You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA

KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA

sayyid — March 14, 2008 / 10:49 pm

Satu lagi, polemik yang tengah menghangat (dihangatkan?) dalam Sastra Indonesia. Ini adalah tulisannya Yonathan Raharjo yang dikutip dari millis Sastra Pembebasan. Tentang kudeta?

Rabu 12 Maret 2008, saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA yang dilakukan para aktivis sastra di internet yang sebagai pembicara mestinya mampu secara arif memaparkan perjalanannya. Acara itu diselenggarakan oleh Teater Utan Kayu yang semula mengundang Akmal Nasery Basral dan Hasan Aspahani sebagai pembicara, namun karena suatu hal Hasan diganti Mikael Johani dan Cunong Nunuk Suraja.

Sebagai moderator, Anya Rompas tidak memberikan waktu yang sama pada 3 pembicara. Bahkan terkesan tidak mengakomodasi ke 3 pembicara secara sama kuat.

Pembicara Cunong Nunuk Suraja tidak punya kesempatan luas untuk membicarakan tesisnya. Bahkan contoh-contoh puisi digital yang diteliti hampir tidak ditunjukkan sama sekali sampai akhir acara. Di akhir acara, saat sesi tanya jawab hampir usai, saya sebagai penanya pun minta Cunong untuk menunjukkan dan memutar CD sastra digital anak-anak cybersastra tahun 2002-an, bahwa yang dicontohkan oleh Pembicara Akmal Nasery Basral dengan puisi-puisi digital dari luar negeri sudah dibuat oleh anak-anak cybersastra tahun 2002-an ini.

Dengan berbagai bahan, referensi dan contoh-contoh tayangan yang disampaikan, Akmal seolah menjadi pelegitimasi bagaimana sebetulnya sastra cyber itu. Padahal yang dicontohkan Akmal Nasery Basral dengan sastra digital luar negeri, tak beda dengan apa yang dilakukan secara lebih sederhana oleh anak-anak cybersastra itu. Bedanya, yang comotan luar negeri itu hanya lebih punya keseriusan dengan musik, dan lain-lain efek.

Sebetulnya sastra digital-nya versi Akmal ini pun tak ada hubungannya sama sekali dengan internet. Sama halnya dengan sastra ‘power point’ yang dibuat anak-anak cybersastra itu. Hanya karena puisi-puisi digital itu dipublikasikan lewat internet dan dinikmati khalayak, maka Akmal menyebut bahwa hal semacam inilah yang sesungguhnya merupakan sastra cyber itu, sedangkan yang dilakukan teman-teman yang mengaku sebagai cyborg-cyborg itu hanyalah memindahkan bahan tulisan sastra pada media internet, sekedar media.

Tudingan Mikail Johani bahwa anak-anak cybersastra hanya sebatas menggunakan media internet sebagai media sosiliasi saja dan media perlawanan terhadap sastra cetak, bahkan menganggap Saut cs tidak mampu membuat puisi digital macam yang ditunjukkan oleh Akmal dengan contoh dari luar negeri, juga contoh-contoh puisi cyber yang dibuat oleh Mikail adalah sebuah contoh betapa tidak terakomodirnya tesis Cunong untuk meraih S2 Sastra Indonesia di UI yang pengujinya Prof Dr Sapardi Djoko Damono.

Tudingan bahwa sastra cyber masih terbatas untuk sosialisasi dan sekedar memindahkan sastra tulis di media internet adalah tudingan serius yang telah mengebiri pergerakan sastra digital yang dilakukan oleh anak-anak cyber yang mengklaim dirinya sebagai cyborg-cyborg, yang sayang diuraikan oleh Cunong sebagai mengalami stagnasi, tidak melanjutkan apa yang dilakukan dengan puisi digital metode power point yang dilakukan oleh Nanang Suryadi, Asep Sambodja, TS Pinang, Sihar Ramses Simatupang dll yang sampai acara selesai hampir tak ditampilkan oleh Cunong Nunuk Suraja.

