedihkan Triyanto Triwikromo Direktur
Program Anugerah Sastra Pena Kencana dalam pendahuluan buku Anugerah
Sastra Pena Kencana bahwa “… tak bisa dipungkiri betapa sastra
hari ini adalah cerpen dan puisi uang dimuat di surat kabar yang
telah ditentukan.” Apakah setelah dibukukan dalam buku antologi itu
cerpen dan puisi tadi tidak boleh disebut sebagai sastra koran?
Nyatanya toh dalam buku itu masih disebut sebagai sastra koran! Maka
apa salahnya meski sudah dicetak dalam bentuk buku antologi maka
karya-karya yang semula ada di internet itu tetap disebut sebagai
sastra internet, cyber sastra?
Bagaimana proses berkarya sastra di internet sehingga menghasilkan
puisi, cerpen dan lain-lain itu? Apa tidak pernah merasakan
bagaimana suatu puisi bisa langsung dibuat oleh lebih dari satu
orang secara berbalas-balas dengan media internet? Mana ada sastra
koran yang dapat dibuat dalam waktu sekejap secara bersama-sama
untuk mendapatkan kedalaman rasa yang tercipta dalam kata di layar
monitor, meski orangnya sangat berjauh-jauhan tempatnya? Apa tidak
pernah merasakan betapa dahsyat kata dalam layar monitor yang
tersambung melalui internet itu? Apa tidak cukup hal ini menjadi
suatu prasyarat untuk sebuah karya sastra sebagai suatu karya sastra
internet, sastra cyber?
Yang paling utama dari lima ciri sastra elektronik Indonesia yang
dikritisi Akmal Nasery Basral agar sanggup TERKUDETANYA sastra cyber
Indonesia yang ada sejauh ini, menurut saya adalah ciri pertama
bahwa “…. biasanya melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan
navigasi hyperlink ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih
maju. Sehingga Internet, dalam banyak mailing-list sastra Indonesia,
baru difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai media publikasi dan
distribusi,…” Artinya, sastra cyber menurut Akmal adalah tidak
melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan navigasi hyperlink
ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih maju. Sehingga,
internet tidak hanya difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai
media publikasi dan distribusi, terutama seperti dalam dalam banyak
milis sastra Indonesia.
Bila merasakan sendiri bagaimana membuat puisi atau cerpen secara
berbalas dalam milis sastra, maraton tanpa kenal lelah mengatasi
kejauhan benua dan samudera, dalam milis, yang tidak bakal bisa
tergantikan dengan koran….. Bila merasakan bagaimana suatu kata
muncul dengan ajaib di milis sastra, ditulis oleh orang yang tidak
pernah kita lihat wajah dan sosoknya. Lalu saling berjawab dan
saling berangkulan dalam kata, membentuk suatu susunan karya sastra
yang luar biasa…. Apakah itu berarti Internet, dalam banyak
mailing-list sastra Indonesia, baru difungsikan sebatas pada
fungsinya sebagai media publikasi dan distribusi? Jelas, bukan hanya
publikasi dan distribusi! Dalam batasan sastra sebagai suatu karya
tulis, sastra, tulisan, syarat ini sudahlah cukup mengukuhkannya
sebagai suatu karya sastra internet. Karya sastra cyber! Bukan
sekedar memindahkan teks ke media internet tanpa suatu nyawa.
Rasakanlah setiap huruf dan kata berloncatan indah menjadi tulisan,
sastra, yang bernyawa, dapat dimanfaatkan oleh milyaran manusia jika
mau membuatnya bersama untuk sebuah puisi misalnya, pada waktu
bersamaan. Ada ketidakn terbatasan di sini, sebagai syarat minimal
sebuah sastra cyber.
Mau diperkaya dengan hyperlink-hyperlink ala Storyspace, lexia yang
mengedepankan dominasi teks dengan tampilan grafis, animasi, dan
musik yang terbatas yang umumnya menggunakan program hypertext
Storyspace, dan dilengkapi fitur-fitur yang lebih maju?
