Chairil

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

(“Sendiri”: 1943)

Ia akrab, seolah-olah kenal dekat dengan Rainer M. Rilke, WH. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff hingga penyair Belanda, Edgar du Perron yang lahir dan besar di Jatinegara, Jakarta. Ia telah menjadi mitos kesusastraan Indonesia, seperti yang diungkapkan Maman S. Mahayana dalam esainya yang bertajuk “SCB: Menghapus Mitos Chairil Anwar” (Bagian pertama dari dua tulisan):

Mitos Chairil Anwar terus menggelinding. Direproduksi guru-guru sekolah dalam pengajaran sastra; dipuja para penyair epigon sebagai manusia setengah dewa; dan para penyair medioker menyanjungnya sebagai sebuah monumen capaian estetik tertinggi dalam perjalanan perpuisian Indonesia. Para kritikus sastra pun diam, bergeming dan hanya bisa mengamini tanpa reserve. Maka ketika sesiapa pun berbicara melambungkan Chairil Anwar, hampir semua menyikapinya dengan pernyataan: setuju! (Terbit di Riau Pos, 17 Februari 2008).

Walaupun selanjutnya, Maman ingin menganggap mitos itu adalah hal yang berlebihan dan posisi Chairil bisa saja digantikan—misalkan dengan Sutarji Calzoum Bachri (SCB).

Nama besar Chairil Anwar telah meracuni sikap kritis. Tak ada yang berani mempertanyakannya kembali. Segalanya senyap dari usaha mencoba menggugat capaian estetiknya. Dengan sikap yang seperti itu, legenda Chairil Anwar sesungguhnya telah memasung para penyair Indonesia terus-menerus berada di bawah bayang-bayang kebesaran tokoh sentral Angkatan 45 itu. Monumen Chairil Anwar tetap menjulang sendirian, tidak tergoyahkan lantaran tidak ada seorang pun yang coba melakukan re-evaluasi atas prestasi dan capaian estetiknya. Ia telah menjadi sejarah yang sempurna.

Dan Maman menutup tulisan bersambungnya itu dengan:

Fenomena SCB tiba-tiba bagai badai yang menghempaskan para birokrat dan makelar kesusastraan dan kebudayaan. SCB terbang bersama karyanya. Menciptakan gempa yang meruntuhkan bangunan lama. Di atas reruntuhan itu, karya-karyanya menjulang sendirian, tanpa saingan, menjadi monumen. Para epigon pun gagal. Para pembebek terperosok pada lubang yang digalinya sendiri. Maka, jika kemudian SCB memproklamasikan diri sebagai Presiden Penyair, itu merupakan pernyataan dari seorang yang meyakini prestasi atas capaian estetiknya sendiri.

Tetapi, saya lebih bersepakat dengan Sapardi Joko Damono dalam puisinya yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”: “pada suatu hari nanti/jasadku tak akan ada lagi/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau takkan kurelakan sendiri”. Dan pula saya menyetujui tulisan singkat Ragdi F. Daye berjudul “Apabila Telah Mati” (Singgalang, 23 Maret 2008 hal. 10) bahwa setelah mati baru berarti—bahwa “tunggulah sampai kau mati, maka kau akan dihargai!”. Bukan keinginan Chairil agar ia dijadikan mitos, atau setidaknya Chairil tak pernah mengungkapkan secara terang bahwa setelah ia mati maka pujalah ia, sembahlah dan beri kemenyanlah kuburannya.

Pada pembuka tulisan ini, saya kutipkan penggalan sajak Chairil berjudul “Sendiri”. Setidaknya, dari sajak tersebut benarlah perkataan orang bahwa Chairil adalah sosok individualistis. Karya-karyanya yang entah kenapa cenderung mengutarakan kehampaan, menjurus kepada pengutaraan kematian yang dekat dan kehidupan yang fana. Penghidupan hanyalah sebuah “pematang” yang menahan ombak dari “lautan makna dalam” yang “mukul dentur selama” hingga akhirnya pematang tersebut “hancur remuk redam”, ketika sang maut memanggilnya (Budiman, 2007: 20).

Dan mengapa Chairil diperingati setiap tanggal dan bulan yang identik dengan kematiannya? Apakah karena ia gagal menjadi “aku (yang) mau hidup seribu tahun lagi” padahal ia mati muda?