Sangat lain dengan apa yang dipamerkan oleh Mikail Johani dan Akmal Nasery Basral yang begitu leluasa memamerkan karya-karya yang mereka bawa, keteledoran presentasi Cunong Nunuk Suraja mestinya menyadarkan bahwa:

Bila pelaku sastra digital awal Indonesia tidak segera menyadari ada pandangan yang betul-betul meremehkan mereka (apalagi dengan pernyataan-pernyataan Mikael Johani yang tendensius tidak mengakui kemampuan Saut Situmorang dkk dalam membuat sastra digital selain sebagai media perlawanan terhadap hegemoni sastra koran), maka… Semakin jelas sebetulnya dugaan, skeptisime, atau kekhawatiran atau ramalan yang muncul akan adanya politik sastra di acara itu akan betul-betul terjadi, bukanlah hal yang mengada-ada. Apalagi ternyata Mikail Johani sendiri yang pada awal beredarnya undangan acara Teater Utan Kayu (TUK) ini membela habis-habisan Saut Situmorang untuk jadi pembicara di acara itu ternyata malah berbalik melecehkannya di acara itu.

Cunong pun mestinya punya daya tawar untuk terfokus pada tesisnya dan contoh puisi digital karya anak-anak cybersastra itu, bukan malah mengobral cerita kurang sedap tentang sejarah milis penyair dengan yayasan multimedia sastra, milis sastra pembebasan. Padahal kisah kelabu ini kaitannya dengan sastra digital/ sastra cyber hanyalah dalam hal perilaku konsistensi untuk berkarya oleh para anak yang mengaku sebagai cyborg-cyborg yang bahkan oleh Mikail Johani semula juga disanjungkan kepada mereka sebelum ia bersama Cunong Nunuk Suraja jadi pembicara menggantikan Hasan Aspahani.

Apakah diskusi semalam ini benar-benar merupakan langkah awal bagi TUK untuk memulai legitimasi sastra digital, sastra cyber dengan menumbangkan cyborg-cyborg awal di Indonesia? Dengan segala kelebihan dan kekurangan disertai komentar-komentarnya yang gegabah, ketiga pembicara mengukuhkan diri punya dosa karena masih mencampuradukkan dua kejadian sastra internet selama ini antara:

  1. internet sebagai media publikasi dan sosialisasi
  2. karya sastra digital itu sendiri, seperti yang dibuat anak-anak cybersastra 2002

Dapatkah Anda cari, di mana letak kudeta itu?

Ragunan, 13 Maret 2008

Yonathan Rahardjo

(Millis Sastra Pembebasan)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 10 komentar untuk artikel ini.

  1. Tukang Nongkrong

    Ho..ho..Saya terhanyut. Menurut kami Sastra Cyber adalah bentuk perlawanan ketika sastra mulai dikuasai oleh elitisme sastrawan. Media pun sekarang lebih melihat pada prestise, bukan pada karya sastranya.

    Salam
    TB

    March 18th, 2008 at 5:53 am

  2. mikael johani

    kalo mau kutip2 kutip yg lengkap, kutip juga dong balesan2 gue utk komen ngawur yonathan rahardjo ini, ada di apsas@yahoogroups.com

    March 25th, 2008 at 3:28 pm

  3. Ki Harsono Siswocarito

    Ini memang tahap awal sastramaya (cyberliterature) di Indonesia. Belum tereksplorasi sepenuhnya mediamorfosis dari sastra tulis menuju sastra elektronis.

    Kutunggu karya-karya
    Para pujanggamaya
    Indonesia

    Trims

    April 1st, 2008 at 6:37 pm

  4. Yonathan Rahardjo

    KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA (2)

    Menjawab pertanyaan Akmal Nasery Basral yang menanggapi tulisan
    saya `KUDETA SASTRA CYBER DI INDONESIA’ bahwa mengapa saya sendiri
    pada acara yang diselenggarakan Teater Utan Kayu Rabu 12 Maret 2008
    juga tidak memanfaatkan kesempatan bertanya/membantah dengan baik,
    saya menyampaikan bahwa sayalah yang meminta seolah memaksa
    Pembicara Cunong Nunuk Suradja menunjukkan CD dan memutar CD dalam
    Cyberpuitika: Antologi Puisi Digital (2002) yang diproduksi Yayasan
    Multimedia Sastra (YMS) agar diketahui hadirin.

