You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Perempuan Ilalang; Perempuan dalam Sastra

Perempuan Ilalang; Perempuan dalam Sastra

sayyid — April 21, 2008 / 5:47 pm

PENDAHULUAN “ilalang, gemulai menawarkan pesona / seperti bayang perempuan di tepi telaga / namun tak ada keharuman terpancar disana / hanya telaga terik yang tercipta / dari bebulir keringat yang basah” (Perempuan Ilalang (I), 2007).

Rumpun ilalang, tanpa ia sadari telah menjadi objek romantis para pujangga. Ilalang saja, atau disandingkan dengan objek-objek lain yang tak kalah inspiratif. Ilalang tumbuh dimana ia bisa tumbuh. Terkadang merupakan hal sepele yang tak berkaitan dengan kehidupan kita (manusia) sebagai penguasa bumi. Ilalang pun, sebagaimana sifat rumput kebanyakan adalah makhluk liar yang harus dibasmi. Makhluk gulma yang meneror padi, meneror tanaman “bermanfaat” lainnya sehingga keberadaannya menjemukan dan sekonyong-konyong tangan para tukang kebun mencabutnya tak berperasaan sehingga ia pun terpisah jasad dengan tempat ia hidup. Namun satu hal yang perlu kita sadari, bahwa ilalang tak pernah benar-benar mati.

Tetapi, pujangga selalu melihat dari sudut yang lain (mungkin sebagian dari kita). Tidak melulu berpikiran objektif (karena objektif adalah ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai data dan fakta) tetapi pula dari sudut subjektif atau dari mana saja ia dapat melihat, menikmati dan selanjutnya menyusun narasi yang datang bergiliran—mampir ke otak serta hatinya.

Adalah Dorothea Rosa Herlianty salah satu pujangga yang terkesima dengan daya magis ilalang, sehingga ia beri judul buku puisinya dengan nama “Nikah Ilalang”. Sehingga saya berpikir, walaupun ilalang dalam dunia nyata tidak dihargai sebagai salah satu makhluk hidup di bumi, namun dalam dunia kepengarangan ia banyak dibicarakan, ia banyak diinspirasikan dan diimpikan entah itu hanya sekedar pemanis narasi belaka.

Oleh karena itu, tak salah bukan jika saya melihat ilalang seperti melihat perempuan?

Seperti kutipan puisi pada mula tulisan ini, gemulai ilalang yang diombang-ambingkan angin itu seperti perempuan dalam kenyataan. Geraknya lembut, membelai-belai, mudah terombang-ambing perasaan serta pikiran, sering disepelekan, diinjak-injak sekena hati, tetapi perempuan juga sosok perkasa, tak mudah dicabut keyakinannya dan satu hal, semangat atau keyakinan itu tak pernah benar-benar mati.

PEREMPUAN DALAM SASTRA “Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda” (Robert Scholes dalam Luxemburg dkk, 1992: 1). Mengutip pandangan Robert Scholes di atas, dapat dikatakan bahwa sastra merupakan ruang yang mengedepankan kata-kata (semacam lahan berekspresi) dibandingkan pada kebendaan yang mungkin setiap saat bisa lapuk dan binasa. Kata-kata diyakini akan lebih awet sebab ia berputar pada imajinasi antara hati dan otak manusia. Sehingga jarang untuk binasa.

Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Tak terkecuali hubungan gender antara perempuan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan atau perempuan dengan lingkungannya.