Lahir digital diciptakan melalui komputer dan dibaca juga melalui
layar komputer, memanfaatkan kode-kode komputasi atau peranti lunak
yang lebih canggih, baik dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan
orang lain?
Perkawinan sastra dan teknologi?
Texton (string yang dibaca mesin sebagai teks) yang mengalami proses
kalkukasi menjadi scripton (string yang muncul di layar pembaca
sebagai teks)?
Bertumpu pada teks, musik, dan sekuens waktu (berperan
sebagai “konduktor” yang mengatur harmonisasi teks dan musik),
dengan faktor pelengkap animasi dan perubahan warna yang sesekali
muncul?
Berbasis struktur link?
Menjadikannya sebagai hypertext sebagai perlawanan terhadap dominasi
teks cetak dengan mempunyai lebih banyak pilihan untuk menuntaskan
pembacaan halaman atau mengikuti navigasi lain?
Mengikuti program-program penciptaan baru yang lebih maju dibanding
Storyspace?
Dokumen audio visual lewat peranti lunak QuickTime?
Bukan hanya muncul sebagai karya tersendiri, melainkan memberikan
kontribusi bagi pengembangan konsep lexia yang disebut sebagai
perplexia yaitu hibrida antara bahasa dengan ekspresi bahasa
pemrograman yang menghasilkan kata-kata dengan makna yang bisa
dipahami dalam bahasa Inggris, namun dalam bentuk penulisan broken
code seperti exe.change, exe.streams atau kombinasi portmanteau
seperti remotional dari remote dan emotional?
Perpindahan dari zaman hypertext ke cybertext dengan mencipta karya-
karya fiksi interaktif?
Menggabungkan kekayaan dunia literasi dengan aspek hiburan permainan
digital?
Tak lagi berpuas diri hanya menyajikan ruang virtual melainkan
menghadirkan langsung ruang tiga dimensi yang sesungguhnya atau
kombinasi keduanya hingga mendapatkan pemahaman baru terhadap teks
naratif yang menyelinap keluar dari layar komputer?
Mengikut sertakan pembaca online di depan layar komputer yang tidak
berada di lokasi untuk memantau gerak partisipan, memberi petunjuk
tambahan untuk membantu, atau menipu peserta di lapangan?
Semua pertanyaan itu adalah untuk sebuah kelanjutan dari sastra
cyber di Indonesia yang secara paling sederhana sudah dimulai dengan
sastra internet maupun sastra digital seperti yang dilakukan oleh
para cyborg dalam konteks ini.
Mau menghapus langkah awal ini karena langkah ini hanya dianggap
sebagai pre hyper text karena hanya memindahkan text ke media
internet hanya untuk distribusi dan publikasi, lantas mengabaikan
langkah interaktif dalam proses berkarya sastra di internet?
Mau mengabaikan karya-karya yang sudah memanfaatkan hyperlink-
hyperlink ala Storyspace, lexia yang mengedepankan dominasi teks
dengan tampilan grafis, animasi, dan musik yang terbatas yang
umumnya menggunakan program hypertext Storyspace, dan dilengkapi
fitur-fitur yang lebih maju yang semua itu lahir digital diciptakan
melalui komputer dan dibaca juga melalui layar komputer,
memanfaatkan kode-kode komputasi atau peranti lunak yang lebih
canggih, baik dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan orang lain?
Dua alinea terakhir di atas sebetulnyalah sudah dilakukan oleh para
cyborg dalam konteks ini. Mau dikembangkan lagi dengan yang lebih
canggih, itulah harapan kita. Hanya karena mereka tidak segencar
dulu lagi, maka kini muncul kesempatan untuk MENGKUDETA dan seolah-
olah mengatakan bahwa mereka sebetulnya tidak tepat dalam klaimnya.
Itu sama saja mengartikan, mereka tidak ada dalam sejarah
cybersastra Indonesia, seperti halnya yang dilakukan oleh HB Jassin
yang tidak pernah mencatat adanya Sastra Lekra sebab dari Sastra
Angkatan 45 langsung loncat Sastra Angkatan 66.
