You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Pembacaan dan Bedah Buku “Ibumi Puisi-puisi dari Negeri di Bawah Pelangi”
Konon, pada zaman purbakala, kepulauan besar di sudut Asia itu diselimuti es. Ketika Matahari memanasi selimut itu, uap air naik dan sinar Matahari menyambutnya hingga terciptalah pelangi yang melengkung di atas kepulauan itu. Orang-orang yang datang dari utara bisa melihat pelangi itu dan menyebut kepulauan yang berada di bawahnya sebagai Negeri di Bawah Pelangi. Kini, Negeri di Bawah Pelangi itu kita kenal sebagai Nusantara.
Demikianlah yang diceritakan oleh Mochtar Lubis dalam sebuah buku yang berjudul sama, “The Land under the Rainbow”. Lebih lanjut, kita tahu bahwa kehidupan pun muncul di Negeri di Bawah Pelangi itu, lengkap dengan perangkat-perangkat dan capaian-capaian kebudayaannya, termasuk kesusastraan dan kesenian, yang terus bertumbuh dan berkembang seiring perkembangan zaman.
Puisi dari Kisah Negeri di Bawah Pelangi
Puisi saat ini berada pada tahapan gerak-gerik, permainan kata-kata, permainan perasaan, namun memang tak bisa dibilang sebagai puisi gelap yang pernah menjadi genre kontroversial dan polemis pada masanya. Bertolak dari idealitas bahwa perpuisian Indonesia seharusnya senantiasa berkembang, maka beberapa penyair berkumpul untuk menghasilkan sebuah buku antologi yang dilandasi dan diikat oleh satu gagasan bersama.
Ada kecenderungan umum yang menghinggapi penyair kita bahwa pembaharuan, yang merupakan kata kunci bagi perkembangan puisi, seolah-olah hanya dalam bentuk. Dan puncak pembaharuan bentuk itu kita temukan pada Sutardji Calzoum Bachri. Struktur dan bentuk itu kemudian juga dikacaukan oleh “jurnalisme ketaksadaran” Afrizal Malna. Adapun Joko Pinurbo hadir dengan membawa pola pengembangan imaji yang baru di mana dunia biasa diangkat dan dicampur dengan ironi. Dalam dunia senirupa, apa yang dilakukan Joko nyaris sama dengan apa yang dilakukan Masriadi. Dalam kanvas Masriadi, dunia biasa-biasa menjadi ironi.
Puisi-puisi yang termaktub dalam Puisi Kisah Nusantara “Ibumi Kisah-kisah dari Negeri di Bawah Pelangi” ini merupakan puisi lirik yang secara tak langsung berbeda dengan puisi lirik. Lebih tepatnya, puisi-puisi tersebut berdiri di antara puisi lirik-individual dan pengisahan folklor. Biasanya, dalam puisi aku-lirik yang umum terjadi, aku-lirik menceritakan pengalaman-pengalam annya yang kemudian mewujud dalam karya sebagaimana, misalnya, dalam karya-karya Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohammad.
Namun, aku-lirik pada puisi-puisi dalam buku ini tak hanya berterus-terang dengan aku-nya. Sebab, kadang ia bercerita tentang dirinya, tapi kadang juga bercerita atas nama yang lain. Misalnya, Pleidoi Malin Kundang karya Indrian Koto. Di satu sisi ia bicara tentang dirinya, tapi pada saat bersamaan ia mengandaikan sesuatu yang kolektif. Aku-individual dan aku-kolektif berjalan bersamaan dan bertukaran. Ini ciri utama dari “Puisi dari Kisah Negeri di Bawah Pelangi”.
Apa yang dilakukan para penyair Kisah Nusantara memiliki padanan dalam senirupa dengan apa yang dilakukan Galam Zulkifli. Jika para penyair ini menafsir kisah dan mitos kolektif, maka Galam menafsir kembali Kitab Suci dalam wajah-wajah yang baru secara visual. Dipo Andy juga melakukan hal yang sama ketika pada tahun 1997 menafsir lagu-lagu dalam lukisannya. Lebih jauh, Puisi Kisah Nusantara bermaksud mengajak para penyair kontemporer agar menengok dan mendulang kekayaan khasanah kesusastraan lokal yang lahir dan tumbuh dari lubuk Negeri di Bawah Pelangi. Tentu saja dengan catatan bahwa gerakan ini dilakukan tanpa meninggalkan medan eksplorasi bahasa yang sedang atau bahkan belum pernah dijelajahi, namun juga tidak dilandasi niat untuk sekadar “melap-lap” khasanah kesusastraan lokal.