Perempuan (saat ini) masih dipersepsikan sebagai makhluk lemah, pemuas hasrat seksual, dan ketinggalan zaman. Perempuan tak pantas diikutsertakan dalam pengambilan keputusan penting. Seperti misalnya sebuah deklarasi kemerdekaan. Hal inilah yang mendasari tumbuh dan berkembangnya Feminisme sebagai ideologi perempuan. Isu utama yang digemborkan adalah persamaan derajat dengan kaum laki-laki atau emansipasi. Ada tiga aspek yang melandasi Feminisme berkembang. Menurut Soenarjati Djajanegara (2003) tiga aspek itu ialah: Pertama, aspek politis. Feminisme meminta perlakuan hak politik yang sama dengan laki-laki. Contoh konsep “all men are created equal” (semua laki-laki diciptakan sama) yang digemborkan ketika Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Feminisme menentangnya dan berusaha mengubah isi konsep menjadi “laki-laki dan wanita diciptakan sama.” Kedua, aspek agama. Dalam beberapa ajaran agama, larangan wanita tampil ke khalayak umum atau punya suara minimal dalam rumah tangganya begitu kentara. Seperti pada ajaran Protestan, wanita tidak layak bepergian dan wanita harus tinggal mengurus rumah. Lain lagi dengan ajaran Katolik, wanita adalah makhluk kotor dan wakil iblis, dan kebiasaan tradisional kaum lelaki Yahudi ketika selesai sembahyang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan karena tidak dilahirkan sebagai perempuan. Ketiga, aspek sosialisme. Menurut kaum Feminis, perempuan merupakan suatu kelas dalam masyarakat yang ditindas oleh kelas lain yaitu laki-laki. Sesuai dengan tulisan Engels dalam “Origin of the Family, Private Property and the State” yang mengatakan bahwa: “dalam keluarga, dia [suami] adalah borjuis dan istri mewakili kaum proletar.”

Begitu kompleksnya permasalahan perempuan sehingga perempuan pun menjadi cikal inspirasi para pengarang sastra. Ada yang melihat dari segi raganya yang molek saja, ada yang melihat dari sisi kelembutannya, gerak-geriknya, perjuangannya atau ada yang melihat seumpama ilalang tadi.

Perempuan di Mata Sastrawan Tidak saja perempuan yang berbicara tentang kaumnya, seperti RA. Kartini. Tetapi, laki-laki pun menulis perempuan dalam karyanya. Namun tentu, yang dilihat atau yang terlihat tidak sama dengan cara pandang perempuan dalam menulis tentang kaumnya. Kita contohkan saja Pramoedya Ananta Toer yang memunculkan tokoh Nyai Ontosoroh alias Sanikem, atau Hamka dengan Poniemnya, Gus TF dengan Warninya dan sebagainya.

Sanikem (dalam “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”) adalah gundik Tuan Mellema. Ia diserahkan bapaknya atau lebih tepatnya dijual kepada Tuan Mellema untuk balas budi. Tetapi, Sanikem tidak melulu terpuruk dengan kondisinya itu. Ia pun belajar dari lingkungan, dari Buitenzorg. Ia mulai tahu dalam menjalankan roda bisnis. Dan pada akhirnya, ketika Tuan Mellema sudah tidak berdaya lagi, ia pula yang mengendalikan ekonomi keluarga dengan memegang perusahaan. Tak kenal lelah, dan itu yang membuat Minke, pelajar pribumi yang kebarat-baratan merasa takjub melihat kegigihan Sanikem atau Nyai Ontosoroh itu.

Poniem adalah tokoh yang diciptakan Hamka dalam “Merantau ke Deli”. Ia pun adalah seorang gundik, seorang kuli kontrak perkebunan yang diambil mandor besar untuk menjadi istri piaraan dan ia sejahtera secara jasmani. Tetapi, ia rela untuk tidak memperpanjang kontrak dengan perkebunan dan memilih hidup bersama secara sah dengan Leman. Poniem juga rela menggadaikan perhiasannya hanya untuk mengembangkan usaha Leman sehingga jadi maju pesat. Ketika keinginan Leman untuk beristri satu lagi pun, Poniem juga rela berkorban membagi kasih sayang dengan madunya yang bernama Mariatun itu. Sampai akhirnya, Leman pula yang memutuskan hubungan dengan Poniem sebagai istri karena telah cekcok hebat dengan Mariatun. Lagi-lagi, Poniem harus mengalah dan berkorban demi kebahagiaan Leman dan Mariatun. Ia pergi bersama Suyono (yang membantunya berdagang) dari Deli. Bersama Suyono, sekali lagi Poniem merelakan perhiasaan yang tersisa untuk digadaikan sebagai modal usaha yang dilakukan Suyono.