    Hal itu terjadi pada ujung acara pada kesempatan terakhir sesi tanya
    jawab. Maka, dua puisi digital pun diputar dengan gagap oleh Cunong,
    Pembicara Mikael Johani dan baru jalan setelah Moderator Gratiagusti
    Chananya Rompas menjalankan puisi digital berprogram Microsoft
    PowerPoint itu. Dua puisi digital itu jalan setengah hati, dan
    selesailah acara itu. Maka penggambaran puisi digital karya Yayasan
    Multimedia Sastra (YMS) pada 2002 itu pun tidak sanggup memberi
    gambaran yang sepadan dengan berbagai penayangan puisi digital
    Pembicara Akmal Nasery Basral dan Mikael Johani. Permintaan saya
    untuk diputarnya lagi puisi-puisi digital karya YMS itu membentur
    tembok waktu, sebagian peserta pulang karena acara memang segera
    ditutup oleh moderator.

    Munculnya tulisan saya sebagai kesaksian saya pada pada Rabu 12
    Maret 2008 mempunyai dasar yang sama dengan berbagai komentar orang
    lain yang telah muncul di milis-milis sebelum komentar saya ini saya
    posting di milis yang berarti buat saya sebagai anggota yaitu Milis
    Penyair, Milis Sastra Pembebasan dan Milis Apresiasi Sastra. Acara
    yang undangannya juga menyebar di berbagai milis itu menunjukkan
    bahwa acara itu adalah acara terbuka, yang gaung pergulatan saat
    diskusi boleh diikuti oleh siapapun, bukan hanya pada saat acara
    berlangsung namun juga pada berbagai perbincangan di milis-milis
    sastra dengan berbagai komentar dan saksi mata acara.

    Tulisan saya `KUDETA SASTRA CYBER DI INDONESIA’ yang mendapat
    tanggapan dari Akmal Nasery Basral, menunjukkan Akmal selaku
    pembicara pada acara diskusi di Teater Utan Kayu 12-Maret-2008 betul-
    betul mempertanggungjawabkan makalah tulisannya sekaligus
    presentasinya. Saya pun merasa mendapat kehormatan oleh Jurnalis,
    Novelis, dan mantan Moderator Milis Apresiasi Sastra.yang teman saya
    yang pandai ini, yang tidak saya ragukan integritasnya untuk
    membahas materi-materi bidang atau ilmu yang dikuasainya di dunia
    sastra secara intelektual, ilmiah dan referensial, meskipun di
    lingkungan sekitar eksternalnya ada atmosfir politik dan pihak yang
    akan memanfaatkannya untuk kepentingan politik sastra.

    Bagi saya cukup jelas bahwa dengan pernyataan dan pertanyaan Akmal
    tentang sastra cyber yang disebutnya sebagai sastra elektronik
    (sasel) di Indonesia dari tulisannya berjudul `PUTRI DUYUNG YANG
    MERONTA: TINJAUAN AWAL TERHADAP SASTRA ELEKTRONIK INDONESIA’ adalah
    merupakan sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA dalam arti
    hendak menggulingkan pemaknaan sastra cyber/ elektronik yang sudah
    dikenal selama ini, yang dianggapnya salah kaprah, dengan
    menggantikannya dengan pemaknaan yang lebih berdasar pada referensi-
    referensi lebih luas dalam makalahnya itu.

    Pada tulisannya itu, Akmal menulis, “Dengan melihat sekilas
    perjalanan sejarah sasel di atas yang sesungguhnya jauh lebih rumit
    dalam praktiknya — karena setidaknya ada delapan genre sasel yang
    disepakati para kritikus– maka sajak-sajak “sastra internet” (….)
    bisa kita kaji lagi dengan lebih tenang, apakah memang karya-karya
    seperti itu mewakili karakter karya sasel yang sesungguhnya?”

    Lalu ia memaparkan `Lima Ciri Sasel Indonesia’. Setidaknya dari lima
    ciri itu (seperti kutipan-kutipan dari tulisannya) adalah:
    1….. biasanya melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan
    navigasi hyperlink ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih
    maju. Sehingga Internet, dalam banyak mailing-list sastra Indonesia,
    baru difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai media publikasi dan
    distribusi,…
    2….. minimnya keterlibatan komunitas kampus dalam mendirikan pusat-
    pusat kajian media digital. …
    3….. tidak terdeteksinya minat para akademisi, ….
    4….. “catastrophe-driven”. ….
    5….. kecenderungan para penggemar sasel, melalui mailing-list
    masing-masing, untuk menerbitkan sebuah antologi karya anggota. ….

    Akmal pun mengutip perkataan Veven Sp. Wardhana, “Maknanya, harus
    ada kreativitas untuk menyiasati media yang berbeda. Dalam bahasa
    Faruk, sastra di internet harus berbeda dengan sastra cetak yang
    konvensional karena medianya juga berlainan. Yang ada selama ini
    sebatas memindahkan sastra cetak ke sastra internet. “Seolah sastra
    di internet sekadar merupakan eskapisme atau pelarian sastra
    konvensional yang tak lolos sensor redaksi media cetak,” simpul
    simpel catatan saya pribadi.”

    Lalu, Akmal Nasery Basral berpendapat, “Yang berpotensi menghambat
    perkembangan sasel justru klaim menggebu-gebu dari pihak tertentu
    yang merasa sebagai “orang tua” paling sah terhadap “anak kandung”
    sastra dan teknologi ini, entah dari kubu pendukung sastra atau
    penyanjung teknologi.”

    Akhirnya, dalam makalahnya, ia berharap, “Semoga para penggiat sasel
    di Indonesia terbebas dari narsisisme seperti ini, mengingat usia
    sasel yang masih sangat muda, begitu muda sehingga mayoritas rakyat
    Indonesia boleh jadi belum tahu bahwa sasel sudah hadir di bumi
    pertiwi.”

    Pada acara itu, Akmal pun mencontohkan sastra digital luar negeri,
    yang sebetulnya tak beda dengan apa yang dilakukan secara lebih
    sederhana oleh anak-anak cybersastra YMS 2002 itu. Bedanya, yang
    comotan luar negeri itu hanya lebih punya keseriusan dengan musik,
    dan lain-lain efek.

    Sebetulnya sastra digital-nya versi Akmal ini pun tak ada
    hubungannya sama sekali dengan internet. Sama halnya dengan
    sastra ‘power point’ yang dibuat anak-anak cybersastra itu. Hanya
    karena puisi-puisi digital itu dipublikasikan lewat internet dan
    dinikmati khalayak, maka Akmal menyebut bahwa hal semacam inilah
    yang sesungguhnya merupakan sastra cyber itu, sedangkan yang
    dilakukan teman-teman yang mengaku sebagai cyborg-cyborg itu
    hanyalah memindahkan bahan tulisan sastra pada media internet,
    sekedar media.

    Di satu sisi ada upaya Akmal Nasery Basral untuk mengajak para
    hadirin untuk `kembali ke jalan yang lurus’ tentang hakekat sastra
    cyber, namun di sisi lain pada contohnya sendiri terdapat
    keterbatasan karena contoh itu pun cuma menampilkan tampilan yang
    dapat dibuat dengan metode program semacam “Microsoft Power Point”,
    yang tanpa internet pun sebetulnya dapat dinikmati. Halnya program
    itu dinikmati lewat internet, internet sendiri hanya berfungsi
    sebagai media distribusi semata.

    Kelemahan Akmal disambut oleh Mikael Johani dengan menunjukkan
    adanya hiperlink-hiperlink pada karya-karyanya, yang dapat
    menghubungkan text sastra dan tampilannya dengan situs-situs atau
    program lain yang ia kaitkan, hanya dengan memanfaatkan internet,
    betul-betul memanfaatkan dunia cyber di jagad internet. Mikael
    Johani pun menunjukkan karya-karyanya yang lain, yang bervariasi
    dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas dalam internet dengan
    berbagai modifikasi digabungkan dengan teks sastra yang semata-mata
    menjadi salah satu bahan untuk sebuah karya lain yang bersifat
    multimedia. (Soal hyperlink itu, pada Antologi Puisi Digital YMS
    2002, karya TS Pinang sudah menggunakan metode ini, sehingga karya
    puisi digitalnya tidak bakalan bisa dinikmati kalau tidak dibaca
    pada komputer).

