You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Laskar Pelangi; Benarkah Sebuah Tetralogi Novel?
Banyak yang mengatakan Laskar Pelangi merupakan karya pencerahan. Penggugah semangat. Dan segala keindahan lainnya. Cerita tentang sepuluh anak kecil yang bertemu, berkreativitas, belajar bersama. Tak ada suatu kebetulan yang ditiriskan oleh Tuhan.
Namun, dari dulu saya agak jengah dengan penyebutan Laskar Pelangi sebagai karya sastra dalam hal ini novel. Apa yang saya kritisi tentu balik lagi ke dasar sastra yang mendefinisikan apa itu novel, apa itu cerpen, apa itu puisi. Dan tentunya apa itu sastra.
Saya yakin sepenuhnya, sastra memang tak bisa didefinisikan secara universal sebab ia adalah interpretasi masing-masing individu yang bebas bilang sastra itu bagaimana…
Namun, yang saya pahami sastra adalah dunia regionalitas yang berupa imajinasi total. Novel, bagaimanapun diangkat dari kisah realitas akan tetap dinamakan karya imajinatif artinya sebatas penghayatan dalam kalbu masing-masing orang.
Dan dalam Laskar Pelangi, saya tak menemukan ruang imajinatif itu. Saya hanya menangkap perjalanan hidup Andrea Hirata yang ditulis ulang.
Apa itu bukannya BIOGRAFI????
Ya, saya pikir, Laskar Pelangi hanya sebatas biografi tanpa ruang gerak yang indah dan imajinatif itu sendiri. Memang, dari segi isi Laskar Pelangi cukup jempol untuk dibaca orang banyak. Hanya saja, saya sedikit terganggu dengan penamaan yang lekat di depan Laskar Pelangi itu sendiri; NOVEL…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
dul abdul rahman
Sebenarnya “ruang imajinasi” adalah ruang yang menggelantung di otak. Dalam menulis berita sebenarnya bisa lewat “ruang imajinatif”. Fakta yang kita lihat pun dengar akan berproses di otak(baca ruang imajinatif) lalu menjadi tulisan.
Buat saya, laskar pelangi tetaplah menawarkan ruang regionalitas dan ruang imajinatif. “Sayangnya” memang novel ini terlalu “diekspos” menjadi perjalanan andrea hirata. Ini “keperluan pasar” yang sengaja dibuat mengharu biru agar novel ini semakin banyak dibaca.
Andrea Hirata “terlalu ingin” disebut tokoh “ikal” yang punya pesona, padahal “ikal” bisa siapa saja, ikal bisa saja Sayyid atau dul abdul, hehehe…
October 8th, 2008 at 6:26 pm
Sayyid
Sebagai kritikus, tentu saja akan melihat dari segi isinya dulu. Memang, pasar membuat opini dan mengarahkan pembaca supaya tau bahwa Ikal adalah Andrea…
Namun, walaupun tidak diberitahu kritikus akan tahu sendiri bahwa Laskar Pelangi adalah sebuah biografi yang ditulis dengan sastra…
hehehhehehe…
Sayang, kita punya masyarakat yang menurut dengan selera “kurator” pasar…
October 9th, 2008 at 6:06 pm
dul abdul rahman
Saya terkadang “jengah” bicara teori sastra. Para kritikus terkadang “sami’na waata’na” pada pendapat tokoh2 yang hidup ratusan tahun silam. Hmmm, para kritikus merasa tak sah bicara bila tidak mengutip tokoh2 sastra zaman dulu…
Bukan maksud saya mengatakan bahwa kritikus asal ngomong, tapi harus ada re-teori kembali, kritikus sekarang tak boleh asal mengekor…
Mazab satra bukan kitab suci, hehehe….
October 10th, 2008 at 6:04 pm
sayyid
Tak semua kritikus sastra menulis kritik dengan teori. Ada juga yg menulis tanpa teori…
October 12th, 2008 at 1:47 pm
Intan
Terlepas dari itu buku novel atau bukan, buat saya buku itu benar-benar menginspirasi dan mempunyai ‘value’ yang bagus. Sebagai seorang guru, buku ini telah memberi semangat baru bagi saya untuk memberi yang terbaik bagi dunia pendidikan.
October 28th, 2008 at 3:43 pm