“Aku”
aku hidup
dalam hidup di mata tampak bergerak
dengan cacar melebar, barah bernanah
dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga

(“Aku”: 1943)

Chairil Anwar dilahirkan di kota Medan 26 Juli 1922 dan tutup usia pada tahun ke-27 di Jakarta 28 April 1949. Chairil tidak pernah memiliki latar belakang sastra, namun dengan semangat dan tekadnya dia belajar dan memilih sastra sebagai jalan hidupnya. Dengan kekuatan itu ia mengolah pilihan tersebut menjadi hal yang sangat mengagumkan. Namun sayang, Chairil tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan karya-karyanya dipuja dan dibanggakan bangsa ini karena ajal telah menjemputnya.

Ayah Chairil bernama Toeloes berasal dari Payakumbuh Sumatra Barat dan ibunya bernama Saleha yang berasal dari Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat. Pada masa remajanya Chairil pernah sekolah Belanda di HIS (Hollands Inlandsche School) di Medan tapi hanya sampai kelas dua saja. Kemudian Chairil melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uietgebred Lager Onderwijs, setingkat Sekolah Menengah Pertama) karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, yang saat itu telah bercerai dengan ayahnya. Chairil adalah pembaca yang luar biasa, kutu buku, hampir kesehariannya dihabiskan untuk membaca dan membaca. Hobinya inilah yang menjadikan Chairil memiliki pengatahuan yang sangat luas, ditunjang pula dengan penguasaannya terhadap tiga jenis bahasa asing, yaitu Belanda, Jerman dan Inggris. Kemaniakan membaca menyebabkannya suka mencuri buku. Serta pengaruh pada tulisannya, hingga Chairil dijuluki sebagai plagiator.

Chairil juga tak segan berbicara tentang apa saja; mulai menyoal kemerdekaan, romansa, religiusitas hingga cikal bakal kematiannya sendiri. Chairil adalah sesuatu yang asing pada masanya. Bahkan di saat menderita akibat malaria, sifilis dan TBC; Chairil masih mempertahankan keasingannya. Terinspirasi puisi Rainer Maria Rilke saat sekarat; Chairil yang berjuang di rumah sakit Ciptomangunkusumo, sempat menulis puisi tentang masa depannya ”di perkuburan” umum Karet, Jakarta. Sejak ditemukan oleh HB Jassin, hingga menghembuskan napas terakhirnya; sang binatang jalang bertahan mengenalkan puisi modern yang lugas dan apa adanya di sastra Indonesia.


Chairil, Apresiasi dan Tugas Kita

Sastra tidak bisa lepas dari para pencipta, dari para pembaca (penikmat), dari para kritikus atau apresiator. Ketiganya saling bersinergi dan itulah yang membuat Chairil bisa terkenal sampai hari ini. Bahkan tidak saja berlaku untuk Chairil, tetapi untuk sastrawan lainnya semisal Hamka, STA (Sutan Takdir Alisyahbana) atau SCB (Sutarji Calzoum Bachri). Tidak berfungsinya (malah hilang) salah satu dari sinergi tersebut, maka sastra pun akan terpincang-pincang.

Tanpa para pencipta, mustahil ada karya dan apa yang bisa dinikmati oleh para pembaca. Begitu pula tanpa pembaca, bagaimana mungkin sebuah karya akan terkenal jika tetap tersuruk di dalam laci meja si pencipta. Dan pula, tanpa ada kritikus atau apresiator, mustahil sebuah karya akan kekal. Terkesan basi karena tak ada penilaian, tak ada penelaahan, tak ada pendapat serta pandangan-pandangan terhadap karya tersebut.