    Pada suatu sesi, Mikael Johani pun mempertanyakan kemampuan Saut
    Situmorang dalam membuat sastra digital dengan berbagai metode
    seperti yang ia lakukan, selain hanya sebagai media perlawanan
    terhadap hegemoni sastra koran. Padahal, Mikael sendiri pada awal
    beredarnya undangan acara di TUK ini membela habis-habisan Saut
    Situmorang untuk jadi pembicara di acara itu karena perannya sebagai
    cyborg dalam konteks sejarah muncul cybersastra, cyberpuitika, dan
    puisi digital, sastra dunia maya bersama kawan-kawannya.

    Di sini dapat dirasakan pola pikir yang ada pada pembicara, bahwa
    keberadaan sastra cyber di Indonesia yang dikenal selama ini tidak
    berada `di jalan yang bernar’. Sehingga oleh karenanya harus
    diluruskan, alias DIKUDETA, digulingkan. Bahkan, terhadap kenyataan
    sejarah sosialisasinya, lantaran pada acara itu muncul penolakan
    terhadap klaim dari para pelaku awal cybersastra di Indonesia yang
    melahirkan Antologi Puisi Digital 2002. Sekali lagi, di sini, Akmal
    Nasery Basral berpendapat, “Yang berpotensi menghambat perkembangan
    sasel justru klaim menggebu-gebu dari pihak tertentu yang merasa
    sebagai “orang tua” paling sah terhadap “anak kandung” sastra dan
    teknologi ini, entah dari kubu pendukung sastra atau penyanjung
    teknologi. Semoga para penggiat sasel di Indonesia terbebas dari
    narsisisme seperti ini..” Dan, hal ini dengan kompak diamini baik
    oleh Pembicara Mikael Johani maupun Pembicara Cunong Nunuk Suradja,
    tampak dari komentar dua pembicara selain Akmal di forum ini.

    Pembicara Cunong Nunuk Suradja sebagai salah satu pelaku sejarah di
    YMS malah tidak memberikan kesaksian yang berarti terhadap
    perjalanan para cyborg dalam konteks sastra cyber di Indonesia.
    Kesaksian Cunong adalah kesaksian tentang berbagai kekurangan para
    cyborg dan karya-karyanya serta perilaku individu-individunya, yang
    membawa pembahasan sastra cyber yang ditekuninya bahkan hingga
    mencapai S2 menjauh dari kenyataan yang heroik. Padahal para pelaku
    awal sastra cyber itu telah mengalami berbagai penganiayaan terhadap
    proklamasi kehadirannya, di antaranya ketika Mei 2001 diluncurkan
    Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001),
    Sutardji Calzoum Bachri mengkritik keras mutu sajak-sajak dalam
    Graffiti Gratitude dan Ahmadun Yosi Herfanda mengiaskan puisi cyber
    produksi YMS ini sebagai tong sampah.

    Memang sastra cyber yang telah dicetak di atas kertas ini telah
    menjadi sastra cetak, bukan lagi sastra cyber. Namun perlu diingat,
    karya sastra ini semula adalah karya yang hanya bisa dinikmati di
    internet karena ditulisnya memang langsung di internet. Pada saat
    terpambang di internet, bukankah itu merupakan suatu karya
    internet. Sama halnya klaim menyedihkan Triyanto Triwikromo Direktur
    Program Anugerah Sastra Pena Kencana dalam pendahuluan buku Anugerah
    Sastra Pena Kencana bahwa “… tak bisa dipungkiri betapa sastra
    hari ini adalah cerpen dan puisi uang dimuat di surat kabar yang
    telah ditentukan.” Apakah setelah dibukukan dalam buku antologi itu
    cerpen dan puisi tadi tidak boleh disebut sebagai sastra koran?
    Nyatanya toh dalam buku itu masih disebut sebagai sastra koran! Maka
    apa salahnya meski sudah dicetak dalam bentuk buku antologi maka
    karya-karya yang semula ada di internet itu tetap disebut sebagai
    sastra internet, cyber sastra?

    Bagaimana proses berkarya sastra di internet sehingga menghasilkan
    puisi, cerpen dan lain-lain itu? Apa tidak pernah merasakan
    bagaimana suatu puisi bisa langsung dibuat oleh lebih dari satu
    orang secara berbalas-balas dengan media internet? Mana ada sastra
    koran yang dapat dibuat dalam waktu sekejap secara bersama-sama
    untuk mendapatkan kedalaman rasa yang tercipta dalam kata di layar
    monitor, meski orangnya sangat berjauh-jauhan tempatnya? Apa tidak
    pernah merasakan betapa dahsyat kata dalam layar monitor yang
    tersambung melalui internet itu? Apa tidak cukup hal ini menjadi
    suatu prasyarat untuk sebuah karya sastra sebagai suatu karya sastra
    internet, sastra cyber?

    Yang paling utama dari lima ciri sastra elektronik Indonesia yang
    dikritisi Akmal Nasery Basral agar sanggup TERKUDETANYA sastra cyber
    Indonesia yang ada sejauh ini, menurut saya adalah ciri pertama
    bahwa “…. biasanya melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan
    navigasi hyperlink ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih
    maju. Sehingga Internet, dalam banyak mailing-list sastra Indonesia,
    baru difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai media publikasi dan
    distribusi,…” Artinya, sastra cyber menurut Akmal adalah tidak
    melulu konstruksi narasi tekstual tanpa pilihan navigasi hyperlink
    ala Storyspace, apalagi fitur-fitur yang lebih maju. Sehingga,
    internet tidak hanya difungsikan sebatas pada fungsinya sebagai
    media publikasi dan distribusi, terutama seperti dalam dalam banyak
    milis sastra Indonesia.

    Bila merasakan sendiri bagaimana membuat puisi atau cerpen secara
    berbalas dalam milis sastra, maraton tanpa kenal lelah mengatasi
    kejauhan benua dan samudera, dalam milis, yang tidak bakal bisa
    tergantikan dengan koran….. Bila merasakan bagaimana suatu kata
    muncul dengan ajaib di milis sastra, ditulis oleh orang yang tidak
    pernah kita lihat wajah dan sosoknya. Lalu saling berjawab dan
    saling berangkulan dalam kata, membentuk suatu susunan karya sastra
    yang luar biasa…. Apakah itu berarti Internet, dalam banyak
    mailing-list sastra Indonesia, baru difungsikan sebatas pada
    fungsinya sebagai media publikasi dan distribusi? Jelas, bukan hanya
    publikasi dan distribusi! Dalam batasan sastra sebagai suatu karya
    tulis, sastra, tulisan, syarat ini sudahlah cukup mengukuhkannya
    sebagai suatu karya sastra internet. Karya sastra cyber! Bukan
    sekedar memindahkan teks ke media internet tanpa suatu nyawa.
    Rasakanlah setiap huruf dan kata berloncatan indah menjadi tulisan,
    sastra, yang bernyawa, dapat dimanfaatkan oleh milyaran manusia jika
    mau membuatnya bersama untuk sebuah puisi misalnya, pada waktu
    bersamaan. Ada ketidakn terbatasan di sini, sebagai syarat minimal
    sebuah sastra cyber.

    Mau diperkaya dengan hyperlink-hyperlink ala Storyspace, lexia yang
    mengedepankan dominasi teks dengan tampilan grafis, animasi, dan
    musik yang terbatas yang umumnya menggunakan program hypertext
    Storyspace, dan dilengkapi fitur-fitur yang lebih maju?

    Lahir digital diciptakan melalui komputer dan dibaca juga melalui
    layar komputer, memanfaatkan kode-kode komputasi atau peranti lunak
    yang lebih canggih, baik dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan
    orang lain?

