Archive for April, 2008

Temu Penyair Lima Kota (Payakumbuh, 27-29 April 2008)

Monday, April 21st, 2008

Berita yang diulang-ulang.

Dewan Kesenian Payakumbuh, Kantor Pariwisata Kota Payakumbuh, Dewan Kesenian Sumatra Barat bekerja sama dengan komunitas-kumunitas seni dan sastrawan Sumatra Barat mengadakan hajatan puisi yang diberi nama Temu Penyair Lima Kota. Acara akan diisi oleh kegiatan diskusi sastra (puisi) dan kepenyairan di lima kota, launching buku kumpulan puisi, baca puisi, pementasan teater dan musik puisi. Beberapa tamu (penyair) yang diundang, antara lain:

(more…)

Popularity: 18%

Kliping Sastra dan Budaya; Edisi 19 April 2008-25 April 2008

Monday, April 21st, 2008

SERAMBI INDONESIA (ACEH)

*Esai
“Gempita Ayat-Ayat Cinta” oleh: Sulaiman Tripa

*Cerpen
“Bukit yang Menghilang” oleh: Mikmilia

*Puisi
Medri

HARIAN WASPADA (SUMUT)

*Esai
“Chairil Anwar dan Bahasa Rahasia Medan” oleh: Damiri Mahmud

“Sumatera Utara: Ideologi Kepengarangan” oleh: Suyadi San S.Pd. M.Si.

HARIAN SINGGALANG (SUMBAR)

*Esai
“Chairil” oleh: Sayyid Madany Syani

HARIAN PADANG EKSPRES (SUMBAR)

*Esai
“Kakek Garin” oleh: Deddy Arsya

“Sastra yang Sebatangkara” oleh: Sayyid Madany Syani

“Emas Sebesar Kuda, Peninggalan Ode Barta Ananda” oleh: M. Arman AZ.

*Cerpen
“Sungai” oleh: Farizal Sikumbang

LAMPUNG POST (LAMPUNG)

*Esai
“Prosa-Puisi Kartini” oleh: Asarpin

*Cerpen
“Politik Haji Ebod” oleh: Wira Apri Pratiwi

*Puisi
Anton Kurniawan

RADAR BANTEN (BANTEN)

*Cerpen
“Derai Gamang” oleh: Alia Husni

SUARA PEMBARUAN (JAKARTA)

*Cerpen
“Mak Odah” oleh: Palti R. Tamba

*Puisi
Ahmad Sekhu

SUARA KARYA (JAKARTA)

*Esai
“Menyoal Keberadaan Kritik(us) Sastra” oleh: Nelson Alwi

*Cerpen
“Benalu” oleh: Humam S. Chudori

*Puisi
Widi Astuti

PIKIRAN RAKYAT (JABAR)

*Esai
“Mengenang Rustandi” oleh: Ajip Rosidi

“Heboh Mercedes-190″ oleh: Atep Kurnia

“Perihal Kelas Menulis” oleh: Hikmat Gumelar

*Cerpen
“Anggrek Bulan Kota Kenangan” oleh: Arman AZ.

SOLO POS (JATENG)

*Cerpen
“Firasat” oleh: Eka Dewi WJ

*Puisi
Poetry Maulina January

JAWA POS (JAWA TIMUR)

*Esai
“Pro atau Anti Perempuan?” oleh: Khotimatul Husna

*Cerpen
“Bunga Pepaya” oleh: Puthut EA.

BANJARMASIN POS (KALSEL)

*Cerpen
“Pagi-Pagi Usnan” oleh: Hammad Riyadi

*Puisi
Eka Patmawati

PONTIANAK POS (KALBAR)

*Cerpen
“Pilihan Solusi dengan Euthanasia” oleh Sekarwidya Prabanastiti

*Puisi
Dian Mardiana Putri

N. Indah P.

Vivi

Rozi Iswandi

SEPUTAR INDONESIA (NASIONAL)

*Esai
“Otosentrisitas Kebudayaan” oleh: Syaiful Arif

*Cerpen
“Batu-Batu Bercahaya” oleh: Ganda Pekasih

REPUBLIKA (NASIONAL)

*Esai
“Pemartabatan Bahasa dan Sastra Melayu” oleh: Sastri Sunarti

*Cerpen
“Jam Sepuluh Malam” oleh: Kusprihyanto Namma

*Puisi
Inggit Putria Marga

KOMPAS (NASIONAL)

*Esai
“STA: Puisi dan Modernitas (3-Tamat)” oleh: Goenawan Muhammad

“Budi Darma dan Kota” oleh: Imam Muhtarom

*Cerpen
“Terbang” oleh: Ayu Utami

*Puisi
Aslan Abidin dan Hasta Indriyana

Popularity: 17%

Perempuan Ilalang; Perempuan dalam Sastra

Monday, April 21st, 2008

PENDAHULUAN
“ilalang, gemulai menawarkan pesona / seperti bayang perempuan di tepi telaga / namun tak ada keharuman terpancar disana / hanya telaga terik yang tercipta / dari bebulir keringat yang basah” (Perempuan Ilalang (I), 2007).