Bila kita menapaktilasi sejarah perpuisian modern, kita memang mendapati bahwa ajakan semacam ini bukannya belum pernah ada. Beberapa penyair yang muncul sebelum maupun selama periode Reformasi bukannya tidak pernah melakukan ini.. Namun demikian, karya-karya itu biasanya muncul sendiri-sendiri, tanpa pretensi untuk mengadvokasi dan memerjuangkan suatu gagasan, semangat dan kepercayaan, yang didukung secara kolektif.
Kita tahu bahwa Zeffry J. Alkatiri seperti berdiri sendiri ketika mengeksplorasi Jakarta (sebagai entitas budaya lokal Betawi, bukan sebagai sentrum politik) dalam Batavia dari 1616-1999. Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan Putra, Wayan Sunarta, Hasta Indriyana, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian dan para penyair yang seperiode, tampak seperti para penjelajah yang menjelajahi medan kelokalan yang sama tetapi belum pernah saling bertemu.
Jauh sebelumnya, Toeti Heraty sudah pernah melakukan usaha ini dengan Calon Arang. Dalam sastra dunia ada Derek Walcott yang menuliskan kembali karya Homerus dan Salman Rushdie menceritakan kembali Kitab Suci dalam Satanic Verses.. Dari sederet contoh itu, tampak bahwa dalam dunia sastra, usaha menuliskan kembali masa lampau dalam pengucapan terbaru sudah menjadi medan biasa dan jamak.
Yang juga berbeda dari Puisi Kisah Nusantara ini adalah upayanya untuk menghubungkan garis segitiga. Mula-mula struktur mitos dituliskan (secara prosa). Dari prosa ini lalu direaksi dalam dua bentuk: visual (perupa) dan kata-kata/puisi (penyair). Setelah itu ketiga bagian itu digabungkan. Penggabungan itu tak pembaca dapatkan dalam buku ini, tapi dalam buku yang lain yang sedang dalam proses persiapan terbit.
Buku ini hanyalah salah satu tahap dari tiga tahap kerja kolektif itu. Di satu pihak ia berdiri sebagai karya individual yang berdiri sendiri. Namun, ia tetap bagian dari sebuah rangkaian yang telah dikerjakan selama kurang lebih setahun terakhir ini, sebuah kerja yang ingin mengajukan pernyataan kebudayaan: seratus dongeng, seratus puisi, dan seribu karya lukis.
Harapan besar dari tindakan ini adalah adanya silang budaya dalam keseluruhan tafsir ini. Dalam perencanaan awal, arketip kesadaran itu coba dilintas-silangkan. Misalnya seorang perupa atau penyair berlatar budaya Padang menulis/melukis tentang Jawa Barat, atau yang dari Madura menulis/melukis tentang Kalimantan, dan seterusnya. Di sana terjadi dialog di mana orang dari latar geografis dan kultural yang berbeda berupaya mencari kedekatan-kedekatan dan penyesuaian-penyesuaian pengucapan dalam puisi dan gestur warna-garis dalam lukisan.***
Pembacaan dan Bedah Puisi Kisah Nusantara “Ibumi Kisah-kisah dari Negeri di Bawah Pelangi”
Bertempat di Mata Hari Cafe, Jalan Veteran I No. 32, Jakarta Pusat Jumat-Sabtu, 30-31 Mei 2008
Susunan Acara : Pembacaan Puisi Kisah Nusantara Jumat, 30 Mei 2008 18.00 WIB-selesai
Acara ini akan dibuka oleh budayawan Taufik Rahzen dan menampilkan pembacaan Puisi Kisah Nusantara oleh: 1. Komang Ira Puspitaningsih (Jogja) 2. Iman Rhomanshah (Jogja) 3. Mahwi Air Tawar (Jogja) 4. Agustina Indah Puspitorini (Jakarta) 5. Ahmad Muchlish Amrin (Jogja) 6. Indrian Koto (Jogja) 7. Matahari Rosa (Jakarta)
MC: Komang Ira Puspitaningsih
Bedah Buku “Ibumi Kisah-kisah dari Negeri di Bawah Pelangi” Sabtu, 31 Mei 2008 16.00 WIB-selesai
Pembicara : 1. Sapardi Djoko Damono (penyair senior) 2. An. Ismanto (koordinator)
Moderator : Zen Rahmat Sugito
Catatan: Pengumuman ini sekaligus berlaku sebagai undangan terbuka. Terima kasih.
(DIKUTIP DARI MILLIS PENULIS LEPAS 19 MEI 2008)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.