Adapun saya sendiri di sini, melanjutkan tradisi menulis secara
tradisonal di media cetak ke media internet yang saya kenal 1997
dengan partisipasi paling aktif sejak 1998-1999 di Milis Lingkungan
lalu Milis Jawa, selanjutnya menjadi saksi dari peran teman-teman
Cybersastra yang berjaya pada 2001, 2002, 2003 itu setelah kenal
Milis Penyair tentang sastra yang punya sejarah bagi saya sebagai
partisipan, lalu Sastra-Pembebasan dan Apresiasi-Sastra. Saya
merasakan proses bersastra-cyber di sana yang saya rasakan sangat
memperkarya untuk berkarya sastra berdampingan dengan media cetak.
Saya tidak ikut dalam Cyberpuitika: Antologi Puisi Digital (2002)
maupun Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001),
namun saya mengakui keberadaan mereka, para cyborg sederhana itu.
Maka …. saya memaksa Cunong Nunuk Suradja untuk memutar puisi
digital karya cyborg-cyborg itu di depan hadirin pada diskusi di
Komunitas Utan Kayu yang oleh Akmal Nasery Basral sendiri juga
dikritik beberapa kali, ditujukan kepada Nirwan Dewanto dan Hasif
Amini: “For Being Ignorance Buat Tema Sepenting Ini.” Mengapa kritik
itu ditujukan kepada Nirwan dan Hasif, kita tahu lantaran mereka
bagian dari suatu sistem yang sanggup mempengaruhi opini publik
secara intensif dengan infrastruktur yang dimiliki terutama dengan
sastra korannya, bukan sastra internet, yang kita tidak tahu di mana
mereka berada saat sastra cyber Indonesia memulai pergerakannya
namun tampak mulai sadar betapa kuat sesungguhnya sastra cyber ini,
jauh melebihi atau apalagi bila disandingkan dengan sastra cetak.
Bila makna sastra cyber Indonesia betul-betul TERKUDETA dengan
segala bentuk manifestasi yang mengikutinya, semulia apapun tujuan
pembahasannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, secara
sadar atau tidak sadar para pembicara acara malam itu punya andil
dalam KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA.
Warung Buncit, 14 Maret 2008
Yonathan Rahardjo
April 2nd, 2008 at 7:58 pm
Arif Irfan
Saya kira wajar apabila pada era sekarang bermunculan sastra cyber. Sastra tidak akan pernah lepas dari zaman dia dihasilkan. Perubahan IT sekarang ini tentu juga berpengaruh terhadap sastra.
Dulu ada namanya folklor, sastra antologi, sastra koran, dan kini kita jumpai sastra cyber. Bukankah setiap “hal baru” dalam kancah kesusastraan selalu dipolemikkan.
April 11th, 2008 at 9:48 pm
sayyid
Benar sekali bung Arif Irfan. Hanya saja, entah kenapa polemik ini rasanya sungguh tak pernah menghasilkan sesuatu apa…
April 13th, 2008 at 4:18 pm
Arif Irfan
menurut saya dengan memolemikkan justru semakin membantu sastra cyber menemukan jati dirinya. “Kritik” dan “pembelaan” saling yang berterbangan baik di dunia maya, buku dan seminar akan menguatkan sastra cyber. Baca buku “Polemik Sastra Cyber Punk” karya Bang Sitorsitumorang dan “Sastra yang Malas” karya Mas Doni Anggoro, di sana banyak sekali masalah yang justru semakin mempertegas kedudukan sastra cyber. Bravo…
April 14th, 2008 at 12:59 pm
Uzi
Bang Yonathan, Kalau boleh tanya, apakah ada ukuran yg baku, sebuah karya dapat dikatakan bermutu atau tidak, sastra atau populer?
April 22nd, 2008 at 12:12 pm
Arif Irfan
Kanon Sastra, antara harapan dan kenyataan.
April 22nd, 2008 at 4:44 pm
Uzi
Sepi-sepi…
May 10th, 2008 at 11:10 am