Rumpun ilalang, tanpa ia sadari telah menjadi objek romantis para pujangga. Ilalang saja, atau disandingkan dengan objek-objek lain yang tak kalah inspiratif. Ilalang tumbuh dimana ia bisa tumbuh. Terkadang merupakan hal sepele yang tak berkaitan dengan kehidupan kita (manusia) sebagai penguasa bumi. Ilalang pun, sebagaimana sifat rumput kebanyakan adalah makhluk liar yang harus dibasmi. Makhluk gulma yang meneror padi, meneror tanaman “bermanfaat” lainnya sehingga keberadaannya menjemukan dan sekonyong-konyong tangan para tukang kebun mencabutnya tak berperasaan sehingga ia pun terpisah jasad dengan tempat ia hidup. Namun satu hal yang perlu kita sadari, bahwa ilalang tak pernah benar-benar mati.

(more…)

Popularity: 15%

Sajak-Sajak Lovly Dhewinda

Monday, April 21st, 2008

Perempuan Larut Dalam Debu Tanggal 1

setiap senja yang kunanti, telah rapuh
oleh derai tangismu.
ada perempuan berabu
debu di hadapmu.
tanggal 1, dan itu terlalu.

2008

Untuk Aku; Buat Kita Hari Ini

aku dilahirkan dari runtuhan puing-
puing dendam.
aku disusui tangis kemiskinan.
aku hanya taik yang dibuang
di wc umum pemerintahan.
aku takkan seperti wangi
parfummu pagi ini…

2008

Peluh Peluk Wanita

aku telah letih dalam mangu. aku hanya menagih mimpi
yang kau beri. Tapi kau jawab sedang mengisi
lambung. hendak kukata, aku telah
menunggu berabad malam
tengah malam…

berjuta mimpi pagi hari,
kini kau jawab sedang letih
dalam peluk wanita.

2008

Renda

tak pernah ada mentari bahkan
untuk ucap sepi. jika malam menyergap
mati, mungkin hanya lolong anjing
yang jadi saksi

masih kurenda baju hangat itu
masih ingin kulipat dalam tas samping

tapi, semua lenyap jika hari ini
tak ada hidup. aku dalam trotoar malam
berusaha menggapai mimpi
berusaha menggapai harap

aku renda
aku lipat
masih tak terucap

2008

Menanti Bapak

senja di hati ibu, berganti malam
oleh sederet luka yang lelah bernanah
darah. bilik-bilik kelam
itu telah roboh menderai tawa

2008

Orang-Orang yang Berderet Di Depan Minang Plaza

kami bermenung lagi
untuk esok yang belum pasti
diam, dan semua kembali
hujan tiap sore buat semua berlalu dalam haru hari.

2008

Ada Perempuan

perempuan dalam balut rok ketat
perempuan dalam boncengan gas knalpot
perempuan dalam kain taplak meja

dia terus melaju dalam angin
menyibak rambut yang berderai melambai
tersenyum kemudian berlalu

2008

Lovly Dhewinda, penulis kelahiran Padang 1 Februari 1987. Sedang berusaha menamatkan studi di Sastra Indonesia Fak. Sastra Unand. Bekerja part time di Taman Bacaan BacaKata. Senang duduk di pojokan angkot sambil membuka jendela lebar-lebar.

Popularity: 13%

Chairil

Monday, April 21st, 2008

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

(“Sendiri”: 1943)

Ia akrab, seolah-olah kenal dekat dengan Rainer M. Rilke, WH. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff hingga penyair Belanda, Edgar du Perron yang lahir dan besar di Jatinegara, Jakarta. Ia telah menjadi mitos kesusastraan Indonesia, seperti yang diungkapkan Maman S. Mahayana dalam esainya yang bertajuk “SCB: Menghapus Mitos Chairil Anwar” (Bagian pertama dari dua tulisan):

Mitos Chairil Anwar terus menggelinding. Direproduksi guru-guru sekolah dalam pengajaran sastra; dipuja para penyair epigon sebagai manusia setengah dewa; dan para penyair medioker menyanjungnya sebagai sebuah monumen capaian estetik tertinggi dalam perjalanan perpuisian Indonesia. Para kritikus sastra pun diam, bergeming dan hanya bisa mengamini tanpa reserve. Maka ketika sesiapa pun berbicara melambungkan Chairil Anwar, hampir semua menyikapinya dengan pernyataan: setuju! (Terbit di Riau Pos, 17 Februari 2008).