    Perkawinan sastra dan teknologi?

    Texton (string yang dibaca mesin sebagai teks) yang mengalami proses
    kalkukasi menjadi scripton (string yang muncul di layar pembaca
    sebagai teks)?

    Bertumpu pada teks, musik, dan sekuens waktu (berperan
    sebagai “konduktor” yang mengatur harmonisasi teks dan musik),
    dengan faktor pelengkap animasi dan perubahan warna yang sesekali
    muncul?

    Berbasis struktur link?

    Menjadikannya sebagai hypertext sebagai perlawanan terhadap dominasi
    teks cetak dengan mempunyai lebih banyak pilihan untuk menuntaskan
    pembacaan halaman atau mengikuti navigasi lain?

    Mengikuti program-program penciptaan baru yang lebih maju dibanding
    Storyspace?

    Dokumen audio visual lewat peranti lunak QuickTime?

    Bukan hanya muncul sebagai karya tersendiri, melainkan memberikan
    kontribusi bagi pengembangan konsep lexia yang disebut sebagai
    perplexia yaitu hibrida antara bahasa dengan ekspresi bahasa
    pemrograman yang menghasilkan kata-kata dengan makna yang bisa
    dipahami dalam bahasa Inggris, namun dalam bentuk penulisan broken
    code seperti exe.change, exe.streams atau kombinasi portmanteau
    seperti remotional dari remote dan emotional?

    Perpindahan dari zaman hypertext ke cybertext dengan mencipta karya-
    karya fiksi interaktif?

    Menggabungkan kekayaan dunia literasi dengan aspek hiburan permainan
    digital?

    Tak lagi berpuas diri hanya menyajikan ruang virtual melainkan
    menghadirkan langsung ruang tiga dimensi yang sesungguhnya atau
    kombinasi keduanya hingga mendapatkan pemahaman baru terhadap teks
    naratif yang menyelinap keluar dari layar komputer?

    Mengikut sertakan pembaca online di depan layar komputer yang tidak
    berada di lokasi untuk memantau gerak partisipan, memberi petunjuk
    tambahan untuk membantu, atau menipu peserta di lapangan?

    Semua pertanyaan itu adalah untuk sebuah kelanjutan dari sastra
    cyber di Indonesia yang secara paling sederhana sudah dimulai dengan
    sastra internet maupun sastra digital seperti yang dilakukan oleh
    para cyborg dalam konteks ini.

    Mau menghapus langkah awal ini karena langkah ini hanya dianggap
    sebagai pre hyper text karena hanya memindahkan text ke media
    internet hanya untuk distribusi dan publikasi, lantas mengabaikan
    langkah interaktif dalam proses berkarya sastra di internet?

    Mau mengabaikan karya-karya yang sudah memanfaatkan hyperlink-
    hyperlink ala Storyspace, lexia yang mengedepankan dominasi teks
    dengan tampilan grafis, animasi, dan musik yang terbatas yang
    umumnya menggunakan program hypertext Storyspace, dan dilengkapi
    fitur-fitur yang lebih maju yang semua itu lahir digital diciptakan
    melalui komputer dan dibaca juga melalui layar komputer,
    memanfaatkan kode-kode komputasi atau peranti lunak yang lebih
    canggih, baik dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan orang lain?

    Dua alinea terakhir di atas sebetulnyalah sudah dilakukan oleh para
    cyborg dalam konteks ini. Mau dikembangkan lagi dengan yang lebih
    canggih, itulah harapan kita. Hanya karena mereka tidak segencar
    dulu lagi, maka kini muncul kesempatan untuk MENGKUDETA dan seolah-
    olah mengatakan bahwa mereka sebetulnya tidak tepat dalam klaimnya.
    Itu sama saja mengartikan, mereka tidak ada dalam sejarah
    cybersastra Indonesia, seperti halnya yang dilakukan oleh HB Jassin
    yang tidak pernah mencatat adanya Sastra Lekra sebab dari Sastra
    Angkatan 45 langsung loncat Sastra Angkatan 66.