MH. Abrams (dalam Semi, 1989: 12-13) menggolongkan kritik atau apresiasi sastra itu ke dalam empat bagian yaitu, pertama Mimetik, yaitu kritik yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan suatu tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu kritik mimetik cenderung untuk mengukur kemampuan suatu karya sastra menangkap gambaran kehidupan yang dijadikan sebagai objek. Kedua Pragmatik, yaitu kritik yang disusun berdasarkan pandangan bahwa sebuah karya sastra itu disusun untuk mencapai efek-efek tertentu kepada pembacanya, seperti efek kesenangan, estetika, pendidikan dsb. Pragmatik berkecenderungan untuk memberi penilaian terhadap suatu karya berdasarkan ukuran keberhasilannya untuk mencapai tujuan atau efek di atas. Ketiga Ekspresif, yaitu kritik sastra yang menekankan telaahan kepada kebolehan pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya ke dalam wujud sastra. Ekspresif cenderung untuk menimbang karya sastra dengan memperlihatkan kemampuan pencurahan, kesejatian, atau visi pengarang yang secara sadar atau tidak tercermin pada karyanya tersebut. Keempat Objektif, yaitu suatu kritik sastra yang menggunakan pendekatan bahwa suatu karya sastra adalah karya yang mandiri. Ia tidak perlu dilihat dari segi pengarang, pembaca atau dunia sekitarnya. Ia harus dilihat sebagai objek yang berdiri sendiri, yang memiliki dunia sendiri. Oleh sebab itu kritik yang dilakukan atas suatu karya sastra merupakan suatu kajian instrinsik semata.

Adapun persoalan antara apresiasi dan kritik (tulisan Fadli Akbar berjudul “Apresiasi Sastra: dari Kompetensi Pembaca hingga sebuah Standar” di Singgalang 6 April 2008), sejatinya hal itu adalah dua hal yang sejajar, sama arti, meskipun penggunaannya disesuaikan kebutuhan. Perbedaan ini sekelas ketika kita coba mengartikan apa bedanya artikel, opini, dan esai. Atau pula, apa perbedaan sajak dengan puisi. Kritik memang lebih terkesan sistematis, ilmiah, elegan dan kasar. Saya sendiri, cenderung menilai antara kritik dan apresiasi tidak menuai suatu kontroversi atau perbedaan tajam apapun. Itu semua tergantung pada selera mau pilih kata apresiasi atau kritik yang hakikatnya sama yaitu pengamatan, penilaian, dan penghargaan. Dan kritik ataupun apresiasi akan terasa hambar jika tak menggunakan teori (tulisan Esha Tegar Putra berjudul “Adakah Standar untuk Apresiasi Sastra?” di Singgalang 23 Maret 2008) sebagai bumbu, atau sebagai perkakas untuk membedah sebuah karya.

Dan tugas kita tak hanya terbatas pada pemeliharaan teks sastra Chairil saja. Berlakulah seperti Jassin yang mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan sastra. Chairil tetap kita hormati sebagai penyair 45 yang memberikan sugesti terhadap perubahan dalam Sastra Indonesia. Namun, dunia ini terus berputar, begitu pula regenerasi dalam Sastra Indonesia sendiri. Pengarang-pengarang muda tumbuh subur mengikuti jejak seperti Chairil yang asyik masyuk dengan tuts keyboard dan layar monitor komputer (jika masa Chairil dulu menggunakan kertas, pena dan mesin tik). Bukankah pengarang-pengarang muda tersebut akan “senang” jika karyanya turut diapresiasi atau dkritik oleh pembaca awam ataupun dari sisi masyarakat akademis?

Popularity: 15%

5 Responses to “Chairil”

  1. Lentera Susastra » Blog Archive » Kliping Sastra dan Budaya; Edisi 19 April 2008-25 April 2008 Says:

    […] *Esai “Chairil” oleh: Sayyid Madany Syani […]

  2. dul abdul rahman Says:

    tulisan Sayyid sangat kuat…calon kritikus besar…

  3. Sayyid Says:

    Aduh bung, belum setinggi itulah. Cerpennya baru saja saya terima dan sudah saya kirim ke Redaktur Sastra Singgalang. Semoga dimuat.

  4. dul abdul rahman Says:

    “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk”
    Terima kasih Bung Sayyid. Oh ya, diarsip sastra LENTERA SUSASTRA minggu ini belum memuat FAJAR Makassar. Kolom budaya Fajar, Ahad 20-04-2008,
    Esei “Hati-Hati Dengan Lelaki Kantimarang”(karya Dul Abdul Rahman)
    cerpen “Bayi Tiga Bulan”(karya Muliati Mastura).

  5. rumahteduh Says:

    M..cerpen..ya..lah.

Leave a Reply