(more…)

Popularity: 17%

Sajak-sajak: Matroni el-Moezany

Sunday, April 13th, 2008

30 MARET

Wahai pembawa bulan
untuk jiwa
menjadi sinar yang
menyala dalam gelap garam semesta

Yang selalu memikirkanmu
di tempat yang belum kau mengerti

Tak terasa kau lakukan
melintas curam dan kematian
untuk membayar bagi yang sedia pergi
mencari adat-adat malam

Dengan bahagia
kukorbankan hidup
bagi utusan rasa

Yogyakarta, 2008

HENING

Hening datanglah
Agar jiwa ini
Melihat kesetiaan
Dalam ikatan cinta
Seperti bintang-bintang
Yang merelakan dirinya
Di tengah keheningan

Yogyakarta, 2008

TITIPAN

Sejenak rasa
kutitipkan pada malam
hingga aku tak mengerti apa itu kata
dan apa itu duka

Mungkinkah satu rasa
ada dua keadaan?

Aku takut dia merana
karena satu kata
Aku takut dia senyum
karena satu rasa
pada sebuah rumpun kelam

Yogykarta, 2008

EMBUN

Tentunya pagi
yang bisa memberi embun
bagi perut lapar
Betapa tidak
semalaman kau mengadu
pada pemilik waktu
hingga wajar kalau
kau merasa puas dengan aku

Yogykarta, 2008

TERSIKSA

Pagi
semua adalah api
pada cadas ke-lembut
berupa kata manis
yang singgah
antara wajah bulan dan matahari
adakah sesuatu yang kau mengerti?

Setelah semuanya usai
di atas batu nisan
aku masih berharap
pada batu yang bisu
batu-batu gersang
yang tanpa nama
di balik kovermu
yang kata orang cantik

Aku tak bisa berkata
di bawah pohon sendu
yang merumpun duka
hidup bukanlah apa, tapi
rasa dan bicara
pada samudera
yang tak kau mengerti

Yogyakarta, 2008

Popularity: 13%

Seputar Ubud Writers & Readers Festival

Sunday, April 13th, 2008

UWRF merupakan salah satu aktivitas dari program Yayasan Saraswati. Festival ini sudah berlangsung selama empat kali. Beberapa penulis Indonesia yang sudah pernah mewakili Indonesia diantaranya:

Tahun 2004
Goenawan Moehamad, Dewi Anggraeni, Toeti Heraty, Dorothea Rosa Herliany, Murti Bunanta, Putu Oka Sukanta, Richard Oh, Mas Ruscitadewi, Bodrex Arsana, Putu Suasta, Sitok Srengenge, Warih Wisatsana, A.A Made Djelantik, Wayan Arthawa dan Tan Lioe Ie.

Tahun 2005
Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Moemar Emka, Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Azhari, Laire Siwi Mentari, Rachmania Arunita, Rosni Idham, Muhammad Salim, Marianne Katoppo, Maliana, Pranita dewi, dan Kadek Sonia Piscayanti,Sitok Srengenge.

Tahun 2006
Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Linda Christanty, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Ari Pahala Hutabarat, Reza Idria, Fozan Santa, Goenawan Muhamad, John F.Waromi, Vira Safitri, Sitok Srengenge, Putu Setia, Nirwan Dewanto, Iswadi Pratama, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman.

Tahun 2007
Ahmad Tohari, Anand Krishna, Cok Sawitri, Debra H Yatim, Dorothea Rosa Herliany, Ida Wayan Oka Granoka, Hamid Basyaib, Isbedy Stiawan Zs, Isman Hidayat Suryaman, Julia Suryakusuma, I Ketut Sumatra, Marhalim Zaini, I Gusti Ngurah Harta, Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Wiratmadinata.

Popularity: 15%

UWRF-Undangan Penulis Indonesia

Sunday, April 13th, 2008

Pendaftaran Diri dan Nominasi Peserta Ubud Writers & Readers Festival

Yayasan Saraswati, tuan rumah acara tahunan Festival Sastra Internasional
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta. Festival yang hadir untuk kelima kalinya ini akan diselenggarakan pada tanggal 14 sampai 19 Oktober 2008 di Ubud - Bali.

(more…)

Popularity: 13%

Sekali-Sekali Beda (Sajak dari Jerman)

Sunday, April 13th, 2008

Pusing ngeliat inbox penuh dari email-email berbagai millis, eh ada juga tertarik dengan sebuah email dari Gendhotwukir. Dia mentransletkan sebuah sajak dari Jerman. Simak!