    Adapun saya sendiri di sini, melanjutkan tradisi menulis secara
    tradisonal di media cetak ke media internet yang saya kenal 1997
    dengan partisipasi paling aktif sejak 1998-1999 di Milis Lingkungan
    lalu Milis Jawa, selanjutnya menjadi saksi dari peran teman-teman
    Cybersastra yang berjaya pada 2001, 2002, 2003 itu setelah kenal
    Milis Penyair tentang sastra yang punya sejarah bagi saya sebagai
    partisipan, lalu Sastra-Pembebasan dan Apresiasi-Sastra. Saya
    merasakan proses bersastra-cyber di sana yang saya rasakan sangat
    memperkarya untuk berkarya sastra berdampingan dengan media cetak.
    Saya tidak ikut dalam Cyberpuitika: Antologi Puisi Digital (2002)
    maupun Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001),
    namun saya mengakui keberadaan mereka, para cyborg sederhana itu.

    Maka …. saya memaksa Cunong Nunuk Suradja untuk memutar puisi
    digital karya cyborg-cyborg itu di depan hadirin pada diskusi di
    Komunitas Utan Kayu yang oleh Akmal Nasery Basral sendiri juga
    dikritik beberapa kali, ditujukan kepada Nirwan Dewanto dan Hasif
    Amini: “For Being Ignorance Buat Tema Sepenting Ini.” Mengapa kritik
    itu ditujukan kepada Nirwan dan Hasif, kita tahu lantaran mereka
    bagian dari suatu sistem yang sanggup mempengaruhi opini publik
    secara intensif dengan infrastruktur yang dimiliki terutama dengan
    sastra korannya, bukan sastra internet, yang kita tidak tahu di mana
    mereka berada saat sastra cyber Indonesia memulai pergerakannya
    namun tampak mulai sadar betapa kuat sesungguhnya sastra cyber ini,
    jauh melebihi atau apalagi bila disandingkan dengan sastra cetak.

    Bila makna sastra cyber Indonesia betul-betul TERKUDETA dengan
    segala bentuk manifestasi yang mengikutinya, semulia apapun tujuan
    pembahasannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, secara
    sadar atau tidak sadar para pembicara acara malam itu punya andil
    dalam KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA.

    Warung Buncit, 14 Maret 2008

    Yonathan Rahardjo

    April 2nd, 2008 at 7:58 pm

  5. Arif Irfan

    Saya kira wajar apabila pada era sekarang bermunculan sastra cyber. Sastra tidak akan pernah lepas dari zaman dia dihasilkan. Perubahan IT sekarang ini tentu juga berpengaruh terhadap sastra.

    Dulu ada namanya folklor, sastra antologi, sastra koran, dan kini kita jumpai sastra cyber. Bukankah setiap “hal baru” dalam kancah kesusastraan selalu dipolemikkan.

    April 11th, 2008 at 9:48 pm

  6. sayyid

    Benar sekali bung Arif Irfan. Hanya saja, entah kenapa polemik ini rasanya sungguh tak pernah menghasilkan sesuatu apa…

    April 13th, 2008 at 4:18 pm

  7. Arif Irfan

    menurut saya dengan memolemikkan justru semakin membantu sastra cyber menemukan jati dirinya. “Kritik” dan “pembelaan” saling yang berterbangan baik di dunia maya, buku dan seminar akan menguatkan sastra cyber. Baca buku “Polemik Sastra Cyber Punk” karya Bang Sitorsitumorang dan “Sastra yang Malas” karya Mas Doni Anggoro, di sana banyak sekali masalah yang justru semakin mempertegas kedudukan sastra cyber. Bravo…

    April 14th, 2008 at 12:59 pm

  8. Uzi

    Bang Yonathan, Kalau boleh tanya, apakah ada ukuran yg baku, sebuah karya dapat dikatakan bermutu atau tidak, sastra atau populer?

    April 22nd, 2008 at 12:12 pm

  9. Arif Irfan

    Kanon Sastra, antara harapan dan kenyataan.

    April 22nd, 2008 at 4:44 pm

  10. Uzi

    Sepi-sepi…

    May 10th, 2008 at 11:10 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang