Jika dalam pertemuan awal, Putu lebih mengarahkan pembicaraannya kepada kemerdekaan, maka pertemuan terakhir (dengan saya) di Aula Gedung E Universitas Andalas Padang tanggal 13 Maret 2008 ini lebih dominan pada proses kreatif.
Sedikitnya ada lima jurus yang harus dipunyai oleh pengarang yang saya sebut dengan 4 resep teror:
- Menulis bukanlah kehendak mood.
- Harus berani membuang 5 paragraf awal yang diyakini Putu sebagai kentut. Mungkin kita akan sayang terhadap 5 paragraf tersebut, tetapi begitulah. Biasanya, 5 paragraf awal tersebut hanya berisikan kata-kata pengantar, yang akan membuat cerita itu menjadi ngantuk.
- Tulisan yang telah jadi ditangguhkan dahulu. Jangan dikirim ke media massa, tetapi dipetieskan selama lebih kurang 1 bulan. Setelah itu, baru dibaca dan diedit. Hal ini adalah untuk menghilangkan keberpihakan kita terhadap tulisan kita itu. Biasanya, para penulis pemula menganggap tulisan yang baru dihasilkannya itu sangat bagus. Namun, jika sudah diendapkan selama satu bulan bahkan lebih, ternyata kebalikannya–sangat jelek (tergantung perspektif kita).
- Sedapatnya (pada karya fiksi) ending cerita tidak diselesaikan secar tuntas. Ini dimungkinkan untuk mengembangkan daya nalar pembaca, dan biar pembaca yang menaksir akhir cerita tersebut.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
DUL ABDUL RAHMAN
Bagus!!! Inspiratif… Salam dari Makassar
April 12th, 2008 at 9:29 pm
sayyid
Salam balik Dul Abdul Rahman
April 13th, 2008 at 4:18 pm
muhammad shodiQin
waduh terimakasih tipsnya ya, pasti akan kucoba. karena aku seneng banget dengan teror sastra
April 29th, 2008 at 3:20 pm