(more…)

Popularity: 11%

Kliping Sastra dan Budaya; Edisi 5 April 2008-11 April 2008

Sunday, April 6th, 2008

SERAMBI INDONESIA (ACEH)

*Esai
“Geulanggang Labu”, oleh: Faozan Santa

*Puisi
Cut Januarita

MY. Bombang

HARIAN WASPADA (SUMUT)

*Esai
“Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah Dalam Kemelut Perang Paderi”, oleh: Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II

“Sutan Takdir Alisjahbana Seorang Budayawan Indonesia Terkemuka”, oleh: Prof. H. Ahmad Samin Siregar

RIAU POS (RIAU)

*Esai

“Suluk Hijau Saat Jakarta Gerimis”, oleh: Bersihar Lubis

“Kumpulan Cerpen Mosthamir dalam Bingkai Cerita Jenaka Melayu”, oleh: UU. Hamidy

*Cerpen

“Hantu Dapur”, oleh: Hang Kafrawi

*Puisi

Musa Ismail

HARIAN SINGGALANG (SUMBAR)

*Esai
“Apresiasi Sastra: dari Kompetensi Pembaca hingga sebuah Standar”, oleh: Fadli Akbar

*Puisi
Rian Siregar

*Cerpen
“Melukis Matahari”, oleh: Azizatus Suhailah

Padang Ekspres (SUMBAR)

*Puisi

TS. Elliot (Terjemahan Edo Virama Putra)

LAMPUNG POST (LAMPUNG)

*Esai

“Adakah Estetika pada Ampas Kopi?” oleh: Budi P. Hatees

*Cerpen

“Perempuan Di Seberang Jendela”, Oleh: Rilda A. Oe. Taneko

*Puisi

Dahta Gautama

RADAR BANTEN (BANTEN)

*Cerpen

“Saldo”, oleh: Langlang Randhawa

SUARA PEMBARUAN (JAKARTA)

*Cerpen

“Kisah Sepotong Senja di Tepi Pantai”, Oleh: Isbedy Stiawan ZS

*Puisi

Sindu Putra

SUARA KARYA (JAKARTA)

*Cerpen

“Mat Pengkor dan Anaknya”, oleh: Bagus Sidi Pramudya

*Puisi

Erika Citra Sejati

PIKIRAN RAKYAT (JABAR)

*Esai

“Menyoal Estetika Sunda”, Oleh: Ahda Imran

“Ayam”, Oleh: Ayuningsih Dyah W.

“Publik dan Nilai Ritual Teater”, Oleh: Silvester Petara Hurit

*Cerpen

“Sales Badminton”, Oleh: Pidi Baiq

*Puisi

Hidayat Raharja

SOLO POS (JATENG)

*Cerpen

“Mati Kelaparan”, Oleh: Taufik Musalim Esha Emhum

*Puisi

Wiyono, Spd.

JAWA POS (JATIM)

*Esai

“Dewan Kesenian Utopis”, oleh: Djuli Djatiprambudi

*Cerpen

“Si Embot”, oleh: Ratna Indraswari Ibrahim

BANJARMASIN POST (KALSEL)

*Cerpen

“Siapa Sebenarnya Kamu”, oleh: Fauzil Ikhsan

*Puisi

Rizka Y

PONTIANAK POST (KALBAR)

*Cerpen

“Curhat Padi”, oleh: Pincentia Weni

*Puisi

Trie Rahmayanti

Ilham AR

Luki

FAJAR (SULSEL)

*Esai

“Jalan-jalan Santai ke Rumah” M Aan Mansur”, oleh: Dul Abdul Rahman

*Cerpen

“Lelaki dan Kopi”, oleh: Erni Aladjai

SEPUTAR INDONESIA (NASIONAL)

*Esai

“SMSampah,SMSantun”, oleh: Arswendo Atmowiloto

“Kredo Keindonesiaan”, Oleh: Mudji Sutrisno

“Kebudayaan dan Perangkap Teknologi”, oleh: Miming Ismail

*Cerpen

“Andalusia”, oleh: Delvi Yandra

REPUBLIKA (NASIONAL)

*Esai

“Representasi Menyesatkan tentang Peran KUK”, oleh: Katrin Bandel

*Cerpen

“Secangkir Kopi Hangat”, Oleh: Rina Mahfuzah Nst

*Puisi

Ahmad Sekhu

KORAN TEMPO (NASIONAL)

*Cerpen

“Hikayat Racun Peranggi”, Oleh: Azhari

KOMPAS (NASIONAL)

*Esai

“Puisi dan Modernitas”, oleh: Goenawan Muhammad

“Api dan Bendera”, Oleh: Rio Helmi

“Impian Dari Singapura”, oleh: Asikin Hasan

*Cerpen

“Cerita Dari Rantau”, Oleh: Anton Septian

*Puisi

Herdi Sahrasad

Popularity: 15%