Sedangkan Warni adalah model perempuan dengan problem masa kini yang diciptakan Gus TF dalam cerpen “Belatung”. Tujuan hidupnya adalah membiayai hidup anaknya Suci dan dirinya sendiri. Rumahnya berada di dekat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sebuat kota besar. Warni berjuang untuk mencapai tujuan hidupnya. Jadi pelacur, wanita penghibur, kupu-kupu atau apalah namanya membuat Warni sibuk dengan pekerjaannya itu. Ia sendiri tidak bermaksud melalaikan Suci, tetapi mau apa. Setiap malam Suci ditinggalkannya dan baru kembali paling lambat jam tiga pagi. Sudah barang tentu, Suci yang masih kecil bermain dengan imajinasinya dan ia berharap belatung yang banyak hadir di sekitar rumahnya berubah jadi kupu-kupu.

Begitulah penulis laki-laki. Sebenarnya, masih banyak karya penulis laki-laki yang mengambil contoh perempuan, mengambil tokoh dan sebagainya. Perempuan digambarkan sebagai sosok pejuang yang mampu rela berkorban apa saja termasuk perasaan. Kadang-kadang di luar batas kodrat atau kemampuannya sebagai wanita. Kadang-kadang ia mengambil peran laki-laki yang tak mau tahu, acuh dan tak berperasaan.

Namun tentu cara pandang, gaya bercerita akan berubah jika perempuan yang menulis tentang kaumnya sendiri. NH. Dini pun mengungkapkan bagaimana kehidupan perempuan itu. Tetapi, arah tulisannya bukan kepada bagaimana perempuan berjuang dan mencapai tujuannya tetapi lebih kepada memaparkan perasaan-perasaan perempuan (Republika, 26 Juni 2005). Lain lagi dengan Ayu Utami. Pemaparannya tentang perempuan cenderung kepada kevulgaran tentang seks dalam novel Saman. Ia mengakui bahwa seksualitas adalah tema “Saman”. Ia ingin mematahkan mitos yang berhubungan dengan pengkotakan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks seksual. Ayu juga mempertanyakan soal keperawanan yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kalah. Perempuan yang sudah tidak perawan dianggap sudah cacat, tetapi nilai itu tidak berlaku bagi laki-laki. Ayu mengaku ia menyajikan seks bukan dalam teknik persetubuhan, tetapi berupa pemaparan problematika seks untuk direnungkan karena banyak dialami oleh perempuan (Intisari, 1998).

Dengan kata lain, sastra menempatkan perempuan dalam konteks terhormat. Sebagaimana konteks sosial lain yang termarginalkan oleh lingkungan nyata. Saya sudah paparkan sebelumya bahwa cara pandang pengarang apalagi pengarang laki-laki dengan perempuan tentu berbeda, apalagi cara pandang antara pengarang dengan pembaca. Vulgar menurut pembaca awam belum tentu vulgar menurut pengarang. Ada celah-celah yang dapat diungkapkan ketika pengarang memaparkan suatu ceritanya. Mungkin, kevulgaran tersebut adalah suatu simbol yang tak bisa hanya dirunut dengan mata telanjang, atau diiris dengan pisau tumpul.

PENUTUP “ilalang mayang bergoyang / rintih derauan angin, menyibakkan sedikit jalan terang” (Perempuan Ilalang (II), 2007)

Perempuan persis sama dengan ilalang. Di dunia nyata, ketertindasan dan mesti berjuang sendiri mempertahankan keyakinan demi sebuah tujuan. Meski ilalang pada dunia nyata tidak dipuja-puji seperti perempuan, namun pujian terhadap perempuan menurut saya adalah hunjaman ke ulu hatinya sendiri sebab pujian itu seringkali berkamuflase sebatas jasmani yang masih muda, kencang dan mulus. Lebih tua dari itu, pujian semakin menurun dan hilang, dan perempuan mesti tenggelam lagi dalam perjuangannya tersebut.

Tetapi, perempuan tetaplah makhluk suci. Tanpanya, tak mungkin ada kelanjutan kehidupan manusia. Dan sastra, sebagaimana ia merupakan cerminan dari lingkungan masyarakat pastinya juga mengangkat tema perempuan. Seperti tema-tema yang sering disepelekan orang, dengan sastra semoga bisa melihat kebenaran. Paling tidak kenyataan yang dipaparkan pengarang melalui sastra itu sendiri.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang